
Aldo menarik nafasnya dalam saat melihat adiknya meneteskan air mata. Begitu banyaknya duri yang harus dilewati oleh adik perempuannya itu selama ini. Sedari kecil, Raina harus terpaksa menjadi perempuan yang dewasa sebelum waktunya. Adik perempuannya itu, dengan sangat rela membagi waktu belajarnya dan juga membagi waktu untuk pekerjaan rumah kala itu, bahkan tidak sekalipun Raina keluar rumah untuk bermain dengan teman sebayanya. Karena waktunya sudah habis untuk kedua hal tersebut.
Ditambah jika libur sekolah mereka harus berjuang mengumpulkan receh demi receh dengan menjualkan dagangan orang agar dapat meringankan beban sang bapak yang saat itu hanya sebagai buruh. Meskipun, bapak mereka selalu melarang tapi, mereka tetap melakukannya secara diam-diam.
Adik perempuannya itu, dengan rela menunda untuk melanjutkan pendidikan yang telah diimpikan. Hanya demi mengalah pada sang adik bungsu agar tetap bersekolah dan Raina memilih untuk bekerja terlebih dahulu.
Aldo sangat senang saat tahu bahwa adik perempuannya itu sudah mulai mendaftarkan dirinya ke sebuah perguruan tinggi negeri pilihan adiknya. Namun, lagi-lagi harapan Raina harus pupus dan kandas ditengah jalan saat menerima kenyataan bahwa Raina tengah mengandung karena perbuatan keji yang dilakukan teman kerja adiknya sendiri yang merupakan sepupu dari sahabat adiknya.
Dan sekarang, adik perempuannya itu harus kembali berjuang demi cinta dan kehidupan rumah tangganya yang masih di ujung tombak.
"Jadi benar dugaan ibu, bahwa ini hanya akal-akalan ibu Santi saja agar pernikahan Raina dan Satria berakhir. Ibu benar-benar gak nyangka Rai, sama ibu mertua mu itu." ucap Ibu Riska yang mendengus kesal setelah mendengar isi rekaman yang diberikan Aldo.
"Apa lagi dengan Raina, Bu. Selama Raina tinggal disana, Raina sangat diperlakukan istimewa oleh mamah. Tapi, entah kenapa setelah Al lahir, mamah jadi berubah begini. Raina semakin tahu sifat asli mamah yang sebenarnya seperti apa." balas Raina.
"Sifat sebenarnya? Jadi, mertuamu itu punya bakat seperti bunglon yang suka memanipulasi?" tanya Aldo.
"Bukan seperti itu, Kak. Raina memang selalu diperingatkan sama Sandra ataupun bunda Eva, untuk selalu bersabar dan mengikuti kemauan mamah. Bahkan Bi Darsih pun tahu bagaimana sifat kerasnya mamah itu. Tapi, Raina sama sekali gak pernah mengalami apa yang mereka bilang itu selama Raina disana. Dan sekarang Raina baru tahu, mamah akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya itu, bahkan dengan mengabaikan perasaan anak-anaknya sendiri." jawab Raina.
"Terus, apakah adiknya Satria itu benar-benar berkata dengan jujur dan sudah benar-benar berubah selama dia berada disana?" tanya Ibu Santi pada Aldo.
"Yang Aldo lihat sih, sama sekali tidak ada kebohongan yang dia buat. Dia benar-benar tulus mengucapkan hal tersebut. Tapi, kalau sampai dia macam-macam sama Raina dan Al setelah dia bebas nanti, Aldo orang pertama yang akan membuatnya kembali merasakan dinginnya tidur dibalik jeruji lagi." jawab Aldo bersungguh-sungguh.
"Ya ... ya ... ya ... ibu percaya kalau kamu sudah berbicara seperti ini." ucap Ibu Riska sembari terkekeh geli melihat ekspresi anak sulungnya.
"Sekarang Satria lagi bernegosiasi dengan ibunya, kita doakan sama-sama semoga pintu hati ibu Santi terketuk untuk merestui hubungan kalian lagi." ucap Aldo pada adiknya.
"Amin." ucap Ibu Riska dan Raina bersamaan.
********
Satria masih memikirkan Erlina yang terus saja mengganggu pikirannya lagi. Satria memutuskan untuk mencari tahu dari sahabatnya itu. Apakah Ridho yang memberitahukan pada mantannya itu atau bukan.
Satria meraih handphone yang berada disebelahnya, kemudian mencari nama Ridho dalam kontak teleponnya dan mulai melakukan panggilan telepon pada sahabatnya itu.
Panggilan terhubung dan langsung dijawab oleh Ridho.
[Hallo, Bro. Kenapa?]
[Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu.]
[Sebaiknya kamu ke apartemen ku sekarang. Kamu masih ada hutang cerita pada ku.]
[Kenapa kamu masih mengingatnya? Ok. Aku akan kesana dalam satu jam kemudian. Tunggu aku dan jangan tidur duluan.]
Panggilan telepon pun langsung diakhiri oleh Satria. Satria menyiapkan seragam kerjanya, karena malam itu Satria akan menginap diapartemen sahabatnya itu.
__ADS_1
Satria sudah mengganti pakaiannya dengan celana jeans panjang, kaos oblong sebagai dalamannya dan tak lupa dia mengenakan jaket sebagai luarannya.
Dia meraih tas punggungnya, setelah mendapat notifikasi dari ojek online yang telah ia pesan sebelumnya bahwa ojek online itu sudah berada didepan rumahnya. Sepeda motornya yang masih berada dirumah Raina membuatnya menggunakan jasa ojek online tersebut. Satria tidak ingin menggunakan mobil yang sebenarnya ada beberapa mobil didalam garasi, dia tidak ingin menggunakan barang dari mamahnya itu.
Satria keluar dari dalam rumah dan langsung bergegas menuju keluar gerbang.
"Pak, tolong jaga rumah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Satria. Malam ini Satria mau menginap di apartemen Ridho. Tolong Pak Darman beritahu mamah, kalau mamah mencari Satria. Mamah sudah ada dikamarnya, Satria gak mau ganggu mamah." ucap Satria menitip pesan pada Pak Darman penjaga rumahnya.
"Baik, Mas." jawab Pak Darman.
Setelah mendapatkan jawaban dari Pak Darman, Satria pun melangkah keluar gerbang rumahnya dan langsung naik ke atas sepeda motor ojek online.
"Tolong antarkan saya ke apartemen Rio ya, Pak." ucap Satria memberitahukan tujuannya.
"Baik, Mas." jawab Driver ojol itu dan mulai mengendarai sepeda motornya.
Namun, belum ada pertengahan jalan, motor yang Satria tumpangi terasa tidak nyaman. Satria menyuruh driver ojol itu untuk menepi.
"Kenapa berhenti, Mas? Bukannya, ini belum sampai ditujuannya sampean?" tanya Driver ojol tersebut dengan suara bergetar.
Satria segera turun dari sepeda motor itu dan melihat ke arah driver ojol yang terlihat lemas dan tubuhnya pun bergetar.
"Apa bapak sakit?" Bukannya menjawab, Satria balik bertanya pada driver ojol tersebut.
"Astagfirullah ... mari biar saya saja yang membawa sepeda motor bapak." ucap Satria yang langsung menggantikan posisi sang driver yang ternyata lemas karena menahan lapar.
Satria mulai mengendarai sepeda motor milik bapak si driver ojol. Satria menghentikan sepeda motor itu, disebuah kedai makanan.
"Mari, Pak. Kita makan dulu. Kebetulan, saya juga belum makan malam." ajak Satria.
"Jangan, Mas. Saya tidak enak." ucap Bapak tersebut.
"Ayo, Pak. Jangan sungkan, anggap saja kita sekarang berteman. Dan bapak lagi menemani saya. Mari, Pak." ajak Satria lagi yang sekarang sudah menarik lengan si driver ojol tersebut, yang ternyata bapak itu mempunyai badan yang sudah tidak muda lagi, mungkin usianya berkisar lima puluhan lebih.
Saat bapak itu membuka masker yang ia kenakan, tampak begitu banyak guratan-guratan keriput diwajah bapak tersebut, yang seharusnya di usia seperti beliau sudah harus duduk santai dirumah, tapi beliau masih berjuang dijalan mencari nafkah. Satria menitik kan air matanya dan langsung membalikkan badannya untuk menyeka air matanya yang sudah terjatuh.
"Bapak mau makan apa?" tanya Satria setelah menyeka air matanya.
"Sembarang saja, Mas. Saya tidak pemilih makanan." jawab Bapak itu dengan nada sungkannya.
Satria pun memesankan ayam bakar madu komplit dengan nasi serta sayurnya. Tak lupa, dirinya memesankan teh manis hangat untuk beliau, agar perutnya terasa hangat.
"Kenapa Bapak sampai tidak makan dari pagi tadi, Pak?" tanya Satria.
"Orderan lagi sepi, Mas. Saya baru dapat tiga orderan hari ini, termasuk dengan orderan Mas ini. Kalau uangnya saya pakai untuk membeli makanan, bagaimana dengan istri dan cucu saya dirumah. Sementara dirumah, sudah tidak ada apa-apa untuk dimakan." jawab Bapak itu.
__ADS_1
"Anak bapak kemana? Maaf Pak, sebelumnya ... bukankah, diusia bapak yang sekarang seharusnya sudah istirahat dirumah?" tanya Satria lagi.
"Saya hanya punya satu anak, Mas. Dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan saya dan istri saya menghadap ilahi lebih dulu. Sementara, menantu saya pergi begitu saja meninggalkan dua orang cucu saya. Hingga kini, saya tidak tahu keberadaannya sekarang dimana." jawab Bapak itu dengan wajah sedih.
"Maaf Pak, saya sudah kembali mengingatkan bapak pada hal sedih ini." ucap Satria.
"Tidak apa-apa, Nak. Ini memang sudah jalan takdir dari yang Kuasa." balas Bapak itu.
Makanan pesanan Satria pun sudah datang dan tersaji dengan rapi atas meja.
"Mari Pak, dimakan. Bapak harus makan yang banyak, agar tidak pusing dan lemas lagi. Kalau bapak seperti tadi, itu akan membahayakan bapak dijalan." ucap Satria sembari menyendokkan nasi dan lauk pauknya ke dalam piring bapak itu.
"Terimakasih, Nak." ucap Bapak itu dan kemudian langsung makan dengan lahapnya.
Satria tidak dapat menelan makanannya, hatinya terasa sakit. Saat ini, masih ada orang yang jauh dari kata mampu. Seperti orangtua yang sedang berada dihadapannya. Tak lama kemudian, handphonenya berbunyi ternyata panggilan yang masuk dari Ridho.
Satria pun beranjak dari duduknya dan mengangkat telpon dari sahabatnya itu sedikit menjauh dari si bapak ojol.
[Hai, dimana kamu? Kok, belum sampai-sampai juga. Jadi kesini, gak?]
[Sabar, aku sudah dijalan. Tapi, ini masih ada sedikit kendala. Nanti aku ceritakan kalau sudah sampai sana.]
Satria langsung mengakhiri panggilan tersebut, tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Ridho. Dan kembali masuk ke dalam kedai.
Satria langsung melangkahkan kakinya ke arah kasir untuk membayar makanan yang telah ia pesan. Tak lupa, dirinya juga membelikan makanan untuk dibawa pulang bapak itu.
"Ini untuk istri dan cucu bapak." ucap Satria sembari menyodorkan bungkusan makanan pada bapak tersebut.
"Terimakasih banyak, Nak. Saya tidak bisa membalas ini semua. Hanya Allah lah, yang akan membalas semua kebaikan kamu, Nak." balas Bapak itu.
"Amin. Kalau bapaknya sudah selesai makannya, mari kita lanjutkan perjalanannya. Biar saya saja yang membawa sepeda motornya lagi." ucap Satria.
"Iya, Nak. Mari." sahut Bapak itu dengan wajah yang berseri-seri.
Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan, dengan Satria yang kembali membawa mengendarai sepeda motor milik bapak tersebut.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π
__ADS_1