
Setelah beberapa menit selesai makan dan minum obat penurun demam, Raina kembali tertidur. Semua pun pergi keluar meninggalkan Raina yang kembali tertidur pulas.
**********
Kediaman Ridho.
Di dalam kamar Ridho tersenyum-senyum sendiri, membayangkan rencana kencan nya bersama Raina yang akan dimulai besok hingga beberapa hari kedepan.
"Lagi apa ya, dia sekarang? Apa coba aku telepon aja, ya? Sekalian aku memastikan biar dia gak kabur dari jadwal kencan." gumam Ridho dengan senyum bahagianya.
Ridho mengambil benda pipih yang tergeletak diatas nakas, segera ia mencari nama Raina di daftar kontak telepon nya dan memulai panggilan.
Beberapa detik kemudian panggilan terhubung, namun tidak ada jawaban dari seberang sana. Ridho kembali menghubungi lagi, namun tetap hasilnya masih sama. Hingga panggilan ke sepuluh masih tidak ada jawaban sama sekali.
Senyum yang tadi mengembang kini sirna berganti dengan wajah yang murung menahan kekesalan.
"Mau coba-coba bermain dengan ku, awas saja kalau kamu sampai berani mengingkari janji!" ucap Ridho.
**********
Raina terbangun dari tidurnya setelah dia mendengar suara handphone nya yang berdering. Namun tidak berapa lama saat Raina hendak mengambil benda pipih itu suara dering nya sudah berhenti.
Raina menatap layar handphone nya, kurang lebih sepuluh panggilan tak terjawab atas nama Ridho. Setelah itu, Raina beralih ke aplikasi sosial media nya begitu banyak notifikasi yang masuk, Raina melihat satu per satu dan mengscrol dari bawah ke atas.
Banyak sekali pembaruan status dari teman-teman dunia maya nya, baik itu tentang kegiatan mereka yang mereka posting atau tulisan-tulisan galau curahan hati mereka dan ada pula tulisan maupun video lucu yang mereka unggah, membuat Raina merasa terhibur dengan guyonan yang mereka buat.
Setelah dirasa cukup untuk berselancar didunia maya, Raina keluar dari aplikasi itu dan beralih ke aplikasi chat yang berwarna hijau. Raina merasa ada yang janggal dengan isi chat antara dirinya dan Aldo. Dirinya merasa tidak pernah mengirim pesan ke kakaknya itu.
Setelah dia ingat-ingat dengan ucapan ibu nya saat dia baru datang, dia baru menyadari bahwa Awan lah yang sudah membuat pemberitahuan bohong mengenai dirinya yang menginap dirumah Sandra.
"Pantas ibu dan kak Aldo gak khawatir dengan aku, ternyata si manusia biadab itu sudah mengantisipasi nya terlebih dulu."
Tampak kebencian yang mendalam dimata Raina dengan lelaki yang sudah tak ingin lagi dia sebut namanya.
Setelah melihat isi chat, Raina melihat status yang dibuat oleh sahabatnya Sandra yang baru saja di unggah ke aplikasi hijau itu. Di foto tersebut seperti sedang ada perkumpulan keluarga besarnya.
Tampak keluarga yang bahagia, mata Raina terhenti pada salah satu foto dimana disana terlihat Awan yang juga ikut serta dalam acara keluarga itu.
__ADS_1
"Aaarrggghhhhh! Aku benci kamu! Benci! Benci!"
Raina benar-benar tak bisa menahan emosi nya. Kembali teringat bagaimana saat itu Awan meminta maaf padanya, tersenyum baik padanya, padahal semua hanya kepura-puraan belaka.
"Kalau aja waktu itu aku menolak minuman yang dia berikan, aku pasti masih suci. Kenapa Rai? Kamu terlalu mudah diperdaya." Raina kembali menangis sejadi-jadinya.
Sementara diluar kamar, Ibu Riska dan kedua anak lelaki nya lagi bersiap untuk makan malam.
"Do, kamu dengar gak, ada suara orang lagi menangis?" tanya Ibu Riska kepada anak sulung nya sembari menajam kan pendengaran nya.
Aldo dan Raka saling menatap dan ikut mendengar seperti yang dilakukan ibunya.
"Iya, benar, Bu. Sepertinya dari arah kamar kak Raina." jawab Raka.
"Iya, Bu. Coba Aldo tengok dulu ke kamarnya." ucap Aldo sembari melangkah ke kamar Raina.
Semakin dekat semakin jelas terdengar suara tangis yang tersedu-sedu. Dan Aldo semakin yakin jika adik perempuan nya sedang menangis.
Perlahan dia buka pintu kamar Raina yang tidak terkunci, melihat adiknya duduk dilantai bersandar dengan pinggiran kasur sambil memeluk figura bapaknya.
Aldo sudah duduk tepat disamping Raina.
Raina hanya menganggukan kepalanya dan langsung memeluk kakak lelaki nya itu.
"Sudah, jangan menangis lagi. Besok kita ziarah ke makam bapak, ya?" ajak Aldo sembari membelai rambut adiknya lembut.
**********
Keesokan pagi nya, semua sudah bersiap untuk melakukan aktivitasnya. Tidak dengan Raina yang masih terlihat lemas di dalam kamarnya.
Ibu Riska menghampiri anak perempuan nya itu.
"Kalau masih merasa kurang enak badan, sebaiknya jangan berangkat kerja dulu, Nak. Nanti ibu yang akan meminta ijin ke ibu Eva." ucap Ibu Riska.
"Tidak usah, Bu. Biar Raina sendiri yang meminta ijin." jawab Raina cepat.
Dirinya tidak mau jika sampai ibu nya yang menelepon bunda Eva, Raina takut jika ibunya akan menanyakan perihal dia yang menginap dirumah Sandra waktu itu.
__ADS_1
Setelah menelepon bunda Eva untuk meminta ijin, Raina kembali beristirahat setelah sebelumnya mengisi perutnya dan meminum obatnya.
Namun, beberapa saat kemudian handphone nya kembali berdering. Raina melihat layar handphone nya ada nama Ridho tertera disana. Dirinya enggan untuk menjawab panggilan itu. Karena dirinya tahu, bahwa Ridho akan menanyakan rencana untuk kencannya. Saat ini Raina tidak ingin bertemu dengan lelaki lain selain dengan kedua saudaranya.
**********
Sementara itu ditempat lain, Ridho terlihat gusar karena setiap panggilan telepon nya selalu ditolak oleh Raina.
"Ok. Kalau kamu tidak mau mengangkat telepon ku, aku akan menjemput paksa kamu diresto." ucap Ridho dengan tersenyum sinis.
Ridho sudah berada didalam mobil nya, melajukan kendaraan beroda empat itu dijalan yang tidak terlalu ramai.
Beberapa menit kemudian, dirinya sudah sampai ditempat tujuan. Ridho langsung masuk dan menuju meja kasir dan resepsionis.
"Permisi Mbak, saya mau bertemu Raina. Bisa tunjukkan dimana kantornya?" tanya Ridho.
"Kantor ada dilantai dua, Mas. Mas nya bisa lewat sini." jawab Desi yang bertugas jaga hari ini, dia menunjukkan tangga yang terletak diujung koridor.
"Terimakasih." ucap Ridho sembari meninggalkan meja kasir.
Namun baru beberapa langkah Ridho berjalan, Desi sudah memanggilnya lagi. Desi kembali teringat dengan pesan bunda Eva yang memberitahukan bahwa Raina sedang sakit dan tidak bekerja.
"Mas, Mas, maaf ... hari ini Raina tidak masuk kerja." ucap Desi.
"Ehm, tidak masuk kerja. Kenapa?" tanya Ridho penasaran.
"Raina sedang sakit." jawab Desi.
"Ok. Terimakasih infonya." ucap Ridho dan berlalu keluar resto.
Ridho sudah berada dibelakang kemudinya.
"Apa karena dia sedang sakit, jadi dia gak mau angkat telepon ku, ya? Atau ini akal-akalan dia saja untuk membatalkan perjanjian ini" gumam nya.
**Bersambung
Mohon like dan krisan nya readers ππ
__ADS_1
Terimakasih ππ**