Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Anugerah Terindah


__ADS_3

Dua minggu sudah usia si kecil Al. Bertepatan dengan usianya yang sudah menginjak empat belas hari itu, keluarga mengadakan prosesi aqiqah untuk si kecil Al. Empat ekor kambing sengaja dikurban kan untuk merayakan kelahiran bayi Al sebagai bentuk syukur dan kebahagiaan yang mendalam bagi kedua keluarga terutama bagi keluarga Sanjaya, yang dimana Al adalah cucu laki-laki pertama untuk mereka.


Acara aqiqah dilakukan dikediaman Raina dan dirayakan begitu meriah mengundang warga sekitar perumahan dimana Raina tinggal, sanak saudara dari kedua keluarga, para rekan-rekan kerja Satria serta semua karyawan resto dimana Raina kerja dulu juga turut hadir.


Prosesi aqiqah dimulai dengan penyembelihan hewan ternak yaitu kambing yang telah disembelih langsung oleh Satria dengan dituntun oleh seorang yang ahli dalam bidangnya sehari sebelum acara dimulai, kemudian dilakukan pengajian, pencukuran rambut bayi serta mengesahkan nama yang telah diberikan pada sang buah hati.


Acara pun berjalan dengan begitu lancar, tidak ada kendala apa pun. Acara berakhir disore hari, hanya tinggal keluarga inti saja yang masih berada dirumah Raina.


Pakde Suseno sengaja mengumpulkan kedua belah pihak keluarga inti itu untuk membicarakan bagaimana kelanjutan hubungan Raina dan Satria.


Semua sudah berkumpul diruang keluarga, termasuk ibu Santi pun turut hadir.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh ... sengaja kita berkumpul disini, saya selaku orangtua dari pihak keluarga Satria ingin membicarakan kelanjutan hubungan antara anak-anak kita. Seperti yang telah kita bicarakan sebelum pernikahan yang sebelumnya, jika selanjutnya akan dibicarakan kelanjutan hubungan antara keduanya setelah Raina melahirkan. Bagaimana dengan pihak keluarga Raina?" ucap Pakde Suseno.


"Kalau menurut saya, biarkan kedua anak-anak kita ini yang memutuskannya. Karena bagaimana pun, mereka berdualah yang akan menjalani biduk rumah tangga yang sebenar-benarnya." jawab Ibu Riska selaku ibu dari Raina.


"Bagaimana, Dek Santi? Kamu selaku ibu kandung Satria, kamu juga harus memberikan restu untuk mereka." ucap Pakde Suseno.


Ibu Santi terdiam, Satria memperhatikan raut wajah mamahnya itu dengan harap-harap cemas. Hingga sekarang pun, Ibu Santi masih bersikap dingin pada Satria tiap kali Satria membahas tentang Raina.


"Saya ... saya bersependapat dengan ibu Riska." jawab Ibu Santi.


Satria menyadari jika, jawaban yang diberikan mamahnya tidak benar-benar tulus, seperti terpaksa untuk mengatakan itu.


"Alhamdulilah ... bagaimana dengan dirimu, Satria?" tanya Pakde Suseno.


"Ehm, sebenarnya ... Satria ingin kembali melanjutkan pernikahan ini sebulan setelah Raina selesai dari masa nifasnya. Dan jika Raina berkenan, saya akan mensegerakannya." jawab Satria dengan hati-hati dan sesekali dirinya juga memperhatikan sikap mamahnya yang memandangnya tidak suka.


Tatapan mata Ibu Santi pun tertangkap oleh mata Aldo yang juga turut memperhatikan sedari Satria berbicara.


"Lalu, apa Raina bersedia untuk melanjutkan pernikahan ini?" tanya Pakde Suseno pada Raina yang menggendong si kecil Al.


"InsyaAllah ... saya bersedia, Pakde." jawab Raina.

__ADS_1


"Baik lah kalau begitu, karena kita sudah mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan harapan kita semua, kita tutup musyawarah ini dengan hamdalah."


""Alhamdulilah ...." ucap semua yang berada diruang keluarga itu, tapi tidak dengan Ibu Santi yang kembali terdiam.


"Hari semakin malam, kalian juga butuh istirahat karena seharian penuh kita sudah berada disini demi melaksanakan aqiqah cucu tersayang kita ini. Kalau begitu, saya dan keluarga pamit pulang, Bu Riska, Raina." ucap Pakde Suseno.


"Iya, Pak." jawab Ibu Riska ramah.


Begitu pula dengan Raina yang menyalami satu per satu keluarga dari Satria. Semua pun sudah pulang dan rumah Raina kembali sepi. Raina membawa Al masuk ke dalam kamar untuk meletakkan anaknya itu diatas kasur, karena sedari tadi si kecil Al sudah tertidur dipangkuan Raina.


Setelah meletakkan Al diatas kasur, Raina pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Raina mengguyurkan seluruh badannya dengan air yang begitu menyegarkan.


Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Raina kembali masuk ke dalam kamarnya untuk memakai baju. Dan kemudian, Raina ikut berbaring disamping Al yang masih tertidur dengan sangat pulas.


Raina memiringkan tubuhnya untuk dapat melihat wajah anaknya itu, terasa begitu menenangkan ketika melihat wajah kecil bayi lelakinya itu. Raina mengelus lembut pipi kecil Al.


"Hadirmu membuat hari-hari bunda menjadi berwarna, kamu adalah anugerah terindah yang diberikan Allah pada bunda. Maafkan bunda, jika awal kehadiranmu dirahim bunda, bunda sempat tidak menerima mu. Bahkan, bunda sempat berfikir untuk mengakhiri hidup bunda. Tapi bunda sadar, itu hal keji yang sangat dibenci Allah. Hingga akhirnya, bunda memperjuangkan dirimu dan kamu lahir kedunia ini. Bunda menyayangimu, Nak." ucap Raina dan kemudian mengecup kening si kecil Al.


Raina kembali membaringkan tubuhnya pada posisi yang benar, matanya menatap lurus kearah langit-langit kamarnya. Menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya dan senyum pun mengembang dibibirnya.


Sementara masih dirumah yang sama tapi diruangan yang berbeda, Aldo memikirkan apa yang sudah mengganggu pikirannya.


"Kenapa raut wajah ibu Santi seketika berubah ketika Satria menyatakan maksudnya untuk kembali melanjutkan pernikahannya dengan Raina? Apa ada sesuatu dengan ibu dan anak itu?" Aldo terus Bertanya-tanya.


***********


Dikediaman Satria.


Mobil baru saja menepi, ibu beserta kedua anak laki-lakinya itu pun keluar dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Bara sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya, sementara Satria mengekor dibelakang mamahnya.


"Mah ...." panggil Satria.

__ADS_1


"Iya." Ibu Santi pun menghentikan langkahnya, namun tidak membalikkan badannya.


"Mah, terimakasih sudah mau merestui kembali niat Satria untuk melanjutkan pernikahan ini." ucap Satria.


"Hemm ...." Hanya deheman yang diberikan Ibu Santi pada anaknya itu dan kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.


Satria mematung ditempatnya memandang mamahnya yang kembali berjalan. Satria merasa jadi serba salah. Hingga saat ini, dirinya belum mendapatkan alasan pasti apa yang menyebabkan mamahnya berubah seperti itu.


"Kenapa mamah seperti ini sama Satria, Mah? Apa salah Satria?" gumamnya.


Dengan perasaan yang campur aduk, Satria mengambil kunci sepeda motornya dan kemudian kembali keluar dari rumah.


Satria melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi hingga dia sudah tidak memperhatikan jalannya, sampai sepeda motornya hampir menabrak mobil yang akan keluar dari gang perumahan.


Satria dan juga pengemudi mobil itu sama-sama terkejut dan mengerem mendadak. Satria masih terdiam diatas sepeda motornya, sementara pengemudi mobil itu pun keluar dan menghampiri Satria.


Namun, saat dirinya mendekatkan langkahnya pada sepeda motor Satria, seketika itu juga


langkahnya menjadi pelan saat tahu siapa yang berada diatas sepeda motor itu.


"Mas Satria ...." panggilnya lirih.


Satria pun menoleh ke asal suara yang sudah membuyarkan ketegangannya.


Deg,


"Erlina ...."


Dag, dig, dug, der....


Yukz kasih jempolnya dulu donk buat author 😁


Kumpulkan poin yang banyak dipusat misi diprofil kalian, biar bisa vote karya author ini😊

__ADS_1


Dan bila berkenan, kalian bisa tinggalkan tip untuk author sebagai bentuk apresiasi kalian pada karya author.


__ADS_2