Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Bara Sadar


__ADS_3

Raina, Satria dan Sandra mereka saling pandang setelah ketiga orang tadi baru saja meninggalkan ruangan itu, masih ada suasana ketegangan didalam ruangan itu. Namun, beberapa detik kemudian mereka sama-sama saling melemparkan senyum dan sedikit menahan tawa.


"Kalau saja ini bukan dirumah sakit dan bude tidak sedang sakit gini, mungkin aku akan tertawa lepas melihat raut wajah konyol kalian berdua." ucap Sandra sembari menahan tawanya.


"Kami?" Raina menunjuk dirinya sendiri dan juga menoleh ke arah suaminya.


"Iya, kalian. Kalian berdua itu kelihatan sekali berusaha untuk bersikap tenangnya. Padahal, aku yakin jika Raina pasti merasakan hawa-hawa panas dihati nya, kan?" ungkap Sandra.


"Dan Mas Satria mencoba bersikap tenang, karena bertemu mantan pacar dan juga mantan mertua, padahal kenyataannya Mas gugup, kan?" Sandra terus saja berbicara menggoda pasangan suami dan istri itu.


"Ngomong apa sih, kamu? Sok tahu!" ucap Satria sembari melayangkan jitakannya dikepala Sandra.


Sandra hanya meringis kesakitan sembari mengusap-usap bagian kepalanya yang terkena jitakan Satria.


Sementara Raina hanya diam sembari menatap tajam ke arah Satria.


"Hei, kenapa dirimu menatap ku seperti itu? Jangan dipikirkan, semua kan sudah berakhir. Hanya ada aku dan dirimu sekarang, tidak ada yang lain. Tak usah merasa cemburu, suami mu ini adalah pria setia." ucap Satria sembari mencolek dagu Raina.


"Huek, huek, gak usah ngegombal disini deh, Mas?" ejek Sandra.


"Apaan sih, anak kecil ini? Diam aja, gak usah komentar kenapa?" gerutu Satria.


"Mas, aku mau melihat Bara dulu. Dan sepertinya aku aja yang menemaninya disana. Mas jaga ibu saja." ucap Raina sembari berlalu meninggalkan Satria dan juga Sandra.


"Ya, ya, ya, aku ditinggal disini. Aku mau menyusul Raina, Mas disini aja nemenin bude." ucap Sandra yang langsung beranjak dari duduknya untuk mengejar Raina.


Satria hanya diam menyaksikan kedua perempuan yang baru saja meninggalkannya. Satria menyadari sesuatu, jika istrinya sekarang sepertinya masih cemburu atas kehadiran Erlina tadi. Ditambah lagi dengan Sandra yang menggodanya, semakin terlihat jelas diwajah sang istri, jika perempuannya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Hingga kembali memanggil dirinya dengan sebutan Mas bukan Ayah dengan nada yang sedikit ketus.


"Apa segitu sensitifnya perasaannya? Hingga masih merasa cemburu?" gumam Satria sembari berdiri berkacak pinggang melihat ke arah pintu ruangan.


Terdengar decitan dari brankar yang digunakan oleh ibu Santi. Satria menoleh ke arah kasur tersebut, ternyata mamahnya bangun dan membenarkan posisi tubuhnya untuk turun dari kasur itu.


"Mah, mau kemana?" tanya Satria yang langsung menghampiri mamahnya.


"Mau buang air kecil." jawab Ibu Santi tanpa melihat anaknya.


"Mari, biar Satria bantu." ucap Satria memapah tubuh mamahnya sedangkan tangan yang lain memegang infus stand.


Ibu Santi hanya diam tanpa penolakan. Satria dengan sangat hati-hati membawa mamahnya menuju toilet yang masih berada didalam satu ruang perawatan itu.


"Sudah, Mamah bisa sendiri." ucap Ibu Santi ketika sudah berada didalam toilet.


Satria pun menunggu mamahnya didepan pintu toilet. Dan setelah itu, Satria kembali melakukan hal yang sama pada mamahnya menuju kasur.

__ADS_1


Ibu Santi kembali berbaring diatas kasurnya, sementara Satria duduk disisi kasur sembari memijat pelan tangan dan juga kaki mamahnya.


"Bagaimana keadaan Bara?" tanya Ibu Santi.


"Bara masih belum sadar, Mah." jawab Satria.


"Mamah bisa jaga diri mamah sendiri disini, ada perawat yang akan menemani mamah nanti. Lebih baik kamu disana aja menemani adikmu, hingga dia benar-benar sudah dipindahkan diruang perawatan." titah Ibu Santi.


"Ehm, disana ada Raina yang menunggunya, Mah." ucap Satria.


"Hmmm ...." Tanpa berkomentar apa pun, hanya sebuah deheman yang terdengar dari Ibu Santi setelah mendengar ucapan dari anaknya.


"Apa mamah ingin makan buah melon ini? Biar Satria yang potong-potongin, ya?" Satria mengalihkan pembicaraan.


Ibu Santi hanya menganggukan kepalanya lemah. Satria langsung memotong - motong kecil buah melon yang sengaja ia beli diluar tadi dan menyuapkan nya pada mamahnya.


*******


Ditempat yang sama tapi diruang yang berbeda, Raina masih menunggu perkembangan adik iparnya dan masih ditemani oleh bunda Eva dan juga Sandra.


"San, bunda akan pulang. Apa kamu ikut pulang bersama bunda atau tetap disini menemani Raina?"tanya Bunda Eva pada anak perempuannya.


"Sepertinya ... Sandra ikut pulang deh, Bun. Sandra mau bersih-bersih badan dulu. Sudah lengket banget nih, seharian disini." jawab Sandra.


"Oh ok, ayo." ucap Bunda Eva.


"Iya, sayang. Sementara kamu jaga disini sendiri dulu, ya. Tapi, mungkin sebentar lagi pakde Suseno dan istrinya akan kesini juga menjenguk Bara dan juga mamahmu. Tadi beliau mengabari bunda jika akan kesini." Bunda Eva menimpali perkataan anaknya.


"Iya, Bun. Tenang aja, Raina gak apa-apa, kok." balas Raina.


Setelah saling berpamitan, akhirnya Sandra dan bunda Eva pun pergi meninggalkan Raina yang duduk sendiri diruang tunggu IGD.


Raina memainkan handphonenya untuk menghilangkan rasa bosan. Tak lama kemudian, dokter yang menangani Bara berhenti tepat didepannya.


"Apa ibu keluarga dari pasien yang bernama Bara?" tanya Dokter tersebut.


"Iya, Dok." jawab Raina yang langsung berdiri dari duduknya saat dokter lelaki itu datang.


"Pasien sudah dalam keadaan sadar, dua jam lagi kami akan melakukan operasi pemasangan pen pada tulang kaki pasien yang patah." Dokter tersebut memberitahukan kondisi Bara yang sekarang.


"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk adik saya. Oh ya, apa saya boleh masuk untuk melihatnya sebentar?" tanya Raina.


"Tentu. Sebelum operasi dimulai, ada baiknya keluarga memberikan semangat untuk pasien agar pasien tidak merasa putus asa." jawab dokter tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih, Dok." ucap Raina yang langsung diberi anggukan oleh dokter tersebut.


Setelah kepergian dokter tadi, Raina langsung menelepon Satria untuk memberitahukan kondisi adik iparnya itu sekarang. Tak butuh waktu lama, panggilan telepon Raina pun langsung dijawab oleh Satria.


[Hallo, kenapa Bun?]


[Bara sudah sadar, kata dokter dua jam lagi akan dilakukan operasi pemasangan pen dikakinya. Sebelum itu, sebaiknya kita memberi semangat untuk Bara. Karena bunda sudah diberi izin oleh dokternya untuk menemui Bara.]


[Ok, kalau begitu sebentar Ayah nyusul kesana.]


Panggilan pun diakhiri setelah Raina mendapat jawaban dari suaminya.


**********


Di dalam ruang perawatan, ibu Santi mendengar percakapan Satria dengan Raina yang melalui telepon itu karena memang Satria duduk disamping mamahnya dan volume handphone tersebut memang cukup keras.


"Kenapa Bara?" tanya Ibu Santi.


"Bara sudah sadar, Mah. Dua jam lagi dia akan dioperasi untuk pemasangan pen, Satria akan menemuinya sebentar untuk memberikannya semangat." jawab Satria.


"Mamah ikut, mamah juga ingin menemuinya." ucap Ibu Santi.


"Jangan, Mah. Mamah masih lemah, nanti Mamah pasti akan sedih dan kepikiran lagi kalau melihat kondisi Bara yang belum sembuh total. Lebih baik Mamah disini aja dulu, Satria sebentar aja kok. Satria akan memanggilkan perawat untuk menemani Mamah sebentar disini." cegah Satria.


"Gak, Mamah akan kuat demi Bara." Ibu Santi yang keras kepala masih saja tetap bersikeras dengan keinginannya untuk menemui anak bungsunya itu.


Satria hanya menghela nafasnya, tak dapat membantah lagi. Dia tidak ingin usahanya untuk berbaikan dengan mamahnya menjadi sia-sia hanya karena tidak menuruti kemauan orangtuanya itu.


"Ya sudah, mamah tunggu disini dulu sebentar. Satria ambilkan kursi roda dulu untuk mamah." ucap Satria yang akhirnya mengalah.


Namun, saat yang bersamaan dengan Satria yang ingin membuka pintu, saat itu juga pintu didorong dari luar.


"Assalamualaikum ...." sapa orang yang membuka pintu dari luar, yang tak lain adalah Pakde Suseno bersama dengan istrinya datang untuk menjenguk.


"Walaikumsalam .... Pakde, Bude." balas Satria yang langsung mencium punggung tangan kedua orangtua yang ada didepannya.


"Kamu mau kemana, Sat?" tanya Pakde Suseno.


"Satria mau mengambil kursi roda untuk mamah, Pakde. Mamah ingin melihat Bara." jawab Satria.


Pakde Suseno menatap adiknya yang duduk diujung kasur dengan wajah yang tertunduk. Pakde Suseno dan istrinya pun melangkah maju mendekat ke arah Ibu Santi. Begitu pula dengan Satria.


#Maaf UP nya telat 😁😁✌️

__ADS_1


Terus dukung author ya?? Jangan lupa like, komen dan votenya 😘


Terimakasih πŸ™


__ADS_2