
Demi mengisi kekosongan waktunya, kini Raina ikut membantu ibunya ditoko kue. Begitu pula dengan Al yang juga ikut dibawa menemani bundanya. Al diletakkan diatas bouncer, bermain dengan mainan yang sudah disiapkan oleh bundanya. Sesekali si kecil Al memperhatikan bunda dan juga neneknya yang sedang sibuk membuat kue. Al anak yang pintar dan tidak rewel jika bundanya sedang sibuk membantu neneknya.
Dia akan menangis jika dirinya merasa haus, mengantuk dan juga sedang buang air. Maka Raina akan menghentikan aktifitasnya dan menenangkan anak lelakinya itu.
Hari ini, tidak begitu banyak orderan yang masuk. Sehingga ibu Riska tidak begitu sibuk membuat kue. Sehingga lebih banyak istirahat dan bermain dengan cucunya.
"Bu ...." panggil Raina pelan dan duduk disamping ibunya.
"Iya, Rai ... kenapa?" tanya Ibu Riska.
"Bu, Raina mau bicara sama ibu tentang mas Satria." ucap Raina.
"Iya, sayang ... bicara aja, ibu bakal dengar, kok." balas Ibu Riska.
"Mas Satria ngajak Raina untuk menyewa rumah sendiri, Bu. Katanya ... agar kita berdua bisa lebih mandiri dan juga bisa lebih saling mengerti dalam membina rumah tangga." Raina memberitahukan niat Satria yang tadi pagi telah mereka bicarakan.
"Ibu sangat sejutu, sayang. Memang seharusnya kalian seperti itu. Mungkin dengan seperti itu, kalian bisa lebih mengenal satu sama lain. Kalian menikah dengan waktu perkenalan yang sangat singkat dan bahkan tanpa perasaan cinta sedikit pun. Anggap saja ... ini sebagai masa penjajakan untuk kalian." Ibu Riska mencoba memberi pengertian pada anak perempuannya.
"Jadi, ibu sudah gak mau serumah sama Raina dan juga Al." canda Raina.
"Ya, gak begitu sayang ... toh, kalian juga pindah gak keluar kota, kan? Ibu masih bisa mengunjungi kalian dan kalian bisa berkunjung ke rumah ibu sesuka hati kalian. Ibu berfikir, sepertinya Satria butuh privasi untuk berdua sama kamu." ujar Ibu Riska.
"Privasi? Privasi gimana, Bu? Kan, kita sudah satu kamar. Pastinya dikamar juga sudah sangat privasi untuk mas Satria." ucap Raina.
"Ya, kalau disini kan, ada ibu dan juga saudara-saudaramu. Pastinya, dia gak leluasa untuk dekat dengan kamu lebih intim." ujar Ibu Riska.
"Lebih intim apaan sih, Bu?" Pipi Raina merah merona malu.
"Hahaha ... kamu akan merasakan hal berbeda, jika kalian sudah benar-benar tinggal bersama nantinya." Ibu Riska menertawakan Raina yang tengah malu.
Raina membayangkan apa yang telah diucapkan oleh ibunya.
"Mungkin apa yang ibu bilang itu benar, semoga ada perubahan jika kami benar-benar tinggal bersama nanti." batin Raina.
"Jadi, kapan rencana kalian pindah?" tanya Ibu Riska.
"Mas Satria masih mencari rumah yang akan kita tempati, Bu. Kemungkinan sekitar empat atau lima hari lagi. Kata mas Satria seperti itu." jawab Raina.
"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, semoga kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anakmu nanti." ucap Ibu Riska.
"Terimakasih, Bu. Raina akan selalu ingat nasihat-nasihat yang ibu berikan pada Raina." balas Raina.
********
Sepulang kerja, Satria bergegas menuju rumah sewaan yang telah diberitahukan oleh teman kerjanya yang juga menyewa rumah didaerah yang sama.
Rumah single dengan type 36 yang terletak tidak begitu jauh dari tempat Satria bekerja dan juga lokasinya yang strategis, membuat Satria merasa cocok dengan rumah tersebut meski baru melihatnya dari luar.
"Ini rumahnya, Sat." tunjuk Deki teman kerja Satria.
Satria mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai melihat-lihat keadaan disekeliling rumah yang mulai dipenuhi rerumputan yang mulai meninggi dikanan dan kiri rumah itu.
"Sebentar kamu tunggu disini dulu, aku mau panggilkan adik yang punya rumah ini. Rumahnya gak jauh dari sini, kok." ujar Deki.
__ADS_1
"Ok." ucap Satria.
Tak lama kemudian, Deki kembali bersama dengan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu energik.
"Ini tante, teman saya namanya Satria yang mau lihat rumahnya." ucap Deki memperkenalkan Satria.
"Oh, saya Nilam. Mari kita masuk." balas wanita itu dan mendapat anggukan dari Satria.
Pintu rumah terbuka, Satria memperhatikan dengan detail setiap ruang yang ada didalam rumah itu. Rumah minimalis yang hanya mempunyai dua kamar tidur yang tidak terlalu besar, namun terasa nyaman untuk ditinggali untuk dirinya dan juga keluarga kecilnya.
"Bagaimana, Mas?" tanya Tante Nilam selaku adik dari pemilik rumah yang akan Satria sewa.
"Saya cocok dengan rumahnya. Kira-kira, berapa ya, harga sewa sebulannya?" Satria balik bertanya pada Tante Nilam.
"Satu juta per bulan, Mas. Tapi belum dengan air dan listriknya, ya. Air dan listriknya ditanggung yang menyewa." jawab Tante Nilam.
"Ehm, begitu. Saya dp dulu, boleh? Sisanya setelah saya pindah kesini." tanya Satria yang sudah benar-benar srek dengan rumah itu.
"Iya, gak apa-apa, Mas. Kira-kira kapan mau ditempati? Biar bisa dibersihkan dulu rumahnya sebelum ditempati." ujar Tante Nilam.
"Mungkin sekitar empat harian lagi, tante. Nanti saya kabari dua hari sebelum dipindahin." balas Satria.
"Ok. Bisa disimpan nomor telepon saya, Mas. Biar enak kalau kasih kabarnya." ucap Tante Nilam.
Setelah bertukar nomor telepon dan juga membayar dp sewa rumah, Satria pun berpamitan pulang.
Satria melajukan kecepatan mengendarai sepeda motornya agar bisa lebih cepat sampai dirumah. Entah kenapa hatinya begitu bahagia, setelah mendapatkan rumah yang ia inginkan meski itu baru saja menyewa.
*********
"Walaikumsalam ...." jawab orang yang berada didalam rumah.
Satria melangkahkan kakinya terus masuk ke dalam rumah.
"Baru pulang, Mas." sapa Aldo yang sedang menonton televisi diruang keluarga.
Meskipun, Aldo adalah kakak ipar dari Satria, tetapi dirinya tetap menghormati Satria yang lebih tua tiga tahun di atasnya. Yang membuat Aldo tetap memanggil Satria dengan sebutan mas.
"Iya nih, tumben kamu cepat ada dirumah. Biasanya aku duluan yang sampai." ujar Satria.
"Lihat jam, dong. Sudah jam berapa sekarang?" Aldo menunjuk jam dinding yang berada tepat di atas meja televisi.
"Hahaha, pantas. Berarti aku yang telat pulangnya kali ini. Ok deh, aku masuk dulu, ya. Sudah gerah banget, nih." Satria terkekeh setelah melihat jam yang berdenting itu.
"Ok, silahkan." balas Aldo.
Satria tidak menyadari jika dirinya tiba dirumah hampir masuk waktunya maghrib. Dia segera beranjak masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi yang sebelumnya menyapa Raina.
"Assalamualaikum ... ayah pulang." ucap Satria yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Walaikumsalam ... kok, baru pulang, Mas." tegur Raina sembari melirik jam dihandphonenya.
"Iya, Dek. Mas tadi mampir lihat rumah dulu. Ya, sudah Mas mandi dulu. Sudah mau maghrib, nih. Nanti kita lanjut lagi ceritanya." jawab Satria yang langsung bergegas meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah sholat maghrib dan juga makan malam, Satria mulai membicarakan niatnya yang akan membawa Raina untuk menyewa rumah sendiri pada ibu dan juga saudara Raina yang sekarang sedang berkumpul diruang keluarga.
"Ehm, Bu ... saya berencana untuk membawa Raina pindah dari rumah ini dan ingin menyewa rumah sendiri. Apa ibu mengizinkan?" tanya Satria berhati-hati.
"Raina sudah bicara dengan ibu siang tadi. Tentu, ibu mengizinkan. Karena pasti kamu sudah memikirkan hal ini dengan secara matang dan tentunya juga demi kebaikan kalian, kan." jawab Ibu Riska.
"Terimakasih, jika Ibu mengizinkan." ucap Satria
"Apa kamu sudah menemukan rumah sewaannya?" tanya Ibu Riska.
"Alhamdulilah, tadi saya sudah mendapatkan rumah yang cocok untuk tempat tinggal kami. Memang rumahnya hanya rumah sederhana yang tidak begitu besar, tapi tempatnya sangat nyaman dan juga tidak jauh dari tempat saya bekerja." jawab Satria.
"Oh ya, kira-kira kapan kalian akan pindah?" Ibu Riska kembali bertanya.
"InsyaAllah, jika tidak ada halangan sekitar empat hari lagi kami akan pindah, Bu." jawab Satria.
"Ibu hanya bisa mendoakan, semoga setelah kalian memutuskan untuk belajar mandiri, kalian bisa saling memahami, saling mengerti satu sama lain bagaimana arti dari sebuah pernikahan sebenarnya. Dan, semoga Nak Satria bisa mencintai Raina sebagai istri untuk Nak Satria." Ibu Riska seakan mengingatkan Satria lagi bagaimana dengan hubungan pernikahan dirinya dan juga Raina.
"InsyaAllah, Bu." ucap Satria.
Setelah Satria sudah selesai berbicara dengan Ibu mertuanya, Satria pun beranjak untuk ke kamar.
"Dek ...." panggil Satria pelan pada Raina yang sedang menyusui Al.
"Iya, kenapa Mas?" tanya Raina.
"Selesaikan saja dulu sampai Al kenyang." ujar Satria tanpa menjawab pertanyaan Raina dan duduk diujung kasur.
Setelah Al merasa kenyang dan tertidur kembali, Raina pun membenarkan posisinya dengan duduk menyandar pada kepala kasur.
"Kenapa, Mas?" Raina kembali bertanya pada Satria.
"Ini, Mas ada sedikit uang untuk membeli perlengkapan dapur. Kita mencicil dulu ya, beli yang seperlunya aja. Nanti, jika masih ada yang kurang kita beli lagi setelah mas gajian." ucap Satria sembari menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada Raina.
Memang selama dia kerja, semua tabungannya dipegang oleh mamahnya. Jadi, Satria hanya mengandalkan sisa gajinya yang sengaja ia sisihkan sedikit demi sedikit beberapa bulan setelah dia tinggal serumah dengan Raina.
Sebenarnya, Satria bisa saja langsung membelikan Raina dan juga Al sebuah rumah sederhana, tapi kenyataannya semua tabungan yang dipegang oleh mamahnya tidak bisa dia ambil.
"Iya, Mas. Gak apa-apa, kok. Raina ambil ya, uangnya. InsyaAllah, kalau besok ibu tidak banyak orderan kue, Raina akan meminta tolong pada ibu untuk menemani Raina membeli perlengkapan rumah." ucap Raina sembari menerima uang yang telah diberikan Satria.
"Iya, Dek. Ya sudah, ayo tidur. Sudah malam." ucap Satria sembari mengusap lembut kepala Raina.
"Iya, Mas. Selamat malam." ucap Raina.
"Malam juga." balas Satria.
Keduanya pun sama-sama mulai memejamkan mata. Menata mimpi, agar mimpi indah mereka menjadi sebuah kenyataan.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π