Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Bagaimana perasaanmu ke dia?


__ADS_3

"Wiih ... lagi makan enak nih, gak panggil-panggil kakak, sih?" ucap Aldo yang baru saja ikut bergabung dengan ibu dan adik perempuannya.


"Kak Raina gitu memang, Kak. Kalau makanan enak diam-diam aja." ucap si bungsu Raka yang baru saja datang bersama dengan Aldo.


"Hahaha ... Maaf, gak ada maksud buat lupain kalian. Aku terlalu menikmatinya, hingga aku gak sadar kalau ada kalian." ujar Raina sembari tertawa kecil.


"Sama aja tahu, itu namanya lupa." Aldo menimpali ucapan Raina dan menoyor kepala Raina.


"Ah, Kak Aldo kebiasaan, deh." ucap Raina sembari merapikan rambutnya.


"Sudah ... sudah ... kalian ini dari kecil selalu ribut. Makanlah, Aldo, Raka, jangan mengganggu ibu hamil ini. Dia sangat sensitif." Ibu Riska berisik kepada kedua putranya tapi masih terdengar oleh Raina karena memang sengaja berniat untuk menggoda anaknya.


"Ibu sama aja jahilnya sama dua anak ini." gerutu Raina sembari menunjuk kedua saudaranya.


Ketiga orang yang ada dihadapannya pun tertawa melihat ekspresi wajah Raina.


"Oh, iya. Bulan depan kan, usia kandungan kamu sudah menginjak tujuh bulan, apa mertua mu tidak membuat acara untuk menyambut tujuh bulan kehamilanmu?" tanya Ibu Riska.


"Entahlah, Bu. Mamah tak pernah membahasnya." jawab Raina.


"Kalau mereka tidak membuatnya untukmu, biar keluarga kita saja yang melakukannya. Ini anak pertama, jadi harus dilakukan acara itu." ucap Ibu Riska.


"Nanti lah, Raina akan menanyakannya terlebih dahulu dengan mas Satria." ucap Raina.


"Iya, harus. Selesaikan makan kalian, ibu akan kembali ke toko kasian Eci sendirian disana." ucap Ibu Riska.


Dan ketiga anaknya serempak menganggukan kepala mereka sebagai jawaban.


Hari semakin sore, matahari pun mulai beranjak meninggalkan peraduannya. Raina masih bertahan dirumah ibunya. Bersenda gurau dengan kedua saudara laki-lakinya yang telah lama sekali tidak ia lakukan.


"Rai, apa kamu menginap disini?" tanya Ibu Riska yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya tidak, Bu. Raina tidak bilang dengan mamah kalau akan menginap disini." jawab Raina.


"Ya, sudah ... selepas maghrib nanti Aldo akan mengantarkanmu pulang." ucap Ibu Riska dan berlalu meninggalkan ketiga anaknya yang masih berbagi cerita diruang keluarga.


Adzan maghrib berkumandang, ini untuk pertama kalinya lagi bagi Raina melakukan sholat berjamaah dengan keluarganya. Selesai sholat, ibu Riska menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


"Apa kamu tidak ingin makan malam bersama kita disini?" tanya Ibu Riska yang melihat Raina sudah bersiap untuk pulang.


"Ehm, sepertinya gak deh, Bu. Raina masih kenyang karena kebanyakan makan siang tadi." jawab Raina.


"Tapi, kakak lapar, Rai. Kamu bisa menungguku, kan. Setelah selesai makan aku langsung mengantarkan mu." ucap Aldo yang sudah siap dimeja makan.

__ADS_1


"Iya, deh. Raina tunggu diruang tamu aja, ya." sahut Raina.


Setelah menunggu tidak terlalu lama, Aldo pun sudah siap untuk mengantarkan Raina pulang ke rumah Satria.


"Bu, Raina pamit dulu, ya." ucap Raina.


"Iya, kamu baik-baik disana. Jaga dirimu dan juga kandunganmu, jangan melakukan hal yang berat." balas Ibu Riska mengingatkan Raina.


Setelah berpamitan kedua kakak beradik itu pun masuk ke dalam mobil. Mobil sudah mulai melaju meninggalkan rumah mereka.


"Rai ...." panggil Aldo.


"Ehm ...." Raina hanya menjawab dengan deheman.


"Apa kamu benar-benar mencintainya?" Aldo kembali mempertanyakan perasaan adiknya pada Satria.


"Apa sih, Kak? Gak usah dibahas dulu deh, masalah itu." jawab Raina yang langsung menoleh kearah Aldo.


"Kakak serius, Rai ... kakak pengen tahu bagaimana perasaanmu ke dia. Kalau yang kakak lihat sih, sepertinya dia sangat menyayangimu." ujar Aldo.


Raina pun sebenarnya menyadari perhatian besar yang selalu diberikan Satria padanya tapi dia tidak dapat menyimpulkan apakah Satria memberikan perhatian itu karena dia bertanggungjawab atas calon keponakannya saja atau Satria memang tulus menyayangi Raina juga. Apa lagi saat waktu itu Satria mengigau menyebut nama seorang perempuan yang ia tidak tahu apa hubungannya dengan Satria, tapi dirinya menyimpulkan bahwa perempuan itu ada hubungan spesial dengan Satria. Sehingga Raina masih ragu dengan perasaannya. Dia tidak mau terlalu berharap lebih, karena akan kecewa nantinya jika tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


"Entahlah, Kak. Raina tidak ingin membahas itu sekarang." ucap Raina.


Keadaan kembali hening, Raina kembali dengan tatapannya yang memperhatikan pemandangan dijalan dan Aldo kembali fokus dengan kemudinya.


"Kakak hanya ingin yang terbaik untukmu, Rai. Terlalu banyak kemalangan yang telah kamu derita selama ini. Kakak hanya ingin adik perempuan kakak satu-satunya, bahagia kelak dengan orang yang tepat." batin Aldo sembari melihat sekilas ke arah Raina.


Tak terasa, mereka pun sudah tiba dirumah Satria.


"Kakak gak mampir dulu." ajak Raina.


"Lain kali ya, Rai. Ini juga sudah malam, kakak mau langsung balik aja." balas Aldo.


"Ok. Raina masuk ya, Kak." ucap Raina sembari melambaikan tangan kepada kakaknya.


Aldo pun kembali memutar mobilnya dan keluar dari halaman rumah Satria. Aldo mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Raina benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Kak Raina diantar siapa?" tanya Bara yang membukakan pintu untuk Raina.


"Sama kak Aldo, apa mamah sudah tidur?" Raina balik bertanya pada Bara.


"Sepertinya belum, Kak." jawab Bara.

__ADS_1


"Ok, kakak akan ke kamar mamah." ucap Raina yang mulai melangkahkan kakinya ke kamar mertuanya.


Raina mendekat ke pintu kamar mertuanya yang sudah tertutup, tapi lampu kamarnya masih menyala.


"Mah, ini Raina. Apa mamah belum tidur?" tanya Raina sembari mengetuk pintu kamar mertuanya.


"Raina, masuklah." jawab Ibu Santi dari dalam.


Raina pun mulai membuka pintu kamar itu dan masuk kedalamnya.


"Assalamualaikum, Mah." sapa Raina sembari mendekat dan mencium punggung tangan mertuanya penuh takzim.


"Walaikumsalam, sayang." jawab Ibu Santi sembari tersenyum.


"Kenapa mamah belum tidur? Apa mamah sudah meminum obat mamah?" tanya Raina.


"Sudah, sayang. Entahlah malam ini mata mamah sulit sekali untuk terpejam. Bagaimana harimu hari ini? Pasti sangat menyenangkan berkumpul bersama dengan keluargamu disana." Ibu Santi menjawab pertanyaan Raina lalu kembali bertanya pada menantunya itu.


"Iya, Mah. Raina sangat senang dapat berkumpul dengan ibu dan saudara Raina." jawab Raina sembari tersenyum.


"Ingat jaga kesehatanmu, kamu baru saja sembuh dan baru keluar dari rumah sakit." Ibu Santi mengingatkan Raina.


"Mamah juga harus jaga kesehatan mamah, mamah gak boleh tidur larut malam. Apa mamah ingin meminum obat tidur?" tanya Raina..


"Iya, sepertinya mamah membutuhkan obat itu lagi." jawab Ibu Santi.


Raina pun mengambilkan obat tidur mamah mertuanya didalam laci dan mengambilkan segelas air untuk meminum obat itu.


"Ayo Mah, diminum dulu." ucap Raina sembari memberikan obat dan air kepada mertuanya.


"Terimakasih, sayang." ucap Ibu Santi.


Sudah lama ibu Santi mengkonsumsi obat tidur, jika dirinya mengalami sulit tidur semenjak sakit. Obat tidur yang diminum oleh ibu Santi pastinya sesuai dengan yang telah idresepkan oleh dokter yang menangani ibu Santi.


"Tidurlah, Mah. Raina juga akan kembali ke kamar Raina." ujar Raina.


Ibu Santi hanya menganggukan kepalanya. Raina sudah beranjak dari duduknya, setelah menyelimuti tubuh mertuanya dan mematikan lampu kamar itu, Raina pun keluar dan menutup kembali pintu kamar mertuanya.


Seperti apa pun status pernikahannya dengan Satria, Raina tetap menghormati dan menyayangi ibu mertuanya seperti dirinya menyayangi ibu kandungnya sendiri.


Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada karya author 😁


Dukungan kalian sangat berarti untuk author πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2