
Seperti yang telah Satria rencanakan, dirinya akan menemui pakde Suseno. Bersyukur karena hari itu tidak ada unit rusak yang masuk mendadak, sehingga tidak membuatnya lembur kerja. Satria merapikan peralatan kerjanya dan kemudian membersihkan dirinya dengan mengganti pakaian bersih yang telah ia persiapkan.
Satria memutuskan untuk meminta bantuan pada Sandra, adik sepupunya itu untuk menjemput dirinya ditempat kerjanya. Karena, rumah bunda Eva tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja.
Satria mengeluarkan handphone dari saku tasnya, kemudian melakukan panggilan telepon dengan adik sepupunya itu. Panggilan terhubung dan langsung dijawab oleh orang diseberang sana.
[Hallo, Mas. Ada apa?]
[Kamu lagi dimana? Mas bisa minta tolong gak, sama kamu?]
[Sandra lagi diperpustakaan kota. Memangnya, Mas mau minta tolong apa?]
[Oh, baru saja atau sudah dari tadi? Mas, mau minta tolong kamu jemput mas di tempat kerja mas dan temani mas ke rumah pakde Suseno.]
[Sudah dari tadi, sih. Perpustakaannya sebentar lagi juga mau tutup. Ok, setengah jam lagi Sandra jemput.]
[Ok. Mas share lock alamatnya, ya?]
[Yupz.]
Panggilan pun diakhiri. Satria memang selalu meminta bantuan pada Sandra jika ada sesuatu. Karena menurutnya, Sandra lebih bisa diandalkan daripada Bara. Yang terkadang adik bungsunya itu, masih suka keceplosan bicara pada mamahnya bila ada sesuatu yang menurut Satria bersifat rahasia.
Satria menunggu Sandra diluar workshop tempatnya bekerja, agar lebih mudah adik sepupunya itu menemukan dirinya.
Tidak sampai tiga puluh menit, Sandra sudah menemukan lokasi tempat kakak sepupunya itu bekerja. Dia melihat Satria yang berdiri didepan sebuah bangunan dengan menggunakan celana jeans panjang, baju kaos pres body yang mencetak tubuh six pack Satria meski kakaknya itu tidak terlalu kekar tapi tetap terlihat macho, tak lupa pula Satria yang masih menggunakan sepatu safety membuatnya tetap terlihat tampan. Sandra pun menghentikan mobilnya tepat dihadapan Satria.
Sandra keluar dari mobilnya dan meminta Satria untuk mengendarainya.
"Mas yang nyetir mobilnya." ucap Sandra yang berlalu didepan Satria dan langsung masuk ke dalam mobil.
Satria melengos saat Sandra sudah duduk dengan antengnya dikursi mobil. Sebenarnya dirinya sudah sangat lelah, tapi dia tetap mengalah dengan adik sepupunya itu dan berjalan memasuki mobil serta duduk dibalik kemudi.
Satria mulai mengendarai mobil Sandra dan siap meluncur ke arah rumah pakde Suseno yang berjarak lima kilometer dari workshop tempatnya bekerja.
"Tumben, Mas gak bawa sepeda motor sendiri. Kenapa?" tanya Sandra yang sangat tahu kalau kakak sepupunya itu lebih senang mengendarai sepeda motor besarnya itu.
"Sepeda motor Mas, ada dirumah Raina." jawab Satria datar dengan tatapan lurus ke depan.
"Oh, terus kenapa Mas ke rumah pakde Suseno?" tanya Sandra lagi.
__ADS_1
"Nanti kamu akan tahu sendiri jawabannya." jawab Satria tetap dengan nada datar.
Kini Sandra tak lagi bertanya lebih lanjut. Dia tahu bila kakak sepupunya itu bersikap seperti itu, berarti kakak sepupunya sedang menghadapi suatu masalah. Sandra memilih diam dan memperhatikan pemandangan jalan raya yang kanan kirinya sudah dipenuhi dengan bangunan-bangunan pertokoan dan juga gedung-gedung yang tinggi.
Kini, mobil sudah memasuki sebuah gerbang perumahan elite. Pakde Suseno memang bertempat tinggal diperumahan elite yang terletak dipusat kota. Meskipun diluar perumahan sangat padat dan ramai suara deru kendaraan yang lalu lalang, tapi tidak saat memasuki kawasan perumahan.
Sebaliknya, perumahan tersebut lebih terlihat sepi, tenang dan tak banyak yang lalu lalang. Hanya ada beberapa anak yang sedang bermain disebuah lapangan tenis yang berada didalam kompleks perumahan itu.
Sampailah Satria dan Sandra didepan sebuah rumah mewah yang lebih mewah dari milik orangtua Sandra maupun Satria. Satria menekan klakson mobil, tak lama kemudian keluar seorang satpam penjaga rumah yang membukakan pagar untuk mereka.
Satria membuka sedikit kaca mobil agar wajahnya terlihat oleh pak Satpam. Setelah mengetahui siapa yang berada didalam mobil, tanpa banyak bertanya satpam tersebut langsung mempersilahkan Satria masuk.
Satria kembali mengendarai mobil milik Sandra itu untuk masuk ke parkiran luas yang berada disamping rumah mewah itu. Satria memarkirkan mobil Sandra dengan benar, lalu keduanya pun turun dari mobil dan langsung berjalan menuju pintu samping yang biasa mereka lewati jika ke rumah pakdenya itu.
Pintu samping akan membawa mereka langsung menuju ruang keluarga dan juga ruang makan yang tak bersekat sehingga tampak sangat luas.
"Assalamualaikum ...." ucap Sandra dan Satria bersaman kala memasuki ruang keluarga.
"Walaikumsalam ... eh, Non Sandra dan Den Satria. Masuk ... Non, Den." ucap Bi A'ah asisten rumah tangga yang sudah sangat lama bekerja dirumah pakde Suseno dari Satria dan Sandra kecil sehingga sudah sangat hafal dengan keponakan-keponakan majikannya itu.
Sandra sudah lebih dulu duduk disofa ruang tengah dan mulai menikmati serial tv.
"Yo kan, hari-hari memang begini, Den. Kecuali hari libur baru ramai, den Fajar dan non Balqis kesini sama keluarga mereka." jawab Bi A'ah.
Fajar adalah anak tertua pakde Suseno dan Balqis adalah anak bungsunya. Mereka sudah berkeluarga dan sudah memiliki rumah masing-masing yang memang tidak berdekatan, tapi masih satu kota.
"Apa pakde ada, Bi?" tanya Satria.
"Oh, biasa jam segini bapak ada dibalkon ujung. Biasa ... main sama burung-burungnya." jawab Bi A'ah sambil terkekeh.
Pakde Suseno memang pecinta hewan unggas itu, terlebih pada burung-burung yang kicauannya sangat merdu. Sehingga membuat beliau menjadi hobi mengoleksi beberapa jenis burung yang pandai berkicau, sampai-sampai beliau tidak pernah melewatkan pertandingan burung untuk mengikutkan burung jagoannya dalam pertandingan itu.
"Ok. Saya mau nemuin pakde dulu." ucap Satria.
"Nggih ...." balas Bi A'ah menganggukkan kepalanya.
"Hei, apa kamu tetap mau disini atau ikut ke atas nemuin pakde?" tanya Satria pada Sandra.
"Disini aja, deh. Eh, gak! Aku ikut. Kan, aku mau tahu alasan Mas Satria kesini." jawab Sandra yang terlihat plin plan menentukan jawabannya.
__ADS_1
"Dasar kepo." ucap Satria sembari menoyor kepala Sandra, lalu beranjak pergi naik ke lantai atas dan disusul oleh Sandra dibelakangnya.
Kini Satria dan Sandra sudah berada dilantai dua dari rumah itu. Mereka berjalan menuju balkon yang terletak dibagian paling ujung dan paling belakang.
"Assalamu'alaikum, Pakde." sapa Satria dan Sandra bersamaan.
Pakde Suseno yang sedang asik melatih burung murai batu nya itu untuk berkicau, seketika langsung menoleh ke arah suara yang memecah konsentrasinya.
"Walaikumsalam ... eh, kalian. Pakde pikir siapa yang datang." balas Pakde Suseno.
"Maunya pakde siapa yang datang?" tanya Sandra yang kini melangkah maju mendekat dengan pakdenya itu dan mencium tangan pria paruh baya itu penuh takzim. Begitu pula dengan Satria yang melakukan hal yang sama dengan Sandra.
"Ya, pakde pikir kakakmu yang datang. Kalian berdua saja kesini?" jawab Pakde Suseno dan langsung kembali bertanya pada kedua ponakannya.
"Iya, Pakde. Tadi Sandra yang jemput Mas Satria ditempat kerjanya. Katanya, dia mau ketemu sama pakde." jawab Sandra yang terus berbicara tanpa memberi kesempatan Satria untuk berbicara juga.
Pakde Suseno mengalihkan pandangannya pada Satria. Seakan mengerti, jika keponakannya itu sedang menghadapi sesuatu yang sulit.
"Apa betul itu, Satria? Apa ada sesuatu yang membawa dirimu untuk bertemu dengan pakde?" tanya Pakde Suseno yang tak melepas pandangannya dari Satria.
"Ehm ... iya, Pakde." jawab Satria.
"Sepertinya berat. Ayo, ceritakan pada pakde." ucap Pakde Suseno.
"Ehm ... maaf, sepertinya lebih enak kalau bicaranya sambil duduk, Pakde." ucap Sandra.
"Oh, iya. Pakde sampai lupa menyuruh kalian untuk duduk." balas Pakde Suseno.
Kini mereka bertiga pun sudah duduk, dengan posisi Satria dan Pakde Suseno yang duduk dikursi dan Sandra duduk dilantai. Dikarenakan kursi di balkon hanya dua, jadi Sandra lebih memilih duduk dilantai untuk menghormati kedua orang yang lebih tua diatasnya.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π
__ADS_1