Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Ulang Tahun Raina 1


__ADS_3

Dering alarm membangunkan tidur panjangku, terbangun dengan kepala yang terasa berat.


"Mungkin karena kebanyakan nangis jadi begini." gumamku.


Tak berapa lama, suara adzan subuh berkumandang. Berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai, segera mensucikan tubuh dan melaksanakan sholat fardu dua rakaat.


Ku tutup dengan doa penambahan usiaku yang menginjak ke delapan belas tahun. Bersyukur kepada yang Maha Kuasa untuk kehidupan yang menjadikan ku seorang yang tegar dalam menghadapi jalan takdir-Nya. Dan tak lupa ku selipkan doa untuk mendiang almarhum bapak.


"Pak, hari ini Raina ulang tahun, biasanya kita makan tumpeng sama-sama. Oh, iya pak, insya Allah, Raina sudah memaafkan ibu. Semoga ibu benar-benar sudah berubah dan bisa berkumpul dengan kami lagi. Seandainya bapak masih disini, betapa bahagianya Raina bisa bersama dengan keluarga yang lengkap. Raina rindu bapak."


Ku buka jendela kamar, menghirup udara pagi yang terasa sejuk menembus hingga ke relung hati dan menyisakan kedamaian disana.


Terduduk di pinggir kasur menikmati keheningan pagi yang nyaman, ku raih benda pipih yang tergeletak diatas meja. Ku lihat banyak sekali notifikasi ucapan selamat ulang tahun di media sosial ku. Ucapan dari semua teman sekolah dulu dan sebagian dari teman dunia maya ku.


Tersenyum aku membacanya, masih banyak orang yang menyayangi ku.


Ya, semenjak menggunakan telepon pintar ini, Sandra makin mengajariku untuk mengenal media sosial, meskipun begitu aku tidak terlalu aktif di media sosial hanya sebatas menyapa kawan lama.


Meninggal kan media sosial dan telepon pintar sejenak. Beralih ke dapur untuk membuatkan sarapan kedua saudaraku. Ku langkah kan kaki menuju dapur.


"Kok sepi, biasanya Kak Aldo sama Raka sudah ribut diluar, ini kok sepi banget, sih. Mana masih gelap semua. Apa mereka belum bangun, ya? Ah, gak mungkin mereka gak solat subuh, apa?" Pikiran ku berkelana kemana-mana.


Demi menjawab rasa penasaran, ku putuskan untuk membuka kamar kak Aldo terlebih dahulu.


Jegrek,


Ku buka perlahan pintu kamar kak Aldo, ku tekan saklar lampu untuk menyalakannya.

__ADS_1


"Kok, gak ada. Apa mungkin kak Aldo sama Raka masih di masjid. Tapi kan sudah jam segini." gumamku.


Aku kembali melangkah kan kaki ku ke arah ruang tamu dengan masih membawa rasa penasaran ku.


Ketika kaki sudah tinggal dua langkah lagi memasuki ruang tamu, tiba-tiba lampu menyala dengan sendirinya. Aku coba mendekat perlahan. Betapa terkejut nya aku melihat Kak Aldo dan Raka sudah berdiri dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Dan sudah tersedia tumpeng nasi kuning berukuran sedang lengkap dengan lauk nya diatas meja kecil.


"Terimakasih." ucap ku haru sembari memeluk kedua saudaraku.


"Jangan mewek donk, Kak. Ini kan hari ulang tahun Kakak, masa kakak sedih, sedih, sih." ucap Raka yang masih berdiri disampingku.


"Kakak cuma terharu, Dek. Terimakasih banget ya, untuk kejutannya." Kembali ku ucapkan rasa terimakasih ku.


"Iya, sama-sama." ucap Kak Aldo dan Raka bersamaan.


Kami duduk melingkar diatas hambal kecil yang sudah tergelar. Kak Aldo memimpin doa dan kemudian kami bertiga menikmati tumpeng nasi kuning sebagai sarapan pagi ini.


"Ini idenya Raka, dia kemarin yang pesan tumpeng kecil ini sama mbok Nah." ucap Kak Aldo.


Ya, ini memang rasa nasi kuning yang sering dijual mbok Nah di ujung gapura perumahan. Beliau seorang ibu yang sudah lanjut usia namun tetap masih semangat berjualan. Dan rasa nasi kuning nya tetap nikmat dan tidak berubah, ada cita rasa tersendiri yang khas di bumbu nya. Yang menjadikan nasi kuning ini andalan keluarga semenjak keluarga ku masih utuh.


"Terimakasih ya, Raka, sudah nyiapkan ini. Tapi, kok, kakak gak dengar suara motor kak Salim? Apa kamu yang mengambil nya ke rumah mbok Nah?" tanya ku pada Raka.


"Hehehe, sama-sama, Kak. Ini gak seberapa kok, kado dari Kak Aldo yang lebih besar. Yang ngantar kak Salim ditemani istrinya, kok. Tapi mereka ngantar nya hanya sampai di depan rumah pak Joko. Makanya Kak Raina gak dengar suara motor kak Salim." ungkap Raka.


Kak Salim adalah cucu dari mbok Nah, dia anak yatim piatu yang di besarkan oleh mbok Nah hingga sekarang sudah berkeluarga. Dia dan istrinya lah yang membantu mbok Nah.


"Eits, apa tadi kata mu, Dek? Kak Aldo menyiapkan kado yang lebih besar lagi? Hmmm, kakak jadi penasaran apa kado nya Kak Aldo?" tanya ku pada Raka seraya melirik ke arah Kak Aldo.

__ADS_1


"Habiskan dulu makan mu, baru kakak kasih tau apa kado nya."


"Siap kapten." ucapku seraya memberi hormat seperti prajurit.


Raka menutup kedua mata ku menggunakan kain yang sudah dia siapkan terlebih dahulu.


Aku berjalan mengikuti langkah Raka dan Kak Aldo yang menuntun ku.


"Raina mau dibawa kemana sih, sebenarnya? Kenapa pake acara di tutup segala matanya?" tanya ku penasaran.


"Kamu gak usah bawel dulu, liat aja nanti." ucap Kak Aldo.


Mereka berdua menghentikan langkah nya begitu pun dengan ku yang mengikutinya.


"Sepertinya gak jauh dari rumah, ini seperti di halaman depan rumah." batinku.


"Hitungan ketiga Kak Raina buka mata, ya." ucap Raka memberi instruksi.


Aku hanya menganggukan kepalaku.


"1 ... 2 ... 3 ..." Kak Aldo dan Raka menghitung bersamaan.


Ku buka perlahan kain penutup mataku, betapa terkejut nya aku melihat hadiah di depanku.


"Kak Aldo ...." ucapku lirih sembari memeluk tubuh kakak tersayang ku ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2