Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Rencana Ibu Riska


__ADS_3

"Apa-apaan, sih? Kenapa dia batalin secara sepihak gini, sih?" gerutu Raina, saat membaca pesan yang masuk diponselnya.


Raina berfikir keras bagaimana caranya agar tetap bisa menggunakan jasa EO dari perusahaan milik Ridho.


"Apa aku minta bantuan dari Sandra aja ya? Dia kan dekat sama Ridho, pasti dia bisa bujuknya." gumam Raina.


Baru saja dirinya hendak menghubungi Sandra, namun niat itu ia urung kan. Dia berfikir jika ini adalah kesalahan dirinya dan tidak mau melibatkan Sandra dalam masalahnya.


"Baiklah. Aku harus selesai kan ini sendiri. Aku bisa, ya, semangat Rai! Kamu bisa menghadapi makhluk menyebalkan yang tiba-tiba jadi aneh itu." gumam Raina, sembari menyemangati dirinya sendiri.


Malam semakin larut, dia memutuskan untuk tidur, agar pikiran nya jernih dan bisa memikirkan apa yang harus ia lakukan besok.


Sementara itu ditempat lain, ada yang tertawa bahagia sudah mulai melancarkan rencananya.


"Pasti sekarang dia lagi bingung. Ayo lah, Rai, aku tunggu jawaban mu. Apa yang bakal kamu lakukan." Ridho tertawa lepas sembari memainkan Ponsel yang masih ada ditangannya.


"Permainan akan segera dimulai." gumam nya.


******


"Pagi, Bu. Hoooaamm ...." sapa Raina pada ibunya yang sudah berada didapur.


"Pagi ... apa kamu kurang tidur semalam? Kelihatannya kamu masih ngantuk sekali." tanya Ibu Riska kepada putrinya itu.


"Ah, gak kok, Bu. Raina nyenyak banget tidurnya." jawab Raina berbohong.


Padahal semalam dia susah tidur kepikiran terus dengan ancaman Ridho yang membatalkan penggunaan jasa EO dari perusahaan nya.


Namun, Raina urung menceritakan kepada ibunya perihal ancaman itu. Dia tidak ingin menambah beban pikiran untuk ibunya.


"Ya, sudah ... kamu mandi dan siap-siap sana biar ibu saja yang menyiapkan makanan." kata Ibu Riska.

__ADS_1


"Baik, Bu. Terimakasih ya, Bu." ucap Raina sembari mencium pipi ibunya.


Dia berjalan menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari dapur. Menengok sekilas ke ruang keluarga, terlihat kedua saudaranya masih menggunakan baju sholat dan belum menggantinya, sedang asik menonton televisi sembari menunggu sarapan siap. Itu lah kebiasaan kedua saudara lelaki nya di pagi hari.


Raina melangkah gontai memasuki kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya. Tak lama kemudian, dia sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar.


Segera ia ke kamar dan bersiap agar tidak terlewatkan sarapan pagi bersama.


Semua sudah berkumpul didepan piring masing-masing, dan tinggal menunggu Raina yang masih didalam kamar.


"Ka Raina, sudah siap nih, sarapan nya!" teriak Raka.


"Iya, Dek. Sebentar lagi siap." Raina keluar dari kamarnya dan langsung mengambil posisi duduk untuk sarapan.


Ditengah-tengah makan, Aldo menanyakan perihal sepeda motor Raina yang tak dilihatnya dari kemarin saat Raina pulang.


"Rai, sepeda motor kamu mana? Dari kemarin kamu pulang, kakak gak ada melihatnya." tanya Aldo.


Ya, semenjak kejadian kemarin sore, Raina tak ada membicarakan nya. Setelah masuk rumah semua sudah sibuk masing-masing dengan kegiatan diponsel nya.


"Kenapa kamu gak hubungin kakak? Kalau kemarin kamu hubungin kakak, pasti tidak terjadi hal seperti kemarin." tanya Aldo lagi


"Maaf, Kak. Handphone Raina mati. Dan bodoh nya Raina gak kepikiran untuk meminjam ponselnya orang disekitar Raina saat itu untuk menghubungi kakak." Raina merutuki kebodohan nya.


"Sudah ... sudah ... ayo, dihabiskan dulu sarapan nya,jangan berantem! Yang terpenting kan, adik kamu pulang dengan selamat." ucap Ibu Riska menenangkan kedua anaknya yang sedang berdebat.


"Selamat sih, selamat. Tapi, kalau Raina tidak pulang dengan orang itu, pasti tidak ada adu mulut seperti kemarin, kan." ucap Aldo.


Sementara Raina menghabiskan sarapan nya dengan wajah tertunduk.


"Memang nya kemarin ada adu mulut apa sih, Kak?" tanya Raka yang tidak tahu perihal cekcok yang telah terjadi kemarin.

__ADS_1


"Jangan kepo anak kecil!" ucap Aldo dan Raina bersamaan.


Raka yang mendengar kata-kata itu dari kedua kakaknya, langsung memajukan mulut nya, merajuk.


"Sudah, apa masih mau diteruskan berdebat nya?" tanya Ibu Riska.


"Tidak." jawab ketiga anaknya serempak.


Ibu Riska tersenyum melihat kekompakan ketiga anaknya.


"Raina dan Raka, nanti ibu yang antar kalian. Dan setelah itu, mobil nya akan ibu jual." ucap Ibu Riska.


"Yah, kenapa Ibu jual? Padahal Raka sudah senang akan diantar ibu sekolah nanti. Eh, malah ini jadi pertama dan terakhir Raka naik mobil pribadi milik sendiri." ucap Raka tertunduk lesu.


"Iya, Bu. Kenapa harus dijual?" tanya Aldo.


"Ibu sudah memikirkan nya semalam. Uang hasil penjualan mobil itu akan ibu belikan mobil yang biasa saja yang tak terlalu mahal," kemudian sisanya, ibu akan sedikit renovasi bagian rumah ini yang sudah mulai lapuk. Setelah itu jika masih ada sisanya lagi, ibu akan buka usaha kecil-kecilan disini, agar ibu ada kegiatan." ucap Ibu Riska menjelaskan.


"Aldo setuju, Bu. Nanti jika ada kekurangan untuk modal usahanya, Aldo pasti bantu." ujar Aldo bersemangat.


"Iya, Raina juga akan bantu." ucap Raina juga.


"Jangan, Nak. Itu untuk biaya kuliah mu aja nanti." ucap Ibu Riska sembari menggenggam tangan putrinya.


"Oh, iya. Ibu buka usaha kue aja, Bu. Kan, ibu pandai membuat berbagai macam kue. Nanti bisa dijual ofline dirumah dan secara online juga." ucap Raina memberi ide.


"Ya, ya, ya, bagus itu." ucap Raka dan membuat semuanya tertawa mendengar ucapannya.


Ibu Riska mempunyai bakat membuat berbagai macam kue. Karena dulu saat keluarganya masih berjalan harmonis, ia selalu membuat kue dan dititipkan diwarung-warung untuk membantu perekonomian mereka. Meski hanya sebatas kue pasaran, karena minimnya modal yang ia miliki saat itu.


Ibu Riska kembali mengingat masa-masa tersulit itu.

__ADS_1


**Bersambung


Tinggal kan like dan komen disetiap episode yang kalian sukai ya πŸ˜˜πŸ™**


__ADS_2