Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Ketakutan Raina


__ADS_3

Matahari sudah meninggi, sinarnya menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi jendela. Ridho menyingkap tirai yang menutupi jendela apartemennya. Seketika itu, Satria terbangun dari tidurnya sembari


menutupi wajah yang langsung terkena paparan sinar matahari.


"Eh, sudah bangun Pak Bos. Ayo, Pak Bos kita sarapan dulu. Saya sudah menyiapkan sarapannya untuk Pak Bos." ucap Ridho seperti seorang pelayan.


"Apaan, sih!" balas Satria sembari mendorong bahu sahabatnya itu.


Ridho pun tertawa tak tahan karena sudah melakukan hal konyol itu. Satria pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kemudian setelah itu dia keluar menuju ruang makan yang jadi satu dengan dapur. Disana sudah ada Ridho yang lebih dulu menikmati sarapannya.


Sandwich berlapis yang penuh akan berbagai macam isian serta secangkir kopi buatan Ridho sudah tersaji diatas meja makan.


"Silahkan dinikmati, Tuan." ucap Ridho sembari menahan tawa.


"Sekali lagi kau berbicara dengan gaya seperti itu, aku akan menjitakmu." ancam Satria.


Keduanya mempunyai sifat yang sama. Sama-sama terlihat dingin, angkuh dan sombong bagi orang yang pertama kali melihatnya atau orang yang tak mengenal mereka berdua. Tapi siapa sangka, jika keduanya sudah bersama seperti ini, akan banyak hal gila dan konyol yang akan mereka lakukan. Dan saling menjahili satu sama lain.


********


Semakin hari, banyak hal baru yang Raina dapatkan semenjak dirinya telah resmi menjadi seorang ibu. Setelah lepasnya tali pusar si kecil Al, Raina sudah mulai berani memandikan anaknya sendiri. Hari-hari Raina dihabiskannya untuk selalu mengikuti pertumbuhan dan perkembangan si kecil Al. Meski memang belum sepenuhnya ada perkembangan yang signifikan mengingat usia Al yang masih lima belas hari.


Al selalu tertidur, sering kali membuat Raina kewalahan jika Al menangis ditengah malam atau diwaktu dinihari. Raina sebisa mungkin membuat anaknya itu untuk tenang dan dia pun merelakan waktu tidurnya demi menemani Al yang masih terjaga hingga pagi hari.


Bahkan saat ini, Raina dibuat bingung dengan Al yang tiba-tiba tidak mau meminum ASI nya dan terus saja menangis.


"Bu, apa ini tidak apa-apa? Dari semalam Al rewel dan tidak mau meminum ASI. Raina takut, Bu." ucap Raina dengan menitikkan air mata ketakutan.


"Apa dia sudah buang air besar?" tanya Ibu Riska sembari memegang perut cucunya.


"Buang airnya lancar kok, Bu." jawab Raina.


"Sepertinya perut Al kembung, Rai." ucap Ibu Riska sembari mengoleskan minyak telon pada perut Al, agar cucunya itu merasa hangat.


"Apa ini tidak apa-apa, Bu? Raina takut terjadi sesuatu pada Al. Apa sebaiknya Raina bawa Al ke dokter?" tanya Raina.


Ibu muda itu terus saja cemas dan takut, karena baru pertama kalinya menghadapi anaknya yang seperti ini.


"Tenangkan pikiranmu, jangan berfikir yang aneh-aneh. Semoga cucu mamah tidak kenapa-kenapa. Letakkan saja dia dikasur, jika dia sudah terlelap." jawab Ibu Riska sembari beranjak keluar dari kamar Raina.


Berangsur Al mulai berhenti menangis dan tertidur digendongan Raina. Setelah Raina rasa cukup lelah, Raina meletakkan Al dikasurnya.

__ADS_1


Sejenak Raina berfikir, jika dia sudah kembali tinggal serumah dengan Satria, pasti lelaki itu membantunya dalam menjaga Al dan dirinya tidak merasa kewalahan seperti ini.


Entah kenapa, Raina menjadi sensitif dengan hatinya, jika dia mengingat pernikahannya yang tidak berjalan seperti pada umumnya. Dia masih harus bersabar menunggu sebulan lagi, untuk dapat kembali melanjutkan pernikahannya dengan Satria. Raina mengharapkan kehadiran Satria saat ini. Raina pun mengirimkan pesan pada Satria, memberitahukan pada lelaki itu, jika Al sedang sakit.


*******


Ibu Santi mulai melangkahkan kakinya memasuki kantor polisi yang juga merangkap sebagai rumah tahanan terbesar dikota itu. Ibu Santi menuju ruang informasi terlebih dahulu.


"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang Penjaga.


"Apa ada jam kunjungan pagi ini, Pak? Saya ingin menemui anak saya yang bernama Awan Mahesa Sanjaya atas kasus narkotika." tanya Ibu Santi kembali.


"Jam kunjungan di tiadakan hari ini, Bu. Karena hari ini akan ada pelaksanaan sidang putusan terakhir. Dan mungkin anak yang ibu maksud juga akan mengikuti persidangan hari ini." jawab sang Penjaga.


"Bisakah, saya mengikuti persidangan itu, Pak. Saya sangat ingin bertemu dengan anak saya. Saya sudah jauh-jauh dari Pulau B kesini karena merindukannya." ujar Ibu Santi.


"Apa ibu datang kesini sendiri? Kalau Ibu mau, Ibu bisa ikut dengan mobil kejaksaan kalau ibu ingin melihat persidangan anak ibu. Nanti saya akan meminta tolong pada teman saya untuk membawa ibu turut serta ke gedung pengadilan." ucap Penjaga itu.


"Iya, saya mau. Terimakasih Nak, kamu sudah mau menolong saya." ucap Ibu Santi yang melihat penjaga itu yang mungkin seusia dengan Satria anaknya.


Pukul sembilan pagi, semua napi yang akan melakukan persidangan dibawa ke gedung pengadilan menggunakan mobil besar yang akan membawa mereka kesana.


"Permisi, Bu. Ibu bisa masuk ke mobil kejaksaan itu sekarang, karena mobil akan berangkat sebentar lagi." ucap Penjaga tadi sembari mengajak Ibu Santi mendekati mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil yang membawa para tahanan.


***********


"Kenapa kamu kesini gak kasih tahu aku sebelumnya?" tanya Ridho.


"Memangnya harus aku laporan dulu ke kamu? Aku kan, bisa masuk kesini kapan saja dan sesuka hatiku." jawab Satria dengan ketus sembari terus mengunyah sandwich nya.


"Aku pikir semalam itu, kamu maling yang ketiduran." ucap Ridho.


"Ya, kali maling tidur disaat mau operasi?" balas Satria.


"Ada masalah apa lagi kamu dirumah? Apa masalahmu dengan mamahmu masih berlanjut?" tanya Ridho.


Belum sempat Satria menjawab pertanyaan sahabatnya itu, ada sebuah notifikasi pesan yang masuk.


Drrrt... Drrrtt... Drrrtt...


Sebuah pesan masuk dihandphone Satria, Satria segera meraih handphonenya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.

__ADS_1


Raina :


Mas, Al sedang sakit. Dari semalam dia menangis dan tidak ingin menyusu sama sekali. Aku takut, Mas. Aku butuh kamu.


Raut wajah Satria langsung berubah cemas setelah membaca pesan dari Raina.


"Do, aku pinjam kaos mu, donk. Aku mau kerumah Raina, anakku lagi sakit sekarang." ucap Satria.


"Apa hubungannya anakmu sakit sama pinjam kaosku?" tanya Ridho pura-pura tidak paham.


"Hei, ambilkan saja sana. Aku belum ada ganti baju dari kemarin." gerutu Satria.


Setelah mengganti bajunya, Satria segera bergegas untuk kerumah Raina.


"Hei, kamu masih berhutang cerita padaku!" teriak Ridho yang melihat kepergian sahabatnya itu.


*******


Raina kembali panik karena Al kembali menangis dan terlihat sangat gelisah. Raina semakin frustasi mendengar tangisan Al.


"Diamlah, sayang. Kepala bunda rasanya ingin pecah jika mendengarmu terus-terusan menangis." ucap Raina yang mulai berbicara dengan nada yang tinggi dan membuat Al terkejut dan semakin menjerit.


"Raina! Apa yang kamu lakukan pada anakmu? Itu akan terus membuatnya menangis dan takut padamu." ucap Ibu Riska yang mendengar anaknya itu berbicara dengan nada yang tinggi pada si kecil Al.


Dengan cepat Ibu Riska mengambil alih Al dari gendongan Raina.


"Tenangkan pikiranmu. Kalau kamu sudah lebih tenang, persiapkan dirimu. Kita akan bawa Al ke rumah sakit." ucap Ibu Riska.


Raina terduduk dan menyesali perbuatannya karena sudah berbicara dengan nada tinggi pada anaknya yang masih sangat kecil itu.


"Maafkan bunda sayang ... maafkan bunda yang sudah membuatmu takut." gumam Raina sembari menenangkan hatinya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2