
Raina kembali memikirkan ucapan Gina. Raina meraih handphone yang berada didekat nya, kemudian dia membuka aplikasi pencarian dan mengetikkan sesuatu mengenai seputar tanda-tanda kehamilan.
Beberapa tanda-tanda itu seperti yang sudah dialami dirinya beberapa hari ini. Mulai dari suka merasa lelah, sering pusing, suasana hati yang sering berubah hingga mual yang kadang menyiksa nya.
Raina semakin merasakan kecemasan dalam dirinya, mengingat dirinya juga belum mendapatkan haid nya.
"Ya Tuhan, kenapa semua tanda-tanda itu seperti yang aku alami sekarang? Mungkin kah ... aku benar-benar akan menghilang dari bumi ini jika itu terjadi."
Raina kembali membaca artikel kesehatan yang dia buka, dia mencari tahu bagaimana caranya untuk membuktikan jika dirinya hamil atau tidak.
Di artikel itu menyebutkan bisa dengan menggunakan alat tes kehamilan berupa test pack atau dengan langsung konsultasi dengan dokter kandungan.
Setelah dia berfikir, dia tidak mungkin jika harus datang ke dokter kandungan, jadi dia memilih untuk mencoba nya dengan menggunakan test pack.
Waktu terus bergulir, tibalah saat nya jam pulang kerja. Yang dinantikan oleh semua karyawan. Raina segera bergegas membereskan semua perlengkapan nya dan keluar dari ruangan itu.
Raina memutuskan untuk mampir ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan itu terlebih dahulu.
Sepeda motor Raina sudah menepi di sebuah apotik. Raina memarkir nya terlebih dahulu, sebelum dia memasuki apotik itu. Raina melangkah dengan cemas ke dalam apotik itu, mengelilingi rak-rak yang berisi deretan macam-macam obat. Mata Raina terus memperhatikan dengan teliti, mencari dimana keberadaan benda yang dia butuhkan itu.
Sementara, pegawai apotik memperhatikan tingkah Raina yang sedari tadi seperti kebingungan mencari sesuatu.
"Permisi, Mbak ... apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Praamuniaga itu ramah.
"Ehm, saya mencari alat untuk test kehamilan." ucap Raina gugup.
Kemudian pramuniaga itu berjalan ke arah deretan rak obat tersebut, kemudian berhenti pada salah satu rak dan mengambil sesuatu dari rak tersebut.
"Apa benda ini yang anda cari?" tanya Pramuniaga itu sembari menyerahkan kotak kecil yang bertuliskan test kehamilan 99% akurat.
Raina menerima benda itu dan mengernyitkan dahinya saat membaca tulisan yang tertera pada box pembungkus benda itu.
"Silahkan Mbak, melakukan pembayaran nya dikasir." ucap Pramuniaga itu lagi dengan ramah nya.
Raina berjalan ke arah kasir yang telah ditunjuk kan oleh pramuniaga tersebut. Setelah melakukan pembayaran itu Raina segera berjalan menuju pintu keluar apotik itu.
Raina terkejut saat melihat sesosok orang yang pernah dikenal nya. Dia lah Satria, kakak dari orang yang telah merampas kehormatan nya sekaligus kakak sepupu dari sahabatnya.
"Mas ... Satria ...." ucap Raina terbata.
Satria hanya menyeringai tipis dan menatap gadis yang berdiri dihadapannya. Sedangkan Raina bergidik melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Satria.
__ADS_1
"Beli obat?" tanya lelaki yang mempunyai tatapan tajam setajam elang itu.
"I-iya, Mas." jawab Raina sembari tersenyum tipis.
Raina berbohong perihal barang yang sudah dia beli. Dia merasa tidak mungkin dia berbicara jujur jika dirinya sedang membeli alat tes kehamilan pada Satria.
Lain hal nya dengan Satria, dia sudah tahu jika Raina sedang berbohong. Karena dia sudah mendengar pembicaraan Raina dengan pramuniaga tadi saat Raina kebingungan mencari letak barang yang akan di belinya.
"Saya balik duluan ya, Mas." ucap Raina dengan cepat.
"Iya, silahkan." jawab Satria sembari menganggukan kepalanya mempersilahkan Raina untuk pergi.
Satria ke apotik itu untuk menebus obat untuk ibunya yang sekarang telah terbaring lemah karena penyakit jantung yang di derita nya. Selama Awan meninggalkan rumah, ibu nya jatuh sakit akibat terlalu memikirkan anak lelaki nya itu yang tak ada kabar sama sekali.
Raina sudah tiba dirumah nya, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Rumah dalam keadaan sepi, ibu dan adiknya masih sibuk ditoko kue sedangkan Aldo belum pulang bekerja.
Dengan cepat Raina membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, kemudian langsung bergegas ke dapur untuk mengambil makanan. Raina sengaja makan terlebih dahulu, agar jika dia merasa mual ditengah-tengah makannya tidak ada yang melihat dirinya.
Dengan tergesa-gesa Raina menghabiskan makanannya walaupun rasa mual itu dirasakan nya, tetapi dia berusaha untuk tetap menghabiskan makanannya.
Setelah itu, Raina masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci nya. Raina mengambil benda yang telah ia beli diapotik itu dari dalam tas nya. Kemudian dia membaca cara penggunaan nya yang telah dilampirkan dibalik box pembungkusnya.
Sementara itu diluar rumah, Raka dan Ibu Riska telah selesai melayani para konsumen dan membersihkan toko nya sebelum ditutup. Raka melihat sepeda motor kakak perempuannya sudah terparkir dihalaman rumahnya.
Ibu Riska pun baru manyadari jika anak perempuannya telah pulang.
"Kakak mu sudah pulang? Sepertinya kita terlalu sibuk hingga tak menyadari jika kakak perempuan mu itu sudah tiba dirumah." ucap Ibu Riska sembari melangkah menuju rumahnya. Sedang kan Raka mengekor ibunya masuk ke dalam rumah.
Malam pun tiba, Ibu Riska beserta kedua anak lelaki nya sudah berkumpul untuk makan malam. Tapi, tidak dengan anak perempuannya yang sedari sore tidak menampakkan batang hidung nya.
"Kemana Raina, Bu?" tanya Aldo.
"Raina masih dikamarnya. Sedari sore tadi dia tidak ada keluar dari kamarnya." jawab Ibu Riska.
Aldo yang mendengar penjelasan ibunya hanya menggelengkan kepala nya.
"Kenapa lagi dia?" gumam Aldo.
Aldo pun berdiri dari duduk nya dan berniat untuk memanggil adik perempuannya itu.
Aldo memegang handel pintu dan ingin membukanya, namun pintu itu telah terkunci dari dalam.
__ADS_1
"Rai ... ini Kakak. Ayo makan malam." ajak Aldo.
Raina membukakan pintu kamarnya saat mendengar suara Aldo didepan kamarnya.
"Raina sudah makan, Kak. Kalian saja yang makan malam, Raina masih kenyang." ucap Raina.
"Kapan kamu makan nya? Sementara kata ibu kamu tidak ada keluar kamar dari sore tadi." tanya Aldo dengan tatapan menyelidik.
"Pulang kerja tadi Raina langsung makan, Kak. Raina sudah kelaparan tadi. Kalau Raina paksa makan lagi bisa-bisa melar ini perut." jawab Raina dengan sedikit tertawa.
"Oh ... baiklah." Akhirnya Aldo menyerah untuk membujuk adiknya ikut bergabung makan malam.
Aldo kembali ke meja makan untuk kembali melanjutkan makan malam nya.
"Apa dia tidak mau makan bersama lagi?" tanya Ibu Riska yang melihat Aldo kembali tanpa Raina.
"Iya. Dia bilang sudah makan sore tadi sepulang kerja dan sekarang dia masih merasa kenyang." jawab Aldo.
"Pagi tadi melewatkan sarapan bersama, sekarang makan malam pun dia tidak bersama kita. Ada apa dengan adik mu itu?" tanya Ibu Riska.
Aldo hanya mengangkat kedua bahu nya tanda dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya. Semua makan dalam hening, mereka saling berasumsi masing-masing mengenai tingkah laku aneh Raina yang tidak seperti biasanya.
Malam semakin larut, suasana hening hanya detak jam dinding yang memecah kan kesunyiaan didalam rumah itu. Semua sudah terlelap dan berlayar dengan mimpi masing-masing.
Tapi tidak dengan Raina, dirinya masih terjaga. Kecemasan dan ketakutan menjadi satu. Kejadian itu, bagaikan sebuah rekaman video yang terputar kembali dimemorinya. Raina memejamkan matanya sejenak dan kemudian kembali membukanya.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul satu dinihari. Raina teringat apa yang akan ia lakukan. Raina bangun dari pembaringan nya, mengambil benda pipih yang telah ia siapkan dan kemudian dengan secara perlahan dia keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Raina sudah menampung air seni nya diwadah kecil yang telah ia dapatkan dari dalam box yang ia beli. Raina dengan hati-hati memasukkan benda kecil pipih yang sedari tadi ia pegang ke dalam wadah yang telah terisi dengan air seni nya.
Beberapa menit kemudian, tangannya mengeluarkan benda pipih itu dari dalam wadah, Raina menutup kedua matanya sesaat sebelum dia melihat hasil dari benda yang ia pegang.
Rasa ketakutan nya semakin kuat menjalar ke dalam tubuhnya, dengan perlahan dirinya menghembuskan nafas nya bersama dengan mata yang mulai terbuka.
Raina menatap alat tes kehamilan itu, seketika lutut nya melemah tidak dapat menopang berat tubuhnya, Raina terduduk lemas didalam kamar mandi itu, untuk menangis pun dia tidak punya kekuatan.
Suara tangisnya teredam dengan rasa sakit hati nya yang mendalam. Dua garis merah tua terlihat jelas didalam benda kecil itu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya air matanya yang berbicara tentang kehancuran nya.
"Bagaimana aku menjelaskan ini semua pada ibu, kak Aldo, Raka dan Sandra."
**Mohon like dan komen kalian yang membangun ya.... Karena itu semua sangat berarti untuk author agar lebih bersemangat lagi βΊοΈπͺ
__ADS_1
Terimakasih ππ**