
Suara adzan subuh berkumandang, Satria terbangun dari tidurnya kala mendengar suara adzan yang menggema. Segera ia bangun dan membersihkan dirinya dan kemudian menggelar sajadah yang ia temukan didalam lemari milik Ridho. Satria melakukan sholat dua rakaat itu dengan khusyuk. Telah lama sekali dirinya meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Satria menengadahkan kedua tangannya memohon ampun pada sang Khalik dan memunajatkan segala doa.
Setelah selesai sholat subuh, Satria beranjak ke dapur membuat dua cangkir kopi untuknya dan juga untuk sahabatnya, Ridho. Satria membuka lemari es mencari bahan-bahan makanan yang bisa ia gunakan untuk membuat sarapan. Tapi, hasilnya nihil. Tak ada apa pun didalam lemari es itu.
"Shit, apa-apaan ini! Kulkas sebesar ini tapi gak ada isinya." gerutu Satria sembari menutup kembali lemari es tersebut.
"Kenapa pagi-pagi kamu sudah marah sama kulkas ku?" tanya Ridho yang baru saja bangun dan masuk ke dapur karena mencium aroma kopi yang nikmat.
"Kamu punya kulkas, tapi gak ada bahan makanan apa pun yang bisa dijadikan untuk sarapan. Mending itu kulkas dikiloin aja sana." ledek Satria.
"Enak aja, memang kamu pikir ini barang rongsokan, hah! Barang masih sangat bagus gini, mau dikiloin. Aku memang belum sempat berbelanja mengisi kulkas itu. Akhir-akhir ini banyak sekali yang harus aku kerjakan. Jadi, jarang makan dirumah."ujar Ridho.
"Makanya, buruan cari calon istri sana! Biar ada yang ngurusin kamu dan masakin kamu." ucap Satria.
"Maunya, sih. Sebenarnya aku sudah punya calonnya, tapi aku belum mengungkapkan perasaanku padanya." balas Ridho.
"Jangan lama-lama, nanti keburu digaet orang ... baru deh, kamu nyesel lagi. Memangnya perempuan mana sih, yang mampu membuat dirimu move on dari Raina?" Satria mengingatkan sahabatnya itu dan karena penasaran, dirinya pun menanyakan tentang perempuan itu.
"Namanya Renita, dia tinggal dipulau B. Saat itu, dia kesini karena perintah dari bosnya untuk mengatasi pekerjaan yang ada diperusahaan cabang yang ada disini. Dan juga mengatur acara untuk peresmian hotel yang baru saja di bangun di jalan manggis." jawab Ridho.
"Renita? Sepertinya gak asing ditelingaku." batin Satria sembari mengernyitkan alisnya.
"Bagaimana bisa kalian bertemu?" tanya Satria.
"Saat itu ...." Ridho mengulang kembali kala pertama kali pertemuannya dengan Renita.
Flashback On
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar suara pintu diketuk, Ridho yang tengah sibuk dengan berbagai lembaran-lembaran kertas laporan dimejanya, kini teralihkan oleh pintu ruangannya yang diketuk seseorang dari luar.
"Masuk." ucapnya.
Cindy yang merupakan asisten Ridho itu pun masuk ke dalam ruangan bosnya itu.
"Permisi, Pak. Saya ingin menyampaikan, jika ada masalah diperusahaan Lentera yang memakai jasa event organizer dari perusahaan kita. Pihak mereka mengatakan bahwa ada beberapa bagian pelayanan dari kita yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Padahal, sudah sangat jelas tertulis apa saja yang mereka mau dan kita menuruti sesuai yang diperintahkan. Tapi, mereka tetap kekeh minta untuk dirubah dan jika kita tidak merubahnya, maka mereka ingin membatalkan dan tidak mau membayar apa yang sudah kita persiapkan." ucap Cindy menjelaskan.
"Ya, tidak bisa seperti itu, donk. Sebelumnya kan, sudah dibicarakan dan juga sudah disepakati. Tidak bisa seenaknya saja mereka minta perubahan mendadak seperti itu. Perusahaan Lentera itu yang akan meresmikan hotel baru mereka di jalan manggis itu, kan?" Ridho kembali bertanya pada asistennya.
"Iya, Pak. Dan rencananya akan diselenggarakan dua hari lagi." jawab Cindy.
"Tapi, kamu sudah yakin bahwa kita sudah menyediakan sesuai dengan kesepakatan yang mereka minta, kan?" tanya Ridho lagi.
"Sudah, Pak. Pihak kita sudah melakukan sesuai dengan permintaan klien." jawab Cindy.
"Ok. Sekarang tanyakan pada penanggungjawab mereka yang telah meminta jasa kita untuk pengurusan acaranya. Tanyakan kembali seperti apa yang mereka inginkan dan catat dengan detail jangan sampai salah lagi. Saya tidak mau reputasi kita hancur karena komplain dari klien." ucap Ridho.
__ADS_1
"Baik, Pak. Kalau begitu saya akan meminta tim kita untuk kembali bertemu dengan pihak perusahaan Lentera sekarang juga." balas Cindy dan mulai membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan Ridho.
"Tunggu. Biar saya saja yang langsung turun ke lapangan." ucap Ridho yang berubah pikiran.
Dia ingin mengetahui seperti apa orang yang telah begitu cerewetnya menyalahkan hasil pekerjaan dari tim EO nya.
Karena selama ini tidak pernah ada klien yang komplain dan rata-rata mereka puas sudah menggunakan jasa EO dari perusahaan miliknya.
"Baik, Pak." ucap Cindy dan berlalu kembali ke ruangannya.
Ridho membereskan meja kerjanya dan kemudian keluar dari ruangannya untuk ke tempat dimana diadakannya acara.
Ridho tak hanya sendiri, dia berangkat ditemani oleh Cindy asistennya.
Dua puluh lima menit akhirnya mereka tiba ditempat tujuan yang memang tidak begitu jauh dari kantornya.
Keduanya langsung memasuki hotel mewah yang baru saja selesai dibangun dan akan diresmikan itu.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan ibu Renita, penanggung jawab hotel. Apa beliau ada ditempat?" tanya Cindy pada resepsionis hotel.
"Ibu Renita sedang tidak ada. Tapi, mungkin sebentar lagi beliau akan kembali lagi kesini karena akan memantau kembali persiapan untuk acara peresmian hotel." jawab Resepsionis tersebut.
"Ok. Kami akan menunggu di ballroom saja, sekaligus ingin melihat perkembangan pengerjaan dari tim kami." ucap Cindy.
"Sampaikan pada atasanmu itu, kalau saya pemilik Griya Organizer telah menunggunya." ucap Ridho pada resepsionis itu dengan tatapan tajam.
Ridho kini mengikuti langkah Cindy untuk menuju ballroom hotel tersebut. Dimana acara peresmian akan dilakukan disana.
Ridho memperhatikan tatanan dekorasi ruangan yang menurutnya sudah sangat sempurna dan sesuai permintaan kliennya. Ridho semakin merasa heran dengan klien yang telah mengkomplainnya.
"Apa yang dia permasalahkan? Bukannya ini yang sudah sesuai dengan keinginan klien?" tanya Ridho pada Cindy.
"Saya juga tidak paham, Pak. Ini sudah perubahan yang kedua kalinya. Tapi, entahlah kata tim masih ada yang salah." jawab Cindy.
Beberapa menit kemudian, Renita datang dan masuk ke dalam ballroom setelah dirinya mendapatkan kabar bahwa pemilik perusahaan yang menyediakan jasa EO itu tengah menunggunya.
"Selamat siang." sapa Renita ketika sudah berada dibelakang Ridho dan Cindy.
Seketika Ridho dan Cindy membalikkan badan mereka karena ada suara dari belakang.
"Siang, Bu Renita." balas Cindy.
"Siang." ucap Ridho yang terdiam kala memperhatikan ada seorang perempuan cantik yang berdiri tepat dihadapannya.
Ridho seketika terpanah akan pesona yang dipancarkan oleh Renita. Namun, dengan cepat dirinya berusaha menenangkan dirinya dan kembali bersikap normal.
"Saya Renita, penanggung jawab dihotel ini." ucap Renita sembari mengulurkan tangannya pada Ridho.
__ADS_1
"Saya Ridho pemilik Griya Organizer." balas Ridho.
"Begini, Bu? Saya ingin kembali menanyakan hal yang menurut ibu pelayanan kami tidak sesuai dengan permintaan ibu. Bagian yang mana lagi ya Bu, yang salah? Karena disini sudah sangat sesuai dengan daftar yang telah kita sepakati sebelumnya." tanya Cindy.
"Sudah tidak ada. Untuk ruangan saya sudah setuju kita tetap menggunakan dekorasi ini. Hanya saja saya minta untuk lightingnya agar sedikit dirubah karena setelah saya pikir-pikir dengan menggunakan yang awal itu kurang cocok dan untuk katering saya lebih cocok pada pilihan yang kedua." jawab Renita dengan santainya.
Cindy menganggukan kepalanya tanda paham dengan permintaan dari kliennya.
Sementara Ridho hanya diam memperhatikan cara bicara Renita yang dia nilai sangat anggun dan berwibawa.
"Kenapa aku jadi tiba-tiba seperti ini?" gerutu Ridho dalam hati.
"Jadi, ini semua sudah fix ya Bu, tidak ada yang salah atau ingin dirubah lagi?" tanya Cindy memastikan.
"Iya. Kali ini sudah benar-benar fix." jawab Renita sembari memberikan senyumnya.
"Kalau hanya seperti ini, kenapa kamu bilang ini masalah besar, Cin? Saya kan, tidak perlu kesini. Kamu sendiri saja sudah bisa menyelesaikannya." ucap Ridho yang merasa grogi.
Cindy bingung sendiri mendengar ucapan dari bosnya itu.
"Bukannya tadi si bos sendiri yang mau ikut." batin Cindy.
"Tapi kan, tidak ada salahnya. Anda sebagai atasannya langsung turun ke lapangan memperhatikan cara kerja anak buah anda." ujar Renita yang semakin membuat Ridho salah tingkah.
"Hahaha, iya." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Ridho dan seakan kesan dingin dari dirinya pun luntur saat berbicara dengan Renita.
Cindy pun menaruh curiga kepada bos nya itu yang grogi berdekatan dengan Renita.
"Kenapa bos jadi kalem gini? Apa jangan-jangan, si bos menyukai ibu Renita?" Cindy menertawakan sikap Ridho didalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, acara peresmian hotel pun telah dilaksanakan dan berjalan lancar. Ridho selaku pemilik perusahaan yang menyediakan jasa EO itu pun turut hadir dalam acara itu.
Ridho hanya memperhatikan jalannya acara itu dari kursi paling belakang. Ketika dia hendak berdiri dan membalikkan badannya, begitu pula dengan Renita yang berjalan dari arah belakang tanpa sengaja tersandung dengan kabel yang tidak tertutup oleh karpet. Renita yang mengenakan high hills itu pun kehilangan keseimbangannya.
Dengan refleks, Ridho menangkap tubuh langsing Renita ke dalam dekapannya. Cukup lama mereka berdua bertatapan dan jantung keduanya sama-sama berdebar begitu kencang. Ridho menikmati wajah Renita yang cantik itu dengan sangat dekat.
"Shit ... kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apa dia mendengarnya?"
"Oh, Tuhan ... ini seperti adegan yang difilm-film itu dan sekarang aku mengalaminya." batin Renita.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π