
Raina menatap bingung wajah Satria yang melarang dirinya untuk ikut ke rumah ibunya .
"Kenapa aku harus tinggal? Aku rindu dengan ibu dan juga saudaraku." ungkap Raina.
"Mas tahu, tapi ini sudah mau malam. Perjalanan kesana cukup jauh, kasihan Al jika terkena angin malam. Mas janji, besok pagi Mas akan antar kan dirimu kesana. Tapi untuk malam ini, biarkan Mas pergi sendiri." ucap Satria sembari mengecup kening Raina.
Raina terdiam saat Satria mendaratkan sebuah ciuman dikeningnya secara tiba-tiba, Raina seakan kehabisan kata-kata untuk membantah apa yang telah dikatakan oleh Satria setelah menerima ciuman yang cukup lama itu. Meskipun hanya sebatas dikening, tapi sudah dapat membuat dirinya luluh begitu saja.
"Mas pergi dulu. Kamu hati-hati dirumah bersama Al. Kunci pintunya dengan benar sampai Mas pulang." pesan Satria pada Raina.
Raina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Satria pun kini sudah mengendarai sepeda motornya menuju rumah ibu mertuanya. Satria masih tidak menyangka, setelah drama kehilangan Raina kini dirinya sudah yakin untuk kembali mengucapkan ikrar janji sucinya pada Raina.
Perempuan yang setahun lalu sudah menyandang status sebagai istri dan juga ibu untuk keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Kesabaran dan ketegaran selama menunggu kepastian cinta dari dirinya. Dan kini, tak ada alasan baginya untuk memungkiri bahwa dirinya benar-benar sudah mencintai serta menyayangi perempuannya itu dengan sepenuh hati.
Sepanjang perjalanan, senyumnya terus mengembang diwajah tampannya itu. Hatinya terasa begitu berbunga-bunga seperti pertama kali dirinya merasakan jatuh cinta lagi.
Tak terasa, karena sepanjang jalan Satria terus mengkhayalkan kehidupan rumah tangganya dengan Raina, akhirnya sepeda motornya sudah sampai dirumah ibu mertuanya.
Dengan langkah ringan dan hati yang bahagia, Satria menuju rumah yang tertutup rapat itu. Tangannya langsung mengetuk pintu rumah tersebut.
Tak berapa lama, seseorang membukakan pintu rumah tersebut.
"Assalamualaikum ...." sapa Satria.
"Walaikumsalam, Mas. Sendirian aja, kesininya?" tanya Raka yang tak melihat kakak perempuan dan juga keponakannya bersama Satria.
"Iya. Apa ibu ada?" Satria menjawab sekaligus bertanya pada Raka.
"Ada, Mas. Ayo, masuk." ucap Raka sembari mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk.
Satria pun masuk ke dalam rumah itu bersama dengan Raka. Raka langsung menuju ke ruang makan untuk memanggil ibunya. Sedangkan Satria menunggu diruang keluarga.
"Siapa Ka?" tanya Ibu Riska yang berada diruang makan.
"Mas Satria, Bu." jawab Raka.
"Oh, sendirian? Langsung ajak kesini, biar sekalian makan malam bareng." titah Ibu Riska.
"Iya, Bu." jawab Raka dan langsung kembali menghampiri Satria.
Diruang keluarga, Satria yang duduk disofa menunggu ibu mertuanya sambil memainkan handphonenya, langkah kaki Raka membuat Satria menghentikan aktifitasnya bermain game dan melihat siapa yang datang.
__ADS_1
" Mas diajak makan malam dulu tuh, sama ibu." ucap Raka ketika sudah sampai dihadapan Satria.
Satria langsung teringat dengan Raina saat Raka mengajaknya untuk makan malam, karena dirinya belum membelikan makanan untuk Raina dirumah dan persediaan makanan dikulkas juga sudah habis.
"Hmm, Mas gak ikutan makan deh, Ka. Mas sudah kenyang. Mas tunggu disini aja." Satria berbohong pada Raka, sebenarnya dia belum makan malam tapi dia akan makan malam bersama dengan Raina sehingga dia menolak tawaran adik iparnya itu.
"Ok, deh." Raka pun kembali lagi ke ruang makan.
"Lho, mana Satria nya?" tanya Ibu Riska.
"Mas Satria masih diruang tengah, sudah kenyang katanya." jawab Raka.
"Ehm, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya, Bu. Apa lagi? Dia kesini sendiri tidak bersama dengan Raina." ujar Aldo yang sudah hampir menyelesaikan makannya.
Ibu Riska berfikir sejenak, lalu dia menghentikan makannya dan keluar menemui menantunya itu.
"Satria, kenapa kamu datang kesini sendiri? Mana Raina dan juga Al?" tanya Ibu Riska yang sudah mendekat dengan Satria.
"Eh, ibu. Raina ada dirumah, Bu. Memang sengaja Satria tidak membawanya karena kasihan Al jika harus kena angin malam." jawab Satria yang langsung berdiri dari duduknya dan mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim.
"Oh, begitu. Terus, ada hal apa nih, sampai kamu datang sendiri kesini?" tanya Ibu Riska lagi.
"Begini, Bu. Maksud kedatangan saya kesini adalah ingin memberitahukan pada ibu, jika kami akan kembali mengulang akad nikah dihari minggu nanti." jawab Satria.
Dirinya yang memang tidak mengetahui masalah rumah tangga anaknya itu, menganggap jika rumah tangga anaknya baik-baik saja. Dan tentunya, dirinya merasa senang karena harapan anak perempuannya itu akan segera terlaksana.
"Rencananya akan diadakan dirumah bunda Eva, Bu. Gak apa-apa kan, kalau acaranya disana?" Satria mencoba memastikan kembali pada mertuanya agar tidak tersinggung dengan masalah tempat akad nikah mereka nantinya.
"Ibu sih, tidak ada masalah. Mau dimana pun tempatnya ibu akan setuju saja." jawab Ibu Riska.
"Dan untuk acara ini, hanya akan dihadiri keluarga inti saja. Dan acara ini juga diselenggarakan secara sederhana saja karena ini hanya mengulang akad nikah saja." Satria kembali menjelaskan kepada ibu mertuanya.
"Iya, Nak. Itu lebih baik." ucap Ibu Riska sembari menyunggingkan senyumnya.
"Terimakasih, Bu. Sudah mau kembali merestui hubungan saya dengan Raina. Dan sudah sangat membantu kami dalam banyak hal." ucap Satria.
"Iya, sama-sama. Itu memang sudah kewajiban saya sebagai orangtua satu-satunya yang dimiliki Raina. Tentunya saya akan bahagia, jika melihat anak saya bahagia." balas Ibu Riska.
Hari Satria terasa bergetar saat ibu Riska mengatakan hal tersebut. Satria jadi teringat dengan mamahnya yang masih menolak kehadiran dirinya.
"Seandainya mamah juga bisa mengatakan hal yang sama seperti dengan apa yang sudah dikatakan ibu, mungkin itu akan membuat aku dan Raina semakin bahagia karena mendapat restunya juga." batin Satria.
"Satria, kok melamun?" tanya Ibu Riska yang mendapati menantunya entah melamunkan apa.
__ADS_1
"Ehm ... maaf, Bu. Ya sudah, saya pamit pulang, Bu. Takut kemalaman, kasihan dengan Raina dan juga Al yang menunggu saya dirumah." ucap Satria berpamitan dengan mertuanya.
"Iya, Nak Satria. Kamu hati-hati ya, pulangnya." balas Ibu Riska.
"Iya, Bu. Oh ya, untuk jam nya nanti kami kabari karena masih menunggu kabar dari penghulunya." ucap Satria sembari kembali mencium punggung tangan mertuanya penuh takzim.
Setelah berpamitan, Satria pun keluar dari rumah itu dan menuju sepeda motornya yang terparkir dihalaman rumah mertuanya.
Satria menaiki sepeda motor itu, pikirannya tertuju pada Raina. Satria pun berinisiatif untuk menelpon perempuannya itu. Satria pun segera mengeluarkan handphone dari saku jaketnya dan melakukan panggilan pada Raina.
[Hallo, assalamualaikum Mas.]
[Walaikumsalam, Dek. Ini Mas sudah mau pulang, kamu mau titip apa untuk makan malam?]
[Apa aja deh, Mas. Raina ikut aja.]
[Jangan gitu, dong. Gak ada nama makanan yang apa aja. Sebutkan aja apa yang ingin kamu makan. Mas pasti membelikannya untukmu.]
[Ehm, Raina pengen nasi goreng ayam yang dijual di depot kairo, Mas.]
[Depot kairo? Dimana itu, Mas gak tahu.]
[Itu lho, sebelah kiri setelah pertigaan yang gak jauh dari gerbang rumah ibu.]
[Oh. Ok, deh. Nanti Mas cari.]
[Mas, tunggu! Jangan ditutup dulu teleponnya.]
[Iya, apa ada lagi yang ingin kamu pesan?]
[Ehm, sekalian sama kebabnya ya, Mas. Karena tengah malam Raina suka laper.]
[Hahaha ... iya, sayang. Mas ngerti, kok. Kamu kan, masih menyusui Al. Ya sudah, Mas tutup ya teleponnya.]
Panggilan telepon pun diakhiri, Satria segera melajukan sepeda motornya untuk mencari depot yang disebutkan oleh Raina.
**********
Sementara itu, didalam kamar rumah sewaannya, Raina tersenyum-senyum sendiri setelah menerima panggilan telepon dari Satria.
"Apa tadi aku gak salah dengar? Dia panggil aku sayang." gumam Raina yang hatinya tengah berbunga-bunga.
Raina yang semasa gadisnya memang tidak pernah pacaran, meski sempat merasa jatuh cinta dengan Awan saat itu, tapi kini dihatinya dia merasakan getaran yang berbeda saat Satria yang memberikan perhatian manis padanya.
__ADS_1
Raina merasakan kembali kupu-kupu yang menggelitik hati hingga perutnya. Getaran cinta itu kembali hadir dan membuat dirinya melupakan rasa sakit yang telah ditorehkan Satria.