Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Terasa sirna rasa lelahku, setelah air wudhu membasahi beberapa anggota tubuh ini. Segera ku tunaikan kewajiban yang terlambat. Bermunajat pada Sang Pencipta, mengadukan segala keluh kesahku kepada-Nya, karena hanya kepada-Nya lah tempat ternyaman dan yang paling tepat untuk mengadu segalanya.


Mata mulai terasa berat, ku hentikan zikir ku, membereskan alat sholat dan siap menuju pembaringan untuk mengistirahatkan badan ini.


"Setel alarm dulu, biar besok bisa lebih awal beres-beres rumah" gumamku seraya mengambil benda pipih di atas meja.


Ada notifikasi pesan masuk, ternyata pesan dari Mas Awan.


[ Selamat malam, semoga kamu terlelap dalam buaian mimpi yang indah dan semoga besok sudah ku dapatkan jawaban darimu.]


Ku letakkan kembali benda pipih itu setelah membaca pesan dari Mas Awan dan menyetel alarm di ponsel.


"Biarlah, gak usah ku balas pesannya, besok aku harus memberikan jawabannya, agar tidak menggantungkan harapannya." gumamku.


Ku balut seluruh tubuhku dengan selimut yang hangat, terlelap dalam syahdunya malam. Meninggalkan segala kepenatan dan berharap keputusan yang ku ambil adalah keputusan yang terbaik.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Pekerjaan rumah yang menjadi rutinitas awal sebelum berangkat kerja, akhirnya terselesaikan sudah. Jam masih menunjukkan pukul 13.00 masih sempat untuk beristirahat sebentar sebelum bersiap untuk berangkat ke resto.

__ADS_1


Tring... Tring.... Tring....


Baru saja aku akan beranjak untuk mandi, aku dikagetkan dengan suara ponsel yang berdering. Berbalik arah menuju kamar lagi, mengambil benda pipih itu, ternyata panggilan telepon dari Bunda Eva.


[ Halo ... Assalamualaikum, Bun,]


[ Walaikumsalam, Rai ... apa kamu bisa berangkat ke resto lebih awal?]


[ Iya, Bun, bisa.]


[ Langsung ke kantor aja, ya, Rai ... Bunda tunggu! Wassalamualaikum.]


[ Iya, Bun, walaikumsalam.]


"Tumben, bunda nyuruh aku berangkat secepat ini. Ada apa ya?" Aku bertanya pada diri sendiri.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Alhamdulilah, dapat angkot nya cepat." gumamku.

__ADS_1


Segera aku masuk ke dalam angkutan umum itu. Duduk dikursi penumpang yang menghadap ke jendela. Mataku tertuju pada dua orang yang berada diseberang jalan. Setelah ku perhatikan dengan seksama, ternyata itu mas Awan dengan Gina. Terlihat mereka sedang beradu mulut.


Kemudian keduanya naik ke sepeda motor dan Gina memeluk erat tubuh mas Awan, seperti memeluk seorang kekasih. Sepeda Motor mas Awan melintas di depan angkutan umum yang aku tumpangi.


"Ya, benar itu mereka. Kenapa Gina peluk mas Awan mesra banget? Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua?" tanyaku dalam hati.


Entah kenapa, ada rasa panas yang menjalar dihatiku. Apa itu berarti aku cemburu?


Seisi kepalaku penuh dengan tanda tanya.


"Ya Allah, mungkinkah ini jawaban dari doaku semalam? Kau perlihatkan diriku suatu kebenaran." batinku.


********


Sesampainya di parkiran resto, masih ku lihat mas Awan dan Gina berdua. Nampak mereka asik sekali berbincang dan Gina tak ada rasa canggung memeluk mas Awan meski dia tahu ini tempat umum.


"Sungguh aneh mereka berdua, tadi berantem sekarang mesra-mesraan di tempat umum. Apa sih, sebenarnya mau mu Mas? Dengan mudahnya kamu menyatakan cintamu semalam, dan siang ini aku lihat dirimu bermesraan dengan wanita lain." gumamku


Betapa terkejut nya Mas Awan saat melihat diriku yang berdiri di belakang nya. Segera ku palingkan wajahku pura-pura tidak tahu dan terus melangkah memasuki resto.

__ADS_1


Semakin mantap sudah keputusan ku untuk menolak dirinya, bukan lagi karena aku harus memikirkan kuliah ku melainkan dirinya yang ternyata seorang lelaki yang suka mempermain kan hati perempuan.


Bersambung...


__ADS_2