
Tuhan,
Salahkah aku membenci nya...
Salahkah aku jika tidak ada lagi rasa sayang ku yang sebesar dulu terhadapnya...
Ya, ini salah...
Meski aku tau, seburuk apa pun sifatnya ia tetap ibu yang telah mengandung ku.
Meski aku tau, cara ini sudah membuat ku berdosa.
Terlampiaskan sudah semua amarah yang terpendam dihati selama ini, sesak didada yang selama ini tertahan ku luapkan dalam suatu kemarahan.
Iman ku goyah, emosi telah menguasai hati dan pikiran ku. Mungkin kata anak durhaka pantas tersemat untukku.
Aku menangis sejadi-jadinya diruang kantor ini. Hanya sebuah sesal yang ku dapatkan sekarang. Seharusnya tadi aku tidak begini, aku tidak begitu, seharusnya aku mendengarkan bukan malah menyela. Ku rutuki semuanya seorang diri. Terisak hingga rasa lelah itu datang membawa ku dalam ketenangan yang syahdu. Aku terlelap bersama dengan berhenti nya air mata yang sedari tadi menemani kesedihan ku.
Aku merindukan mu, pak ...
Lembut belaian tanganmu, penuh kehangatan dan kedamaian saat berada bersama mu. Tangan yang bekerja keras demi menopang kehidupan bersama ketiga anakmu.
"Raina, jangan kau besarkan rasa benci terhadap ibumu, Nak. Dia yang mengandung mu, melahirkan mu dan merawat mu. Jangan kau lihat keburukan nya yang sekarang, lihat lah kebaikannya, ketulusan hati nya. Ibu mu hanya khilaf, Nak. Sambut dia dengan penuh kasih sayang, tuntun kembali ibumu ke jalan yang benar. Karena sesungguhnya dia adalah orang yang sangat mencintai anak-anaknya.
Raina, harus jadi anak yang kuat. Karena akan banyak duri yang akan menghadang jalan mu kelak."
"Bapak ... bagaimana bisa bapak berkata seperti itu, sedangkan Raina tau betapa hancur nya bapak saat ibu meninggalkan kita semua, hingga bapak menutup mata pun ibu gak datang untuk minta maaf yang terakhir kalinya."
Bapak hanya membalas dengan senyum hangat dan elusan lembut dibahuku. Tapi kenapa bapak jadi cahaya yang terus jauh dan menghilang?
__ADS_1
" Bapak ... Bapak ... Bapak ...!"
Aku terlonjak dari tidurku, ternyata aku hanya mimpi bertemu bapak. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ternyata diriku sudah terlelap cukup lama.
"Sudah bangun, Rai? Lelap banget tidurnya. Aku sudah jadi obat nyamuk nungguin kamu." ucap Sandra seraya mendekati ku.
"Hemm, maaf, San. Aku kecapean nangis jadi malah ketiduran disini." ucapku
"Kamu ... mimpiin bapak kamu ya, Rai?" tanya Sandra hati-hati.
Aku hanya menganggukan kepalaku. Mengingat kembali apa yang sudah dikatakan bapak lewat mimpiku.
"Ya sudah, kamu siap-siap sana, aku yang antar kamu pulang." ucap Sandra.
"Terimakasih ya, San."
Kita berdua sama-sama tersenyum.
"Kerjaan yang belum selesai bisa kamu selesaikan besok aja, Rai." ucap Sandra seperti mengerti apa yang ada dipikiran ku.
"Eh, iya, San." Aku mematikan komputer dan semua listrik yang ada di kantor agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan jika ditinggal kan.
******
Di dalam mobil, kami hanya diam. Sandra fokus dibelakang kemudinya. Sekarang selama dia kuliah, dia sudah di ijin kan membawa kendaraan beroda empat ini tanpa supir lagi.
"Ehm, Rai ...." Sandra menggigit bibirnya, seperti ada yang ingin ia sampai kan namun terlihat keraguan diwajahnya.
"Iya, San, kenapa?" ucapku seraya menoleh ke Sandra.
__ADS_1
"Kamu ... masih marah ya, sama ibu mu? Maaf ya, Rai, aku nanya ini." ucapnya hati-hati.
"Gak apa-apa, San. Aku terbawa emosi tadi." ucapku tertunduk lesu.
Sandra meraih tanganku, memberikan semangat. Dan tersirat dari sorot matanya bahwa ia berkata, "jika kamu tidak sendiri, ada aku yang akan menguatkan mu."
"Rai, sebenarnya ibumu mau banget ketemu sama kamu waktu itu, tapi ayah tirimu ada urusan mendadak yang harus dikerjakan makanya mereka buru-buru gak sempat nyamperin kamu." terang Sandra.
"Hmmm, jadi beneran dia sudah nikah lagi." ucapku masih dengan nada kesal.
"Ya, begitulah ... ibumu sangat menyesal, Rai, sudah ninggalin kalian, sebenarnya beliau kangen banget sama anak-anaknya, tapi beliau bilang dia belum ada keberanian untuk bertemu kalian. Ibumu juga tau kabar meninggalnya bapak kamu, Rai, tapi saat itu beliau sedang tidak berada dikota ini, dan beliau sangat berbela sungkawa atas itu. Ibumu sudah berubah, Rai, dia sayang kalian semua, kok. Mungkin caranya saja yang salah. Rai, kamu mau maafin ibu kamu, kan?"
Ku dengarkan semua penjelasan Sandra yang mungkin tadi disampaikan oleh ibu yang menitipkan pesannya melalui Sandra.
Aku masih terdiam, mencerna semua alasan ibu."Apa kah aku mampu menerima semuanya dengan lapang dada?"
Aku kembali teringat pesan bapak didalam mimpiku tadi.
"Ya, aku akan memaafkan nya, San. Aku akan bahas ini nanti dengan kak Aldo dan Raka." ucapku mantap.
Kami berdua sama-sama tersenyum. Nampak senyum kelegaan di wajah Sandra saat mendengar jawaban ku.
Hatiku terasa damai dan tenang saat aku mengucapkan akan memaafkan ibu.
Lakukan lah setulus hati, karena memaafkan itu adalah hal yang sangat mulia.
Bersambung
Sudahkah kalian memaafkan atau meminta maaf atas kesalahan kalian?
__ADS_1
"Terimakasih untuk admin yang selalu meloloskan cerita ini.
Mohon like, kritik, dan saran kalian ya readers, karena itu sangat membantu dan mendukung saya."βΊοΈπππ