
Raina sudah kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Cukup lama dirinya terdiam menatap langit-langit kamar, hingga akhirnya dia kembali terlelap karena kekenyangan.
Sementara dikamar yang berbeda, Satria belum juga dapat memejamkan matanya. Pikirannya masih terbayang akan pertanyaan Raina yang menanyakan orang yang telah ia sebut didalam mimpinya. Dia terus menimbang apakah dia harus menceritakan kisahnya tentang Erlina pada Raina atau tidak.
Satria memutuskan memainkan gawainya, karena dirinya belum juga merasa mengantuk. Empat jam berlalu, hari sudah mulai berganti dengan subuh.
Satria keluar dari kamarnya, berniat untuk membuat kopi untuknya. Langkahnya terhenti diambang pintu dapur, saat dirinya melihat sesosok orang yang tengah sibuk didapur. Sosok itu tak lain adalah Raina.
"Kenapa sudah bangun sepagi ini?" tanya Satria yang membuat Raina terkaget dan menoleh kearah asal suara yang mengagetkan nya.
"Eh, Mas. Kamu sudah bangun?" Raina kembali melanjutkan aktifitas nya setelah tahu Satria lah yang mengagetkan nya tanpa menjawab pertanyaan Satria.
Satria berjalan mendekat ke arah Raina, meraih cangkir.
"Mas mau ngapain?" tanya Raina yang melihat Satria meraih cangkir kopi.
"Aku ingin membuat kopi, semenjak kamu membangunkan ku, aku tidak bisa tidur lagi." jawab Satria.
"Maaf, sudah membuat dirimu susah tidur. Mas, duduk saja. Biar aku yang akan membuatkan mu kopi." ucap Raina sembari mengambil alih cangkir yang dipegang oleh Satria.
Satria tercengang saat Raina mengambil cangkir yang akan ia isi dengan kopi. Satria pun menurut dengan Raina untuk duduk. Dia memperhatikan Raina yang dengan gesit membuatkan nya secangkir kopi.
__ADS_1
Raina menghampiri Satria yang berada di meja makan dan menyuguhkan secangkir kopi yang telah diminta oleh Satria.
"Ini Mas, kopi nya." ucap Raina dan kembali berbalik untuk menyelesaikan aktifitas nya.
Satria mulai menyeruput kopi hangat yang telah tersaji dihadapannya.
"Enak juga." gumam Satria merasai kopi buatan Raina.
Raina kembali ke meja makan dengan membawa makanan yang telah ia buat untuk sarapan nya bersama dengan anggota keluarga Satria lainnya.
Raina meletakkan nasi goreng untuk dirinya, Satria serta adik ipar nya. Dan beberapa makanan lainnya yang telah dia buat khusus untuk sang ibu mertua yang sedang sakit jantung pun sudah tertata rapi di meja makan.
Satria terheran-heran melihat makanan untuk mamah nya yang biasa dimasak oleh Bi Darsih, kini Raina yang memasak nya. Padahal Bi Darsih atau pun dirinya sama sekali belum memberitahukan nya pada Raina.
"Iya. Kan mamah lagi sakit jantung, jadi ya aku buat kan ini. Aku tahu orang yang menderita penyakit jantung tidak bisa memakan makanan sembarangan." jawab Raina menjelaskan.
"Iya, memang betul mamah tidak boleh makan makanan sembarangan apa lagi yang terlalu banyak mengandung minyak dan msg. Tapi, bagaimana bisa kamu mengetahui makanan yang biasa mamah makan?" Satria mencoba bertanya kembali pada Raina.
"Apa gunanya smartphone jika tidak digunakan sebaik mungkin? Ya, aku sudah mencari tahu nya terlebih dulu lah, lewat aplikasi gugel." jawab Raina santai dan mulai mengisikan nasi goreng kedalam piring Satria.
Satria yang mendengar jawaban Raina langsung menepuk jidat nya. Betapa bodoh nya dirinya hingga tidak memikirkan ke arah yang diucapkan Raina. Dia melupakan aplikasi gugel yang bisa memberikan jawaban atas apa pun yang dicari melalui mesin pencarian itu.
__ADS_1
Raina dan Satria mulai menikmati sarapan paginya. Suapan demi suapan sukses masuk ke dalam lambung Satria, hingga dia tak menyadari jika dirinya sudah mulai menambah untuk yang ketiga kalinya.
Raina yang melihat hanya tersenyum, dirinya merasa senang karena Satria menyukai masakan nya. Tak lama kemudian, Bara datang menghampiri Satria dan Raina dengan sudah mengenakan seragam sekolahnya rapi.
"Wah ... wah ... nasi goreng. Sepertinya enak, nih." ucap Bara yang mulai mengisi piring nya.
"Iya, ini enak. Kakak sudah nambah tiga kali." sahut Satria.
"Apa? Bara gak salah dengar, nih? Biasanya kakak gak pernah menghabiskan sarapan kakak bahkan kakak gak pernah menyentuh sarapan kakak." ucap Bara yang kaget mendengar pernyataan dari Satria.
Bara mulai menyuapkan sendok demi sendok nasi goreng ke dalam mulut nya.
"Ehm, ini memang enak sih, bisa dibilang ini nasi goreng terenak. Pantas saja Kak Satria sampai tiga kali nambah, wah ... kakak ipar berhasil buat kakak ku yang kurus ini banyak makan." tambah Bara lagi.
"Hei, meski pun aku kurus tapi aku tidak kekurangan gizi dan aku masih tampan." sahut Satria sembari menjitak kepala adiknya.
"Aww ... sakit tahu!" ucap Bara ketua sembari mengusap-usap kepala nya yang terkena jitakan Satria.
Sementara Raina hanya tersenyum melihat adik dan kakak yang sangat akrab. Dia pun sebenarnya merasa senang setelah mendengar ucapan dari Bara, jika dirinya dapat membuat nafsu makan Satria bertambah.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada author ya ππ
__ADS_1
Dukungan kalian sangatlah berarti untuk author π