Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Tidak ingin ditinggalkan


__ADS_3

Tak butuh waktu lama untuk sampai dirumah Raina yang memang jarak antara klinik tempatnya bersalin sangat lah dekat.


Raina kembali menghadapi kesusahan saat hendak turun dari mobil. Satria yang berada disampingnya pun menahannya untuk melakukannya sendiri.


"Sudah diam aja dulu disitu, nanti aku bantu untuk turun." ujar Satria yang masih berada dibalik kemudinya.


Satria pun turun terlebih dahulu, kemudian berjalan kesisi sebelah mobilnya untuk membantu Raina. Untuk kedua kalinya, Satria melakukan hal yang sama. Kembali menggendong Raina ala bridal style. Memasuki rumah Raina yang kemudian langsung menuju kamar Raina.


Di dalam kamar Raina, sudah ada Sandra dan bunda Eva yang menunggu kedatangan Raina, serta ibu Santi yang masih menggendong baby Al dan duduk disisi kasur Raina. Satria pun menurunkan Raina diatas kasur secara perlahan.


"Terimakasih, Mas." ucap Raina yang tidak dapat menyimbunyikan rasa malunya.


"Iya, Dek. Sama-sama." balas Satria dengan tersenyum penuh kemenangan.


Tak lama kemudian, masuklah Ibu Riska yang membawa nampan berisikan minuman dan juga kue dari tokonya sendiri.


"Nah, ini ada sedikit cemilan dan minuman. Mari dicicipi." ucap Ibu Riska sembari meletakkan bawaannya dimeja.


"Terimakasih, Bu." ucap Ibu Santi dan Bunda Eva bersamaan.


"Ini pasti kue dari toko tante, kan?" tanya Sandra sembari mengambil kue yang ada dinampan itu dan memakannya.


"Iya, San. Selagi ada, jadi ya ... tante suguhkan untuk kalian." jawab Ibu Riska.


"Enak, tan. Sepertinya ini sekalian promosi, nih." ucap Sandra sembari terkekeh kecil.


"Haha ... kamu bisa aja, San. Tahu sekali kalau memang itu tujuan tante." Ibu Riska membalas candaan Sandra.


"Ehmm, ini memang enak sih, Bu. Bisa nih, saya promosikan ke teman-teman arisan saya." ujar Bunda Eva.


"Silahkan, Bun. Saya sangat berterimakasih." ucap Ibu Riska sembari tersenyum.


Semua pun menikmati sajian yang disuguhkan oleh tuan rumah.


Hari semakin petang, tak lama kemudian suara adzan maghrib pun berkumandang. Semua yang masih ada dirumah Raina memutuskan untuk sholat berjamaah dirumah Raina, yang diimami oleh Satria.


Setelah selesai melaksanakan sholat tiga rakaat itu, mereka semua berkumpul diruang keluarga, tapi tidak dengan Raina yang tidak diperbolehkan banyak bergerak. Sehingga Raina hanya berdiam diri didalam kamar bersama dengan Al, anaknya.


"Bun ... pulang, yok?" ajak Sandra.

__ADS_1


"Iya, sayang." jawab Bunda Eva sembari melihat jam tangannya.


"Gak terasa sekali waktunya, tahu-tahu sudah malam aja. Bu Riska, saya pamit pulang dulu, ya." ucap Bunda Eva berpamitan dengan Ibu Riska.


"Iya, Bun. Kalau ada waktu kesini lagi ya, Nak Sandra, Bunda." ucap Ibu Riska.


"Pasti tante." balas Sandra sedangkan Bunda Eva hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Sat, sepertinya mamah ikut pulang bareng bunda Eva saja. Biar kamu tetap disini menemani Raina."ucap Ibu Santi.


"Iya, Mah." jawab Satria.


Bunda Eva, Ibu Santi dan Sandra pun pulang bersama. Meninggalkan Satria yang tetap berada dirumah Raina.


*********


Mobil bunda Eva sudah melaju, meninggalkan kawasan perumahan dimana Raina tinggal.


Bunda Eva berada dibalik kemudi sedangkan ibu Santi duduk bersamanya disebelahnya dan Sandra duduk sendiri dikursi belakang.


"Yu, bagaimana selanjutnya hubungan Raina dan anakmu?" tanya Bunda Eva sembari menoleh sekilas pada ibu Santi.


"Kalau menurutku, Satria pasti melanjutkan pernikahan ini." ucap Bunda Eva.


Raut wajah ibu Santi langsung berubah tidak suka ketika mendengar penuturan adiknya yang begitu percaya akan kelanjutan pernikahan anaknya.


Entah kenapa, dia kepikiran dengan Awan dan cucunya yang begitu mirip dengan Awan, anaknya. Dan seakan tidak rela, jika Satria kembali melanjutkan pernikahannya dengan Raina.


*********


Sementara dirumah Raina, Satria sudah belajar menjadi seorang ayah yang sigap. Satria belajar menggantikan popok serta belajar menenangkan si kecil Al jika tiba-tiba menangis.


"Wah, kamu cepat sekali belajarnya, Mas. Aku aja masih takut buat gendongnya." ucap Aldo yang melihat Satria begitu telaten mengurus anak.


"Pertama kali aku juga takut menggendongnya, tapi lama-lama aku jadi candu untuk menggendongnya." jawab Satria.


"Semangat, Mas. Oh ya, kalau Mas Satria mau istirahat biar bareng aja dikamarku." ucap Aldo.


"Terimakasih tawarannya. Tapi, sepertinya aku akan pulang." balas Satria.

__ADS_1


"Eeee ... hiks ... hiks ... owe ... owe ..." Seakan tidak rela ditinggal dengan Satria, baby Al pun menangis ketika tahu, ayah sambungnya itu akan meninggalkan nya.


"Rai, kenapa anakmu menangis seperti itu?" tanya Ibu Riska yang berlari tergopoh-gopoh saat mendengar cucunya menangis menjerit-jerit.


"Raina juga gak ngerti, Bu. Sepertinya Al tidak ingin jauh dari Mas Satria." ucap Raina yang berusaha menenangkan baby Al.


Ibu Riska pun memandang ke arah Satria mencoba mencari jawaban. Satria pun berusaha mengambil alih baby Al dari Raina.


"Cup ... cup ... anak ayah ganteng, sudah ya, jangan menangis lagi. Ayah tetap disini bersama Al dan juga bunda." ucap Satria menepuk-nepuk pelan kaki kecil baby Al.


Dan seketika baby Al pun terdiam dan kembali tertidur setelah mendengar suara Satria.


Semua yang ada dikamar Raina, menoleh ke arah Satria, setelah melihat Satria dengan mudahnya membuat baby Al tenang.


"Sepertinya benar apa yang dikatakan Raina. Mas Satria tidak diperbolehkan pulang sama Al." ujar Aldo.


"Iya, Nak. Menginaplah disini. Hari juga semakin larut." titah Ibu Riska.


Karena sebenarnya Satria pun tidak rela berjauhan dengan Al. Dan akhirnya, dia pun menerima tawaran untuk menginap dirumah Raina.


Satria memutuskan untuk tidur bersama dikamar Raina. Satria tidur beralaskan kasur lipat dilantai, sedangkan Raina diatas kasur bersama dengan si kecil Al.


Satria tertidur setelah Al dan Raina tertidur. Sebenarnya, Raina tidak benar-benar tidur. Ini pertama kalinya mereka tidur dalam satu kamar meski tetap ditempat yang terpisah. Raina bangun dari tidurnya dan duduk menyadarkan kepalanya pada kepala kasur.


Raina memperhatikan wajah Satria yang tertidur pulas. Tampak sekali jika lelaki itu sangat lelah. Satria menggeliat merubah posisi tidurnya dan tidur dengan posisi seperti udang.


Raina turun dari kasurnya dan berjalan perlahan mendekat ke arah Satria. Raina membenarkan selimut yang tidak tertutup sempurna dibadan Satria.


"Terimakasih Mas, kamu sudah sangat bekerja keras sebagai ayah yang baik hari ini." gumam Raina dan refleks dirinya mencium kening Satria.


"Terimakasih." ucap Satria lirih sembari tersenyum dengan mata tertutup. Raina pun menjadi malu dan kembali menuju kasurnya dengan sangat pelan.


"Apa dia mendengar ucapanku tadi? Astaga, kenapa aku sampai menciumnya juga!" Raina menepuk dahinya dan merutuki perbuatannya.


Sebenarnya yang terjadi, Satria sedang bermimpi jika dirinya diberikan ciuman hangat oleh Raina. Dan Satria pun mengigau mengucapkan kata terimakasih itu bertepatan sesudah Raina mengecup kening Satria.


Mohon like, komen, vote dan rate karya author 😁


Dukungan kalian adalah semangat untuk author πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2