
Tiga hari berlalu, Raina sudah membaik dan diperbolehkan untuk pulang. Namun, Raina terlihat tak bersemangat karena bukan Satria yang menjemputnya dirumah sakit. Satria sudah berangkat kembali ke lokasi tempatnya bekerja diluar pulau, sehari sebelum kepulangan Raina.
"Kenapa ... kok, mukanya ketekuk gitu? Kamu gak senang, kakak yang jemput kamu?" tanya Aldo yang menyadari Raina tidak seceria biasanya bila bertemu dengannya.
"Eh, gak gitu, Kak. Raina senang kok." jawab Raina sembari membenarkan posisi duduknya didalam mobil.
"Apa karena Satria yang tidak menjemputmu? Kamu jadi begini?" goda Aldo.
"Begini, gimana maksudnya? Raina biasa aja, kok." bantah Raina dan melempar pandangannya keluar mobil.
"Cie ... sepertinya, adik kecil kakak ini sudah mulai jatuh cinta dengan suami sementaranya." Aldo semakin menggoda Raina yang membuat wajah Raina merona seketika mendengar godaan dari kakaknya.
Sementara Aldo mencuri-curi pandang ke arah adiknya, melirik wajah Raina yang memerah seperti kepiting rebus membuatnya terkekeh geli.
"Ih, kakak nyebelin." gerutu Raina sembari menyubit pinggang Aldo.
"Aw ...! Sudah, sudah, ampun, deh." ucap Aldo sembari mengusap pinggangnya yang sakit karena cubitan Raina.
Raina melipat kedua tangannya didada, memasang wajah cemberutnya dan kembali menatap keluar jendela mobil.
"Jangan cemberut gitu, donk! Nanti, cantiknya hilang, lho. Ini kamu mau langsung diantar pulang ke rumah Satria atau ke rumah kecil kita?" tanya Aldo.
"Sepertinya, Raina mau pulang kerumah kecil kita dulu deh, Kak. Raina kangen masakan ibu." ujar Raina.
"Ok, deh. Tapi, kamu harus kasih kabar ke mertua dan suamimu, biar mereka gak khawatir." usul Aldo.
"Iya, Kak. Raina ngabarinnya tunggu sampai dirumah." sahut Raina.
Setengah jam perjalanan yang ditempuh dari rumah sakit hingga tibalah mereka berdua dirumah mereka. Rumah yang sangat dirindukan Raina, meski Raina sering berkunjung kerumah masa kecilnya, tapi dia selalu rindu dengan suasana rumah itu dan kebersamaannya dengan kedua saudara laki-lakinya saat dirinya sudah kembali berada dirumah Satria.
Raina keluar dari mobil dan segera menuju ke toko kue milik ibunya untuk menyapa ibunya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum .... " ucap Raina yang masuk kedalam toko kue milik ibunya.
"Walaikumsalam ... eh, Kak Raina." jawab Eci karyawan ibu Riska.
"Iya, Ci. Ibu mana?" tanya Raina sembari celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya.
__ADS_1
"Oh, ibu lagi didapur, Kak. Ibu lagi buatkan cake pesanannya orang." jawab Eci memberitahukan pada Raina.
"Ok. Aku ke dalam dulu ya, Ci." ucap Raina.
Eci hanya menganggukkan kepalanya dan kembali bekerja.
Didapur toko, Raina melihat ibunya yang terlihat sangat serius menghiasi cake pesanan pelanggannya.
"Ibu ...." sapa Raina yang langsung menghambur memeluk ibunya tersebut.
"Hei, anak ibu datang. Tapi, bisa gak, sih? Gak terlalu nempel dulu? Itu perut sudah besar, kalau kamu peluk ibu, otomatis badan ibu jadi tergeser. Nanti kue yang ibu buat malah jadi hancur kalau tertimpa ibu." ujar Ibu Riska.
"Ya, maaf. Hiasannya bagus banget, Bu. Ibu makin mahir ya, menghias cake." puji Raina yang melihat cake ulangtahun bertingkat tiga yang di hias sedemikian rupa agar terlihat cantik dan sesuai dengan permintaan pelanggan ibunya.
"Terimakasih, sayang. Ini cake untuk ulangtahun pernikahan pelanggan ibu, suaminya sendiri yang datang kesini meminta ibu untuk membuatkannya." ucap Ibu Riska.
"Oh ... romantis sekali ya, Bu, suaminya itu. Sampai memesankan cake seperti ini dan memilih desain cake yang sangat cantik ini." ujar Raina.
Raina terus memandangi kue yang sedang dihias oleh ibunya itu.
"Astaga! Aku lupa!" pekik Raina sembari menepuk dahinya sendiri dengan tangannya.
"Aduh, Raina ... Ibu sampai terkaget nih, gara-gara teriakanmu. Memangnya kamu melupakan apa?" gerutu Ibu Riska sembari melontarkan pertanyaan pada Raina.
"Maaf ... maaf, Bu. Ini ... Raina lupa, belum kasih kabar ke mamah dan Mas Satria kalau Raina sudah pulang dari rumah sakit dan langsung kesini." jawab Raina dengan mata yang fokus pada handphone dan jari jemarinya pun sibuk mencari nama yang akan ia tuju pada kontak teleponnya.
"Segera kasih kabar ke mereka, nanti malah khawatir lagi ... kamu gak sampai-sampai disana." cetus Ibu Riska.
Raina menganggukan kepalanya dan menjauh dari ibunya. Dia memilih untuk duduk disudut dapur, dengan menarik kursi plastik ke sudut ruangan itu.
Tak butuh waktu lama panggilan teleponnya pun langsung terhubung dengan mamah mertuanya. Hanya butuh waktu per sekian detik Raina berbicara ditelepon dengan mertuanya mengabari orang tua itu dan setelah itu langsung mengakhiri panggilannya. Raina melanjutkan mencari nama Satria dan menghubungi suaminya itu.
[Hallo, assalamualaikum ... kenapa, Rai?] Orang diseberang sana sudah menjawab teleponnya dan langsung mencecar Raina dengan pertanyaan.
[Ehm, walaikumsalam, mas. Raina sudah pulang dari rumah sakit, tadi kak Aldo yang menjemput Raina. Raina mau bilang sama mas, kalau sekarang Raina berada dirumah ibu, Raina kangen sama masakan ibu. Jadi Raina memutuskan langsung kesini.]
[Oh, baiklah. Jaga dirimu serta kandunganmu dengan baik. Jangan telat makan dan minum vitamin yang diberikan dokter untukmu.]
__ADS_1
[Iya, mas. Mas juga hati-hati bekerjanya.]
Panggilan pun diakhiri. Raina memegang dadanya yang berdebar, setelah dia berusaha setenang mungkin bicara dengan Satria.
"Kenapa jadi deg deg an gini, ya? Kan, ngomongnya gak menatap wajahnya secara langsung. Tapi tetap saja aku terhipnotis juga meskipun hanya mendengar suaranya." rutuk Raina dalam hati.
"Sudah selesai nelponnya?" tanya Ibu Riska yang telah selesai mengerjakan pesanannya.
"Sudah, Bu. Apa ibu sudah tidak ada pekerjaan lain lagi?" Raina menjawab pertanyaan ibunya dan kemudian kembali bertanya pada sang ibu.
"Tidak ada. Memangnya kenapa?" Ibu Riska balik bertanya.
"Raina lapar, Bu. Raina pengen makan masakan ibu dan makan bareng ibu." jawab Raina.
"Ok. Ayo kita kerumah." ucap Ibu Riska sembari merangkul Raina yang badannya lebih besar darinya karena Raina sedang mengandung.
Karena jarak rumah dan toko hanya beberapa meter, sampailah mereka didapur yang telah lama tidak Raina masuki. Meskipun Raina sering datang berkunjung, tapi dirinya tidak diperbolehkan melakukan apa pun selama dia hamil. Jadi, jika dirinya berkunjung, Raina lebih banyak menghabiskan waktunya diruang keluarga dan juga kamarnya.
"Kamu mau ibu masakin apa?" tanya Ibu Riska yang sudah bersiap didapur.
"Apa aja deh, Bu. Yang penting itu masakan ibu." jawab Raina.
"Ok. Bersabarlah." ucap Ibu Riska yang langsung sibuk untuk memasak karena permintaan putrinya yang sedang mengandung. Karena biasanya, jika dirinya sudah terlanjur sibuk dengan tokonya dan tidak menyempatkan diri untuk memasak, dia selalu memesan makanan jadi untuk dirinya dan kedua anak lelakinya.
Karena ini permintaan dari anak perempuannya yang sedang hamil, mau tidak mau dia turun tangan sendiri memasaknya, meski hanya dengan bahan-bahan makanan yang tersisa dikulkas. Dia ingin menuruti apa yang diminta anaknya, karena dia tidak ingin melihat cucunya ileran jika ia tidak menuruti kemauan dari anaknya yang sedang hamil.
Dua puluh menit kemudian, masakan ibu Riska sudah tersaji rapi diatas meja ada tumis kangkung cah undang kesukaan Raina dan ayam ungkep laos yang sudah digoreng.
"Kamu makan yang banyak, biar anak yang kamu kandung juga ikut kenyang dan sehat." ujar Ibu Riska sembari mrnyendokkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring Raina.
"Terimakasih, Bu. Ayo, ibu juga harus makan menemani Raina." ucap Raina.
Ibu dan anak itu pun menikmati makan siang mereka yang sudah telat itu dengan penuh ketenangan. Raina memakan masakan ibunya dengan sangat lahap dan membuat ibunya tersenyum bahagia karena dapat melihat sang anak yang begitu menikmati masakannya.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada karya author ini ya π
Dukungan kalian sangat berarti untuk author ππ
__ADS_1