
Sesampainya Satria diluar, dia terduduk dibawah pohon besar yang berada dihalaman rutan itu. Dia kembali memutar rekaman saat dirinya berbicara dengan Awan didalam tadi. Dia sengaja merekam semua ucapan adiknya itu, entah kenapa dia dapat melakukan hal itu. Dia merasa jika sewaktu-waktu rekaman itu akan berguna.
"Kenapa kamu mengelak? Dan tidak mau berkata jujur? Dengan caramu yang seperti ini, aku semakin mantap untuk menjauhkan dirimu dari Raina." gumamnya.
Satria melampiaskan amarahnya dengan memukul pohon yang ada disebelahnya.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu, Rai. Aku tidak akan membiarkan Awan merusak dan masuk kembali kedalam kehidupanmu."
Sementara itu, Pakde Suseno sudah selesai berbicara dengan Awan dan keluar dari ruangan itu. Dia mencari-cari keberadaan Satria, sempat berfikir kalau Satria sudah kembali ke dalam mobil. Tapi langkahnya terhenti, saat melihat sosok Satria terduduk dibawah pohon dengan tatapan yang sulit diartikan. Pakde Suseno mendekati keponakannya itu.
"Sat, ayo kita kembali." ajak Pakde Suseno namun tak mendapatkan respon dari keponakannya itu. Dan akhirnya pakde Suseno pun ikut duduk disamping Satria.
"Pakde tahu kamu sekarang sangat marah pada adikmu, pakde juga merasakan hal yang sama denganmu. Apalagi saat dia yang tidak mau mengakui perbuatan yang telah ia lakukan pada Raina, pakde benar-benar tidak menyangka dia bisa dengan santainya menjawab tanpa rasa bersalah sedikit pun." ucap Pakde Suseno sembari menepuk-nepuk pundak Satria.
"Tapi ingat, jangan amarah dan dendam menguasai hatimu. Bagaimana pun kalian itu bersaudara, sedarah dan sekandung. Pakde melihat ada penyesalan yang mendalam dimatanya, dia sudah cukup berat menjalani hukumannya disini. Apa pun keputusan mu nanti setelah Raina melahirkan, Pakde harap kalian benar-benar harus menyelesaikannya dengan baik agar semua sama-sama menerima dengan keikhlasan agar tidak ada hal-hal yang tidak kita inginkan kedepannya." tambah Pakde Suseno.
Dirinya sudah tahu jika akan terjadi seperti ini, mungkin jika Satria pergi bukan dengan dirinya, pasti Satria sudah menghajar adiknya didalam sana. Satria merupakan anak yang di didik dengan keras oleh ayahnya semasa kecil hingga terbentuklah watak bijaksana, tegas dan keras yang diwarisi dari sang ayah. Dia tidak akan segan melukai seseorang jika orang tersebut telah melakukan kesalahan yang fatal, sekalipun itu adiknya sendiri.
Pakde Suseno ingat betul, bagaimana caranya Satria menghukum Awan waktu remaja dulu. Adiknya itu dihajar tanpa ampun karena ketahuan bolos sekolah oleh Satria dan lebih parahnya Awan berani menjual teman perempuan sekolah nya kepada pria hidung belang. Meskipun dia takut pada kakaknya, dia masih tetap bergaul dengan orang-orang yang tidak benar dan membuat dirinya malah semakin jauh terjerumus.
"Ayo kita kembali ke mobil." ajak Pakde Suseno lagi. Dan kali ini Satria mengikuti ajakan pakdenya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil milik teman Pakde Suseno yang masih setia menunggu mereka diparkiran. Pak Sigit tidak mau ikut masuk kedalam, karena merasa bukan haknya untuk ikut campur masalah keluarga Pakde Suseno, meskipun dia tahu masalah apa yang tengah dihadapi keluarga temannya itu.
"Terimakasih, kamu masih mau menunggu kami." kata Pakde Suseno pada Pak Sigit.
"Kamu ini, seperti dengan orang lain saja. Keluargamu sudah sangat membantuku waktu itu, kini saatnya aku juga membantu kalian. Meski ini tidak sebanding dengan apa yang keluarga Sanjaya berikan padaku." ucap Pak Sigit.
Dia kembali teringat kebaikan Pak Sanjaya yang tak lain adalah almarhum ayah Pakde Suseno dan merupakan kakeknya Satria. Pak Sigit dapat berdiri tegak hingga usaha permeubelan miliknya maju pesat karena dorongan dari kakek Satria yang membantu dengan moril dan materi saat ayahnya Pak Sigit berada diambang kehancuran dimasa itu.
"Sekarang kalian harus ikut ke rumahku dulu sebelum kalian pulang. Aku sudah memberitahukan pada istriku jika akan kedatangan tamu penting." tambah Pak Sigit.
"Hahaha, tamu penting apa? Kamu ini ada-ada saja." Pakde Suseno tergelak mendengar penuturan temannya itu.
__ADS_1
Mobil semakin melaju ke pusat perkotaan, Pak Sigit memang tinggal Ditengah-tengah kota karena disinilah dia melebarkan sayapnya mengembangkan usaha turun temurun keluarganya.
Sementara Satria tetap sama seperti berangkat tadi, dia tetap diam sembari menikmati keramaian dikanan-kiri sepanjang jalan.
Mereka pun tiba disebuah rumah megah setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan.
"Wah, kamu benar-benar tambah sukses sekarang. Aku sudah terlewatkan." ucap Pakde Suseno yang terkagum melihat rumah megah bak istana yang ada dihadapannya.
"Hahaha, kamu bisa saja memujinya. Jelas-jelas aku masih kalah dibawahmu. Ini semua berkat didikan dari ayahku yang tak luput dari ajaran bisnis ayahmu juga yang mewariskan cara berbisnisnya. Ayo, masuk." balas Pak Sigit yang kemudian mengajak Pakde Suseno dan Satria untuk masuk kerumahnya.
Di dalam rumah mereka sudah ditunggu dan disambut oleh istri Pak Sigit.
"Ini Mas Suseno kan?" tanya Lastri yang tak lain adalah istri Pak Sigit. Pak Sigit hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Sudah lama sekali Mas Suseno tidak main-main kesini ya, Pah." ucap Lastri lagi sembari menyalami Pakde Suseno.
Dan kemudian matanya beralih pada Satria yang berdiri disamping pakdenya.
"Ini anakmu, Mas?" tanya Lastri pada Pakde Suseno.
Satria pun menyalami Lastri dengan penuh takzim.
"Serius? Ini anak yang sering aku gendong-gendong itu, kan? Sekarang, masya Allah ... tingginya sudah mengalahi pakdenya, ganteng pula. Pasti banyak wanita yang menempel?" Lastri terkagum melihat ketampanan anak temannya itu.
Memang sebelum mereka pindah ke pulau ini, mereka tinggal dikota yang sama dan bertetangga dulunya. Jadi, sedikit banyaknya Lastri mengenal hubungan baik keluarga suaminya dengan keluarga Sanjaya.
"Saya sudah menikah tante." jawab Satria.
"Oh, pupus harapan untuk mengenalkan anak tante padamu." canda Lastri dan disambut tawa oleh Pakde Suseno dan Pak Sigit.
"Bu ... apa tamunya mau dibiarkan berdiri disini?" tanya Pak Sigit.
"Eh, maaf ... maaf ... ayo kita santai diruang tengah saja" ajak Lastri membawa tamunya ke ruang keluarga.
__ADS_1
Disana mereka mengobrol banyak hal, saling bertanya kabar tentang keluarga, maupun berbagi cerita tentang bisnis mereka masing-masing.
Sementara Satria tidak begitu tertarik dengan obrolan orang tua dihadapannya. Dia hanya sesekali menimpali omongan dari pakdenya maupun dari pasangan teman pakdenya itu.
"Sebentar, saya permisi dulu mau menyiapkan makan siang. Ini sudah waktunya jam makan siang." ucap Lastri sembari beranjak dari duduk nya.
"Gak usah repot-repot, yu. Keluarkan semua masakan mu." canda Pakde Suseno sembari tertawa.
"Ok, tenang saja Mas." jawab Lastri sembari berlalu.
Sekitar sepuluh menit Lastri menyiapkan berbagai makanan diatas meja makan yang telah dimasak sebelumnya dan khusus karena dia tahu tamu yang datang kerumahnya. Setelah menghidangkan makanan, dia pun mengajak tamunya untuk ikut makan siang bersama.
Satria pun mengekor dibelakang pakdenya dan ikut bergabung dimeja makan. Satria pun mulai mengisi piringnya.
"Kok, sedikit sekali Nak Satria makannya? Ayo, tambah lagi. Jangan sungkan-sungkan." ucap Lastri yang melihat piring Satria hanya terisi sedikit makanan.
"Iya, tante ... terimakasih. Jika Satria kurang nanti Satria akan ambil lagi." jawab Satria.
Mereka mulai asik menyantap makanan masing-masing. Tak lama kemudian, datanglah seorang perempuan yang mungkin seusia dengan Satria memasuki ruang keluarga yang tak jauh dari meja makan.
"Assalamualaikum ..." ucap Perempuan itu dan terus masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam ..." jawab semua yang berada dimeja makan.
"Wah, ada tamu ternyata." ucapnya sembari tersenyum.
"Hei, sayang ... kamu sudah pulang. Ayo sekalian gabung makan siang." ajak Lastri pada anak perempuannya.
"Iya, Mah." jawab Perempuan itu yang langsung duduk disamping Lastri dan berhadapan dengan Satria.
Saat Satria dan Perempuan itu mengangkat wajah mereka masing-masing, mereka pun bertemu tatap. Namun, dengan segera Satria memalingkan wajahnya.
"Ganteng banget, ini pangeran dari mana?" batin Renita.
__ADS_1
Renita makan sembari terus memandangi wajah Satria. Sementara yang dipandangi hanya bersikap acuh tak mau tahu.
Mohon like, komen, vote dan rate nya π