Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Keluh kesah Satria


__ADS_3

Banyak hal yang diceritakan oleh si bapak ojol Itu tentang kehidupannya selama perjalanan yang semakin membuat Satria kembali berkaca-kaca mendengarkannya.


Hingga tibalah mereka didepan sebuah apartemen besar milik ayah dari Ridho itu. Satria segera turun dari sepeda motor itu dan kemudian membayar ongkos ojek online itu.


Tak disangka, Satria menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ditangan bapak itu.


"Ini Pak, ongkosnya." ucap Satria sembari memberikan beberapa lembar uang pada si Bapak itu.


"Aduh ... jangan, Nak. Ini terlalu banyak." Bapak itu sempat menolak dan ingin mengembalikan uang yang telah diberikan oleh Satria. Namun, Satria tetap kekeh untuk memberi.


"Jangan ditolak, Pak. Ini rejeki dari Allah melalui saya. Sekarang bapak pulang, jangan narik lagi ini sudah malam. Lebih baik bapak istirahat saja malam ini." ucap Satria lembut.


"Saya sangat berterimakasih banyak sama kamu, Nak. Semoga Allah selalu memberikanmu kesehatan, melipat gandakan rejekimu, bila Mas nya ini sudah berkeluarga semoga dilanggengkan pernikahannya dan selalu berbahagia dengan keluarganya. Saya tidak bisa membalas apa-apa, Nak. Terimakasih sekali, Allah yang akan membalas ini semua." ucap Bapak itu sembari menitik kan air matanya memunajatkan doa untuk Satria.


"Amin ... amin ... terimakasih untuk doanya, semoga doa tersebut juga dijabah oleh Allah untuk bapak sekeluarga." balas Satria sembari menepuk pelan pundak si Bapak.


"Saya pamit pulang, Nak. Terimakasih banyak sekali lagi." ucap Bapak itu berpamitan.


"Iya, silahkan Pak. Hati-hati dijalan ya, Pak. Semoga selamat sampai rumah." sahut Satria.


Sang bapak pun menganggukan kepalanya dan kemudian berlalu meninggalkan Satria yang masih berdiri ditempatnya. Memandangi sang bapak driver ojol yang semakin menjauh.


Hati Satria terasa tenang dan damai setelah dapat membantu orang yang sangat membutuhkan. Seuntai senyum terukir disudut bibirnya. Dan dirinya melangkah masuk ke dalam gedung apartemen mewah milik ayah sahabatnya itu, setelah memastikan bapak driver ojek online itu benar-benar sudah menjauh.


Satria langsung menaiki sebuah lift yang akan membawanya langsung ke depan pintu apartemen Ridho. Sesampainya disana, Satria langsung masuk dengan santainya karena dia tahu sandi pintu masuk apartemen Ridho.


Satria langsung merebahkan tubuhnya disofa, saat dia tiba.


"Wah ... wah ... enak banget, ya. Datang-datang langsung tidur aja disitu." ucap Ridho yang berlagak seperti seorang majikan dengan bawahannya.

__ADS_1


"Ah, kamu ini ganggu aja. Biarkan aku istirahat dulu, aku lelah sekali hari ini." balas Satria dengan posisi badan yang masih menempel disofa dengan mata yang juga masih terpejam.


"Lelah ngapain? Kamu lembur lagi?" tanya Ridho.


"Gak. Aku gak kerja hari ini." jawab Satria.


"Terus? Kalau kamu gak kerja, kamu capek ngapain? Paling kamu seharian didalam kamar sambil main game." ucap Ridho dengan nada sindiran.


"Sembarangan kalau ngomong. Aku benar-benar lelah jiwa, raga, hati dan pikiran." bantah Satria.


"Beh ... beh ... bahasamu, Sat? Sejak kapan kamu jadi lebay begini?" tanya Ridho lagi yang masih saja menyindir sahabatnya itu.


"Aku serius tahu. Ini berhubungan dengan apa yang mau aku ceritakan ke kamu." jawab Satria.


"Oh ya, ayo sekarang ceritakan padaku." ucap Ridho dengan antusiasnya.


"Kamu mau dengar yang mana dulu ini, yang buat aku terlambat kesini atau masalah yang sedang membuat kepalaku pecah?" tanya Satria.


"Aku tadi kesini pakai jasa ojek online. Te-" Belum sempat Satria melanjutkan, omongannya sudah dipotong oleh Ridho.


"Kenapa kamu pakai ojek online? Kemana sepeda motor dan mobilmu?" tanya Ridho disela-sela Satria berbicara.


"Kenapa kamu memotong pembicaraanku? Aku belum selesai menjelaskannya." gerutu Satria.


"Ok, lanjutkan." ucap Ridho.


"Jadi, aku lanjutkan omonganku yang pertama, ya? Terus, dalam perjalanan kesini aku kurang nyaman sama jalan kendaraannya yang oleng. Ternyata, kepala si driver ini pusing dan tubuhnya juga bergetar karena menahan lapar dari pagi. Kamu tahu sendiri aku seperti apa, aku paling gak tegaan sama orang-orang yang membutuhkan seperti bapak itu. Jadi, aku ajak beliau makan malam dulu. Pas sampai dikedai, si bapak ini buka masker dan sarung tangannya. Disitu aku baru lihat betul-betul wajah si bapak, aku pikir dia masih muda sekitar empat puluh tahunan, gak tahunya umur beliau aku perkirakan sekitar lima puluh tahun lebih. Mungkin, kalau masih ada almarhum papahku ya, mungkin usianya mereka sama. Tapi yang membedakan, pasti papah lebih terawat dan aktif berolahraga, nah kalau beliau ini sudah terlihat ringkih sekali. Aku benar-benar gak tega lihatnya. Aku jadi teringat almarhum papah." jelas Satria.


"Aku tahu kamu pasti melakukan yang terbaik untuk orang itu dengan hati muliamu ini. Kenapa bapak itu sampai bisa menahan lapar dari pagi?" Ridho membenarkan sifat rendah hati sahabatnya itu.

__ADS_1


"Katanya orderan hari ini sepi, sedari pagi dia hanya dapat tiga orderan termasuk orderan ku. Terus, beliau bilang kalau dia makan menggunakan uang yang dia dapat sebelumnya tentu akan kurang untuk dibawa pulang. Sementara dirumahnya, istri dan cucunya juga kelaparan. Beliau tulang punggung satu-satunya dirumah itu, anaknya telah meninggal dunia, sementara menantunya entah pergi kemana gak pulang-pulang dan meninggalkan dua orang anaknya pada mertuanya itu." Satria menjelaskan cerita kehidupan si bapak ojol yang dia temui tadi.


"Kasihan sekali, ya. Dari yang kamu ceritakan ini, aku juga turut prihatin dengan kehidupan bapak itu. Meskipun diusia rentanya, beliau tetap berusaha bekerja keras demi menghidupi istri dan kedua cucunya. Ternyata, benar-benar diluar sana masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita. Aku jadi tergerak untuk membuat bakti sosial untuk orang-orang yang membutuhkan. " ujar Ridho.


"Aku setuju dengan idemu. Memang dari sebagian harta yang kita miliki adalah hak untuk mereka. Tapi, kalau mau melakukan itu tunggu masalahku kelar dulu, ya? Biar aku juga bisa ikut berpartisipasi." ucap Satria.


"Oh ya, sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini masih berhubungan dengan mamahmu lagi?" tanya Ridho.


"Iya, ini masih tentang mamah dan masalahnya semakin rumit." jawab Satria.


"Rumit kenapa?" tanya Ridho.


"Awal aku nginap pertama disini, hari itu selesai acara aqiqah Al, kami semua keluarga inti berkumpul untuk bermusyawarah bagaimana kelanjutan pernikahan ku dengan Raina. Ya, tentu saja aku ingin melanjutkan pernikahan ini sebulan setelah masa nifas Raina berakhir. Semua yang ikut dalam musyawarah itu, sangat senang mendengar keputusanku. Tapi, tidak dengan mamah. Ternyata, mamah terpaksa menyetujui keputusanku didepan saudara-saudaranya. Dari hari itu, aku masih saja dicuekin sama mamah. Kamu tahu sendiri aku seperti apa, kalau lagi emosi apa lagi dengan orangtua, aku lebih baik menghindar sebelum emosiku benar-benar meledak. Aku ikutin maunya mamah, sampai beliau mau bicara lagi denganku. Tapi, yang ada sekarang keadaan tambah rumit." jawab Satria.


"Sampai sekarang jadinya, kamu masih perang dingin dengan mamahmu?" tanya Ridho.


"Awalnya aku gak terlalu menghiraukan mamah yang mengacuhkan aku, tapi setelah aku tahu bahwa diamnya mamah selama ini sedang merencanakan sesuatu. Beliau datang sendiri kerumah Raina, meminta agar Raina mengakhiri pernikahan ini. Dengan alasan, beliau takut jika akan terjadi perpecahan saudara antara aku dan Awan kelak. Mengingat Awan juga masih ada rasa dengan Raina. Dan lebih parahnya lagi, mamah meminta Raina untuk kembali pada Awan dan menjual namaku seakan aku setuju dengan keputusan beliau itu. Kamu bisa bayangin sendiri lah, gimana hancurnya perasaan Raina saat itu dan juga keluarganya yang merasa harga diri anak perempuannya diinjak-injak keluargaku." jawab Satria.


"Wah, gila tante Santi. Maaf ya, Sat ... itu keputusan yang gak normal. Seharusnya sebagai orangtua dan seorang ibu, mamah mu pasti senang melihat anaknya bahagia. Bukannya malah menyuruhmu untuk bercerai. Aku gak habis pikir dengan mamahmu, ternyata sifatnya masih sama seperti dulu. Yang mengharuskan anak-anaknya mengikuti semua maunya." ujar Ridho.


"Itu juga yang membuatku berat sekali. Tapi, aku harus tetap bertanggung jawab sebagai seorang suami dan juga tetap harus berbakti pada ibuku." ucap Satria yang dilanda kebimbangan.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2