Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Bersalah


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makannya, Yumna kembali bercerita apa yang sudah menjadi penyebab Raina mengalami postpartum depression itu.


Erlina yang mendengar cerita sahabatnya itu juga turut terpukul dengan keadaan yang menimpa Raina, bahkan dirinya sekarang benar-benar merasa bersalah atas keegoisan dirinya yang saat itu ingin mengambil hati Satria yang sudah berstatuskan sebagai suami dari Raina.


"Ya, Tuhan ... aku benar-benar bersalah sudah menjadi egois dan ingin mengikuti rencana ibu Santi untuk memisahkan Raina dan juga mas Satria. Aku bahkan sampai terbutakan oleh nafsu hingga tidak menyadari dampak besar yang terjadi pada diri Raina." batin Erlina.


Yumna memperhatikan ekspresi sahabatnya yang seperti sedang menutupi sesuatu.


"Kenapa Lin?" tanya Yumna yang membuyarkan lamunan Erlina tentang kesalahannya.


"Eh, ehm, gak kenapa-kenapa, kok." jawab Erlina yang mencoba menutupi kegugupannya.


Yumna memicingkan matanya, menatap intens sahabatnya yang duduk tepat didepannya.


"Yakin, tidak ada apa-apa?" tanya Yumna lagi dengan nada mencurigai.


"Apa sih? Pakai lihat aku segitunya banget. Seperti aku kedapatan mencuri saja. Sudah ya, aku balik ke ruanganku. Dikit lagi jam istirahat selesai, nih." pamit Erlina pada Yumna, agar sahabatnya itu tidak semakin curiga dengannya.


Erlina pun langsung keluar dari ruangan sahabatnya itu, setidaknya dia sudah mendapatkan apa yang ingin ia ketahui tentang Raina.


Yumna sebenarnya sangat paham dengan gerak-gerik sahabatnya itu yang sedang menutupi sesuatu. Dan dia merasa curiga dengan sahabatnya itu, Erlina tidak pernah seantusias bahkan sampai terkejut dengan ekspresi seperti orang yang bersalah setelah mendengar dirinya bercerita tentang Raina.


"Ada apa sebenarnya dengan Lin? Tumben sekali dia sampai pengen tahu banget tentang pasienku." gumam Yumna.


*********


Sementara itu disebuah pusat perbelanjaan yang terlengkap dikota itu, Ibu dan anak beserta cucunya itu mengelilingi lorong demi lorong yang menyediakan berbagai macam perlengkapan kebutuhan rumah tangga. Mulai dari yang berukuran kecil hingga yang besar semua tersedia dengan lengkap ditoko itu.


Ibu Riska mendorong stroller yang membawa Al didalamnya.


"Untung stroller kamu ada dimobil nenek, Al. Kalau gak ada ini bisa gempor nenek gendong kamu yang gembul ini." ucap Ibu Riska pada cucunya.


Raina hanya tertawa kecil mendengar ocehan ibunya. Troli yang dibawa Raina sudah mulai terisi dengan berbagai perlengkapan dari peralatan kamar hingga dapur.


"Sudah, Bu. Segini aja dulu, yang lainnya bisa dicicil dilain waktu." ujar Raina.


"Iya, Rai. Nanti ibu yang akan membelikan kamu kasur set yang lengkap dengan lemarinya dan juga perabotan yang belum kamu miliki." ucap Ibu Riska.


"Gak usah repot-repot, Bu. Biar nanti kami cicil sendiri membelinya." balas Raina.


"Ibu tidak merasa direpotkan, ibu kerja untuk kalian, anak-anak ibu. Ibu akan bantu anak ibu, selama ibu masih bisa dan mampu untuk bantu kalian." ucap Ibu Riska.


"Bu ... tapi kan, Raina sudah bersuami, itu sudah kewajiban mas Satria yang akan memenuhi keperluan dan kebutuhan Raina dan juga Al." ucap Raina.


"Benar, kamu sudah bersuami. Tapi, kamu tidak pernah tahu berapa penghasilan suami kamu. Lebih baik, uang kalian disimpan jika ada keperluan yang mendesak dan juga untuk tabungan kalian ke depannya. Karena kehidupan berumah tangga itu gak mudah, sayang. Akan ada banyak yang harus kalian penuhi nantinya. Jadi, biarkan ibu membantu kalian." tegas Ibu Riska.


"Terimakasih, Bu." Hanya ucapan terimakasih yang terlontar dari bibir Raina, dia sudah tidak berani membantah apa-apa lagi.


"Sama-sama, sayang." Senyum tulus ikhlas tercipta dikedua sudut bibir ibu Riska.


Mereka pun berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

__ADS_1


"Rai, ibu sama Al tunggu dimobil aja, ya. Kamu pakai ini kalau uang kamu kurang." ucap Ibu Riska sembari memberi kartu atm pada anaknya.


"Iya, Bu." Raina menerima tanpa ada penolakan.


Setelah mengantri dibelakang dua orang konsumen, kini giliran Raina yang maju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Satu per satu, barang-barang yang dibeli Raina discan barcode.


"Total semuanya dua juta tujuh ratus delapan puluh ribu rupiah, ibu." ucap Mbak kasir yang melayani Raina.


Raina mengeluarkan amplop cokelat yang diberikan Satria semalam, dia menghitung uang yang akan digunakan untuk membayar perabotan yang ia beli.


"Ini Mbak. Silahkan dihitung lagi." ucap Raina sembari menyerahkan sejumlah uang pada petugas kasir.


Petugas pun menerima dan menghitung uang yang diberikan oleh Raina. Setelah proses pembayaran selesai, Raina pun keluar dari toko tersebut bersama dengan seorang pramuniaga laki-laki yang membantunya membawa semua barang-barang yang telah ia beli menuju mobil ibunya.


"Terimakasih, Mas." ucap Raina ketika sudah sampai didepan mobil.


Tak lupa Raina memberikan selembar uang sebagai upah karena sudah membantunya membawa barang-barang belanjaannya.


Setelah memasukkan semua barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil, Raina pun juga langsung masuk ke dalam mobil.


"Sudah semua, Rai. Tidak ada yang mau kamu beli lagi?" tanya Ibu Riska saat melihat Raina masuk ke dalam mobil.


"Gak ada, Bu. Untuk sembako bisa beli nanti disupermarket dekat rumah. Oh ya, ini Raina kembalikan atm ibu. Raina tidak memakainya." jawab Raina sembari mengembalikan atm milik ibunya.


Ibu Riska pun menerima kembali atm miliknya dan sekaligus memberikan Al yang sudah tertidur pada Raina.


"Kasian anak bunda, dibawa kesana-kesini. Capek ya, Nak. Terimakasih ya, Nek ... sudah mau nemenin dan jagain Al sampe Al tertidur." ucap Raina dehgan nada yang penuh perhatian pada anaknya.


Setibanya dirumah, Raina langsung membawa Al masuk ke dalam rumah. Karena Al yang masih tertidur didalam pelukannya.


"Bu, biarkan saja dulu belanjaannya dibagasi mobil. Raina bawa Al masuk dulu." ucap Raina pada ibunya.


"Iya, ibu juga sudah lelah sekali." sahut Ibu Riska yang juga mengikuti langkah Raina masuk ke dalam rumah.


Begitu pula dengan Raina, badannya terasa begitu lelah. Raina memutuskan untuk beristirahat sejenak melepas penatnya.


Tak terasa, hari semakin sore. Sanking merasa lelahnya, Raina masih tertidur dan tidak sadar jika Satria sudah pulang dari bekerja.


"Dek, Dek ... bangun, sudah sore." Satria menepuk-nepuk pipi Raina dengan tangan kecil Al.


Raina menggeliat diatas kasur karena merasa ada sentuhan dibagian tubuhnya. Perlahan Raina membuka matanya dan terperanjat saat Satria sudah duduk disampingnya dengan menggendong Al.


"Mas, sudah pulang." ucap Raina sembari mencium punggung tangan Satria penuh takzim.


"Iya, Mas sudah pulang dari jam empat sore tadi. Bahkan, Al sudah Mas mandikan." balas Satria.


"Kenapa Mas tidak membangunkan aku?" tanya Raina yang merasa malu karena tugasnya sebagai seorang ibu diambil alih oleh Satria.


"Mas kasihan sama kamu, Dek. Sepertinya kamu lelah sekali. Jadi, Mas berinisiatif memandikan Al saat Al sudah bangun dari tidurnya. Karena kalau menunggu kamu bangun, bisa-bisa Al kesorean mandinya." jawab Satria.


"Maaf, Mas." ucap Raina dengan mata sendunya.

__ADS_1


Lagi-lagi Raina merasa tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk Al.


"Minta maaf untuk apa? Dan kenapa kamu bersedih? Kamu tidak berbuat kesalahan apa pun. Mas mengerti, jika kamu memang seharusnya butuh istirahat yang cukup." Satria bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.


"Sudah, gak boleh sedih-sedih. Nanti cantiknya bunda hilang, lho." goda Satria dengan menirukan suara Al sembari menggoyang-goyangkan tangan Al didepan wajah Raina.


Seketika wajah Raina merah merona, meskipun dia tahu Satria tidak sungguh-sungguh menggodanya, tapi dia merasa terhibur dengan candaan yang dibuat oleh Satria. Apalagi dengan menirukan suara anak kecil yang sama sekali tidak pantas bagi Raina yang membuatnya terkekeh geli mendengarnya.


"Sudah sana, kamu mandi dulu. Biar Mas yang jaga Al." titah Satria sembari mengelus lembut kepala Raina.


"Terimakasih, Mas." ucap Raina sambil tersenyum dan beranjak menuju kamar mandi.


Satria pun juga membalas senyuman Raina, kemudian dia membawa Al keluar dari kamar untuk menonton diruang keluarga.


Saat itu, bersamaan dengan ibu Riska yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah menutup toko kuenya.


"Nenek, sudah tutup tokonya?" tanya Satria dengan menirukan suara anak kecil.


"Iya, sayang. Nenek sudah tutup toko. Nenek capek sekali hari ini karena nemanin Al dan bundanya Al berbelanja tadi." jawab Ibu Riska yang seolah sedang menjawab pertanyaan dari cucunya.


"Jadi, Raina sudah mengajak ibu untuk berbelanja?" tanya Satria.


"Iya, itu belanjaannya masih didalam bagasi mobil belum diturunin." jawab Ibu Riska.


"Ih, pantas saja Raina terlihat lelah sekali." ujar Satria.


"Ehm, Satria ... sebenarnya, kami tidak hanya berbelanja. Tapi, sebelum pergi ke pusat perbelanjaan, ibu membawa Al dan Raina ke rumah sakit untuk berobat." ucap Ibu Riska.


"Kerumah sakit? Siapa yang sakit, Bu? Raina atau Al?" Satria mencecar ibu mertuanya dengan beberapa pertanyaan dengan nada khawatir.


"Ehm, Raina dan juga Al." jawab Ibu Riska.


"Jadi, Raina sakit? Kenapa dia tidak cerita dengan saya kalau dia sakit. Dan Al juga sakit, sakit apa?" Satria kembali bertanya.


"Itu dipelipis Al masih memar. Tadi pagi Raina meninggalkan Al yang masih tidur untuk bersih-bersih rumah dan juga mencuci pakaian, gak tahunya Al malah jatuh dari kasur dan kepalanya membentur ke lantai." jawab Ibu Riska.


"Terus Raina sakit apa, Bu? Kenapa dia malah bekerja bukannya istirahat jika dia sakit?" tanya Satria yang masih bingung.


"Nanti ibu akan ceritakan, kita tunggu Raina dulu. Tapi, ibu harap kamu tidak marah pada Raina." ucap Ibu Riska.


Merasa belum mendapatkan penjelasan yang tepat, Satria semakin merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya pada Raina hingga mertuanya sampai meminta dirinya untuk tidak marah pada perempuan muda itu.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2