Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Postpartum Depression


__ADS_3

Bulir bening kini mengalir bebas dikedua pipi Raina, terasa begitu menyesakkan jika harus kembali mengingat apa yang sudah lama tertahan dihatinya.


Yumna memegang kedua tangan Raina, mencoba menenangkan pasiennya yang saat ini menumpahkan kesedihan. Bukan hal yang pertama bagi Yumna menghadapi seorang pasien seperti Raina. Hanya saja masalah yang dihadapi berbeda-beda yang menyebabkan pasiennya depresi.


"Kalau kamu merasa belum ingin menceritakannya, tidak masalah. Saya akan -" Belum sempat Yumna menyelesaikan ucapannya, Raina sudah mulai membuka mulutnya bercerita.


Raina menceritakan awal mula kehamilannya, tentang pernikahannya yang hanya sebagai status menutupi aib hingga yang terakhir dirinya harus menerima dengan rasa yang sangat menyesakkan hatinya saat mertuanya meminta untuk berpisah dengan suaminya yang saat itu Raina mulai mencintai suaminya itu. Semua Raina ceritakan tanpa terlewatkan, Raina seakan mengulang rekam jejak masa-masa tersulitnya beberapa bulan yang lalu.


Yumna merasa sangat prihatin dengan kondisi Raina, diusia muda seperti Raina yang belum genap sembilan belas tahun itu sudah menerima tekanan batin yang luar biasa ditambah Raina yang saat itu baru saja melahirkan dan menjadi seorang ibu muda, tentu membuat Raina stres meski diluar Raina terlihat tegar, namun sebenarnya semua hal itu dibiarkan nya terpendam dihatinya.


"Apa masih ada lagi yang mengganjal dihatimu? Katakanlah biar kamu benar-benar merasa nyaman." tanya Yumna lagi.


Raina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dia sudah tidak ingin menceritakan apa pun lagi.


Yumna memeluk Raina seperti dia sedang memeluk adiknya sendiri, dirinya sudah dapat menyimpulkan apa yang sudah terjadi pada ibu muda yang ada dihadapannya ini.


Kini Raina sudah duduk bersama disebelah ibunya yang menggendong Al yang sudah tertidur. Mereka berhadapan dengan Yumna, psikolog yang menangani Raina.


"Dari cerita Raina yang sudah berani dia ceritakan kepada saya, saya dapat menyimpulkan jika Raina mengalami postpartum depression. Postpartum depression ini sebenarnya kelanjutan dari awal terjadinya serangan baby blues syndrome beberapa hari pasca Raina melahirkan. Postpartum depression ini sendiri terjadi karena adanya suatu masalah yang membuatnya semakin stres, salah satunya ya, permasalahan pelik dalam pernikahannya yang semakin mambuat dia tertekan." ungkap Yumna.


Ibu Riska menggenggam tangan anak perempuannya itu untuk memberikan semangat bahwa semua akan baik-baik saja.


"Raina sangat beruntung masih memiliki ibu yang peka dan tanggap dengan kondisi Raina, sehingga ibunya langsung membawa Raina untuk kontrol kondisi Raina. Dalam masalah depresi yang dihadapi Raina saat ini, memang harus sangat dibutuhkan orang yang sangat mengerti dirinya agar kondisi hatinya selalu tenang, tidak merasa sedih yang berlebih lagi, dengan begitu saya yakin Raina akan bisa sembuh dari masa depresinya. Kalau ini terus dibiarkan berlanjut, kemungkinan akan sangat bahaya untuk kejiwaannya dan juga bahaya untuk si kecil yang akan terus menjadi sasaran pelampiasannya." ucap Yumna mengingatkan.


Raina dan Ibu Riska hanya mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh sang dokter dengan baik.


"Ehm, saya bisa minta tolong gak, kontrol berikutnya bersama dengan pasangannya untuk datang kesini. Suami Raina harus tahu, apa yang sedang terjadi dengan Raina. Dan saya juga minta agar Raina lebih terbuka pada keluarga maupun pasangannya jika ada masalah, jangan dipendam sendiri. Saya akan memberikan obat anti kecemasan dan juga antidepresan. Obatnya harus rutin diminum, ya. Ingat bulan depan kita bertemu lagi ditanggal dan diwaktu yang sama." pesan Yumna.


Raina pun hanya memberi anggukan kepalanya sebagai jawaban. Setelah mendapat penjelasan yang terperinci dari Yumna, Ibu Riska dan Raina pun berpamitan untuk pulang.


**********


Didalam mobil, Raina menyandarkan kepalanya dan Al berada dalam pangkuannya. Sementara ibu Riska, berada dibalik kemudi untuk mengemudikan kendaraan roda empat itu.


"Apa yang kamu rasakan setelah periksa tadi?" tanya Ibu Riska.

__ADS_1


"Raina merasa lega, Bu. Seperti batu yang tertahan didada ini sudah hancur saat Raina bercerita dengan dokter Yumna. Raina juga merasa nyaman dengan caranya yang begitu lembut dan membuat Raisa tidak merasa takut." jawab Raina.


"Kamu harus kuat, Rai. Jangan biarkan amarah mu itu menguasai dirimu. Ingat pesan dokter Yumna tadi apa, kamu tidak boleh menyimpan apa pun sendiri. Kamu harus terbuka, biar komunikasi saling terjalin dengan baik. Biarkan semua masalah yang kemarin-kemarin jangan kamu ingat-ingat lagi. Kamu harus yakinkan hatimu, masih ada Al yang sangat butuh kasih sayang dan perhatianmu." ucap Ibu Riska.


"Gimana gak di ingat-ingat, Bu? Kalau tiap kali lihat mas Satria, Raina pasti teringat terus dengan kejadian itu." gerutu Raina.


"Maksud ibu, kamu jangan terlalu mikir berlebih. Dibawa tenang, dibawa happy. Kalau kamu mikir terlalu berat, lama-lama duluan kamu yang tua daripada ibu." canda Ibu Riska agar anaknya itu dapat tersenyum.


"Gak mau, masa nanti Raina jadi seperti nenek-nenek." ketus Raina dengan mengerucutkan bibirnya.


Ibu Riska tertawa melihat Raina yang mulai mau diajak bercanda lagi. Al pun ikut tertawa, meskipun dia tidak tahu apa yang sedang ditertawakan oleh neneknya itu.


"Bagaimana Raina menceritakan hal ini pada mas Satria, Bu? Raina takut, mas Satria tidak mau menerima kondisi Raina yang seperti ini." tanya Raina yang kembali sendu.


"Apa sih, kamu ini? Baru saja dibilangin jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu seperti ini juga karena ulah siapa? Kamu belum mencoba sudah su'uzon aja. Kalau kamu gak berani untuk bicara dengan Satria, ibu yang akan bicara dengannya. Ibu yakin, dia akan mengerti." jawab Ibu Riska.


Raina terdiam mendengar omongan ibunya tanpa membantah satu kata pun.


"Sudah, hidup ini dinikmati aja, Rai. Lihat ibumu ini, mau diomongin seperti apa juga oleh bibir-bibir netizen itu, ibu santai aja. Ibu bahkan gak pernah mikirin atau masukin kedalam hati omongan-omongan jahat mereka. Ibu sekarang lapar, kamu mau ikut makan gak?" tanya Ibu Riska ditengah-tengah menasihati anaknya.


"Mau lah, Bu. Raina juga lapar, apa lagi dari tadi tenaga Raina sudah habis disedot sama Al terus." jawab Raina.


"Terserah ibu aja, deh. Raina ikut aja, kan ibu juga yang bayarin." Raina tertawa setelah menggoda ibunya.


Ibu Riska hanya geleng-geleng kepala dengan anaknya, dihatinya juga terasa begitu senang saat melihat Raina dapat tertawa lagi dengan lepas.


Sepintas Raina teringat pesan Satria untuk berbelanja perlengkapan rumah.


"Oh ya, Bu. Semalam mas Satria memberikan Raina uang untuk membeli perlengkapan rumah kami. Apa ibu tidak keberatan jika menemani Raina berbelanja setelah makan nanti?" tanya Raina.


"Ibu sih, boleh-boleh aja selama masih mampu. Ibu masih kuat, kok. Tenang saja." jawab Ibu Riska.


**********


Sementara dirumah sakit, Erlina langsung mendatangi sahabatnya itu yang masih berada didalam ruangan nya.

__ADS_1


Tok, tok, tok ...


Erlina mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum dia masuk ke dalam ruangan sahabatnya itu. Setelah mendapat jawaban dari dalam, Erlina pun masuk.


"Eh, kamu Lin. Aku pikir pasien lagi." ucap Yumna.


"Hehehe, gak mungkin lah, ada pasien lagi. Ini sudah jam istirahat." ujar Erlina.


"Ada apa nih, datang kesini?" tanya Yumna.


"Ya, gak ada apa-apa, sih. Memangnya gak boleh ya, aku datangin kamu. Biasanya kan, kita istirahat bareng." jawab Erlina sembari meletakkan tas bekalnya diatas meja kerja sahabatnya.


Waktu istirahat ini memang dimanfaatkan Erlina untuk mencari informasi tentang Raina.


"Hahaha ... iya, iya. Ayo, makan bareng." ajak Yumna yang juga mengeluarkan kotak bekalnya.


Erlina dan Yumna memang jarang sekali makan dikantin rumah sakit, bukan karena makanan yang disediakan dikantin rumah sakit tidak sehat. Tetapi, mereka lebih senang membawa bekal sendiri dari rumah.


"Hmmm, aku lihat tadi ada anak perempuan bersama dengan ibunya membawa anak bayi masuk ke dalam ruanganmu. Pasien baru?" tanya Erlina basa-basi.


"Oh, itu. Iya, pasien baru. Namanya Raina, anak perempuan itu. Dia ibu muda, anak bayi yang dibawa sama ibu paruh baya itu adalah anaknya. Ibunya yang membawanya kesini untuk memeriksakan kondisi mental anaknya." jawab Yumna.


"Ibu muda? Memangnya umur berapa anak itu, terus apa yang terjadi dengannya?" tanya Erlina lagi dengan ekspresi terkejut.


"Umurnya masih delapan belas tahun, dia hamil dari hasil pelecehan seksual terhadap dirinya. Dan dia mengalami postpartum depression, setelah sebelumnya dia mengalami baby blues syndrome beberapa hari setelah melahirkan. Aku sangat prihatin dengan kondisi psikisnya." Yumna menjeda omongannya, meminum air minumnya dan menarik nafasnya sejenak sebelum dia kembali bercerita.


Erlina benar-benar terkejut saat tahu apa yang sudah terjadi dengan Raina. Namun, sebisa mungkin dia menutupinya didepan Yumna.


Yumna memang selalu bercerita pada sahabatnya itu, jika setelah melakukan konseling pada pasien-pasiennya. Baginya, Erlina adalah tempat yang tepat untuk berbagi cerita dan mampu menjadi sahabat yang dapat bertukar pikiran.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.

__ADS_1


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2