Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pelukan dari Satria


__ADS_3

"Bagaimana keadaan, Raina?" tanya Ibu Riska yang sudah tiba didepan Satria.


"Raina masih didalam dan ditangani oleh dokter, Bu." jawab Satria.


"Kenapa adikku bisa seperti ini? Aku gak akan maafin kamu, jika terjadi sesuatu dengan Raina atau pun bayinya." ucap Aldo dengan penuh emosi.


"Kakak tenang dulu, kita tunggu penjelasan dari dokter. Kenapa Kak Raina sebenarnya?" ucap Bara mencoba menenangkan Aldo.


"Bagaimana bisa kalian juga tidak mengetahui penyebabnya?" tanya Aldo lagi dengan nada yang mulai meninggi.


"Aldo, tenangkan dirimu. Ini rumah sakit." ucap Ibu Riska.


"Kami gak tahu apa yang sudah terjadi dengan Kak Raina. Kami menemukan Kak Raina didalam kamarnya sudah dalam keadaan tubuh yang lemas." ungkap Bara.


"Didalam kamarnya? Tunggu ... jadi, kamu dan Raina berada didalam kamar yang berbeda?" tanya Aldo sambil menatap tajam ke arah Satria.


"Iya ...." jawab Satria lirih.


"Shiiittt! Permainan apa yang sedang kalian lakukan? Hah!"


Satria mulai berdiri dari duduknya, dirinya merasa tidak terima dengan ucapan Aldo.


"Kami tidak sedang melakukan permainan apa pun. Saya hanya menjalankan sesuai aturan agama. Saya hanya ingin menjaga kehormatan Raina, sampai dia benar-benar bisa saya halalkan! Maaf, mungkin pemahaman agama kita berbeda dalam hal seperti ini." jawab Satria dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya.


Aldo terdiam, kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Satria seakan membungkamnya untuk berbicara lebih. Dan dia berusaha berfikir untuk kembali menjawab ucapan Satria.


"Yang dijelaskan oleh Satria, benar adanya. Adikmu saat menikah dengannya dalam kondisi berbadan dua, yang dimana diharamkan dalam agama kita untuk melakukan pernikahan. Kamu harus ingat, Do ... atas dasar apa sebelumnya Satria menikahi adikmu. Satria hanya ingin menutup aib dikeluarga kita dan bertanggung jawab atas anak yang dikandung oleh Raina agar mempunyai status yang jelas meski nanti saat anak itu lahir tetap mengikuti nasab ibunya. Bukankah, saat bermusyawarah dengan keluarga kita ini sudah dibahas. Apa kamu lupa, Do?" Ibu Riska seakan membuka lembaran lalu mencoba menjelaskan lagi apa yang telah disampaikan dalam bermusyawarah dengan keluarga Satria sebelum Raina menikah.


Aldo semakin terdiam setelah ibunya kembali mengingatkan nya tentang status Raina dan Satria saat ini. Aldo seakan terbawa emosi yang berlebihan sehingga menutup jalan pikirannya untuk berfikir jernih sebelum bertindak.


"Keluarga pasien atas nama Raina Hapsari." ucap dokter Roy yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Kami keluarganya, Dok." sahut Ibu Riska dan semua ikut berdiri menghadap ke dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Satria.

__ADS_1


"Keadaan pasien sudah mulai membaik, pasien mengalami tekanan darah yang tinggi dan kram pada bagian perutnya dan juga sempat mengalami kontraksi palsu pada kehamilannya. Saya sudah memberikan obat penurun tekanan darah serta obat untuk memperkuat kandungan pasien agar tidak melahirkan diwaktu usia kandungan yang kurang." jawab dokter Roy menjelaskan apa yang telah terjadi pada Raina.


"Pemicu tekanan darah tinggi yang dialami pasien mungkin karena faktor kehamilan di usianya yang masih terbilang muda dan sepertinya pasien pernah terjatuh hingga sang bayi terkejut karena benturan yang dialami sang ibu sehingga menimbulkan kram pada perut pasien dan mengakibatkan kontraksi palsu. Tapi, semua tidak perlu dikhawatirkan lagi, semua dalam keadaan baik-baik saja ibu maupun anaknya. Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap." tambah sang dokter.


"Alhamdulilah ...." Semua mengucapkan puji syukur karena Raina dapat bertahan dan sekarang dalam keadaannya baik-baik saja.


"Terimakasih, Dokter." ucap Satria.


"Iya, sama-sama. Saya permisi dulu." balas dokter Roy dan meninggalkan keluarga Raina yang masih bertahan didepan ruang UGD itu.


Tak lama kemudian, dua orang perawat keluar mendorong brankar yang membawa Raina untuk dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Saya mau fasilitas dan perawatan yang terbaik untuk istri saya, Sus." ucap Satria.


"Baik, Pak." balas Perawat itu.


Semua mengikuti langkah perawat yang membawa Raina. Berhentilah mereka pada sebuah ruang rawat inap VIP yang ada satu kasur untuk pasien, dilengkapi dengan toilet yang berada didalam, sofa panjang untuk yang menunggu serta tv layar datar yang terpasang didinding ruangan itu. Perawat pun mulai memindahkan Raina ke kasur yang dibantu oleh Satria.


"Sebaiknya, tidak terlalu banyak orang yang berada didalam ruangan. Pasien membutuhkan banyak istirahat. Usahakan bergantian saja masuknya." ucap salah seorang perawat.


Perawat itu pun pergi meninggalkan ruangan itu, sementara Raina masih tertidur diatas kasurnya.


"Maaf atas sikap ku tadi, aku terbawa emosi. Aku cuma takut terjadi hal buruk dengan adik dan celon keponakan ku." ucap Aldo dan mendekati Satria yang berada disamping Raina.


"Ehm, tak usah dipermasalahkan lagi." ujar Satria.


Aldo menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar perawatan Raina, bergantian dengan Ibu Riska yang masuk kedalam untuk melihat kondisi anaknya.


"Satria, biar ibu saja yang menunggu Raina disini,kamu pasti lelah, pulang dan beristirahatlah, Nak."ucap Ibu Riska sembari mengelus lembut bahu menantunya itu.


" Gak, Bu. Biarkan Satria saja yang disini menemani Raina." sahut Satria yang tetap kekeh ingin menemani Raina.


Ibu Riska melihat kesungguhan dan ketulusan Satria yang diberikan kepada anak perempuannya itu. Yang membuatnya luluh dan membiarkan Satria berada disamping Raina.


"Baiklah, ibu akan pulang dan besok ibu yang akan kesini menggantikanmu. Jaga Raina dengan baik, ibu percaya padamu." ucap Ibu Riska dan kemudian berbalik meninggalkan Satria.

__ADS_1


"Kak, Bara mau pulang dulu. Mengambil baju ganti untuk kalian berdua dan sekalian memberitahukan pada mamah tentang kondisi Kak Raina." kata Bara yang baru masuk.


"Iya, pulang lah. Minta tolong bantuan Bi Darsih untuk mempersiapkan perlengkapan Raina." balas Satria.


Bara pun menganggukan kepalanya mengerti, lalu keluar meninggalkan Satria yang seorang diri dengan setianya menunggu Raina bangun.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu dan aku tidak mengetahuinya, hingga kamu mengalami hal seperti ini? Apa yang kamu sembunyikan dariku, Raina?" ucap Satria yang mengingat penjelasan dari dokter Roy jika Raina pernah terjatuh dan mengalami benturan.


"Kita hampir saja kehilangan calon anak kita, aku gak mau itu terjadi. Maaf kan aku yang telah lalai menjaga dirimu." tambah Satria lagi dengan menggenggam tangan Raina.


Sebenarnya Raina sudah terbangun, tapi dia tidak jadi membuka matanya saat mendengar Satria berucap dengan menggenggam erat tangannya.


"Aku yang seharusnya minta maaf padamu, Mas. Aku yang tak memberitahukan mu langsung jika aku terjatuh didapur kemarin. Aku tidak menyangka efeknya baru terasa hari ini dan sebahaya ini." batin Raina.


Raina meneteskan air matanya, karena mengingat kesalahan fatal yang telah terjadi padanya hingga berakibat pada keselamatan calon anaknya.


" Maafkan bunda, Nak. Maafkan bunda yang tak bisa menjagamu dengan baik. Bunda janji setelah ini, bunda akan lebih berhati-hati lagi agar kamu aman berada didalam perut bunda."


Raina mengelus perutnya dan masih meneteskan air matanya. Satria menyadari ada gerakan dari Raina dan melihat kearah Raina.


"Raina ... kamu sudah bangun? Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Satria yang melihat air mata Raina yang mengalir dari sudut mata Raina dan mengelap lembut air mata itu dengan tangannya.


Raina semakin sesenggukan dan hanya menggelengkan kepalanya, dia takut jika mengatakan pada Satria yang sebenarnya terjadi, Satria akan marah padanya.


"Sudahlah, apa pun yang sudah terjadi biarlah berlalu, yang terpenting sekarang kamu dan anakmu baik-baik saja." ucap Satria yang menyadari kekhawatiran Raina.


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak berhati-hati, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku tidak mengatakannya pada Mas jika aku jatuh kemarin siang didapur, aku malah menyembunyikan hal berbahaya itu dari Mas." Raina merasa semakin bersalah dan akhirnya dia berkata jujur pada Satria yang sebenarnya.


Diluar dugaan Raina, Satria malah meraih tubuhnya masuk kedalam pelukan Satria.


"Sudah, jangan menyalahkan dirimu lagi. Semua baik-baik saja. Berhentilah menangis, kasihan si kecil pasti sedih juga kalau tahu ibunya sedang bersedih sekarang." ujar Satria sambil mengusap lembut punggung Raina yang masih berada dalam pelukannya.


"Terimakasih, Mas." ucap Raina.


Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada karya author 😁

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2