
Setelah beberapa hari Satria melamar Raina secara resmi, seperti yang disampaikan oleh bunda Eva bahwa mereka akan memberitahukan secara perlahan kepada ibu Santi, mamah nya Satria.
Semua keluarga sudah berkumpul didalam kamar milik ibu Santi. Tak ada menaruh curiga, dirinya merasa kakak, adik beserta keponakan nya hanya datang berkunjung untuk menjenguk nya.
"Mamah mau duduk? Sini Satria bantu, Mah?" tanya Satria dan dijawab anggukan oleh ibu Santi, Satria dengan sigap menahan badan mamah nya dari belakang agar tidak jatuh.
Sebelumnya mereka semua sudah mengatur siasat agar jika ibu Santi mendengar info yang akan disampaikan nanti tidak begitu drop karena dikelilingi oleh orang-orang tersayang nya.
"Bude, mau Sandra pijetin?" tanpa ada jawaban dari sang Bude, Sandra tetap memainkan tangannya memijat lembut diatas tangan milik ibu Santi. Sementara disisi tangan lainnya ada Bara yang juga memijat mamah nya.
Sedangkan dibagian kaki ada bunda Eva dan kakak iparnya, semua sudah berada di posisi masing-masing.
"Bagaimana keadaan jantung mu sekarang, Dek?" tanya Pakde Suseno.
"Alhamdulilah, kata dokter sudah mulai membaik sejak dilakukan pemasangan ring saat itu, Kang. Tapi, ya begini sekarang aku masih lemas tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring saja dikasur." jawab Ibu Santi.
Setelah cukup berbasa-basi nya, semua saling pandang ke arah Pakde Suseno. Mengisyaratkan untuk segera memberitahukan maksud kedatangan mereka semua ke rumah Satria, melihat kondisi ibu Santi terlihat tenang dan bahagia dikelilingi oleh orang-orang tersayang nya.
"Begini, Dek. Maksud kedatangan kami kesini, ada hal penting yang harus kamu sampaikan dan kamu harus mengetahuinya." ucap Pakde Suseno.
"Hal penting apa, Kang?" tanya Ibu Santi.
"Tapi aku mohon, setelah mendengar apa yang akan aku ucapkan nanti, kamu tidak boleh marah, tidak boleh gusar, kamu harus menerimanya dengan berbesar hati." jawab Pakde Suseno.
Ibu Santi mulai mengendus hawa tidak enak, dia melirik ke arah adiknya dan kakak iparnya, seolah meminta penjelasan apa maksud dari perkataan sang kakak.
__ADS_1
"Berjanji lah, Dek. Seperti apa yang aku ucapkan tadi. Semua demi kebaikan kita. Aku mohon kepadamu." ucap Pakde Suseno kembali memohon.
Akhirnya, ibu Santi pun menganggukan kepalanya tanda setuju atas apa yang diucapkan oleh sang kakak.
Pakde Suseno menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya, mempersiapkan segala kalimat yang akan ia ucapkan dan setelah dirasa cukup menenangkan hatinya, baru lah dirinya berbicara.
"Begini, Dek. Saat ini kami semua dihadapkan pada situasi yang sulit. Kamu sudah mengetahui tentang anakmu si Awan yang sekarang berada dibalik jeruji besi, tapi kamu tidak mengetahui masalah apa yang ia tinggalkan diluar sini. Mungkin ini sudah saatnya kami semua memberitahukan nya kepadamu. Awan telah merenggut kehormatan seorang gadis hingga gadis itu sekarang mengandung anak dari perbuatan anakmu." ungkap Pakde Suseno.
Seketika air mata ibu Santi pun luluh.
"Lalu bagaimana sekarang kondisi gadis itu, Kang?" tanya Ibu Santi.
"Gadis itu sekarang dalam kondisi yang baik-baik saja, meski diawal memang dirinya sempat stres, tapi sekarang dia sudah mulai menerima kenyataan yang ada. Dan berhubung kita tidak bisa menunggu Awan untuk bertanggung jawab, sebagai gantinya Satria yang akan menggantikan posisi adiknya untuk menikahi gadis itu." tambah Pakde Suseno.
"Bagaimana seperti itu, Kang?" tanya nya lirih sembari menengok ke belakang melihat wajah Satria anaknya.
"Apa tidak bisa tetap Awan yang menikahi gadis itu?" tanya Ibu Santi lagi.
"Dek, butuh waktu lama jika harus Awan yang menikahi gadis itu. Kamu tahu sendiri anak mu itu sekarang berada dimana? Dua pulau yang harus kita lalui untuk kesana, belum lagi pengurusan lainnya yang akan memakan waktu lama. Ini anak yang didalam kandungan tidak bisa menunggu lama lagi, Dek. Kasihan gadis itu, kita tidak bisa terus-terusan menutupi ini. Kamu harus berbesar hati menerima kenyataan ini. Tidak usah terlalu memikirkan yang berat-berat. Biar aku dan yang lainnya saja yang memikirkan ini." jawab Pakde Suseno mulai dengan nada tinggi, karena Ibu Santi sedikit keras kepala.
Dengan berat hati ibu Santi tetap mengikuti keputusan yang telah dibuat oleh sang kakak.
"Sat, bawa gadis itu kemari. Mamah ingin meminta maaf kepadanya." ucap Ibu Santi
"Iya, Mah. Besok Satria akan bawa Raina kesini." jawab Satria.
__ADS_1
"Ingat kamu harus jaga kesehatanmu. Secepatnya kita harus menentukan tanggal baik untuk hari pernikahannya. Dan kamu Satria, secepatnya urus pendaftaran nikah kalian ke KUA." ucap Pakde Suseno mengingatkan ibu dan anak yang ada dihadapannya.
Keduanya membalas dengan anggukan kepala.
"Terimakasih, Kang. Kakang sudah mau membantu menyelesaikan masalah ini." ucap Ibu Santi.
"Sama-sama, Dek. Itu lah gunanya saudara, untuk saling membantu." jawab Pakde Suseno.
Setelah semuanya pamit untuk pulang, Satria segera menghubungi Raina.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan terhubung namun tidak ada jawaban dari seberang sana. Satria mencoba kembali hingga panggilan ke tiga barulah panggilan dijawab.
[Hallo, assalamualaikum ... ada apa mas?]
[Walaikumsalam, Mas cuma mau kasih tahu kamu, mamah sudah merestui pernikahan kita.]
[Oh,alhamdulilah ... baguslah kalau begitu.]
[Iya. Ehm ... nanti malam aku mau ngajak kamu keluar. Apa kamu bisa?]
[Insya Allah bisa, Mas]
[Ok, sehabis maghrib aku jemput kamu.]
__ADS_1
Setelah Raina mengiyakan ajakan Satria, panggilan pun diakhiri. Di seberang sana Raina tersenyum sendiri, dirinya merasa begitu berdebar dihatinya saat Satria mengajak nya untuk bertemu.
Mohon like, komen dan vote nya ya π