
"Kenapa adikmu tidak dipindahkan saja ke rutan kota kita? Bukan kah, kalau dia dipindah akan lebih memudahkan jika kalian keluarganya ingin mengunjungi nya?" tanya Aldo yang saat ini mereka sudah berada didalam pesawat.
"Entahlah, kami belum memikirkan itu." jawab Satria sembari mengusap kasar wajahnya dan kemudian menyandarkan kepalanya di kepala kursi.
Aldo memperhatikan Satria yang kini sudah menutup matanya. Tampak jelas diraut wajah Satria yang lelah itu terlalu banyak beban yang ia pikirkan.
Satu jam kemudian, Satria dan Aldo kini sudah keluar dari bandara kota tempat mereka tinggal. Kini, mereka berdua pun sudah berada didalam mobil yang dibawa oleh Aldo.
"Aku akan langsung mengantarkanmu pulang ke rumahmu. Sepertinya kamu sudah sangat lelah." ucap Aldo yang memperhatikan Satria.
"Terimakasih. Aku titip sepeda motorku dirumahmu." jawab Satria.
"Ok." sahut Aldo.
Mobil pun kian melaju dijalan kota yang tampak lengang. Awan jingga perlahan menghilang berganti dengan birunya langit yang semakin menggelap.
Kini, Aldo sudah tiba didepan rumah Satria. Satria pun langsung keluar dari mobil yang telah membawanya. Begitu pula dengan Aldo yang langsung kembali memutar balik arah mobilnya dan meninggalkan rumah Satria.
Satria membuka pagar rumahnya dan langsung disambut oleh pak Darman.
"Lho, Mas ... kemana sepeda motornya? Kenapa pulang jalan kaki?" tanya Pak Darman yang tak melihat Satria menggunakan sepeda motornya.
"Sepeda motor saya ada dirumah istri saya, Pak. Tadi saya kesininya diantar sama ipar saya." jawab Satria.
"Oh ... begitu." Pak Darman hanya manggut-manggut mendengar jawaban Satria.
"Saya masuk dulu ya, Pak. Saya capek sekali hari ini." ucap Satria.
Yang diberi anggukan kepala dan senyuman oleh pak Darman sebagai jawaban.
"Piye toh, mas Satria dan mbak Raina ini. Sudah menikah, tapi tinggal dirumah terpisah. Satu disini, satunya lagi disana. Bingung saya sama keluarga ini." gumam Pak Darman sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Memang tak banyak yang tahu tentang status pernikahan Satria dan Raina. Hanya keluarga inti saja dan sedangkan orang luar yang tahu tentang hal ini adalah Ridho dan juga Bi Darsih. Yang awalnya pun Bi Darsih juga bingung saat kehadiran Raina dirumah itu, Raina tidur dikamar yang terpisah dengan Satria. Dan akhirnya, ibu Santi lah yang menceritakan yang sebenarnya pada Bi Darsih.
Satria berjalan dengan langkah gontai memasuki rumah. Saat dirinya hendak masuk ke dalam kamar, Ibu Santi yang sedang duduk diruang keluarga memanggilnya saat melihat kedatangan anaknya itu.
__ADS_1
"Satria ... bisa kah, mamah berbicara denganmu sebentar?" tanya Ibu Santi.
"Bisa. Tapi, tidak sekarang. Satria mau mandi dulu, sudah gerah banget." jawab Satria yang langsung masuk ke dalam kamarnya setelah menjawab pertanyaan mamahnya.
Ibu Santi yang mendapat jawaban datar dari anak sulungnya itu, hanya melengos dan kembali menatap layar televisi yang sedari tadi menyala.
Satria tak langsung membersihkan dirinya, yang dia inginkan saat itu adalah mengistirahatkan otot-otot dan juga pikirannya yang juga lelah menghadapi kehidupannya ini.
Satria lebih memilih untuk membaringkan badannya terlebih dahulu. Dirinya butuh mendinginkan pikirannya terlebih dahulu sebelum dia bertatap muka dengan mamahnya untuk membahas permasalahan yang sedang dihadapinya sekarang.
Sekitar dua puluh menit Satria hanya berkutat dengan guling dan bantal. Dirinya masih enggan untuk meninggalkan tempat ternyamannya itu. Hingga menit ke lima selanjutnya, barulah dirinya beranjak dari kasurnya dan menanggalkan pakaian kotornya ke dalam keranjang pakaian kotor. Barulah dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
Ibu Santi merasa bosan menunggu Satria yang sedari tadi tidak keluar juga dari kamarnya. Akhirnya, dia beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat ke kamar Satria. Ibu Santi mulai mengetuk pintu kamar anaknya itu, namun tak kunjung ada jawaban dari dalam. Hanya terdengar suara gemericik air yang jatuh.
"Apa anak itu mandi dari tadi, gak selesai-selesai? Sudah kayak anak perempuan saja, lama sekali." gumam Ibu Santi dan kembali ke tempat duduknya semula. Kembali menunggu kehadiran Satria.
Sepuluh menit kemudian, Satria keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya. Segera ia mengenakan kaos serta celana jeans pendek tiga per empat yang membuat penampilannya tetap tampan meskipun hanya memakai baju rumahan, setelah itu barulah dia keluar dari kamarnya dan menemui mamahnya di ruang keluarga.
Satria sudah duduk disofa diseberang mamahnya.
"Kenapa kamu mandi lama sekali?" tanya Ibu Santi.
"Mamah ingin kamu akhiri pernikahanmu dengan Raina." ucap Ibu Santi dengan santai.
"Apa alasan mamah menginginkan hal tersebut?" tanya Satria dengan nada bicara yang masih santai.
"Karena mamah gak mau ada perpecahan antara kamu dengan adikmu. Mamah tahu, adikmu juga masih menyukai Raina dan jika kamu kembali melanjutkan pernikahan mu dengan Raina, bagaimana dengan perasaan adikmu? Mamah gak mau ada dendam dan benci diantar kedua anak mamah, hanya karena perempuan itu." jawab Ibu Santi.
"Bagaimana mamah bisa tahu perasaan Awan? Sedangkan mamah disini tidak pernah berkomunikasi dengan Awan. Bagaimana mamah bisa seyakin itu, jika akan ada perpecahan antara aku dan Awan?"
"Ehm ... itu feeling mamah. Karena mamah ibu kandung kalian, jadi mamah tahu persis bagaimana perasaan anak-anak mamah." jawab Ibu Santi yang terlihat gugup dan berbohong.
"Itu hanya ketakutan mamah saja. Mamah yakin? Jika mamah sangat mengerti dengan perasaan anak-anak mamah? Bukannya, kami yang selalu harus mengerti dan menuruti semua keinginan mamah?" tanya Satria yang kini sudah membuat wajah ibu Santi merah menahan amarah.
"Iya, karena kalian anak-anak mamah. Jadi, mamah tahu mana yang terbaik untuk kalian." jawab Ibu Santi dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
__ADS_1
"Mah, kita semua sudah besar. Satria ingin menentukan jalan kehidupan Satria sendiri. Satria sudah capek, Mah ... Satria capek untuk terus mengikuti ego mamah yang tinggi itu. Cukup, Mah ... kali ini biarkan Satria menentukan jalan Satria sendiri." ucap Satria.
"Oh, jadi sekarang kamu sudah mulai berani menentang mamah? Apa keluarga perempuan itu yang sudah mempengaruhi otakmu?" tanya Ibu Santi yang mulai menambah tinggi nada bicaranya.
"Tidak. Mereka tidak melakukan apa pun pada Satria. Ini semua karena keyakinan Satria sendiri dan Satria sudah berjanji untuk membahagiakan Raina. Dan Satria akan menepati janji Satria itu." jawab Satria.
"Mamah gak rela, kamu bahagia diatas penderitaan adikmu. Adikmu sekarang lagi berjuang disana menerima hukumannya, sementara kamu disini berbahagia dengan orang yang juga dia cintai. Mamah gak rela itu terjadi." ucap Ibu Santi lagi.
"Itu hanya ketakutan mamah. Tidak akan terjadi apa pun dengan ku atau pun dengan Awan. Karena dia sudah mengikhlaskan lahir dan batinnya merelakan Raina bersamaku." ucap Satria sembari menyodorkan rekaman percakapannya dengan Awan siang tadi pada Ibu Santi.
Ibu Santi tercengang saat mendengar penuturan dari anak keduanya itu. Dan wajahnya semakin memerah, karena dirinya telah ketahuan berbohong pada Satria.
"Apa mamah masih tidak yakin dengan jawaban dari Awan?" tanya Satria.
"Ma-mamah hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian, dan lebih baik tidak ada satu pun dari kalian yang bersama dengan perempuan itu." jawab Ibu Santi yang masih tetap kokoh pada keputusannya.
"Keputusan mamah adalah keputusan yang salah. Kenapa pada saat musyawarah keluarga saat itu, mamah tidak bicara saat itu juga. Kenapa saat Satria sudah menyatakan bahwa Satria akan kembali dengan Raina, baru mamah datang sendiri ke keluarga Raina dengan menjual nama Satria dan Awan. Seolah-olah kami berdua menyetujui keputusan mamah. Apa mamah tidak sadar? Jika, mamah sudah menginjak-injak harga diri Raina. Apa mamah tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Mamah seorang wanita dan juga seorang ibu, seharusnya mamah lebih paham dan lebih peka dengan hal seperti itu. Bukan hanya mementingkan ego mamah saja." ucap Satria.
"Jaga bicaramu, Satria. Sampai kapan pun mamah tidak ingin kalian bersatu lagi. Mamah lebih setuju, jika kamu kembali pada Erlina." ucap Ibu Santi.
Seketika wajah Satria berubah menjadi bingung. Karena, mamahnya mengetahui tentang Erlina.
"Er-Erlina? Darimana mamah tahu Erlina?" tanya Satria yang tergagap.
"Perempuan itu datang sendiri kesini, mamah lihat dia perempuan yang baik, terlihat dari sorot matanya saat dia menceritakan dirimu, mamah merasakan ada cinta yang besar untukmu. Dia lebih pantas untukmu dan terlihat dia juga dari keluarga yang terpandang." jawab Ibu Santi.
Satria hanya diam mematung, mengetahui apa yang sudah terjadi saat dirinya tidak berada dirumah. Perempuan yang telah ia putuskan itu, kini semakin berani menunjukkan dirinya dan berusaha untuk mengambil perhatian melalui mamahnya.
"Bagaimana dia bisa mengetahui rumah ini?" batin Satria.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π*