Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Terjawab


__ADS_3

"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ridho.


"Aku tetap pada keputusanku, Do. Pagi tadi aku kembali mengunjungi Awan untuk menanyakan yang sebenarnya. Ternyata, beberapa minggu lalu, sebelum mamah datang ke rumah Raina, mamah nekat datang sendiri ke rutan dipulau B untuk menemui Awan. Awan menceritakan semuanya padaku, kalau mamah memintanya untuk memperjuangkan perasaannya. Tapi, syukurnya Awan sekarang sudah berubah. Dia lebih bisa berfikir secara matang dan dewasa. Dia sudah tulus ikhlas merelakan aku untuk tetap bersama Raina. Bahkan dirinya sendiri yang memberiku semangat untuk tetap melanjutkan pernikahan ini." jawab Satria.


"Alhamdulilah ... aku juga akan terus dukung kamu." ujar Ridho sembari menepuk punggung Satria.


"Tapi ... ada kendala lagi selain mamah." ucap Satria.


"Apa lagi?" tanya Ridho.


Satria menarik nafasnya perlahan kemudian menghembuskannya dan kembali bercerita.


"Saat malam itu aku kesini dengan mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi, tanpa sengaja aku hampir saja menabrak mobil yang akan berbelok ke arah yang sama denganku. Ternyata, orang yang berada didalam mobil itu adalah Erlina. Aku pikir, setelah aku memutuskan hubungan dengannya dengan melalui ayahnya saat itu adalah pilihan yang tepat. Ternyata, tidak. Dia seolah masih tidak terima dengan keputusanku yang memutuskan nya saat itu." jawab Satria sembari mengusap kasar wajahnya.


"Lalu?" tanya Ridho.


"Keesokan siangnya, waktu Raina mengabari ku bahwa Al sedang sakit, aku bawa Raina dan Al kerumah sakit dimana tempat Erlina bekerja. Karena itu rumah sakit terdekat dari rumah Raina, aku gak pernah berfikir akan bertemu lagi sama Erlina dirumah sakit itu. Dan Raina sangat jelas memperhatikan tatapan Erlina ke arah ku yang masih menyimpan rasa sayangnya padaku. Tanpa sadar, aku menyebutkan namanya didepan Raina. Saat didalam mobil mau pulang, Raina bertanya padaku tentang Erlina. Tapi, aku tidak menjawabnya jujur. Karena, aku takut dia akan kecewa kalau aku memang pernah ada hubungan dengan Erlina. Ternyata, keputusanku menutupi itu semakin membuatku bersalah pada Raina. Dia malah mendiamkan diriku." jawab Satria menjelaskan apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu.


"Ya, memang kamu yang salah. Seharusnya kamu jujur aja sama dia, meskipun kenyataannya jujur itu menyakitkan. Kalau kamu menutupinya, maka dia berfikir bahwa kamu memang masih ada perasaan pada Erlina. Dan tentunya, Raina akan berfikir kamu hanya bertahan dengan pernikahan ini karena hanya simpati padanya dan semua semata-mata hanya demi Al saja." ucap Ridho.


"Iya, dia memang sudah berfikir seperti itu padaku. Tapi, aku sudah berjanji sama dia bahwa aku kembali melanjutkan pernikahan ini bukan hanya simpati dan karena Al semata, tapi karena aku yang mulai menyayanginya juga walaupun belum sepenuhnya aku bisa mencintainya, tapi aku akan terus berusaha untuk tulus mencintainya." balas Satria.


"Tapi, sekarang masalahmu dengan Raina dalam hal ini sudah baik-baik aja, kan?" tanya Ridho.


"Sebenarnya, kalau masalah ini sudah selesai, Raina mulai mau berbicara denganku lagi. Tapi, masalah baru adalah Erlina semakin berusaha mengejar diriku untuk mendapatkan aku lagi. Siang tadi, dia datang kerumah dan menemui mamah. Dia mencoba mengambil perhatian mamah. Apa lagi, disaat seperti ini membuat mamah semakin yakin buat misahain aku dengan Raina. Mamah malah menyuruhku untuk kembali menjalin hubungan dengan Erlina." jawab Satria dengan memegang kepalanya dan memejamkan kedua matanya.


"Lho, bukannya kamu gak pernah bawa dia kerumahmu. Saat kalian masih berpacaran. Terus, darimana dia tahu alamat rumahmu?" tanya Ridho yang bingung.

__ADS_1


"Nah, itu yang sebenarnya ingin aku tanyakan ke kamu. Aku pikir, dia datang menemui dirimu dan menanyakan nya padamu." ucap Satria yang kembali bingung, karena sahabatnya pun terlihat sama bingungnya dengan dirinya.


"Tidak. Kalau pun dia datang ke kantor untuk menemui ku dan bertanya tentang alamat rumahmu, tentu aku juga gak akan kasih tahu ke dia." balas Ridho.


"Aku hanya berfikir pada dua kemungkinan, dia yang mencari tahu lewat kamu atau dia mencari tahu lewat bunda. Karena, meskipun dia gak tahu dan gak kenal sama bunda, tapi aku pernah mengajaknya ke resto bunda dan bisa saja dia ke resto bunda dan mencari tahu disana. Dan kedua, satu-satunya orang yang tahu aku pacaran sama dia dari ruang lingkup yang dekat sama aku, itu cuma kamu aja. Itu kemungkinan yang ada diotak ku. Dan ternyata kamu juga gak tahu." ujar Satria.


Ridho mengendikkan kedua bahunya, bahwa dia juga tidak tahu bagaimana mantan pacar dari sahabatnya itu, bisa tahu alamat rumah sahabatnya itu. Ridho berfikir kembali, mengingat semua cerita sahabatnya itu dan sepertinya dia menangkap sesuatu.


"Hemm ... bukannya kamu tadi cerita ke aku, bahwa kamu membawa Raina dan Al berobat dirumah sakit tempat Erlina bekerja? Bisa jadi, dia meminta alamat rumahmu dari bagian pendaftaran. Kan, disana pasti ada data dari pasien. Dan tentunya, kamu juga mencantumkan alamat rumahmu diformulir pendaftaran, kan?" ucap Ridho yang seakan seperti seorang detektif yang memecahkan permasalahan sahabatnya itu.


Flashback On


Dirumah sakit, setelah kepergian Satria dan Raina. Erlina yang masih terpaku ditempatnya berdiri memandang lurus ke arah kedua pasangan itu menghilang.


Tiba-tiba, serangkaian ide muncul diotaknya. Dia berjalan menuju loket pendaftaran para pasien. Dia bertanya mengenai data diri pasien atas nama Arkhan Al Fiqri Sanjaya dan Raina Hapsari yang telah ia dengar sebelumnya saat sang apoteker memanggil nama Al dan juga Raina.


"Maaf ... untuk apa ya, Bu? Karena kan, kita harus menjaga privasi pasien-pasien kita." tanya Ranti.


"Iya, saya tahu itu. Saya sebenarnya dokter pribadi dari keluarga mereka. Tapi, semenjak handphone saya hilang, saya tidak bisa mengontak keluarga tersebut. Dan terakhir yang saya dengar, bahwa mereka sudah pindah dari rumah lama mereka semenjak saya ditugaskan bekerja didesa pedalaman. Tadi, saya sempat melihat mereka diapotik. Tapi, saat saya menghampiri, keduluan mereka pergi." jawab Erlina berbohong demi mendapatkan alamat rumah Satria.


"Oh, begitu. Baik, akan saya berikan salinannya ke ibu." ucap Ranti.


"Ok. Saya tunggu diruangan saya." sahut Erlina.


Erlina pun berjalan menuju ruangannya dengan tersenyum senang, karena sebentar lagi dia akan mengetahui dimana rumah Satria. Dan akan berusaha untuk kembali merebut hati Satria.


Flashback Of

__ADS_1


"Oh, shiit ... kenapa aku tidak berfikir sampai kesitu?" gerutu Satria sembari mengusap wajahnya lagi dengan kasar.


"Terlalu banyak yang kamu pikirkan, sobat. Sampai hal sekecil itu pun kamu tidak bisa memikirkannya. Dan dampaknya, sekarang malah jadi besar. Dan untungnya, kamu gak cantumkan alamat rumah Raina. Bisa tambah runyam semuanya." ujar Ridho.


"Arrrgghhh ... ini aja sudah buat kepalaku pusing mikirnya, apa lagi kalau sampai dia datang kerumah Raina dan mengatakan perasaannya itu bahwa dia masih mencintaiku. Bisa jadi, Raina akan semakin menjauh dari ku. Apa lagi, semenjak dia melahirkan ini, bawaannya baperan mulu. Sedikit-sedikit dibawa masuk kedalam hatinya." ucap Satria.


"Ya, memang seperti itu. Apa lagi Raina ibu muda, dia masih butuh penyesuaian diri. Dan kamu sebagai suaminya harus pandai menjaga mood istrimu, karena kalau kamu tidak memberikan dukungan padanya, dia bisa stres dan lebih parahnya lagi dia akan terkena baby blues syndrome. Dan kalau sudah ditahap itu, akan berbahaya juga untuk Al." ujar Ridho mengingatkan sahabatnya itu.


Tanpa Satria ketahui, sebenarnya Raina sudah sempat mengalami yang namanya tekanan semacam baby blue syndrome tersebut. Namun, karena masih ada sang ibu yang dapat menenangkan dirinya, sehingga Raina bisa mengendalikan dirinya.


"Oh ya, kenapa kamu lebih paham tentang hal seperti itu?" tanya Satria sembari mengernyitkan dahinya.


"Makanya rajin-rajin membaca biar nambah wawasanmu. Sudah ah, ayo kita istirahat. Ini sudah malam sekali. Semoga permasalahan mu bisa cepat terselesaikan." jawab Ridho sembari mengajak Satria untuk beristirahat.


Satria pun menganggukan kepalanya setuju. Malam kian larut, keduanya beranjak pergi ke kamar masing-masing. Satria menempati kamar tamu yang berada di apartemen Ridho. Dia membaringkan tubuhnya yang telah lelah seharian penuh. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga lelah dengan pikirannya.


Satria memejamkan kedua matanya, hingga dia benar-benar hanyut dalam lelapnya malam. Meninggalkan sejenak permasalahan yang ada. Berharap esok hari, dirinya terbangun dalam keadaan yang lebih baik.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2