Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pergi diam-diam


__ADS_3

Pertemuannya dengan Erlina yang tidak disengaja itu semakin menambah pikirannya. Satria terus melajukan sepeda motornya tak tentu arah. Hingga akhirnya, arah angin membawanya berhenti disebuah apartemen.


Apartemen mewah milik keluarga Rio, yang tak lain adalah ayah Ridho. Satria memang sering keluar masuk ke apartemen itu untuk bertemu dengan sahabatnya itu. Dan malam itu dia memutuskan untuk menenangkan dirinya di apartemen Ridho.


Satria masuk ke dalam lift yang membawanya langsung ke depan pintu apartemen Ridho. Karena dia sering datang kesitu, jadi tidak susah untuk menerobos masuk ke dalamnya. Satria masih sangat mengingat kode apartemen Ridho.


Satria langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa. Sebenarnya dia ingin bercerita pada Ridho, tapi ternyata sang pemilik apartemen tidak berada disana. Jadi, Satria memutuskan untuk mengistirahatkan badan dan juga pikirannya dengan tidur.


********


Sementara dikediaman ibu Santi, wanita paruh baya itu sudah menyiapkan persiapannya untuk berangkat ke pulau B besok pagi. Ibu Santi merahasiakan rencananya itu dari kedua anaknya Bara atau pun Satria. Dia tidak ingin ada seorang pun yang tahu jika dia akan menemui anak keduanya itu disana.


Rasa rindu yang begitu mendalam pada anak keduanya itu, membuat dirinya nekat untuk pergi sendiri ke kota yang tidak pernah sama sekali ia tapaki.


Selain itu, ada yang ingin ia sampaikan langsung pada anak keduanya itu. Entah apa yang ada dipikirannya, salah atau benar tindakan yang ia lakukan. Dia hanya ingin melakukan apa yang ada dipikirannya.


********


Kembali ke apartemen Ridho.


Ridho yang baru saja masuk ke dalam apartemennya terkejut, melihat seseorang tengah tertidur dengan wajah yang tertutup dengan tangan.


Ridho mendekat kearah sofa, semakin dekat dia dapat mengenali siapa yang sudah berada didalam apartemennya.


"Ngapain nih, anak tidur disini? Pasti pergi lagi dari rumah." gumam Ridho.


Ridho sangat paham dengan sifat sahabatnya itu, jika ada masalah dirumah Satria selalu datang dan menginap diapartemen Ridho, hingga berhari-hari pun dia betah berada disana.


Ridho membiarkan Satria tetap tertidur dan tidak mengganggu sahabatnya itu. Dirinya pun memilih untuk beristirahat juga dikamarnya. Menunggu esok, pasti sahabatnya itu akan bercerita sendiri apa yang membuat sahabatnya itu datang ke apartemennya.


*********


Pagi-pagi sekali Ibu Santi sudah terbangun, dia menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk anak-anaknya. Bara pun sudah berada dimeja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah.


"Kemana kakakmu? Apa dia masih tidur?" tanya Ibu Santi.


"Gak tahu. Bara tidak ada melihat ke kamarnya." jawab Bara sembari menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Ibu Santi memilih untuk duduk dan mulai menikmati sarapannya juga.


"Biarkan lah dia tidur. Aku bisa pergi sebelum dia terbangun nanti."


Bara sudah menyelesaikan makanannya dan juga sudah berpamitan pada mamahnya untuk berangkat sekolah. Begitu pun dengan Ibu Santi. Setelah Bara berangkat, dengan cepat dia pun bergegas untuk pergi ke bandara.


Saat melewati kamar Satria, langkahnya terhenti. Dengan ragu dia melangkah mendekat ke kamar Satria, pintu Satria tidak tertutup rapat, sehingga Ibu Santi hanya butuh mendorongnya saja.

__ADS_1


"Kok gak ada? Kemana anak itu? Apa dari semalam dia pergi?" gumamnya sembari berfikir.


Tin,.. Tin... Tin..


Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya, segera ia melangkah keluar karena taksi yang sudah dipesannya sudah berada didepan rumahnya.


Mobil sudah melaju dengan sangat cepat, mengantarkan ke tujuan penumpangnya. Sesampainya dibandara, Ibu Santi langsung bergerak untuk check in terlebih dahulu, kemudian bersama-sama penumpang lainnya menuju ke pesawat setelah melakukan serangkaian proses sebelum penerbangan.


Ibu Santi sudah duduk dikursi penumpang berdampingan dengan seorang perempuan muda disebelahnya yang ternyata adalah Renita anak Pak Sigit teman lama keluarga Sanjaya. Namun, Ibu Santi maupun Renita tidak saling mengenal.


Renita memang ada pekerjaan dikota D, kota asal Satria. Sebulan Renita berada dikota itu, selain karena harus bertemu dengan beberapa partner kerja yang bekerja sama dengan perusahaan dimana dirinya bekerja, Renita juga tidak membuang waktunya sia-sia, dirinya menyempatkan untuk sekalian berlibur dikota itu.


Sesampainya dibandara pulau B, ibu Santi terlihat bingung karena ini pertama kalinya dirinya menginjak kan kaki dikota itu sendiri tanpa seorang pun yang menemaninya.


Renita menyadari kebingungan wanita paruh baya yang sekarang sudah berdiri disampingnya.


"Ehm, sepertinya ibu baru ke kota ini? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Renita pada Ibu Santi.


"Iya, Nak. Saya mau ke rumah tahanan kelas 2B menemui seseorang disana. Tapi, saya tidak tahu jalan dan saya takut nyasar." jawab Ibu Santi.


"Oh ... Ibu tinggal menaiki taksi itu saja, dan bilang tujuan ibu ke pak supirnya. InsyaAllah akan diantar kan sampai ditempat tujuan." ucap Renita sembari menunjukkan taksi berwarna biru pada Ibu Santi.


"Terimakasih, Nak." ucap Ibu Santi.


Mobil yang menjemput Renita pun tiba, Pak Sigit sendirilah yang menjemput putri semata wayangnya. Dia melihat Ibu Santi yang sedang berdiri disamping anaknya.


Baru saja Ibu Santi melangkahkan kakinya ingin menghampiri taksi yang ditunjukkan oleh Renita, Pak Sigit memanggilnya.


"Santi ....!" teriak Pak Sigit.


Ibu Santi pun menoleh ke asar suara yang memanggilnya. Dan memutuskan untuk berbalik dan menemui orang yang telah memanggil dirinya.


"Apa Papah mengenal ibu itu?" tanya Renita yang heran dengan papahnya.


"Iya, kalau papah tidak salah lihat." jawab Pak Sigit.


Renita sudah masuk ke dalam mobil dan menunggu orang yang telah papahnya panggil itu.


"Apa anda mengenal saya?" tanya Ibu Santi yang sudah berada lebih dekat dengan orang yang terlihat tidak asing diingatannya, tapi ia lupa dengan orang tersebut.


"Kamu Santi adiknya Suseno, kan?" tanya Pak Sigit meyakinkan.


"Iya, betul. Maaf, tapi saya lupa dengan anda." jawab Ibu Santi.


"Aku Sigit, tetangga sampean diperumahan anggrek dikota D. Anak dari pak Sunaryo teman akrab ayah anda pak Sanjaya." ucap Pak Sigit.

__ADS_1


Ibu Santi terdiam dan berfikir mencoba mengingat orang yang ada dihadapannya.


"Astagfirullah, Mas. Aku sampai lupa dengan dirimu. Aku memang seperti tidak asing denganmu, tapi aku lupa namamu." balas Ibu Santi.


"Apa kamu mau ke rutan menengok anakmu? Kemana Satria atau Suseno? Kamu kesini sendiri?" tanya Pak Sigit bertubi-tubi pada Ibu Santi.


"Iya, Mas. Aku mau menengoknya aku rindu sekali dengan anakku itu. Aku sengaja sendirian kesini. Kalau mereka tahu, pasti mereka tidak memperbolehkan aku kesini." jawab Ibu Santi.


"Ayo, masuklah ke mobil. Biar aku saja yang mengantarkanmu kesana." ajak Pak Sigit.


"Terimakasih, Mas." ucap Ibu Santi yang langsung menerima tawaran Pak Sigit.


Ibu Santi memilih duduk dibelakang, karena sudah ada Renita yang duduk didepan bersama papahnya.


"Mas, jadi ini anak sampean?" tanya Ibu Santi menatap ke arah depan dimana Renita duduk.


"Iya, dia anak semata wayangku. Ren, kenalkan ini tante Santi, adik dari Pakde Suseno yang pernah kerumah beberapa bulan yang lalu. Dan beliau juga adalah ibu dari Satria." jawab Pak Sigit sembari memperkenalkan Renita pada Ibu Santi.


"Salam kenal tante, saya Renita." ucap Renita sembari mengulurkan tangannya kepada Ibu Santi.


"Nama yang cantik seperti orangnya." ucap Ibu Santi sembari membalas ukuran tangan Renita.


Sepanjang perjalanan, mereka habiskan bercerita.


Hingga tak terasa, tibalah Ibu Sinta ditempat tujuannya.


"Apa ingin aku tunggu?" tanya Pak Sigit.


"Tidak usah, Mas. Lebih baik kalian pulang saja. Kasihan Renita sudah terlihat sangat lelah." jawab Ibu Santi.


"Baiklah. Jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku." ucap Pak Sigit sembari memberikan kartu namanya pada Ibu Santi.


"Iya, Mas. Saya sangat berterimakasih karena sudah diantarkan kesini." ucap Ibu Santi.


"Iya, sama-sama." jawab Pak Sigit.


Kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan rumah tahanan itu. Ibu Santi berdiri didepan gedung dimana Awan ditahan didalamnya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2