
Deg ... Deg ... Deg ...
"Kenapa perasaan ku gak enak begini, ya? Ya Tuhan, semoga keputusan yang dimaksud Sandra adalah keputusan yang tepat dan terbaik."
Raina dan Sandra melangkah memasuki ruang keluarga yang sudah ada keluarga dari pihak Sandra berkumpul disana.
"Assalamualaikum ...." ucap Sandra dan Raina bersamaan.
"Walaikumsalam ...." jawab semua yang berada disitu dan memandang ke arah Sandra dan Raina.
Raina dan Sandra menyalami semua yang ada.
"Ini yang namanya Raina, cantik." ucap Pakde Suseno sembari memuji Raina. Raina hanya menganggukan kepalanya dengan sopan dan tersenyum mendengar pujian dari Pakde Suseno.
Raina duduk Ditengah-tengah antara Sandra dan Bunda Eva. Raina melirik ke arah Satria yang hanya diam saja setelah menjawab salam dari Raina dan Sandra. Terlihat wajah Satria yang tampak memikul beban yang sangat berat.
"Perkenalkan saya Pakde nya Sandra dan Satria. Bagaimana keadaan mu, Nak Raina?" tanya Pakde Suseno membuka pembicaraan.
"Alhamdulilah baik, Pakde." jawab Raina.
"Begini, Nak Raina .... kami semua sudah bermusyawarah mencari solusi untuk masalah yang sedang Nak Raina hadapi dan tentunya ini juga jadi masalah untuk kedua belah pihak keluarga. Dan maksud kami menyuruh Sandra untuk menjemput Raina kesini, kami ingin menyampaikan keputusan hasil dari musyawarah yang telah kami sepakati sebelumnya. Dan kami hanya meminta persetujuan saja dari Raina." ucap Pakde Suseno.
Pakde Suseno menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan omongannya.
"Mungkin Nak Raina sudah mengetahui berita yang baru saja menimpa keponakan saya Awan, kemungkinan besar dia akan menjalani masa tahanan yang sangat lama. Sedangkan janin yang didalam kandungan mu akan terus tumbuh dan berkembang. Dan kita tidak bisa menunggu sampai Awan bebas dari masa tahanan nya. Dan kalau pun kamu harus menikah dengannya itu juga tidak mudah untuk pengurusan juga memakan waktu yang cukup lama. Dan untuk anak yang kamu kandung, Satria yang akan menggantikan posisi Awan untuk bertanggung jawab atas anak tersebut." tambah Pakde Suseno.
Raina terkejut mendengar penjelasan dari Pakde Suseno dan Raina beralih menatap Satria yang masih saja tidak bergeming. Seketika air matanya pun mengalir tanpa diminta.
Bunda Eva dan Sandra pun langsung memeluk tubuh Raina yang terguncang karena isak tangisnya.
"Pikirkan anak mu, Nak. Itu yang terpenting." ucap Bunda Eva.
"Ini memang keputusan yang berat untuk kami. Tapi Satria sendiri yang dengan rela meminta untuk bertanggung jawab atas anak yang ada didalam kandungan mu. Semua keputusan sekarang ada ditangan Nak Raina, mau seperti apa. Tidak usah dijawab sekarang kalau Nak Raina masih bimbang. Tapi juga jangan terlalu lama untuk menimbang ini." ucap Pakde Suseno menambah kegalauan hati Raina.
__ADS_1
"Diminum dulu Nak, airnya. Biar kamu tenang." ucap Bude Yati istri dari Pakde Suseno, sembari menyodorkan segelas air putih kepada Raina.
Raina pun menerima gelas tersebut dan meminum airnya. Namun, tatapan nya terlihat kosong.
"Rai, kamu sudah makan belum?" tanya Sandra.
Namun Raina hanya menggelengkan kepalanya tak bersemangat, seperti orang yang sudah tidak ingin hidup lagi.
"Sayang, makan dulu, ya. Setidaknya diisi perutnya biar sedikit. Kasihan anak kamu juga butuh asupan gizi. Setelah makan nanti baru diantar pulang sama Sandra." rayu Bunda Eva.
Sandra pun memaksa membawa Raina untuk berjalan ke arah meja makan. Sandra mengisi piring sahabatnya itu dengan nasi dan lauk yang telah dihidangkan Bunda Eva.
Raina berusaha untuk menyendokkan makanan ke dalam mulutnya dirinya benar-benar merasa tidak bernafsu untuk makan, semua dilakukannya demi sang buah hati. Mengingat anak yang di kandung nya, Raina kembali meneteskan air matanya dan menghentikan makan nya.
Semua saling pandang, Sandra menggenggam tangan Raina untuk menguatkan sahabatnya itu.
"San, antar kan saja dulu Raina pulang. Dia harus banyak beristirahat dan menenangkan pikirannya."ucap Ayah Ridwan.
"Biarkan saya saja yang mengantarkan nya pulang." ucap Satria.
Dan semua langsung menyetujui ucapan Satria.
"Ehm, tapi kamu jangan pakai sepeda motor, ya. Kamu pakai saja mobil Sandra. Kasihan Raina kalau dibawa pakai sepeda motor mu yang besar itu." ucap Pakde Suseno.
"Iya, Pakde." jawab Satria sembari berpamitan kepada semua orang yang berada diruang makan.
Satria menyiapkan mobil yang akan dia gunakan untuk mengantar Raina, Sandra pun ikut mengantar Raina hingga depan pintu rumah.
"Kamu banyak-banyak istirahat ya, Rai. Dijaga yang benar keponakan aku." ucap Sandra sembari mengelus perut Raina yang mulai membuncit ditubuh langsing Raina.
Raina hanya membalasnya dengan senyuman dan lalu masuk ke dalam mobil.
"Ehm, aku bukan supir mu. Kenapa kamu duduk dibelakang? Ayo, pindah sini." Baru saja Raina mendarat kan tubuhnya dibangku belakang mobil, Satria sudah menegur nya untuk pindah ke bangku depan samping nya.
__ADS_1
Raina pun menuruti permintaan Satria, Raina keluar lagi dari mobil dan pindah duduk didepan disamping Satria.
Mobil pun sudah melaju, Satria mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali dirinya melirik Raina. Namun, Raina memilih untuk menatap jalanan.
"Rai, aku harap kamu benar-benar memberikan jawaban yang tepat setelah ini." ucap Satria ditengah-tengah menyetirnya.
Raina hanya menoleh sekilas ke arah Satria setelah Satria berbicara, kemudian pandangannya kembali beralih ke jalan lagi tanpa menjawab ucapan Satria.
"Ehm, aku benar-benar ikhlas lahir batin untuk bertanggung jawab atas anak ini. Bagaimana pun didalam rahim mu adalah keponakan ku dan mengalir darah yang sama dengan ku. Yang berarti anak itu adalah anak ku juga." ucap Satria.
Raina mendengarkan semua ucapan Satria, namun tetap pandangannya masih fokus menatap ke depan.
"Aku gak mau anak yang kamu lahirkan nanti, kekurangan kasih sayang dari seorang ayah. Aku gak mau dia merasakan hal yang sama denganku." tambah Satria.
Entah mengapa, hati Raina bergetar setelah mendengar kata-kata yang terucao dari mulut Satria.
"Kenapa harus kamu yang mengucapkan kata-kata itu? Kenapa bukan laki-laki itu? Kalian lahir dari rahim yang sama, namun watak kalian sangat jauh berbeda."
Satria memang mempunyai kisah kelam, dirinya harus kehilangan sosok ayah yang begitu dia idolakan. Sang ayah harus pergi meninggalkan nya karena kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayah nya.
Dan saat itu, Satria masih berusia delapan tahun, dia sangat dekat dengan ayah nya. Sehingga saat ayah nya meninggal dirinya begitu sangat terpukul. Sikap tegas dan bijaksana sang ayah lah yang kini melekat pada dirinya. Beda dengan Awan yang saat itu masih balita yang belum terlalu paham dan tidak begitu dekat dengan ayahnya.
Sedangkan Bara adalah adik tiri, hasil pernikahan mamah nya dengan pria lain, sekitar empat tahun sepeninggal ayahnya, mamah nya Satria menikah lagi.
Namun sayang, pernikahan Santi dengan pria itu tidak bertahan lama setelah melahirkan Bara dan setelah puas bersenang-senang dengan kekayaan peninggalan dari ayah Satria, ayah tirinya pergi begitu saja meninggalkan ibu Santi dan Bara yang masih bayi kala itu.
Satria tetap menyayangi Bara seperti adik kandung nya sendiri, namun Satria tidak bisa meredam kebencian nya jika mengingat pria itu yang tidak lain adalah ayah kandung Bara.
Dan itulah yang membuat dirinya memutuskan untuk bertanggung jawab penuh atas bayi dalam kandungan Raina, meski bukan dirinya yang berbuat.
**Mohon like, komen dan vote nya ππ
Maaf telat UP nya, author banyak kerjaan** π€
__ADS_1