
Ibu Santi sudah berada diruang persidangan dan mulai mengikuti jalannya persidangan, duduk bersama dengan para keluarga dari tahanan yang lain.
Satu per satu, para warga binaan itu masuk ke dalam ruang persidangan, dipanggil sesuai dengan nama mereka dan kasus yang menjerat mereka. Mereka yang dipanggil itu duduk didepan para hakim yang akan memutuskan masa tahanan mereka.
Tiba lah nama Awan yang dipanggil bersama dengan kedua rekannya, yang juga terjerat dengan kasus yang sama. Mereka bertiga duduk dihadapan para hakim dan jaksa. Saat ketua hakim membacakan dan memutuskan hasil putusannya, Ibu Santi merasa jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Menunggu hasil yang akan dibacakan.
Awan dijatuhkan hukuman enam tahun penjara atas kasus yang menjeratnya, yang sebelumnya pada persidangan awal dia divonis hukuman delapan tahun penjara.
Ibu Santi menangis mendengar hasil putusan yang telah resmi diberikan pada anaknya itu. Awan terlihat tegar dan ikhlas. Dia tidak tahu jika mamahnya, berada diruang sama dengannya.
Ketika dia akan keluar dari ruang persidangan, Ibu Santi menghampiri anaknya itu. Awan terkejut, melihat mamahnya yang memanggil namanya.
"Mamah ...." ucapnya lirih.
"Iya, Nak. Mamah mengikuti persidanganmu. Kamu harus kuat dan sabar ya, menjalani masa tahananmu." ucap Ibu Santi.
"Iya, Mah. Terimakasih mamah mau hadir dipersidanganku. Tapi, bagaimana mamah tahu jika hari ini, hari persidanganku?" tanya Awan.
"Maaf, Pak. Bisa kah saya meminta waktu anak saya sebentar. Saya ingin berbicara dengannya." ucap Ibu Santi pada polisi yang mengawal Satria.
"Ibu bisa berbicara dengannya diruang kunjungan yang ada disebelah sana. Saya akan mengantar kalian." ucap Polisi tersebut.
Ibu Santi pun berjalan mengikuti langkah polisi itu sembari menggandeng tangan Awan.
"Mamah kesini sendiri, waktu mamah tiba dirutan penjaganya bilang kalau kamu akan melakukan sidang terakhir. Dan mamah memohon untuk bisa mengikuti persidanganmu." Ibu Santi menjawab pertanyaan Awan yang sempat tertunda tadi sembari berjalan.
Hingga tibalah mereka disebuah ruangan yang sudah banyak keluarga lain yang turut melepaskan rindu dengan keluarga mereka yang juga sebagai tahanan.
"Waktu kalian tidak banyak. Gunakan sebaik mungkin." ucap Polisi itu.
Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Ibu Santi dan juga Awan.
"Bukannya mamah lagi sakit? Kenapa mamah nekat untuk pergi sendiri kesini?" tanya Awan.
"Mamah merindukanmu dan mamah juga ingin memberitahukan padamu, jika anakmu sudah lahir." jawab Ibu Santi sembari melihatkan foto Al pada Awan.
"Maafkan Awan, Mah. Awan yang sudah membuat mamah sakit dan juga telah mencemari nama baik keluarga Sanjaya dengan kelakuan buruk Awan ini." ucap Awan yang tak bisa menahan air matanya lagi. Apa lagi, setelah melihat wajah Al seketika hatinya benar-benar menyesali perbuatannya pada Raina.
__ADS_1
"Yang berlalu biarlah berlalu, sekarang kamu harus sungguh-sungguh memperbaiki dirimu disini. Mamah yakin kamu akan berubah setelah ini. Ada sesuatu hal yang ingin mamah tanyakan padamu." ucap Ibu Santi.
"Apa yang ingin mamah tanyakan?" tanya Awan.
"Apa kamu masih mencintai Raina?" Pertanyaan Ibu Santi membuat Awan terkejut, dia tidak menyangka jika mamahnya itu akan menanyakan tentang perasaannya.
"Ehm, Awan sudah sangat bersalah padanya, Mah. Awan tidak berani menyimpan perasaan itu lagi padanya. Awan rasa, Mas Satria lebih pantas untuk membahagiakannya." jawab Awan.
"Huuft ... apa kamu tidak ingin memperjuangkan nya kembali?" tanya Ibu Santi sembari menghempaskan nafasnya. Dirinya merasa jika Awan terlalu lemah dengan menyerah begitu saja.
"Maksud mamah, apa? Bukannya, Mas Satria sudah menikahi Raina secara sah? Kenapa mamah ingin Awan untuk memperjuangkannya lagi?" Awan mencecar pertanyaan kepada mamahnya, pertanyaan mamahnya yang berhasil membuatnya bingung.
"Mereka memang menikah sah secara hukum, tapi tidak dengan agama. Sekarang Raina sudah melahirkan dan Satria ingin melanjutkan pernikahannya kembali dengan Raina, dengan kembali mengulang akad nikah mereka sebulan setelah masa nifas Raina berakhir." jawab Ibu Santi.
Awan tertegun mendengar penjelasan mamahnya. Memang dia masih menyimpan rasa untuk Raina, tapi dirinya juga tidak ingin merusak kebahagiaan kakaknya dan Raina.
"Ya, biarkan saja mas Satria kembali melanjutkan pernikahannya, Mah. Awan masih lama berada disini, lambat laun Raina pasti mencintai mas Satria. Awan sudah ikhlas dan Awan gak mau merusak kebahagiaan mereka. Urusan anak, biar waktu yang akan menjawabnya nanti." ucap Awan dengan tegas, yang merasa apa yang sudah mamahnya perbuat adalah salah.
"Tapi mamah gak rela. Mamah gak rela melihat mu terpenjara disini, merasakan kerasnya hukuman disini. Sementara, mereka berbahagia diatas penderitaanmu. Kalau seperti itu mau mu, mamah gak akan membiarkan satu pun anak mamah bersama dengan perempuan itu." ucap Ibu Santi yang hatinya sudah dibutakan oleh egonya yang tinggi.
**********
Hingga tibalah, dirinya dirumah Raina. Yang kebetulan saat itu Ibu Riska dan Raina sudah memasuki mobil dan akan membawa Al periksa ke rumah sakit.
Dengan cepat Satria memarkir kan sepeda motornya dihalaman rumah Raina.
"Bu, biar saya aja yang mengemudikan mobilnya." ucap Satria pada Ibu Riska.
"Oh, kalau begitu kalian saja yang pergi." balas Ibu Riska dan keluar dari mobilnya.
Satria menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati ya, kalian." ucap Ibu Riska.
Satria mulai mengendarai mobil dan mobil pun sudah mulai berjalan meninggalkan rumah Raina.
Dua puluh menit waktu tempuh hingga sampai disebuah rumah sakit umum dikota itu. Mereka berdua langsung menuju ke poli anak yang sebelumnya mereka mendaftarkan nama Al terlebih dahulu. Karena tidak banyak yang mengantri, jadi mereka bisa masuk ke ruang dokter dengan cepat.
__ADS_1
Raina dan Satria sudah duduk dihadapan sang dokter.
"Apa keluhannya, Bu?" tanya Dokter tersebut.
"Anak saya rewel dari semalam, Dok. Dia juga tidak mau menyusu dan selalu menangis serta gelisah." jawab Raina.
"Ok. Baiklah, kita periksa dulu, ya? Silahkan, anaknya dibaringkan diatas kasur." ucap Dokter itu.
Raina pun membaringkan diatas kasur. Sang dokter mulai memeriksa Al. Mulai dari perut Al yang kemungkinan kembung, ternyata tidak dan dugaan ibu Riska salah. Kemudian, dokter tersebut mulai memeriksa dibagian dalam mulut Al dan seketika Al langsung menangis saat mulutnya diperiksa.
"Si kecil lagi sariawan, Bu. Itu yang menyebabkan dia tidak mau menyusu." ucap Dokter tersebut.
Raina kembali menggendong Al yang masih menangis dan mencoba untuk menenangkannya.
"Sariawan? Anak bayi bisa sariawan juga, Dok?" tanya Satria.
"Iya, tentu saja bisa, Pak. Sariawan tersebut ditandai oleh adanya bercak putih yang terlihat kasar pada lidah atau mulut bayi, bahkan bisa membuat berdarah, itu yang membuatnya rewel karena dia sedang menahan rasa sakit. Sariawan ini disebabkan oleh paparan bakteri candida, di ****** buah dada ibu." jawab sang Dokter.
"Buah dada? Kenapa bisa begitu, Dok?" Kini giliran Raina yang bertanya karena ini menyangkut anggota tubuhnya yang menjadi pokok masalah.
"Bakteri candida itu semacam jamur yang menempel pada ****** buah dada sang ibu. Bakteri ini sendiri tumbuh karena ****** ibu yang lecet karena diawal menyusui, bayi akan lebih lama menyusu dan lidah bayi yang masih kasar itu dapat membuat ****** ibu lecet atau bahkan terluka dan itu yang membuat jamur tersebut tumbuh disekitar ****** buah dada sang ibu. Jadi, saya anjurkan jika ingin menyusui bayinya, sebaiknya air susu yang mulai membeku dibuang terlebih dahulu dan ****** buah dadanya dicuci terlebih dahulu, agar anaknya tidak ikut terpapar bakteri tersebut." jawab sang Dokter.
Raina menganggukan kepalanya bahwa dia paham dengan penjelasan dokter tersebut. Sementara, Satria yang mendengar penjelasan dokter saat mendengar nama anggota tubuh dari wanita tersebut disebutkan, Satria merasa geli ditelinganya.
Sebelum mereka keluar dari ruangan itu, dokter telah memberikan resep obat yang harus mereka tebus.
Satria dan Raina pun menunggu didepan apotik untuk menebus obat yang telah diresepkan oleh dokter.
Dari arah yang berbeda, Erlina baru saja keluar dari ruang prakteknya dan melihat Satria serta Raina yang sedang menggendong Al dan duduk dibangku antri.
"Apa itu wanita yang telah menggeser diriku dihatimu? Pantas saja, kamu mau menikah dan bertanggung jawab atas apa yang tidak kamu lakukan, ternyata dia gadis muda yang lebih cantik dariku." batin Erlina.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π