Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Tanda-Tanda Dari Raina


__ADS_3

Ridho sudah meninggalkan Raina yang tidak ingin bertemu dengannya. Namun bukan Ridho namanya, jika langsung menyerah begitu saja. Ridho ingin tahu apa yang sudah menyebabkan Raina bersikap aneh terhadap dirinya.


Ridho menuruni beberapa anak tangga yang menghubungkan resto dengan kantor Raina. Ridho berjalan ke arah meja kasir.


"Sepertinya, dia cukup dekat dengan Raina. Mungkin dia akan memberiku sedikit pertolongan."


"Ehm, ehm ..."


Ridho berdehem cukup keras membuat Gina yang ada dihadapannya terkejut dengan kedatangan Ridho yang sudah didepan nya.


Suasana diresto kala itu cukup sepi dikarenakan resto yang baru saja dibuka. Sehingga dengan leluasa Ridho dan Gina berbicara.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Gina dengan gugup.


"Ehm, apa kamu dekat dengan Raina?" Bukannya menjawab, Ridho malah mengajukan pertanyaan kembali kepada Gina.


Gina menghembuskan nafas nya secara perlahan.


"Aku dan Raina cukup dekat, tapi tidak sedekat Raina dengan Sandra." jawab Gina.


"Apa kamu tahu alasan Raina tidak masuk kerja beberapa hari ini?" Ridho kembali bertanya.


"Ehm, bagaimana Mas Ridho tahu jika Raina tidak masuk kerja beberapa hari ini?" Gina melihat Ridho dengan tatapan penuh tanda tanya.


Ridho menceritakan ketika dia ke resto untuk menemui Raina dan mendapatkan informasi bahwa Raina sakit. Hingga dirinya memutuskan untuk memastikan keadaan Raina ke rumahnya dan mengikuti Raina yang berziarah ke makam ayahnya.


Gina mendengarkan dengan teliti setiap penjelasan yang dituturkan oleh Ridho.


Ridho menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Kamu tahu? Saat itu aku melihat Raina dalam keadaan dia yang sangat kacau dengan wajah yang sangat pucat. Apa kamu tahu Raina sakit apa?" tanya Ridho.


Gina hanya menggelengkan kepalanya. Dan kembali mendengarkan penjelasan dari Ridho.


"Sama. Aku juga gak tahu dia sakit apa. Aku urung kan niatku untuk bertanya kepada saudaranya. Yang aku pikirkan saat itu, aku akan bertanya langsung dengannya. Tapi, yang aku dapatkan bukan penjelasan dari dia. Dia malah enggan untuk bertemu dengan ku dan terlihat dia seperti ketakutan. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya."

__ADS_1


Gina terdiam, pikirannya terus tertuju pada Awan,yang sebenarnya dia juga tidak mengerti apa hubungan sakitnya Raina dengan Awan.


"Hai, kenapa kamu melamun? Kamu mendengarkan aku, kan?" tanya Ridho dengan menyenggol tangannya Gina.


"Ekh, iya Mas. Aku dengerin, kok." jawab Gina gelagapan.


"Apa kamu bisa membantu ku untuk mencari informasi tentang semua ini?" tanya Ridho lagi.


"Aku? Kenapa harus aku?" tanya Gina kembali.


"Iya, kamu. Karena yang aku lihat sepertinya kamu ada menyimpan sesuatu tentang Raina." jawab Ridho dengan menatap Gina penuh selidik.


"Kenapa dia bisa menduga seperti itu ke aku? Tapi, gak ada salahnya sih, aku mencoba mencari tahu tentang ini."


"Ye .... dia melamun lagi. Gimana mau gak?" tanya Ridho.


"Ok. Aku bakal bantu." jawab Gina.


Sementara itu, didalam kantor Raina sudah mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Aku gak bisa seperti ini terus. Aku harus bisa menahan rasa ketakutan ku. Kamu harus yakin, Rai ... tidak semua laki-laki sama." gumam Raina menyemangati dirinya sendiri.


Bukan tanpa alasan, Raina hanya tidak ingin bertemu dengan laki-laki yang sudah menodai nya. Sehingga dia memutuskan untuk tetap bertahan saja didalam kantor.


Sedangkan Gina, menunggu Raina dibawah dengan gelisah. Gina memutuskan untuk membawakan makanan untuk Raina.


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara pintu diketuk, namun Raina urung untuk membuka nya sampai ada suara dibalik pintu.


"Rai ... ini aku Gina! Apa aku boleh masuk? Aku membawakan makanan untuk mu." ucap Gina.


Raina segera membuka kunci pintu itu dan mempersilahkan Gina masuk. Gina masuk ke dalam ruangan itu dan melihat sikap Raina yang aneh. Raina menengok kanan dan kiri keluar kantor, memastikan tidak ada orang lain selain Gina. Setelah memastikan hanya Gina seorang, Raina cepat-cepat menutup pintu dan mengunci nya kembali.


"Kamu kenapa sih, Rai? Biasanya kamu gak pernah mengunci pintu kantor." tanya Gina.

__ADS_1


Gina mulai mencari informasi, dia berfikir jika Raina akan berbagi cerita kepadanya.


"Gak apa-apa, aku hanya waspada saja." jawab Raina.


Ucapan Raina sontak membuat Gina semakin penasaran.


"Waspada dari apa, Rai?" tanya Gina penuh selidik.


"Ehm ... ini makanan untukku? Apa aku boleh memakannya?" Raina tersadar ucapannya tadi memancing kecurigaan untuk Gina, sehingga Raina dengan cepat mengalihkan pembicaraan nya.


"Iya, makan lah. Itu memang sengaja aku bawakan untuk mu agar kamu tidak sakit lagi. Btw, kemarin kamu sakit apa?" Gina tahu jika Raina mengalihkan pembicaraan, sehingga Gina mencari cara lain untuk kembali mendapatkan informasi.


"Aku hanya demam karena kelelahan." jawab Raina santai sembari terus memakan makanan nya.


"Oh ... Tapi, walaupun kamu tidak masuk bekerja, tidak berpengaruh juga ke pelayanan resto. Masih ada ibu Eva yang bisa mengatasi pekerjaan mu. Tidak seperti mas Awan, dia tidak masuk bekerja tanpa ada kabar apa pun, buat Mas Deni kelimpungan sendirian, sampai beberapa hari yang lalu resto benar-benar kacau karena ramai pengunjung dan tenaga di stan bar kurang."


Mendengar nama Awan disebut, raut wajah Raina seketika berubah dan itu tampak terlihat oleh Gina. Membuat dirinya yakin bahwa Raina ada hubungan nya dengan Awan.


Namun, Raina tak menggubris omongan dari Gina, dia tetap fokus dengan makanan nya hingga makanan nya tandas masuk ke dalam perutnya.


"Hingga sekarang mas Awan juga tidak masuk bekerja lagi dan Ibu Eva sudah menggantikan nya dengan orang lain. Alasannya karena mas Awan sudah beberapa hari tidak ada kabar sama sekali dan dia juga susah untuk dihubungi." Gina terus memancing Raina untuk membuka suara.


Tapi nampak nya, Raina sama sekali enggan untuk membahas tentang Awan.


"Gin, jam istirahat sudah mau habis. Apa kamu mau tetap tinggal disini?" ucap Raina sembari melirik jam tangannya.


Gina merasa Raina mengusir nya secara halus. Namun, dia tetap santai menghadapi sikap Raina yang tiba-tiba berubah itu.


"Hehehe ... aku balik ke kasir dulu, ya?" ucap Gina sembari memberi sedikit senyuman kepada Raina.


"Terimakasih untuk makanan nya." ucap Raina.


"Iya, sama-sama. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada ku." jawab Gina sembari keluar dari ruangan itu.


Raina hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyuman.

__ADS_1


"Baiklah, Rai ... aku tidak akan memaksa mu untuk berbicara sekarang. Aku yakin, kamu akan datang sendiri kepadaku nantinya."


Mohon like dan krisan nya ya πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2