Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Bimbang


__ADS_3

Sepeda motor Satria sudah memasuki pekarangan rumahnya, Satria turun dari sepeda motornya dan langsung masuk ke dalam rumah. Sama halnya dengan sang adik, jika dari bepergian dirinya juga langsung menemui mamahnya terlebih dahulu.


Satria hanya berdiri diambang pintu kamar mamahnya, terlihat mamahnya begitu sangat pulas tertidur. Terlihat diraut wajah mamahnya, jika wanita paruh baya itu terlihat sangat lelah. Satria kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.


Saat berjalan, terlihat pintu kamar Bara yang tidak tertutup rapat. Satria melihat adik tirinya itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Satria merasa sudah lama sekali tidak mengganggu Bara, karena dirinya yang sangat sibuk akhir-akhir ini. Satria mendekatkan dirinya ke arah kamar Bara.


"Eh, Mas Satria ...." sapa Bara yang menyadari kehadiran Satria.


"Sedang apa?" tanya Satria yang sudah duduk dipinggir kasur Bara.


"Ini Bara lagi mengerjakan tugas praktek kelistrikan dari sekolah." jawab Bara.


Bara memang bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan dengan mangambil jurusan elektromagnetik. Dari masih sekolah dasar, adik tiri dari Satria itu sudah senang sekali merakit-rakit sesuatu dan yang berhubungan dengan listrik. Hingga saat itu adiknya, pernah menjurai sebuah perlombaan yang memamerkan rakitan robot. Bakatnya terus berlanjut hingga sekarang.


Satria pun tidak melarang adik-adiknya untuk mengeksplor bakat mereka. Selama semuanya masih dijalan yang benar dan positif, dirinya selalu mendukung. Karena dirinya sadar, saat dia sekolah dulu banyak hal yang dikekang oleh mamahnya. Dirinya selalu harus menuruti kemauan mamahnya. Jadi, dia tidak ingin adik-adiknya merasakan hal yang sama dengannya.


Tapi sayang, Awan lebih memilih jalannya sendiri yang tidak terarah. Awan selalu menentang aturan yang telah dibuat oleh Satria. Hingga adik bungsu kandungnya itu masuk ke dalam dunia hitam, yang membawanya ke balik jeruji besi sekarang.


"Sekolah yang rajin. Kalau kamu berhasil, kamu sendiri yang akan menikmati hasilnya." nasehat Satria pada adiknya.


"Siap, Kak." ucap Bara sembari mengacungkan jempolnya.


"Apa mamah sudah tidur dari tadi?" tanya Satria.


"Sepertinya begitu. Mungkin mamah habis meminum obatnya jadi tertidur dengan pulas. Karena saat Bara pulang sekolah tadi, mamah terlihat sangat lelah sekali. Seperti habis pulang dari melakukan perjalanan jauh." jawab Bara.


Satria menaikkan alisnya saat mendengar jawaban dari adiknya itu.


"Apa kamu tidak bertanya? Mamah habis melakukan apa atau mamah habis darimana?" tanya Satria lagi.


"Ya, Bara tanyalah, Kak. Katanya sih, mamah habis dari resto bunda Eva. Tapi, Bara seperti tidak yakin dengan jawaban mamah. Seperti ada yang ditutupin dari kita." Jawaban Bara semakin membuat Satria penasaran.


"Apa yang membuatmu tidak yakin dengan jawaban mamah?" tanya Satria yang semakin penasaran.


"Ehm ... dari cara mamah yang terlihat gugup saat Bara menanyakan mamah darimana. Mamah juga lama banget jawab pertanyaan Bara, seperti mikir dulu mau jawab apa." jawab Bara.

__ADS_1


"Apa ada hal lain lagi yang membuatmu masih tidak yakin dengan mamah?" tanya Satria yang terus saja mengintrogasi adiknya seperti seorang polisi.


"Ada. Mamah pulang dari resto bunda, tapi gak bawain makanan untuk kita." jawab Bara.


"Makanan terus yang ada dikepalamu." ucap Satria sembari menjitak kepala adiknya.


"Aduh! Sakit tahu! Ya, coba kakak pikir sendiri. Biasanya kan, mamah selalu bawa makanan kalau habis pulang dari resto bunda. Apa lagi mamah gak pernah ngelupain makanan favorit Bara." ucap Bara dengan nada kesal sembari mengusap kepalanya.


Satria terdiam mencerna omongan adiknya.


"Benar juga yang dikatakan Bara. Apa jangan-jangan mamah nekad pergi ke pulau D sendiri?" batin Satria.


"Ya, sudah. Lanjutkan tugasmu. Kakak mau ke kamar dulu." ucap Satria yang kemudian keluar dari kamar Bara.


*******


"Cucu nenek sudah tertidur pulas." ucap Ibu Riska yang baru saja masuk ke dalam kamar Raina.


Raina segera menghapus bekas air matanya, saat mendengar suara ibunya.


"Apa yang dikatakan dokter tadi?" tanya Ibu Riska.


"Al terkena sariawan, Bu." jawab Raina sembari mengalihkan pandangannya pada Al yang tertidur pulas.


Raina tidak berani menatap ibunya, karena jika dia memandang ibunya, maka ibunya akan tahu jika dirinya habis menangis.


Namun, bukan seorang ibu namanya yang tidak paham dengan sikap anaknya sendiri. Ibu Riska sangat tahu gerak-gerik Raina yang sedang menutupi sesuatu. Dan sebenarnya, dia juga menyadari jika ada sesuatu yang terjadi dengan anaknya dan juga menantunya.


Karena saat Satria pamit pulang tadi, nampak tidak bersemangat seperti sedang menghadapi masalah. Itu sebabnya, dirinya langsung masuk ke kamar anaknya itu untuk mencari tahu dengan alasan melihat Al, cucunya.


"Rai, apa kau sedang ada masalah dengan Satria?" tanya Ibu Riska.


Deg,


Raina langsung gelagapan saat mendapat pertanyaan seperti itu oleh ibunya.

__ADS_1


"Gak, Bu. Raina dan mas Satria baik-baik aja." jawab Raina berkilah.


"Kamu yakin? Jujurlah dengan ibu, jika kamu memendamnya sendiri itu akan menambah beban pikiranmu. Ingat, kamu tidak boleh stres. Kalau kamu stres itu akan berdampak pada ASI dan juga anakmu turut merasakan kesedihanmu." ucap Ibu Riska yang ingin membuat Raina jujur padanya.


Seketika Raina menatap intens ke arah ibunya dan air mata kembali tak mampu dibendung lagi. Kini Raina menangis didalam pelukan ibunya.


"Menangislah, jika itu akan membuatmu lega. Ibu akan menunggu sampai dirimu siap untuk bercerita pada ibu." ucap Ibu Riska sembari mengelus lembut punggung anak perempuannya itu.


Raina melonggarkan pelukannya, dengan masih terisak Raina mulai menceritakan apa yang sudah terjadi saat dirinya masih berada dirumah sakit tadi.


"Raina sudah ikhlas, Bu ... kalau akhirnya pernikahan ini memang harus berakhir." ucap Raina dengan tatapan sendu.


"Jangan bicara seperti itu, mungkin Satria ada alasan sendiri yang membuatnya belum bisa jujur padamu. Mungkin dulu memang mereka pernah ada ikatan, tapi lihat sekarang dia lebih memilih dirimu untuk tetap melanjutkan pernikahan kalian." Ibu Riska mencoba membuat anaknya itu yakin.


"Bukan memilihku, lebih tepatnya karena Al." balas Raina dengan datar.


"Nak, kamu harus sadar dari awal memang dia memperjuangkan anakmu. Tapi, lihatlah pengorbanannya sekarang. Mungkin saja saat dia memutuskan ingin menikahi dirimu, sebenarnya dia masih menjalin hubungan dengan wanita itu. Dia sudah banyak berkorban, Nak. Termasuk mengorbankan perasaannya juga." Ibu Riska mencoba kembali mengingatkan Raina.


"Tapi, Bu .... itu berarti wanita itu juga tersakiti." ucap Raina.


"Dalam hal seperti ini, memang harus ada yang berkorban dan dikorbankan. Percayalah pada Satria, dia tahu apa yang harus dia perbuat. Kamu juga harus lebih bersabar lagi, karena memang pada dasarnya pernikahan kalian tidak didasarkan oleh cinta. Dan sekarang dia mau berusaha untuk mencintaimu dengan cara tetap melanjutkan pernikahan ini. Cinta kalian akan tumbuh dengan sendirinya jika kalian terus bersama nanti. Percaya dengan ucapan ibu." ujar Ibu Riska.


Sebagai seorang ibu, tentu saja Ibu Riska ingin melihat semua anaknya bahagia. Setidaknya dia bisa memberikan masukan yang baik untuk Raina, agar bisa berfikir lebih matang lagi.


Raina terdiam, merenungi semua ucapan ibunya. Setidaknya dia bisa sedikit lega, karena bisa menumpahkan semua kebimbangannya pada orang yang tepat.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2