
Sebulan telah berlalu, usia kandungan Raina sudah memasuki delapan bulan. Raina semakin kepayahan dalam bergerak atau pun melakukan sesuatu karena tertahan dengan perutnya yang semakin tambah besar. Belum lagi jika ia duduk dan harus bangun dari duduknya, Raina merasa penuh dan sesak diperut bagian bawahnya dan terkadang dia juga merasakan nyeri dibagian sensitifnya. Karena, kandungan yang sudah semakin membesar akan membuat jalan lahir semakin mengembang.
Hari ini Raina mulai mengemas beberapa perlengkapan bayinya ke dalam tas khusus perlengkapan bayi yang memang telah ia beli, tidak semua yang ia bawa hanya beberapa. Begitu pun dengan baju-baju miliknya, Raina hanya mengemas baju yang telah ia beli saat itu, karena Raina masih memiliki baju yang tertinggal dikamarnya sendiri dirumah ibunya.
"Mah ...." sapa Raina yang masuk ke dalam kamar mertuanya.
"Iya, Rai ...." jawab Ibu Santi.
"Ehm, Raina akan pulang kerumah ibu hari ini." ucap Raina yang sudah duduk dipinggir kasur mertuanya.
Ibu Santi membenarkan posisi duduknya dan menatap wajah Raina.
"Maafkan, mamah ya, sayang. Seandainya mamah masih sehat dan kuat seperti sebelum menderita penyakit ini, mungkin mamah gak akan biarin kamu pulang. Mamah yang akan mengurus mu dan juga cucu mamah ini." ujar Ibu Santi sembari memegang kedua tangan menantunya.
"Iya, Mah. Raina mengerti." ucap Raina sembari menyunggingkan senyumnya.
"Apa ada orang yang akan menjemputmu nanti?" tanya Ibu Santi.
"Iya, Mah. Raina sudah meminta kak Aldo untuk menjemput Raina nanti malam." jawab Raina.
"Baiklah. Mamah akan merindukan dirimu dan juga masakanmu." ujar Ibu Santi sembari tertawa kecil.
"Mamah, seperti menganggap Raina tidak akan kembali lagi ke rumah ini. Raina akan tetap menjadi menantu mamah, kan?" tanya Raina, yang tentu saja tanpa ia sadari dirinya telah mengeluarkan kata-kata yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Tentu, sayang. Tentu mamah selalu menganggapmu menantu mamah. Dan pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu, kapan saja kamu ingin kembali kesini, mamah akan membukanya lebar untukmu." jawab Ibu Santi yang menatap ada kesedihan dimata Raina.
"Terimakasih, Mah." ucap Raina sembari memeluk tubuh mertuanya.
********
Di kediaman Raina, ibu Riska sibuk membersihkan kamar anak perempuannya yang telah lama tidak ditempati dan tentunya karena Raina akan kembali lagi kerumah itu. Dia akan membuat Raina nyaman dengan kamarnya. Tak lupa dia telah mengganti kasur Raina yang sudah tidak empuk lagi dengan yang baru dan lebih empuk.
Sama halnya dengan ibu Santi, dirinya pun sangat antusias menanti kehadiran cucu pertama mereka.
Dengan berbekal uang tabungannya selama masih menjadi istri Rio, dan juga beberapa emas dan mobil yang telah ia jual sebelumnya, dirinya dapat memulai hidupnya dengan baik bersama dengan anak-anaknya.
Sehingga sekarang, dirinya dapat memiliki toko kue yang mulai ramai pelanggan, tentunya dapat membuat dirinya mampu untuk membeli apa pun dan memenuhi semua kebutuhan keluarganya tanpa takut merasa kekurangan seperti dulu lagi. Baginya dengan memberikan yang terbaik demi kebahagiaan anak-anaknya, itu dapat sedikit menebus kesalahannya dulu yang telah meninggalkan anak-anaknya dengan segala kesusahan yang menimpa ketiga anaknya.
*********
Ditempat lain, dipulau dan dikota yang berbeda. Disini lah tempat Satria bekerja. Satria masih merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Raina darinya. Mengingat siang itu, dirinya mendapat pesan dari Raina jika Raina akan pulang kerumah orangtuanya hari itu. Membuat Satria semakin salah paham dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya.
__ADS_1
"Apa memang dia ingin menghindar dariku? Apa mungkin setelah dia melahirkan nanti, dia tidak ingin melanjutkan pernikahan ini lagi?" Satria bertanya-tanya dengan hatinya sendiri.
Yang sebenarnya apa yang dia pikirkan sangat bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan oleh Raina.
*********
Matahari sudah berarak pergi berganti dengan biru gelapnya langit dan bintang-bintang yang mulai bertaburan serta cahaya terang dari sang rembulan.
Raina sudah siap dengan segala perlengkapannya yang akan ia bawa. Ditengah-tengah makan malam bersama dengan mertua serta adik iparnya, terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah mertuanya.
"Apa itu kakak kamu yang sudah menjemput?" tanya Ibu Santi.
"Sepertinya iya, Mah. Biar Raina lihat dulu kedepan." jawab Raina.
Raina pun beranjak dari ruang makan melangkahkan kakinya keluar melihat siapa yang datang. Benar, dugaannya sang kakak telah Menjemputnya.
"Assalamualaikum ...." ucap Aldo dari luar.
"Walaikumsalam ...." jawab Raina yang membuka pintu.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Aldo.
"Kakak sudah makan sebelum kesini. Kalau kamu masih makan, sana lanjutkan makanmu. Kakak akan menunggumu disini." jawab Aldo sembari duduk disofa ruang tamu.
"Ok. Raina tinggal ke dalam dulu ya, Kak." ucap Raina.
Aldo hanya menganggukan kepalanya dan membiarkan adiknya kembali masuk ke ruang makan.
"Apa benar Aldo sudah datang?" tanya Ibu Santi yang masih berada diruang makan.
"Iya, Mah." jawab Raina yang kembali duduk dikursi nya.
"Kenapa tidak diajak masuk untuk makan malam bersama?" tanya Ibu Santi lagi.
"Kata kak Aldo, dia sudah makan dirunah sebelum kesini." jawab Raina.
"Oh, selesaikan makanmu. Mamah akan menemaninya didepan." ucap Ibu Santi.
Raina kembali memakan makanannya yang sempat tertunda tadi. Sejenak dia berfikir, jika ini adalah makan malam terakhir bersama dengan keluarga Satria dirumah itu.
Raina segera membereskan sisa-sisa makan yang ada dimeja makan dan mulai mencucinya. Tanpa sadar, air matanya kembali menetes.
__ADS_1
"Ah, kenapa akhir-akhir ini aku sensitif sekali." gumamnya sembari menyeka air matanya dengan tersenyum getir.
"Kak Raina, biar Bara saja yang mencucinya. Kak Raina pergilah keluar dan persiapkan semua barang kakak." ucap Bara yang tiba-tiba datang ke dapur.
"Apa kamu mengusirku? Apa kamu tidak ingin melihat ku lagi disini? Biarkan aku membersihkan ini semua sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah ini untuk terakhir kalinya." Raina terus berucap tanpa sedikit menoleh ke arah adik iparnya.
"Kak ... aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati kakak. Maafkan aku jika ucapan ku tadi sudah membuat kakak bersedih. Kakak tetaplah kakak iparku yang terbaik dan pastinya kak Satria pun menginginkan hal yang sama denganku. Percayalah, kak." ucap Bara yang merasa bersalah.
"Ehm, tahu apa kamu tentang perasaan kami berdua?" tanya Raina yang menatap wajah Bara dan sembari tersenyum sinis.
"Hehe, Bara hanya menebaknya." jawab Bara sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jika kakak tidak ada disini, jagalah mamah dengan benar, perhatikan makan dan obatnya. Dan kamu jangan suka keluyuran malam lagi." ucap Raina memberi nasihat kepada adik iparnya itu.
"Iya, kakak iparku yang cantik. Yah ... aku tidak bisa makan nasi goreng terenak buatan kakak lagi, donk." ujar Bara dengan memasang wajah sedih.
"Hahaha, jika kamu merindukan nasi gorengku, kamu bisa datang kerumah kakak." ucap Raina sembari memukul pelan kedua pipi Bara.
"Yes, terimakasih, Kak." ucap Bara kemudian.
"Ayo, kita keluar. Bantu kakak mengeluarkan barang-barang yang mau kakak bawa." ucap Raina.
"Oke." sahut Bara dengan menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.
Keduanya lalu keluar meninggalkan dapur. Raina sudah berada dikamarnya dan Bara membantu membawakan barang-barang Raina dan meletakkan nya didalam bagasi mobil milik ibu Riska yang dibawa Aldo.
Raina masih duduk dipinggiran kasurnya.
"Aku akan merindukan kamar ini." gumamnya sembari menepuk-nepuk kasurnya, lalu beranjak keluar meninggalkan kamar itu.
"Apa semua yang kamu perlukan sudah kamu bawa, Rai?" tanya Ibu Santi.
"Iya, Mah. Sudah semua. Mah ... Raina pamit, ya. Mamah jaga kesehatan dan jangan lupa untuk meminum obat mamah." pamit Raina.
"Iya, sayang. Kamu baik-baik disana." jawab Ibu Riska.
Aldo pun ikut berpamitan pada mertua dan juga adik ipar adiknya. Setelah itu, mereka pun masuk kedalam mobil. Dan mobil pun mulai meninggalkan kediaman Satria.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate untuk karya author βΊοΈ Dan jika kalian berkenan berikan tip juga ya untuk author ini ππ€
Dukungan kalian sangat berarti untuk author ππ
__ADS_1