
Pagi bersambut, semua sudah siap untuk melakukan aktifitas masing-masing. Raina pun sudah siap untuk berangkat kerja.
Namun, entah kenapa dirinya tampak kebingungan mencari sesuatu. Sementara Aldo dan Raka sudah berangkat terlebih dulu.
"Kamu kenapa sih, Rai? Dari tadi ibu lihat kamu mondar-mandir gak jelas gitu!" tanya Ibu Riska memperhatikan kebingungan Raina.
"Bu, apa Raka berangkat sekolah membawa motor Raina?" Bukannya menjawab, Raina malah balik bertanya kepada ibunya.
"Gimana sih, bukannya motor kamu tinggal diresto kemarin? Kamu kan, bareng ibu pakai mobil kemarin." ucap Ibu Riska.
"Ya ampun, Raina lupa, Bu." sahut Raina sembari menepuk dahinya.
"Belum tua juga sudah pikun. Lagi pula gak mungkin juga adik kamu yang membawa motormu, sedangkan kunci nya saja sama kamu." Tunjuk Ibu Riska ke arah kunci yang berada di tangan Raina.
Raina tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Ayo, berangkat bareng ibu!" ajak Ibu Riska.
Dan kini mereka pun sudah berada didalam mobil yang dikendarai sendiri oleh Ibu Riska.
Mobil melaju, banyak sekali kendaraan yang lalu lalang. Jalan mulai tampak macet karena ini waktunya semua orang melakukan aktifitas nya.
"Ibu mahir juga ya, mengendarai mobil nya. Ibu sudah lama bawa mobil sendiri?" tanya Raina yang mengagumi kemahiran ibunya.
__ADS_1
"Baru dua tahun ini ibu bawa mobil sendiri, sebelum-sebelumnya ya, ibu selalu bareng sama ayah tiri kamu kemana pun beliau pergi ibu selalu diajak sama beliau." ungkap Ibu Riska.
"Ibu sangat berbeda sekarang, lebih seperti ibu-ibu sosialita yang ada di televisi dan di media sosial." ucap Raina sembari memperhatikan gaya dan cara bedandan ibunya.
"Hehehe, ibu awalnya juga canggung berdandan seperti ini, tapi mau gimana lagi? Ibu selalu mendampingi ayah tirimu menemui rekan-rekan kerja beliau, ibu harus menjaga penampilan ibu agar beliau tidak merasa malu dengan teman-temannya. Dan akhirnya, ibu terbiasa deh, seperti ini." terang Ibu Riska.
Tampak sekali keakraban diantara ibu dan anak tersebut. Raina pun sudah mulai leluasa bercerita tanpa rasa canggung lagi dengan ibunya.
"Bu, kenapa ibu mau dijadikan istri kedua beliau dan hanya dinikahi siri?" tanya Raina, yang tiba-tiba membuat Ibu Riska bercerita tentang kehidupannya sebelum ia menjadi seperti sekarang.
*****
Beberapa tahun lalu
Seorang wanita berjalan sendiri ditengah rintiknya hujan, membawa tas jinjing yang berisi beberapa lembar pakaian nya. Hanya itu yang dapat dia bawa setelah keluar dari rumah yang memberinya sejuta kenangan di dalamnya.
Dia berjalan tak tentu arah, ada sekelebat penyesalan dihati nya. Bagaimana bisa dia meninggalkan ketiga anaknya? Ya, hatinya sudah dipenuhi dengan sejuta ambisi, ingin keluar dari kemiskinan mencari keberuntungan diluar sana yang dia sendiri tidak pernah tahu dijalan mana dia akan berada nantinya. Yang terpikir hanyalah tentang kekayaan.
Mata dan hatinya telah dibutakan oleh seseorang yang menurutnya akan mengubah nasibnya. Hingga dengan tega ia meninggalkan seorang suami yang sangat sabar menghadapi sikapnya.
Langkah kakinya terhenti pada sebuah rumah megah.
"Ya, ini benar rumahnya." Dia kembali memperhatikan alamat yang tertera dikertas yang ia pegang.
__ADS_1
Dia memperhatikan sekeliling rumah yang tampak sepi. Memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu rumah yang ada dihadapannya.
Tok.... Tok.... Tok...
Tak ada yang menyahut dan membukakan pintu untuknya. Hingga ia mengulang beberapa kali ketukan.
Jegrek, pintu terbuka tampak seorang wanita yang berusia lebih tua diatas nya membukakan pintu tersebut.
"Maaf, dengan siapa dan ada perlu apa, ya?" tanya wanita itu.
"Saya Riska, benar ini rumahnya ibu Desi?" Kembali bertanya pada wanita tua didepan ya.
"Iya, betul."
"Apa ibu Desi nya ada dirumah? Saya ingin bertemu dengan nya." tanya Riska lagi.
"Silahkan masuk dulu, sebentar saya panggil kan ibu." ucap wanita tua itu yang merupakan pembantu dirumah tersebut.
Riska memasuki rumah besar itu. Memperhatikan seisi ruangan, duduk disofa yang sangat nyaman, yang seumur-umur baru dia rasakan.
"Wah, benar-benar hidup enak sekarang Desi." Dia berdecak kagum melihat barang-barang mewah yang terpajang disetiap sudut ruangan.
Desi adalah teman Riska semasa ia sekolah. Kehidupan keduanya tidak jauh beda, sama-sama berasal dari keluarga yang tidak mampu. Hingga Desi bekerja untuk seseorang yang merubah hidupnya menjadi seperti sekarang. Sebenarnya sebelum Riska menikah, Desi pernah mengajak nya untuk ikut bekerja dengannya, namun ia tolak karena ia tahu pekerjaan apa yang digeluti temannya itu. Hingga ia memilih untuk menikah dengan lelaki pilihannya yang ternyata tidak bisa memberikan keindahan yang seperti ia impikan.
__ADS_1
Bersambung