
Renita membenarkan posisinya dan keluar dari dekapan Ridho.
"Terimakasih." ucapnya dengan tersipu malu.
"Ehm ... sama-sama. Lain kali kalau jalan itu hati-hati, jangan sampai tersandung lagi." ketus Ridho.
Renita melongo saat mendengar ucapan Ridho dengan nada ketus.
"Hei, ini juga gara-gara tim mu yang tidak becus dalam bekerja. Lihat saja, kabel-kabel ini dibiarkan seperti ini tanpa ditutupi karpet." sungut Renita tak mau disalahkan.
Sejak tragedi Renita yang terjatuh dan adegan tatap-tatapan mereka, Ridho sama sekali lupa untuk berkenalan lebih lanjut dengan Renita. Dia hanya mengagumi sosok Renita tanpa mengenal perempuan itu lebih dalam. Hingga Renita akhirnya kembali ke pulau B.
Flashback Of
Satria tertawa setelah mendengar cerita sahabatnya itu, bahwa pada kenyataannya sahabatnya itu bukan hanya belum menyatakan perasaannya pada perempuan yang ia suka. Bahkan Ridho sama sekali belum mengenal perempuan yang dikagumi nya itu lebih dalam.
"Kenapa kamu menertawakan diriku?" tanya Ridho yang heran.
"Ya, gimana aku gak ketawa ... kamu aja belum kenal banget sama itu perempuan, bagaimana bisa kamu percaya diri sekali mengatakan dia sebagai calon istrimu?" Satria geleng-geleng kepala menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Entah, aku hanya feeling aja. Aku percaya suatu saat nanti aku akan kembali bertemu lagi dengannya." ujar Ridho.
"Sudah ah, aku mau siap-siap dulu. Sana, kamu mandi dan siap-siap antar aku kerja." titah Satria.
"Hei! Enak sekali kamu memerintah diriku? Sangka mu, aku ini supir pribadi mu apa?" gerutu Ridho yang kesal dengan sikap sahabatnya itu.
Sementara Satria tetap melenggang pergi meninggalkan Ridho yang terus saja mengoceh.
*********
Di kediaman Raina.
Pagi itu, Raina mengajak Al untuk jalan-jalan keliling kompleks perumahan menggunakan stroller bayi.
Pagi yang cerah dengan udara yang masih segar, cocok sekali untuk Al. Raina terus saja mendorong pelan stroller yang membawa Al. Beberapa orang yang berpapasan dengan Raina, berhenti sejenak untuk menyapa Raina dan juga Al.
"Wah, Mbak Raina lama gak keluar rumah, tahu-tahu anaknya sudah tambah gede aja. Mana tambah ganteng dan montok lagi." ucap salah seorang tetangga yang gemas dengan Al.
"Iya, Bu. Alhamdulilah, Al anaknya sehat dan kuat ASI-nya." ujar Raina.
"Bagus itu, Bu. Kalau bisa tetap kasih ASI sampai umurnya dua tahun nanti. Oh ya, saya kok ... jarang melihat bapaknya Al?" tanya Ibu itu.
"Suami jarang menginap disini, Bu. Karena suami juga sambil mengurus ibu mertua saya yang lagi sakit. Jadi, waktunya dibagi-bagi deh." jawab Raina berbohong.
"Oh, seperti itu. Semoga cepat sembuh ya, mertuanya. Biar kalian bisa kumpul lagi. Karena kalau jauh dari suami itu gak enak, Mbak. Meskipun masih tetap satu kota." ucap Ibu itu.
"Amin." balas Raina sembari tersenyum.
"Kenapa bukan Mbak Raina saja yang kembali tinggal dirumah mertuanya?" tanya salah seorang ibu lainnya.
"Ehm ... mertua saya susah tidur kalau dengar ribut-ribut, Bu. Saya takut kalau saya disana, terus Al menangis tengah malam takut mengganggu tidur beliau." jawab Raina kembali berbohong.
"Yang sabar ya, Mbak." ucap Ibu itu.
__ADS_1
"Iya, Bu. Permisi, saya duluan ya, ibu-ibu." ucap Raina pamit pada kedua ibu yang terus saja bertanya pada Raina.
Raina sebenarnya sudah sangat malas untuk meladeni kedua ibu-ibu itu. Tapi, dia tetap berusaha tenang dan sopan menghadapi para tetangganya itu. Meskipun, dia harus berbohong menutupi kenyataan yang sebenarnya. Karena memang dirinya tidak mungkin untuk membuka aib prahara rumah tangganya pada orang lain.
Sesampainya dirumah, Raina segera bergegas memandikan Al dan juga memberikan ASI pada anaknya itu. Setelah Al, kenyang, Al pun tertidur. Kini giliran Raina yang membersihkan tubuhnya.
Kucuran air membasahi tubuh Raina dan entah kenapa beberapa pertanyaan ibu-ibu tadi tiba-tiba kembali terlintas dikepalanya. Raina berdiam diri, menghentikan ritual mandinya. Dirinya kembali merenungkan hidupnya. Tanpa dia sadari, dirinya sudah terlalu lama berdiam diri sampai tidak mendengar jika Al menangis.
Gedoran pintu kamar mandi, dan suara seseorang yang tak lain adalah suara ibunya berhasil membuyarkan lamunannya.
"Raina ... Raina! Sedang apa kamu di dalam sana?" tanya Ibu Riska dengan kencangnya menggedor pintu kamar mandi.
"Ehm ... Raina buang air, Bu. Sebentar lagi selesai." jawab Raina berbohong.
Dengan cepat dia kembali membersihkan busa-busa sabun yang masih menempel ditubuhnya dan langsung menyambar handuk untuk membalut tubuhnya.
Raina keluar dari kamar mandi, mendapati Al yang masih berada didalam gendongan ibunya.
Ibu Riska kembali menangkap sesuatu yang sedang disembunyikan dari anak perempuannya itu. Ibu Riska melihat wajah sedih Raina. Tak hanya sekali, dirinya sering mendapati Raina yang sedang melamun sendiri dengan tatapan kosong.
"Maaf ya, sayang ... bunda kelamaan ya, dikamar mandinya? Sampai dedek nangis." ucap Raina sembari mengelus pucuk kepala Al.
"Cepat kenakan pakaianmu, Al sudah ingin menyusu." titah Ibu Riska.
"Iya, Bu." Raina mengambil pakaiannya dan bergegas mengenakannya diruang ganti.
Setelah itu, dia keluar dan langsung mengambil Al dari gendongan ibunya. Raina duduk dipinggiran kasur dan mulai menyusui anaknya itu.
"Rai ... ibu ingatkan lagi sama kamu, jangan kebanyakan melamun dan berfikir hal-hal yang negatif. Kamu harus yakin, bahwa semuanya akan baik-baik saja." ucap Ibu Riska mengingatkan Raina.
Ibu Riska pun keluar dari kamar Raina, meninggalkan Raina yang hanya berdua saja dengan Al.
"Ini gak bisa dibiarin, Satria harus cepat mengambil keputusan." gumam Ibu Riska yang sudah keluar dari kamar Raina.
Raina memang merasa senang saat tahu jika Satria akan tetap dengan keputusan awalnya, yang akan tetap melanjutkan pernikahan mereka. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa Raina maupun keluarganya juga masih harap-harap cemas menunggu hasil perundingan Satria dengan ibu Santi yang tak lain adalah ibunya Satria. Yang sampai dengan detik ini, Satria belum memberikan kabar pada mereka semua.
********
Dikediaman Satria.
Ibu Santi terbangun dari tidurnya dan kembali tak menemukan keberadaan anak sulungnya pagi itu.
"Bara, apa kakak kamu sudah berangkat kerja dari tadi?" tanya Ibu Santi pada Bara yang bersiap untuk berangkat sekolah.
"Sepertinya begitu. Karena dari tadi, Bara juga gak ada lihat kak Satria. Bara, pamit berangkat sekolah dulu ya, Mah." jawab Bara dan disertai dengan mencium punggung tangan mamahnya penuh takzim, berpamitan dengan wanita paruh baya itu.
"Iya, kamu hati-hati." ucap Ibu Santi sembari mengantarkan anak bungsunya itu sampai diteras rumah.
Bara mengeluarkan sepeda motornya dan disambut oleh pak Darman yang membukakan pagar rumah untuk Bara.
"Pagi, Mas Bara." sapa Pak Darman.
"Pagi juga, Pak." balas Bara sembari menganggukan kepalanya dan kemudian bergegas meninggalkan rumah dengan sepeda motornya itu.
__ADS_1
Setelah Bara keluar dari halaman rumah, Pak Darman kembali menutup pagar rumah majikannya itu. Dan menghampiri majikannya yang masih berdiri diteras rumah untuk menyampaikan pesan Satria semalam.
"Maaf, Bu. Semalam mas Satria titip pesan, kalau mas Satria menginap di apartemen mas Ridho. Semalam ibu sudah tertidur, jadi mas Satria takut mengganggu tidur ibu." ucap Pak Darman.
"Kira-kira jam berapa dia pergi, Pak?" tanya Ibu Santi.
"Kalau tidak salah, mungkin jam setengah sembilan atau tidak jam sembilan malam, Bu. Sekitar jam segitu mas Satria pergi menggunakan ojek online." jawab Pak Darman.
"Pakai ojek online? Kenapa dia gak pakai sepeda motornya sendiri?" tanya Ibu Santi lagi sembari mengernyitkan dahinya.
"Kan, kemarin sore mas Satria pulangnya diantar sama kakaknya mbak Raina pakai mobil, Bu. Katanya, sepeda motornya ditinggal dirumah mbak Raina." jawab Pak Darman.
"Ehm, Ok." balas Ibu Santi dan kemudian langsung membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya di jam saat Satria pergi, ibu Santi belum tertidur. Dirinya masih berkutat dengan buku bacaannya yang rutin ia lakukan sebelum merasa mengantuk. Dan Satria telah berbohong pada Pak Darman.
"Bagaimana anak itu bisa tahu kalau mamahnya sudah tidur, sedangkan dia saja tidak ada masuk ke kamar mamahnya." gumam Ibu Santi sembari terus berjalan.
Ibu Santi yang kini sedang duduk disofa ruang keluarga kembali berfikir.
"Sepeda motornya Satria, dia tinggal dirumah Raina dan dia pulang diantar Aldo. Itu artinya, kemarin pagi Satria dan Aldo pergi bersama ke pulau D menemui Awan. Oh, pantas saja dia bersikap seperti ini, ternyata ...." gumam Ibu Santi yang menyandarkan tubuhnya pada badan sofa dan menyedekapkan kedua tangan didadanya.
*****
Satria dan Ridho sudah didalam mobil. Satria sengaja meminta sahabatnya itu untuk mengantarkan nya ke tempatnya bekerja, karena searah dengan kantor Ridho.
"Kemana sepeda motormu? Semalam aku bertanya, kamu belum menjawabnya. Kalau begini kamu menyusahkan aku saja." Ridho kembali mengulang pertanyaannya semalam yang tak mendapat jawaban dari sahabatnya itu.
"Oh, sepeda motorku ada dirumah Raina." jawab Satria.
"Kenapa kamu gak pakai mobil saja? Bukannya kamu juga memiliki mobil?" tanya Ridho lagi.
"Itu bukan mobilku. Itu mobil mamah, karena itu bukan dari hasil jerih payahku sendiri." jawab Satria.
Ridho terdiam ketika mendengar jawaban dari sahabatnya. Dia tak lagi menanyakan perihal sepeda motor atau pun mobil Satria.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan lagi untuk meluluhkan hati mamah mu?" tanya Ridho yang mengalihkan pembicaraan.
Satria menatap lurus ke arah jalan didepannya.
"Aku akan meminta bantuan pakde Suseno. Pulang kerja nanti, aku akan menemui beliau dirumahnya." jawab Satria.
"Semangat! Aku akan membantu mu dengan doa terbaik ku." ucap Ridho sembari menepuk bahu sahabatnya itu.
"Terimakasih." balas Satria dengan membalas menepuk bahu Ridho dan tersenyum pada sahabatnya itu.
Keduanya kembali terdiam dan sama-sama kembali menatap lurus ke depan jalan.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π