Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kedatangan Sandra


__ADS_3

Hari-hari ku lalui dengan baik. Hari dimana aku menghabiskan waktuku di dalam kantor, duduk manis di depan komputer, merekap data keuangan resto. Jam kerja pun ikut berubah, yang biasanya harus berganti shift tiap minggunya, kini aku hanya bekerja di satu shift saja. Masuk kantor jam 08.00 pagi dan pulang jam 17.00 sore, begitu pun dengan hari libur yang sesuai dengan hari libur di kalender nasional.


Dan ku rasa uang tabunganku sudah cukup untuk mendaftar kuliah di tahun depan. Senang rasanya, tinggal beberapa bulan lagi aku akan menjadi mahasiswa.


*********


Tok ..... Tok ..... Tok .....


Terdengar suara pintu kantor diketuk, tak lama masuk lah orang yang mengetuk nya.


"Ternyata Sandra." gumamku


"Assalamu'alaikum, ibu admin ... hehehe ...." sapa nya sembari terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Walaikumsalam, hahaha ... kamu ini, San, ada-ada aja." jawabku yang juga ikut tertawa.


"Apa kabar nih, kamu?" tanya nya.


"Alhamdulilah, baik ... kamu sendiri gimana? Sudah lama banget lho, kamu gak kesini, San." ucapku.


"Alhamdulilah, baik juga, kok. Iya, nih, sekarang sudah mulai padat kegiatan dikampus. Belum lagi dengan tugas-tugas yang memeras otak." ungkapnya.

__ADS_1


"Seru ya, yang sekarang jadi mahasiswa, hehe ...." ucapku sembari tertawa kecil.


"Ya, begitulah. Kamu kan, gak lama lagi juga bakal ngerasain apa yang aku alami. Gimana? Sudah fix kan, daftar kuliah tahun depan?" tanya nya.


"Insya Allah ...." jawabku sembari tersenyum padanya.


"Turun, yuk! Kamu betah banget di dalam kantor sendirian." ucap Sandra mengajak ku turun ke resto.


Ya, sejak kejadian itu, aku lebih menyukai ruangan kerja ini ketimbang berada di resto. Dan biasanya aku hanya turun saat akan makan siang. Dan itu pun tidak terlalu lama, hanya sekedar makan, lalu langsung lanjut naik ke kantor lagi. Semua karena keadaan sudah tidak senyaman dulu lagi.


Semua sudah aku duga akan seperti ini jadi nya. Mereka mengganggapku sebagai karyawan yang sangat di anak emaskan oleh bunda Eva.


"Biarkan lah dan jangan mendengar omongan orang lain, yang penting kamu kerja baik saja dan tetap lah menjadi diri sendiri." Itu pesan bunda Eva yang selalu diucapkan kepadaku.


"Eh, mau kemana?" tanyaku heran.


"Kita makan di belakang aja, jadi langsung pesan sama orang dapur." ajak Sandra.


"Gak, ah ... disini aja!" tolak ku sembari menahan langkah Sandra untuk tidak melanjutkan niatnya.


Namun sepertinya usahaku tidak berhasil, orang yang ditahan tidak mengindahkan penolakan ku. Dan tetap saja terus berjalan dan menarik lenganku agar aku mengikutinya.

__ADS_1


Sesampainya di pintu dapur, aku kembali menghentikan langkahku.


"Kamu tuh, kenapa sih? Aneh banget dari tadi." ucap Sandra.


"Hmmm, aku balik aja ya, San." tolak ku lagi.


"Apaan sih? Sudah disini juga. Ayo, masuk!" Sandra kembali menarik paksa lenganku untuk tetap masuk ke dapur.


Deg...


"Ternyata hari ini dia kerja shift pagi" batinku ketika melihat mas Awan yang berada di balik meja bar.


"Hai, Mas." sapa Sandra pada kakak sepupunya itu.


"Hai, San." jawabnya sembari melirikku dan tersenyum kecut.


Tatapan kami kembali bertemu. Tercipta kecanggungan diantara kami berdua. Meskipun hati telah memaafkan, namun ingatanku tak bisa mengingkari bahwa masih tersimpan di memori ku tentang kejadian saat itu.


Sandra melirik secara bergantian ke arahku dan Mas Awan. Seakan dia mencari tahu, ada apa dengan kami berdua.


Ahh ... Iya, dia tidak pernah tahu dengan kejadian saat itu. Biarlah cukup diriku yang tahu sifat buruk kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2