
Di depan pintu kantor, ku atur nafasku yang memburu agar tidak nampak ada sesuatu yang sedang terjadi padaku.
Tok.... Tok.... Tok...
Setelah ku rasa tenang, aku mengetuk pintu kantor dan mulai melangkah masuk.
"Assalamualaikum, Bu ...." sapaku pada Bunda Eva yang sudah menunggu.
"Walaikumsalam, mari duduk sini, Rai," jawab Bunda Eva sembari mempersilahkan aku duduk.
"Pasti kamu bertanya-tanya, kenapa saya panggil kamu kesini?" Seolah tahu apa yang ada diotakku, Bunda Eva menanyakan apa yang sudah ada dipikiranku sedari tadi.
"Hehehe ... Iya, Bu, kenapa ya?" tanyaku
"Begini, Rai ... selama ini kan, yang urus semua keuangan resto itu saya sendiri, saya cukup kerepotan beberapa bulan ini. Apa lagi kamu tau sendiri, kan? kalau saya ada bisnis lain yang harus saya kerjakan dan itu gak bisa saya tinggalkan." terang Bunda Eva
Sementara aku hanya menganggukkan kepalaku sembari mendengarkan penjelasan Bunda Eva dengan seksama.
"Dan kesimpulan nya, saya lagi butuh admin untuk mengurus bagian kantor. Kamu bisa kan, bantu saya?" lanjut Bunda Eva.
"Maksud Ibu, saya jadi adminnya, Ibu?" tanyaku
"Iya, Rai ... Kamu mau kan?" Bunda Eva kembali bertanya padaku.
"Bukannya saya mau menolak ya, Bu, tapi kan, masih ada Gina atau Desi yang lebih dulu bekerja disini. Apa ini gak membuat mereka cemburu, kalau saya menerima tawaran dari Ibu? Saya gak enak, Bu sama mereka" ungkapku ragu.
"Ini bukan masalah karyawan lama atau baru, Rai ... saya yang menilai kinerja kalian, saya melihat beberapa kali kamu membantu Gina merekap data kasir, dan saya lihat kamu sangat teliti dalam perhitungan. Kamu kan, juga lulusan akuntansi yang biasa mempelajari pendapatan dan pengeluaran pasti kamu sudah paham tentang keuangan." jelas Bunda Eva.
"Hemm ... tapi itu kan, pelajaran disekolah, Bu, pasti berbeda kan, dengan pekerjaan." ucapku.
__ADS_1
"Beda sedikit, kalau sudah ada dasar di akuntansi pasti lebih mudah memahami nya, saya akan mengajarimu untuk tiga hari kedepan, percayalah dengan kemampuan mu, Rai." ucap Bunda Eva sembari tersenyum meyakinkan ku.
"Baik, Bun. Raina mau mencoba nya." ucapku membalas senyuman nya
Tanpa disadari, ini semua adalah ide Sandra yang menyuruh bundanya untuk menaikkan posisi Raina, agar Raina bisa lebih cepat mengumpulkan biaya kuliahnya dan bisa berkuliah ditahun yang sama dengannya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Raina ..." panggil Mas Awan.
Ternyata sedari tadi Mas Awan sudah menungguku didapur. Aku pun menoleh dan tersenyum kepadanya. Aku berusaha setenang mungkin, pura-pura tidak mengetahui apa yang sudah aku lihat tadi.
"Hai, Mas ...." sapaku.
"Kamu dari mana aja? Bukannya kamu duluan yang masuk ke resto?" tanya nya.
"Ehm, tadi di panggil Ibu Eva ke kantor." jawabku.
"Gak, tenang aja." jawabku.
"Hmmm ... Ayo, Rai, ikut aku!" ajak nya yang langsung menarik lenganku.
"Mau kemana? Sebentar lagi masuk jam kerja, lho" ucapku seraya mengikuti dirinya yang masih menari lenganku.
Mas Awan tak menjawab pertanyaanku, ia terus menarik lenganku, memaksa aku untuk terus mengikutinya. Hingga langkahnya terhenti didepan sebuah gudang dibelakang resto yang tidak jauh dari rumah Pak Abdul, wakar resto.
"Kenapa Mas Awan bawa aku kesini?" tanyaku.
Kali ini, Mas Awan menatap lekat diriku dan menggenggam erat tanganku dan membuatku tidak merasa nyaman dengan situasi seperti ini.
__ADS_1
"Gak apa-apa, aku hanya ingin ngobrol berdua dengan mu tanpa ada yang mengganggu." jawabnya dengan senyuman yang membuat aku takut.
"Maaf, Mas, tolong dilepas tangannya." ucapku sembari menepis genggaman tangannya.
"Kenapa, Rai? Oh, iya, gimana tentang pertanyaanku semalam? Apa kamu sudah dapat jawabannya?" tanya nya sangat berantusias.
"Maaf, Mas, untuk saat ini aku belum bisa nerima kamu sebagai pacar. Aku ingin kita seperti biasa aja, kita berteman. Mungkin itu lebih baik. Aku hanya ingin fokus pada pekerjaanku saja, agar aku bisa kuliah ditahun ini." ungkapku.
Mas Awan terdiam, nampak mata tajam nya menyiratkan kekecewaan.
Aku berbalik, beranjak dari tempat itu. Karena jam kerja sudah dimulai. Baru beberapa langkah kaki ku beranjak, Mas Awan kembali berucap.
"Jangan munafik kamu, Raina! Sok-sok an nolak aku. Memang kamu pikir, kamu itu siapa? Kamu sama aja sama semua cewek lainnya, paling juga kalau kamu lihat uang, kamu gak akan nolak!" ucapnya menusuk hatiku.
Aku hentikan langkahku, berbalik mendekati nya dengan berusaha tetap tenang.
" Maaf, saya tidak seperti yang anda pikirkan. Saya bukan seorang gadis murahan yang bisa kamu bayar dengan uang. Hm, dengan kamu bersikap seperti ini, aku semakin yakin dengan keputusan ku bahwa kamu bukan lelaki yang tepat untukku. Kamu gak lebih dari seekor bunglon yang pandai bermanipulasi." ucapku dengan bibir bergetar.
Entah darimana keberanian itu muncul, hingga membuatku mampu berkata seperti itu. Ku tinggalkan dirinya yang masih terdiam disana. Air mata yang sedari tadi ku tahan, kini sukses mengalir. Sakit hatiku dengan semua ucapan kasar nya.
Tak ada lagi rasa hati yang bergetar seperti awal aku bertemu dengannya, tak ada lagi kupu-kupu yang menggelitik perutku saat berdekatan dengannya, hanya ada rasa perih yang aku rasakan saat ini.
"Haruskah, sesakit ini yang aku rasakan?" batinku.
Sakit karena perkataan yang keluar dari mulut seseorang yang pernah ku kagumi, seseorang yang membuat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Bersambung.....
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Kasian ya Raina nya, baru aja senang karena diangkat jadi admin sama Bunda Eva, ekh,, ini malah Mas Awan bikin Raina sedih ππ