
Pagi sekali Satria sudah bangun dari tidurnya, akibat semalaman dirinya terus memikirkan ucapan mamahnya dan juga memikirkan perasaan Raina tentunya yang membuat dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak meskipun badannya sudah sangat lelah dipakai lembur bekerja.
Satria segera mandi dan bergegas mengenakan seragam kerjanya. Satria melangkah ke dapur untuk mengambil air minum, ternyata sudah ada mamahnya yang sibuk memasak untuk membuatkan sarapan.
"Sat ... tumben, kamu jam segini sudah rapi? Apa kamu ingin minum kopi? Mamah buatin, ya?" tanya Ibu Santi dengan manisnya pada Satria.
"Tidak perlu." jawab Satria datar dan kemudian melangkah pergi.
"Sat ... kamu belum sarapan! Jangan pergi dulu! Ada yang mau mamah bicarakan sama kamu!" teriak Ibu Santi dari arah dapur sembari mengejar Satria, namun Satria tak menggubris panggilan mamahnya itu.
Satria sudah berada diatas sepeda motornya, pagi itu dirinya ingin langsung ke rumah Raina. Satria mengeluarkan handphone dari dalam sakunya dan melakukan panggilan telepon dengan seseorang.
[Bang, sepertinya aku akan terlambat masuk kerja pagi ini, ada keperluan mendadak yang harus aku selesaikan. Aku minta tolong untuk handle pekerjaan yang semalam kita lemburin, pagi ini mau dikirim.] ucap Satria pada saat panggilan baru saja dijawab oleh orang diseberang sana yang tak lain adalah Fadil, helper kepercayaannya.
[Ok, tenang aja.]
[Terimakasih, Bang.]
Panggilan pun diakhiri, Satria mulai menghidupkan mesin sepeda motornya dan kemudian meluncur ke jalan meninggalkan mamahnya yang masih berdiri diambang pintu masuk.
"Mau kemana dia sepagi ini? Hingga menunda untuk masuk bekerja? Dan sampai-sampai mengacuhkan diriku, yang tak pernah dia lakukan sebelumnya." gumam Ibu Santi.
Satria terus memacu sepeda motornya dengan gesit dan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, sehingga dia dapat sampai dirumah Raina dengan cepat.
Satria melangkahkan kakinya, memasuki rumah yang sudah terbuka itu.
"Assalamualaikum ...." ucapnya.
"Walaikumsalam ... Sat, pagi sekali kamu kesini. Ayo, sekalian sarapan bareng dibelakang." balas si empunya rumah yang tak lain adalah Ibu Santi.
"Ehm, Satria mau ketemu Aldo, Bu. Satria tunggu disini aja." jawab Satria, menolak ajakan ibu Riska secara halus.
"Kamu itu kenapa, toh? Ayo, rumah ini akan jadi rumah mu juga nantinya, jadi gak usah sungkan-sungkan. Ayo, ibu gak mau ditolak lagi." ucap Ibu Riska yang tetap memaksa Satria untuk bergabung dengan anak-anaknya dimeja makan.
Satria pun tak dapat menolak lagi, dia berjalan menuju ruang makan mengikuti langkah ibu mertuanya. Satria tidak menyangka, dirinya masih diperlakukan secara baik dikeluarga itu. Meskipun, baru semalam mamahnya memporakporandakan hati keluarga kecil tersebut. Pastinya keluarga ibu Riska sangat merasa harga diri anak perempuannya, tidak dihargai oleh mamahnya.
Aldo menatap kehadiran Satria yang ikut bergabung dengannya dimeja makan, dengan cepat dia mencoba tenang dan tetap mempersilahkan Satria untuk ikut sarapan bersama.
Lain halnya dengan Raina, dia dengan cepat menghabiskan makanannya. Dan kemudian beranjak pergi dari ruang makan.
"Aku duluan, aku mau memandikan Al." ucapnya datar.
Hanya tinggal Raka, Aldo dan Satria yang masih berada dimeja makan. Mereka makan dalam keheningan dan tanpa memandang satu sama lain. Mereka menikmati makanan mereka dalam diam.
__ADS_1
Sementara didalam kamar Raina sudah ada ibu Riska yang menyiapkan perlengkapan mandi untuk Al.
"Bu, biarkan Raina aja yang memandikan Al." ucap Raina.
"Apa kamu sudah menyelesaikan makanmu?" tanya Ibu Riska.
"Sudah, Bu." jawab Raina.
"Apa karena ada Satria jadi kamu sarapan dengan terburu-buru?" tanya Ibu Riska lagi.
Raina hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Kemudian dia membuka baju Al satu per satu untuk memandikan anaknya itu.
"Kamu yang sabar, semoga ada jalan terbaiknya." ucap Ibu Riska dan kemudian keluar meninggalkan Raina.
Kini, Satria dan Aldo sudah berada diruang tamu. Keduanya duduk berhadapan dan berbicara layaknya dua orang pria dewasa. Meskipun sebenarnya usia Aldo lebih muda tiga tahun dibawah Satria, namun disini dia sebagai kakak tertua Raina dan tentunya juga sebagai kakak ipar untuk Satria.
"Apa kamu sudah mendengar isi rekaman yang dikirimkan Raina padamu semalam?" tanya Aldo membuka pembicaraan.
"Iya, sudah. Aku minta maaf atas perbuatan mamahku. Aku gak nyangka beliau akan datang kesini dan berbicara seperti itu." jawab Satria.
"Jadi, kamu sama sekali gak tahu rencananya?" tanya Aldo lagi.
"Gak. Sebelum ini terjadi mamah sempat mendiamkan aku berhari-hari setelah aku meminta Raina untuk kembali melanjutkan pernikahan ini. Dan aku sama sekali gak nyangka, ternyata diamnya beliau karena hal itu." jawab Satria.
"Kalau hal itu aku tidak tahu, karena saat aku bertemu dengannya disana aku telah memberitahukan statusku apa dengan Raina dan aku juga mengatakan padanya untuk tidak mengusik kembali kehidupan Raina setelah dia bebas nanti." jawab Satria.
"Apa kamu tetap ingin melanjutkan kembali pernikahan ini, meskipun kamu mendapat tentangan keras dari ibumu sendiri?" tanya Aldo.
"Pernikahan ini sakral, bukan permainan yang seenaknya langsung main pisah saja. Aku jelas tidak setuju dengan keputusan yang sudah dibuat oleh mamahku dan hal tersebut adalah salah. Aku tidak akan memihak pada orang yang salah, sekalipun orang tersebut adalah orangtuaku sendiri." jawab Satria.
"Saya setuju dengan jawabanmu, Nak Satria. Tapi, bagaimana pun juga ibu Santi adalah ibu kandung mu. Kamu harus tetap menghormati beliau dan luruskan kesalahan yang telah ia perbuat." ujar Ibu Riska yang baru saja bergabung dengan kedua anak lelaki itu.
"Iya, Bu. Terimakasih nasihatnya." ucap Satria.
"Terus, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Aldo.
"Aku mau menemui adikku terlebih dahulu, karena aku curiga bahwa mamah sudah nekat pergi kesana dan mempengaruhi Awan. Setelah itu, baru aku akan membicarakan hal ini lagi dengan mamah. Mungkin, setelah aku dari sana pintu hatinya akan sedikit terbuka dengan penjelasan ku dan juga jawaban dari Awan sendiri." jawab Satria.
"Baik. Kapan kamu akan pergi kesana? Aku akan ikut bersamamu." tanya Aldo.
"Besok pagi kita berangkat." jawab Satria.
Setelah melakukan diskusi yang cukup panjang, kedua lelaki itu pun berpamitan untuk berangkat bekerja.
__ADS_1
Ibu Riska pun segera mendatangi Raina untuk memberitahukan apa yang sudah dibicarakan antara Satria dengan anak lelakinya itu.
"Rai ... ibu harap kamu jangan marah dengan Satria. Dia benar-benar tidak tahu hal itu. Dia benar-benar seorang laki-laki yang bertanggungjawab, Rai. Dia bahkan menentang keras perbuatan mamahnya yang salah itu dan ingin tetap melanjutkan pernikahan kalian." ucap Ibu Riska.
Raina terdiam mendengar penuturan dari ibunya, terbesit rasa bahagia dihatinya setelah tahu apa keputusan yang diambil oleh Satria. Tapi, dirinya juga merasa sedih karena ibu Santi yang tidak merestui kelanjutan pernikahan mereka.
"Jika pernikahan ini tetap berlanjut dan mamah masih berkeras hati, berarti pernikahan kami tidak mendapatkan restu beliau?" tanya Raina.
"Ibu yakin, itu hanya egonya saja yang tinggi. Lambat laun, mertuamu itu akan sadar dan menerima kalian kembali. Terus berdoa agar pintu hatinya terketuk dan melunak." jawab Ibu Riska yang terus memberi dorongan semangat pada anak perempuannya itu.
"Iya, Bu." jawab Raina yang kemudian langsung tersenyum sembari membelai lembut pipi Al yang sedari tadi ikut mendengarkan percakapan antara bunda dan juga neneknya.
*******
Sementara didepan rumah Satria, ada sebuah mobil mewah terhenti tepat didepan rumah besar itu. Dan ternyata ada seorang wanita didalamnya yang terus menatap ke arah rumah berpagarkan kayu yang tinggi.
"Apa benar ini rumahnya?" gumamnya sembari memperhatikan sebuah alamat yang telah berhasil ia dapatkan dari ruang pendaftaran dirumah sakit.
Wanita itu membunyikan klakson mobilnya dan tak lama kemudian, datang seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah pak Darman penjaga rumah sekaligus tukang kebun di keluarga Satria.
Wanita itu menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya, setelah melihat kedatangan pak Darman yang membukakan pagar untuknya.
"Pak, apa betul ini rumahnya Satria?" tanya nya.
"Iya, Mbak. Ini rumah mas Satria. Apa, Mbaknya ada perlu dengan mas Satria?" tanya Pak Darman setelah menjawab pertanyaan wanita muda yang ada dihadapannya.
"Ehm, saya teman lama Satria. Sudah lama sekali saya tidak main-main kerumah ini, jadi saya sedikit lupa dengan rumah ini. Ternyata saya benar dan tidak salah." jawab Wanita itu berkilah.
"Oh, tapi sekarang mas Satria tidak ada dirumah. Mas Satria sudah berangkat kerja pagi tadi." ucap Pak Darman.
"Lain kali saya akan mampir lagi kesini, Pak. Permisi." ucap Wanita itu dan kemudian pergi meninggalkan rumah Satria.
"Setidaknya aku sudah tahu dimana rumahmu." batin wanita itu sembari tersenyum licik.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π
__ADS_1