
"Tidak usah ngeyel dulu, kenapa? Mending kamu itu disini saja dulu, kamu itu juga sakit. Nanti yang ada, kamu tidak bisa menahan emosimu. Kamu sedih dan kepikiran lagi, ingat jantungmu, Dek?" ucap Pakde Suseno menasihati adiknya.
Ibu Santi pun langsung kembali menaikkan kakinya diatas kasur dan juga kembali membaringkan tubuhnya tanpa membantah ucapan kakak tertuanya itu.
"Kalau kamu ingin menemui Bara, sebaiknya nanti jika kondisi mu sudah benar-benar pulih." ucap Pakde Suseno lagi mengingatkan adiknya itu.
"Satria, apa kamu ingin menemui adikmu? Jika, iya. Pergilah, Pakde dan Bude mu disini yang akan menemani mamahmu." titah Pakde Suseno pada Satria.
"Iya, Pakde. Terimakasih, Satria tidak akan lama." ucap Satria yang langsung keluar dari ruang perawatan mamahnya dan langsung menuju IGD.
Sesampainya disana, dia melihat Raina yang duduk disamping adiknya.
"Hai, jagoan. Apa dirimu sudah siap untuk operasi?" tanya Satria.
Awalnya, Bara yang melihat Satria merasa takut jika kakaknya itu akan memarahi nya. Namun, setelah mendapat teguran hangat dari sang kakak, Bara langsung melemparkan senyumannya.
"Tentu siap." jawab Bara bersemangat.
"Bagus lah. Kamu memang adik kakak yang kuat." ucap Satria sembari menonjok pelan lengan atas Bara.
"Ayah ... jangan main tonjok-tonjok gitu, Bara kan masih sakit." ucap Raina memperingatkan suaminya.
"Itu tidak akan menyakitinya, sayang. Aku hanya memukulnya pelan." balas Satria.
"Aw ... ini sakit, Mbak. Mas Satria bohong dia memukulku cukup kuat." Bara pura-pura meringis kesakitan agar mendapatkan perhatian dari kakak iparnya.
"Huh, sialan nih, bocah. Mentang-mentang ada yang membelanya jadi semena-mena. Tunggu sampai kamu sembuh, Mas akan memukulmu sungguhan." gerutu Satria.
"Ayah ... sudah, ah. Yuk, kita keluar. Biarkan Bara istirahat lagi, mumpung masih ada waktu satu jam lagi." ajak Raina sambil menarik tangan sang suami.
Satria pun pasrah mengikuti langkah istrinya untuk keluar dari ruangan itu. Akhirnya, mereka berdua pun kembali duduk dibangku ruang tunggu depan ruang IGD.
Satria melepas tangan Raina yang masih mencengkram lengannya, kini Satria memindahkan tangan istrinya itu ke dalam genggamannya dan menatap lekat wajah Raina.
"Jangan menatap diriku seperti itu. Aku malu." ucap Raina setengah berbisik pada Satria.
"Kenapa harus malu? Kamu kan, istriku." balas Satria tanpa perduli mereka berdua telah dilihati oleh pengunjung rumah sakit lainnya.
"Ini bukan taman, ini rumah sakit. Mereka semua melihat ke arah kita, tahu?" Raina berusaha melepas genggaman tangan Satria yang semakin kuat.
"Bodo amat." sahut Satria.
"Ih, dasar menyebalkan." kesal Raina.
"Kenapa tadi waktu masih di ruang rawat mamah, bunda bicaranya ketus sama ayah? Terus bunda juga pergi gitu aja sebelum ayah memberikan izin kepada bunda?" Satria mencecar istrinya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Hmmm, gak apa-apa." jawab Raina cepat dan mengalihkan pandangannya pada pintu IGD.
"Jujur, pasti ada sesuatu, kan? Apa bunda cemburu?" Satria kembali bertanya pada Raina.
"Ih, dasar suami gak peka sama perasaan istri." gerutu Raina dalam hati.
"Hei, kenapa diam? Berarti benar, kan? Bun ... Bunda harus percaya sama Ayah, kalau hati Ayah hanya diisi oleh cintanya Bunda aja. Gak ada cinta yang lain, yang dapat meruntuhkan perasaan ini. Dan Bunda harus percaya itu, dia hanya masa lalu Ayah. Dan Ayah pun gak akan kembali menoleh ke belakang, karena didepan Ayah sudah ada bidadari hati Ayah." Satria terus merayu Raina, agar perempuannya itu tidak merasa cemburu lagi.
Meski dirinya bukanlah sosok lelaki yang pandai merangkai kata, namun kata-kata yang baru saja ia lontarkan berhasil membuat pipi sang istri merah merona.
" Plis, jangan cemburu-cemburu lagi. Ayo, senyum lagi. Tuh, pipi sudah kayak kepiting rebus merahnya." goda Satria.
"Ih, Ayah ...." Dengan nada manja, Raina mencubit pelan pinggang suaminya dan mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaha, kamu semakin menggemaskan jika seperti itu." Satria kembali menggoda Raina sambil menyentil hidung mancung Raina dengan jari telunjuknya.
Raina menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dan Satria pun dengan senang hati memberikan ruang untuk istrinya itu.
"Aku hanya takut, Mas. Takut, jika Mas jatuh hati lagi dengannya." ucap Raina mencoba jujur dengan perasaannya.
"Tidak, sayang. Dihati Ayah hanya ada dua cinta yaitu Bunda dan juga Al. Jangan berfikir yang aneh-aneh lagi, ya. Ayah gak mau Bunda kembali sakit lagi seperti waktu itu, karena terus-terusan memikirkan hal yang tidak-tidak." balas Satria sembari membelai lembut kepala sang istri.
"Iya, deh. Sudah sana, Ayah balik ke ruangan mamah. Kasihan mamah sendirian." ucap Raina.
"Jadi ceritanya ngusir Ayah, nih?" canda Satria.
"Disana masih ada pakde Suseno dengan bude Yanti yang menemani mamah. Ayah masih ingin bersama dengan istri Ayah disini." ucap Satria.
"Tapi kan, tidak baik jika Ayah juga terlalu lama disini. Gak enak dengan pakde dan juga bude. Mereka pasti juga ingin menengok Bara." ucap Raina mengingatkan suaminya.
"Baiklah, Ayah akan kembali kesana. Bunda hati-hati ya, disini sendiri. Kalau ada yang macam-macam dengan Bunda, Bunda langsung teriak aja." ucap Satria.
"Apaan sih, siapa juga yang mau macam-macam dirumah sakit seperti ini? Lagi pula, gak lama lagi Sandra juga bakal kesini lagi, kok. Jadi, Ayah gak perlu khawatir." balas Raina yang merasa jika suaminya sangat berlebihan.
"Ayah kan, gak mau kalau bidadari Ayah sampai diusilin sama orang." ucap Satria lagi yang membuat Raina jengah mendengarnya.
"Iya, iya, deh." Raina hanya mengiyakan ucapan suaminya, agar suaminya itu lekas pergi ke ruangan mertuanya.
"Ya sudah, Ayah balik dulu, ya." Satria mengacak pelan rambut Raina.
Raina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Beberapa menit kemudian, Pakde Suseno dan istrinya pun datang menghampiri Raina dan ingin menjenguk keponakannya.
"Apa masih sempat Pakde masuk untuk melihat kondisi Bara?" tanya Pakde Suseno sembari mengintip dibalik kaca pintu ruang IGD.
__ADS_1
"Sepertinya masih bisa, Pakde. Dokternya juga belum datang." jawab Raina.
"Yowes to, Pak. Ayo, kita masuk dulu sebelum dokternya datang." ajak Buda Yanti.
Akhirnya, kedua pasangan itu pun masuk sebentar untuk menengok keponakan mereka sebelum operasi. Setelah itu, keduanya pun pamit untuk pulang.
"Raina ... Pakde sama Bude pulang dulu, ya. Kamu yang sabar dan kuat jika menghadapi mertuamu lagi nanti." ucap Pakde Suseno.
"Iya, Pakde." balas Raina.
"Yang sabar ya, Nduk?" ucap Bude Yanti mengelus punggung Raina.
Raina hanya membalas nya dengan senyuman dan juga anggukan kepala. Setelah berpamitan, mereka pun beranjak pergi meninggalkan Raina kembali sendiri.
Selang beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Bara masuk ke dalam ruang IGD untuk memulai operasi pemasangan pen pada tulang kaki Bara yang patah.
Raina hanya menunggu diluar sambil memberitahukan pada Satria melalui pesan. Ditengah-tengah menunggu, Sandra pun datang kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan ditangannya.
"Bara susah dioperasi?" tanya Sandra.
"Ini lagi proses." jawab Raina.
"Nih, kamu makan dulu. Pasti kamu belum makan, kan?" ucap Sandra sembari menyodorkan makanan yang sedari tadi masih ia pegang.
"Terimakasih, sahabat terbaikku. Kamu tahu aja, kalau aku sudah mulai laper." balas Raina yang langsung menerima bungkusan makanan dari Sandra.
"Ya, pastinya, dong. Seorang sahabat itu memang harus peka dan pengertian dengan sahabatnya." balas Sandra.
"Huu, langsung besar kepala kalau dipuji." cetus Raina.
Suasana keakraban mereka kembali hadir, setelah sekian lama keduanya saling disibukkan dengan tugas masing-masing. Raina memakan makanan yang diberikan oleh Sandra sambil berbincang-bincang mengenai kehidupannya sekarang yang sudah menjadi seorang istri dan juga ibu.
Begitu pula dengan Sandra yang juga ikut menceritakan bagaimana dirinya selama kuliah dan menyandang status sebagai seorang mahasiswi.
Tanpa terasa, beberapa jam kemudian telah berlalu. Dokter yang menangani Bara sudah keluar dari ruangan tersebut. Raina dan Sandra pun langsung berdiri dan menanyakan kondisi terkini Bara.
"Bagaimana Dok, dengan operasi adik saya?" tanya Raina.
"Operasinya berjalan dengan lancar dan sekarang lagi persiapan untuk pemindahan pasien ke ruang rawat inap." jawab dokter tersebut.
"Alhamdulilah ... terimakasih, Dok." ucap Raina dan Sandra bersamaan.
Dokter itu pun tersenyum pada kedua perempuan muda yang berdiri dihadapannya.
Sementara itu, Sandra diam-diam memperhatikan dokter laki-laki yang sudah menangani adik sepupunya itu.
__ADS_1
"Ini dokter ... masih muda, pintar, cakep lagi. Tuh, senyum dikasih gula berapa kilo sih, manis banget?" batin Sandra yang mulai mengangggumi dokter muda yang ada didepannya.
Jangan lupa untuk terus berikan like, komen dan vote kalian, terimakasih ππ