
Satria dan Raina kembali menghabiskan waktu pagi mereka masih dengan berada diruang tamu, saling bercengkrama, saling berebut Al yang sudah seperti boneka yang direbutkan oleh kedua orang tuanya. Dan Al sangat menikmati itu, hingga deretan gigi-gigi susu yang tersusun rapi itu terlihat karena Al tertawa begitu girangnya.
"Kamu itu kok, makin lama makin gemesin sih, Dek? Pengen ayah gigit rasanya pipi bakpau mu ini." gemas Satria yang kini memaini Al.
"Jangan dong, Yah? Kan, sakit kalau digigit." ucap Raina.
"Ya sudah, biar Bunda aja yang Ayah gigit sebagai gantinya." goda Satria.
"Apaan sih, Mas? Memangnya aku makanan apa? Pake digigit segala!" gerutu Raina dengan menyebikkan bibirnya.
"Habisnya kamu legit, seperti kue lapis surabaya. Sudah legit, menggigit pula, bikin ketagihan." balas Satria dengan nada yang menggoda sambil menempelkan keningnya dikening Raina dengan masih menggendong Al.
Raina benar-benar tersipu malu dibuatnya, kedua pipi Raina merah merona karena sudah tidak tahan lagi dengan godaan Satria.
"Ternyata Mas pandai menggoda, ya?" sindir Raina.
"Hahaha, gak juga." jawab Satria santai.
"Oya, makan siang mau dibuatin apa Mas?" tanya Raina.
"Kan, Mas sudah bilang ... kamu gak usah capek-capek dulu hari ini. Biar nanti kita pesan lewat online aja makanannya." jawab Satria.
"Tapi ... apa gak boros kalau gitu, Mas? Belum lagi untuk makan malam, mau pesan online juga?" Raina menimbang-nimbang pengeluaran yang menurutnya akan menjadi lebih boros jika harus terus-terusan membeli makanan diluar.
"Mas bekerja untukmu dan juga Al, seberapa pun uang yang akan dikeluarkan jika itu untuk memenuhi kebutuhan kalian Mas dengan ikhlas memberinya. Selama masih dalam batas wajar. Toh, gak setiap hari juga kan, beli makanan jadi. Sesekali itu gak apa-apa, sayang." jawab Satria.
Raina tersenyum mendengar jawaban dari sang suami yang kini terasa mulai berubah. Yang mulai memikirkan dirinya dan tidak hanya Al.
"Tolong kamu gendong Al dulu." ucap Satria sembari menyerahkan Al pada Raina.
Raina pun mengambil alih Al yang berada digendongan Satria. Sementara Satria mengeluarkan dompet yang berada didalam saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah benda pipih.
__ADS_1
"Ini Bunda pegang, jika sewaktu-waktu dibutuhkan Bunda bisa menggunakan uang yang ada disini. Ayah percayakan keuangan rumah tangga Bunda yang kelola." ucap Satria sembari menyerahkan kartu atm nya pada Raina.
"Terimakasih, ayah." jawab Raina yang juga mulai memanggil Satria dengan panggilan ayah.
Satria pun mulai menjelaskan masalah gajinya, merincikan pembagian uang untuk apa saja selama sebulan pada Raina yang akan mulai memegang alih keuangannya. Satria sudah mulai terbuka dengan masalah penghasilannya, tanpa ada yang ia tutupi dari Raina. Karena baginya, sekarang Raina sangat berhak atas semua yang ia miliki. Karena memang semua ia lakukan untuk kedua kebahagiaannya yaitu anak dan juga istrinya.
"Hmmm, apa ayah tidak merindukan mamah?" tanya Raina yang tiba-tiba menanyakan tentang mertuanya.
Satria diam seketika, saat Raina menanyakan tentang kerinduannya terhadap orangtua satu-satunya yang ia miliki sekarang. Tentu, dirinya sangat merindukan ibu yang telah melahirkan dirinya itu.
Raina langsung menjadi gugup karena takut jika pertanyaannya itu salah.
"Maaf, Mas. Raina gak ada maksud untuk mengungkit masalah itu lagi." ucap Raina yang sudah merasa bersalah.
Satria menghela nafasnya secara kasar dan menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"Gak apa-apa, kok. Kalau bunda bertanya bagaimana perasaan ayah? Tentu, ayah sangat merindukan mamah. Tapi, mau seperti apa lagi? Setiap ayah kesana, kehadiran ayah sama sekali gak dilihat sama mamah. Sekarang yang terpenting, ayah selalu tahu keadaan orang dirumah sana kalau semuanya dalam keadaan baik-baik aja. Bara selalu memberikan kabar." jawab Satria.
"Al ... nanti kalau uti sudah baik sama ayah, kita jenguk uti ya, Nak. Pasti uti mu senang banget lihat kamu sudah sebesar ini." ucap Satria pada Al dengan tatapan rindunya.
Raina yang mendengar pun merasa terenyuh dengan ucapan sang suami. Raina mengelus lembut kepala dan mengecup kening Satria, berharap suaminya dapat menyingkirkan sejenak kesedihannya itu.
*********
Hari-hari berlalu, minggu dan bulan pun mulai berganti. Kini si kecil Al sudah berusia lima belas bulan. Al sudah dapat berjalan dengan lancar, sederet gusi yang kosong pun sudah mulai terisi penuh dengan gigi kecil yang putih, kata demi kata mulai lancar ia ucapkan meski terdengar cadel dan masih harus ekstra mengerti apa yang ia katakan. Karena si kecil Al akan merajuk jika kedua orangtua atau siapa pun yang tidak memahami maksudnya.
Raina pun perlahan-lahan sudah mulai bisa mengontrol emosinya, dirinya sudah tidak pernah merasakan takut lagi jika Al harus menangis menjerit-jerit. Dirinya akan bersikap lebih tenang menghadapi sang anak, kesedihan yang berlebih jika mengingat kejadian demi kejadian pahit yang menimpa hidupnya pun sudah berangsur hilang. Dukungan serta semangat dari keluarga kecilnya lah, yang membuat dirinya berusaha untuk puluh dari masa depresinya.
Sedangkan Satria, dirinya menjadi lebih memahami lagi artinya sebuah keluarga. Dia berubah menjadi pria dewasa yang sangat mengayomi anak dan juga istrinya. Satria sudah tidak bersikap kaku lagi, julukan sebagai seorang ayah dan suami idaman pun melekat pada dirinya. Dirinya sangat memperhatikan anak dan juga istrinya, membuat Raina sekarang sudah tidak malu-malu lagi untuk bermanja-manja dengannya.
*********
__ADS_1
Siang ini, terik matahari sangat membakar tubuh yang diterpa oleh sinarnya. Peluh-peluh bercucuran diwajah para sang pejuang tangguh yang mencari nafkah yang bekerja dilapangan.
Seperti siang ini, Satria yang pekerjaannya bergulat dengan mesin-mesin perbaikan serta oli itu terlihat sangat serius mengerjakan tugasnya sebagai seorang mekanik alat berat. Tidak hanya itu, Satria juga bisa merangkap sebagai seorang welder jika memang keahliannya dalam pengelasan dibutuhkan. Itu yang membuat dirinya sangat dianak emaskan oleh atasan devisinya, karena banyak keahlian yang ia punya.
Tak jarang, ada beberapa orang yang tidak menyukai dirinya dan juga sering ingin menjatuhkannya. Tapi Satria tidak pernah ambil pusing dengan para pencari muka pada atasan itu, baginya yang terpenting dia tetap menunjukkan kualitas dirinya dan dapat bekerja lebih baik.
"Sat, kamu gak makan siang? Istirahat dulu lah, jangan terlalu diforsir. Nanti aku bantuin deh, kalau pekerjaan ku sudah selesai." ajak Deki.
Deki merupakan teman kerja yang sangat dekat dengan Satria, meski berbeda devisi tapi Deki sangat senang berteman dengan Satria yang menurutnya tidak neko-neko jika berteman dan juga Satria yang tidak pelit ilmu dalam pekerjaan itu yang membuat Deki nyaman berteman dengan Satria.
"Kamu duluan aja, Dek. Sebentar lagi aku nyusul. Tinggal dikit lagi nih, nanggung kalau mau ditinggal." balas Satria yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Ok." sahut Deki dan meninggalkan Satria.
Lima belas menit kemudian, Satria sudah menyelesaikan pekerjaannya dan membersihkan tangan dan tubuhnya dengan membuka seragam kerjanya dan hanya mengenakan baju kaos yang ia kenakan sebagai dalamannya.
Satria meraih tasnya untuk mengambil bekal yang sudah disiapkan oleh sang istri dan tak lupa dia juga mengambil handphone yang ia letakkan didalam tasnya.
Saat ia membuka handphonenya, matanya terbelalak saat melihat begitu banyak panggilan telepon dari Raina dan juga Sandra yang tak terjawab olehnya.
"Ada apa ini? Kenapa mereka menelepon ku hingga segini banyaknya?" tanya Satria yang bingung dan merasa ada sesuatu hal yang tidak enak dihatinya.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian berkenan, silahkan berikan tip kalian untuk author π
__ADS_1