
"Kenapa kamu gak kasih tau kakak kalau ibu akan kesini?" tanya Aldo.
"Hehehe, maaf Kak, Raina lupa. Saking bahagianya Raina hari ini." jawab Raina.
Tatapan Aldo kembali melihat ibunya. Dia merasa wanita yang telah melahirkan dirinya dua puluh dua tahun yang lalu itu sudah sangat berubah. Baik dari segi penampilan dan dari cara berbicara nya. Namun, ia tetap bisa merasakan kasih sayang yang sama seperti dulu.
Dan dia baru menyadari kurang satu anggota keluarganya yang tidak berkumpul dengan ibunya.
"Raka mana, Rai?" tanya pada adik perempuannya.
"Raka didalam kamar." jawab Raina sembari menunjuk arah kamar.
"Kenapa lagi dengan dia?" tanya Aldo lagi.
"Dia bilang, dia masih belum bisa menerima." ucap Raina.
Kriieett,
Suara derit pintu yang ditutup perlahan. Semua mata tertuju pada pintu kamar Raka.
Aldo bangun dari duduk nya hendak mendatangi Raka yang berada didalam kamar. Namun, dengan cepat Ibu Riska menahan anak laki-laki nya itu.
"Jangan, Nak. Biarkan saja adik mu menenangkan hati nya dulu. Ibu tidak apa-apa. Ibu akan tetap sabar menunggu nya hingga dirinya mau menerima ibu kembali." ucap Ibu Riska.
"Ibu, maafkan sikap Raka, ya." ucap Aldo.
"Seharusnya ibu yang meminta maaf kepada kalian, semua salah ibu! Salah ibu yang terlalu mengejar materi saat itu, hingga tidak pernah memperdulikan kalian." ucap Ibu Riska terisak.
"Sudah lah, Bu. Jangan diungkit-ungkit lagi masa kelam itu. Lihat lah, anak-anak ibu sekarang sudah besar-besar semua. Dan kami semua tumbuh jadi anak yang mandiri." ucap Aldo sembari menggenggam erat tangan ibunya.
"Semua ada hikmah nya, Bu. Dan yang terpenting ibu sudah berada disini bersama kami lagi." ucap Raina sembari tersenyum dan merebahkan kepalanya di bahu ibunya.
__ADS_1
"Terimakasih, Nak. Kalian mau memaafkan ibu dan masih menerima ibu kembali." ucap Ibu Riska sembari mengelus kepala kedua anaknya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Raka tertunduk dan melangkah pelan ke arah ibu dan kedua saudaranya.
Aldo dan Raina yang menyadari kehadiran Raka memberikan ruang untuk adik bungsu nya itu agar bisa lebih dekat dengan ibu mereka.
Raka terduduk lesu dihadapan ibu dan kedua kakak nya.
"Ibu, masih kah ada ruang dihati mu untuk menyayangi ku?" tanya nya dengan wajah masih tertunduk.
"Tentu, Nak. Ibu menyayangi kalian dengan porsi yang sama." ucap Ibu Riska.
"Ibu, apakah ibu akan selalu tetap berada bersama kami?" tanya nya lagi.
"Iya, Nak. Ibu akan tetap bersama kalian hingga ibu menua nanti." jawab Ibu Riska.
"Apakah ibu bisa berjanji untuk tidak meninggalkan kami lagi?" tanya nya lagi.
Raka langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang berada didepan nya. Dengan senang hati Ibu Riska membalas pelukan anak bungsu nya.
"Ibu, maafkan Raka." ucap Raka sembari menangis.
"Iya, Nak. Ibu juga minta maaf."
Raka memeluk ibunya seperti bocah yang sangat haus akan belaian kasih sayang seorang ibu. Ya, memang hanya dirinya lah yang sangat kurang perhatian dari ibu.
Dan saat ini, Raka benar-benar merasakan hangat nya belaian dan pelukan dari seorang ibu dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, Raina dan Aldo tersenyum melihat adiknya yang sudah mau menerima ibu mereka kembali.
*****
__ADS_1
Raina sudah sibuk meracik dan membuat makanan untuk makan malam mereka.
"Sini, ibu bantu." kata Ibu Riska yang datang menghampiri Raina didapur.
"Gak usah, Bu. Biar Raina aja. Ibu jangan capek-capek, Raina sudah terbiasa melakukan ini sendiri. Mending ibu duduk didepan tv aja sama Raka." ungkap Raina.
Ibu Riska tersenyum mendengar ucapan anaknya. Ternyata, Raina benar-benar tumbuh menjadi gadis yang sangat mandiri.
Sementara itu, Raka sangat serius mengerjakan tugas-tugas sekolah nya. Sedangkan Aldo, sibuk dengan laporan-laporan pekerjaan yang ia bawa yang harus diserahkan kepada bos nya besok pagi.
Ibu Riska melangkah memasuki kamar yang dulu ia tempati bersama dengan almarhum mantan suaminya.
Dia terduduk dipinggir kasur, melihat sekeliling kamar. Yang tak berubah semenjak ia tinggalkan. Mengingat kembali masa-masa dimana dirinya masih bersama dengan almarhum.
"*Maafkan, aku mas yang tidak mendengarkan mu saat itu. Sekarang aku kembali untuk anak-anak, Mas. Aku tidak akan mengecewakan mereka lagi.
Terimakasih sudah membesarkan anak-anak dengan baik dan penuh kasih sayang serta dengan pendidikan moral yang tinggi.
Mereka anak-anak yang luar biasa, Mas. Semoga kau tenang disana*."
Terukir senyum getir disudut bibirnya. Setetes bulir bening membasahi pipinya yang sudah mulai menua. Ada penyesalan yang ia rasakan.
Bersambung
Setiap orang punya jalan ceritanya masing-masing, tidak semua langsung berjalan mulus sesuai harapan, ada kalanya jatuh dan terus terjatuh. Berusahalah untuk bangkit dan belajar dari setiap kesalahan yang pernah terjadi.
Tetap semangat menjalani hidup. Roda kehidupan terus berputar tak selamanya diatas dan tak selamanya pula berada dibawah.
Jangan lupa senyum, karena senyum itu ibadah. Tapi jangan senyum-senyum sendiri nanti disangka orang gila πβοΈ
Terus Like, komen dan vote ya kawan ππ
__ADS_1