
"Heemmm, kalian berdua kenapa, sih?" Tatap Sandra bergantian ke arahku dan mas Awan.
"Apanya yang kenapa, San? Aku gak kenapa-kenapa, kok." sahutku sembari berjalan menjauh dari Sandra.
Sementara mas Awan masih tidak bergeming, sibuk meracik minuman orderan pelanggan.
Aku melangkah ke meja makanan yang sudah disediakan khusus untuk karyawan. Mengambil makanan dan duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk para karyawan yang beristirahat makan siang.
Sedangkan Sandra masih berdiri di depan stand bar mas Awan memesan minuman dan beralih ke koki utama untuk langsung memesan makanan nya.
Tak lama kemudian dia sudah duduk di depanku sembari menikmati es kopi miliknya.
"Kenapa gak pesan makanan yang lain aja, Rai?" tanya nya melihat diriku menikmati makanan yang ada didepan ku.
"Hahaha ... aku cukup sadar diri kali, San. Kita kan beda, kamu anak owner terus aku cuma karyawan disini. Sudah syukur disediakan makanan, ini juga enak kok." ucapku sembari memasukan kembali makanan ke mulutku.
"Hehehe ... gak gitu, Rai, maksudku kan kita lagi makan bareng nih, gak apa kali, sekali-sekali kamu juga ikut makan sama kaya apa yang aku makan." ucap Sandra.
"Gak apa-apa, San. Aku gak mau di anggap seenaknya. Gak enak juga sama yang lainnya." ucapku.
Sandra merubah posisi duduk nya lebih mendekat kepadaku. Matanya masih menyorotkan kecurigaan nya.
"Ehm, kamu yakin, Rai ... gak ada apa-apa sama mas Awan?" tanya nya setengah berbisik.
"Masih bahas itu lagi?" ucapku.
"Hemm, karena kalian berdua mencurigakan." ucapnya penuh selidik.
"Hahaha, mencurigakan gimana? Aku sama mas Awan gak ada apa-apa, percaya deh." Berusaha meyakinkan Sandra agar dia tidak bertanya hal lebih lanjut.
Namun rupanya perkiraan ku salah. Dia masih terus berupaya mencari tahu.
"Ser-" Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, seorang pelayan datang membawa makanan yang sudah dipesan nya tadi.
__ADS_1
"Silahkan Mbak Sandra." ucap Nara sembari meletakkan makanan di meja Sandra.
" Terimakasih Mbak Nara." ucap Sandra pada waiters seperjuangan ku dulu.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Dan kemudian waiters itu pergi meninggalkan kami berdua.
"Serius, ya. Jangan sampai aku mencari tahu lebih dari orang lain." ucapnya seperti memberi ancaman.
Sementara aku hanya diam dengan terus menikmati makanan ku yang tersisa sedikit dipiring.
"Kamu jangan sungkan, Rai, cerita ke aku kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan mas Awan." ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapannya.
"Selesai kan dulu makanan dimulutmu baru bicara. Nanti tersedak, lho." ucapku mengalihkan pembicaraan.
Maaf, San, untuk kali ini aku belum bisa berbagi cerita ke kamu. Apa lagi menyangkut kakak sepupu yang selalu kamu banggakan kebaikan nya tanpa melihat sisi buruknya.
*****
Kami berjalan keluar meninggalkan pantry dengan perut yang sudah kenyang. Berbicara dan tertawa membahas sesuatu yang menurut kami itu lucu.
Tanpa sadar, aku telah menabrak seseorang yang akan masuk ke toilet. Aku meraih tas yang terjatuh di lantai dan menyerahkan kepada pemiliknya dengan masih kepala tertunduk.
"Maaf, saya gak sengaja. Ini tas nya." ucapku seraya membungkukkan setengah badanku dan meminta maaf.
"Raina ...." ucapnya setengah kaget melihatku.
Aku mendongakkan kepala ku, mencari tahu siapa orang yang sudah aku tabrak dan mengenali diriku. Betapa terkejut nya ketika aku melihat siapa orang yang berdiri didepanku.
"I ... Ehm, maaf saya sudah menabrak anda nyonya." Entah ada rasa sakit yang terbesit dihati. Yang membuatku urung untuk memanggil wanita tersebut dengan sebutan yang semestinya aku ucapkan.
"Raina, ini Ibu, Nak ...." ucapnya lirih.
__ADS_1
"Maaf, anda bukan Ibu saya." Aku kembali membungkukkan badanku dan sedikit memberi senyum getir disudut bibirku.
Aku hendak melangkah meninggal kan wanita itu, namun ia kembali menahan diriku untuk pergi.
"Maafin Ibu, Nak ...." ucapnya seraya memohon.
"Ibu saya bukan orang yang tega meninggalkan keluarganya hanya demi sebuah ambisi, Ibu saya wanita yang sangat menyayangi keluarganya, Ibu saya tidak akan pernah mengacuhkan panggilan anaknya karena dia sangat menyayangi semua anak-anaknya." ucapku dengan bibir bergetar menahan bulir bening yang akan menetes.
"Raina, jaga ucapan mu, ini orangtua, lho." ucap Sandra mengingatkan.
"Kamu gak tau, San, rasanya sakit ditinggal seorang ibu dan diacuhkan saat kamu berlari mengejar orang yang sangat kamu rindukan. Karena itu gak akan pernah terjadi sama kamu dan karena bunda mu bukan wanita seperti yang ada di hadapan mu sekarang ini." ucapku dengan intonasi yang mulai meninggi.
Luluh sudah pertahanan ku. Segini benci nya kah aku, hingga hatiku membantu untuknya.
"Biar, Nak, ini memang salah saya sehingga Raina bersikap seperti ini ke saya." ucap wanita itu kepada Sandra sembari terisak.
Sandra hanya diam dan menggenggam tanganku.
"Raina, Ibu punya alasan kenapa waktu itu Ibu gak berhenti untuk menemui kamu." ucapnya
Belum sempat dirinya melanjutkan pembicaraan nya, aku sudah menyela omongannya karena sudah tersulut emosi.
"Kenapa? Karena Ibu malu sama laki-laki yang Ibu gandeng mesra saat itu. Ibu malu punya anak kaya Raina. Ibu sekarang sudah jadi orang kaya makanya gak mau akui Raina didepan laki-laki itu. Itu suami Ibu yang sekarang, kan. Yang bisa kasih apa yang Ibu impikan yang gak Ibu dapat dari bapak karena bapak miskin." Emosi ku semakin meluap-luap dan tak terkendali.
Plak ... Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipiku.
"Maaf, Rai ... Ibu gak ada maksud untuk nampar kamu, Nak." ucapnya bergetar ketakutan melihat tangan yang sudah mendarat bebas di pipiku.
Aku memandang wanita didepanku dengan tatapan kemarahan. Ku pegang pipiku yang memanas. Aku berlari meninggalkan semua orang yang telah menyaksikan apa yang sudah terjadi.
Sementara Sandra masih berdiam ditempat nya berdiri.
Sandra kembali menyaksikan pertemuan ku dengan ibu untuk kedua kali nya. Dan mendengar semua ucapan yang keluar dari mulutku, kata-kata yang tertahan dihatiku selama ini.
__ADS_1
Sakit karena tamparan ini, tidak sebanding sakitnya atas apa yang sudah Ibu goreskan dihati anak-anakmu, Bu.