Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kecurigaan Gina


__ADS_3

Tiga hari sudah Raina rehat dari segala aktivitas nya di kantor, dan hari ini dia sudah memutuskan untuk berangkat bekerja lagi.


Meski dirinya masih suka takut jika bertemu dengan laki-laki selain kedua saudaranya. Kejadian itu membuatnya trauma, jika berdekatan dengan kaum adam. Meskipun dia selalu berusaha untuk berfikir positif, bahwa tidak semua laki-laki sama bejatnya dengan Awan.


Sepeda motornya sudah melaju dijalan kota yang mulai tampak keramaian dan kebisingan dijalan. Ya, begini lah jika berangkat di jam kerja, siang sedikit pasti akan bertemu dengan namanya kemacetan.


Lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah membuat Raina harus menghentikan sepeda motornya sesaat.


Dirinya tak menyadari mobil yang berhenti tepat di belakang nya adalah mobil milik Ridho.


Sang pemilik mobil pun memperhatikan dengan seksama siapa orang yang berada didepan nya.


"Raina! Apa dia sudah sembuh?" gumam Ridho.


Niatnya yang ingin menyapa Raina saat itu ia urung kan, dirinya akan meminta penjelasan Raina diresto nanti.


Lampu lalu lintas sudah berubah berwarna hijau, semua pengendara bergegas menancapkan gas nya kembali untuk melanjutkan perjalanan, begitu pula dengan Raina dan Ridho.


Hanya butuh lima menit Raina sampai diresto karena jarak lampu lalu lintas tidak begitu jauh dari resto tempat dia bekerja.


Niat Ridho yang awalnya akan berangkat ke kantor, karena melihat Raina dia pun berbelok ke arah resto.


Raina yang hendak melangkah kan kakinya untuk masuk ke resto dikejutkan oleh kedatangan Ridho yang sudah berdiri tepat didepan nya.

__ADS_1


Raina menundukkan kepalanya, dirinya sama sekali tidak ingin bertemu dengan Ridho. Namun, Ridho dengan cepat meraih lengan Raina. Sontak membuat Raina terkejut dan meronta ingin lepas dari cengkraman tangan Ridho.


"Jangan sentuh aku! Lepaskan, lepaskan!" teriak Raina dengan histeris.


Membuat semua orang yang lewat dan berada disekitar resto memandang kearah mereka berdua. Sama hal nya dengan Ridho, dirinya juga terkejut melihat Raina yang begitu histeris.


"Rai, tenang ... Rai!" ucap Ridho sembari mendekap tubuh Raina untuk menenangkan nya.


Ridho memberi tatapan kepada semua orang yang melihatnya, bahwa semua baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa.


Ridho segera membawa Raina masuk ke dalam resto, meski Raina terus berontak untuk melepaskan dirinya dari dekapan Ridho.


"Raina ... Mas Ridho ...." sapa Gina yang melihat kedua orang itu masuk ke dalam resto.


"Ada apa sih, sebenarnya? Kenapa Mas Ridho mendekap Raina seperti itu? "


Sesampainya dilantai atas, Raina kembali mencari cara untuk lepas dari Ridho.


Raina menggigit ibu jari Ridho, sehingga membuat Ridho kesakitan dan melepaskan dekapan nya.


"Aw, kenapa kamu menggigit ku? Raina, aku hanya ingin tahu alasan mu, kenapa beberapa hari ini kamu sama sekali tidak merespon panggilan atau pun pesan dari ku?" tanya Ridho.


Namun yang ditanya hanya diam saja. Raina dengan cepat mencari kunci kantor miliknya dan dengan cepat membuka pintu kantor.

__ADS_1


Raina dengan cepat masuk ke dalam ruangan itu dan mengunci nya kembali dari dalam, tanpa menjawab pertanyaan dari Ridho.


Ridho sangat frustasi dengan sikap Raina yang tiba-tiba berubah terhadapnya.


"Raina, tolong buka pintu nya, Rai! Aku tidak akan memaksa kamu lagi untuk kencan dengan ku. Tapi, tolong ... jelaskan ke aku, kamu kenapa?" tanya Ridho lagi sembari menggedor-gedor pintu kantor.


"Kamu pergi sekarang! Aku gak mau berhubungan lagi sama kamu! Semua laki-laki sama aja, kamu juga pasti ada mau nya kan, dekatin aku?" jawab Raina yang kembali melontarkan pertanyaan ke Ridho.


Pertanyaan Raina membuat Ridho tercekat tidak mampu berbicara. Memang selama ini dia mendekati Raina, karena dirinya menyukai Raina tulus. Meski cara nya yang berbeda.


"Raina, maafin aku yang selama ini suka membuat rencana-rencana konyol untuk kamu. Tapi, kamu harus percaya sama aku, bahwa aku tidak ada niat jahat sedikit pun dengan mu." jawab Ridho.


Terdengar tangisan Raina dibalik pintu, Raina kembali mengingat kepolosannya yang telah diperdaya oleh Awan. Raina tidak mau mengulang kesalahan yang sama untuk memaafkan dan percaya dengan laki-laki dengan mudahnya.


Sementara itu, Gina mendengar semua ucapan antara kedua orang yang saling beradu mulut itu. Dan Gina juga mendengar tangisan Raina yang tersedu-sedu didalam kantor.


"Kenapa Raina seperti ini? Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi kepadanya."


Gina segera meninggalkan tempatnya menguping. Dan kembali menuju meja kasir.


Hati dan pikiran nya terus berkecamuk memikirkan Raina.


"Apa sikapnya Raina ini ada kaitannya dengan mas Awan, ya? Raina gak masuk kerja beberapa hari, terus mas Awan juga gak masuk kerja. Sepertinya aku harus cari tahu, ada apa sebenarnya dengan mereka."

__ADS_1


Mohon like dan krisan nya ya readers 😘


__ADS_2