Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pernyataan Awan


__ADS_3

"Iya. Bagaimana perasaanmu dengan Raina sekarang?" tanya Satria.


Awan menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Sebenarnya ... rasa sayang itu masih ada untuknya. Tapi, aku merasa sudah tidak pantas untuk mendapatkan balasan yang sama dari Raina. Mamah juga pernah menanyakan hal ini padaku saat beliau kesini. Dan beliau juga memintaku untuk kembali dengan Raina. Tapi, aku sadar ... Mas lebih pantas bahagiakan dirinya dan juga si kecil. Aku tidak mau merusak kebahgiaan yang baru saja kalian bangun." jawab Awan.


Satria sudah menduga bahwa mamahnya sudah memprovokasi pikiran adiknya. Dan beruntungnya dirinya, ternyata jawaban Awan tidak seperti yang ia bayangkan. Bahkan adiknya itu sudah sangat sadar dan mau menerima dengan ikhlas.


"Terimakasih, jika kamu sudah merelakan Raina untuk ku. Tapi, nyatanya aku masih harus berjuang lagi sekarang. Mamah secara terang-terangan meminta Raina untuk berpisah dengan ku. Dan menjual nama kita berdua seakan kamu yang ingin kembali pada Raina dan aku dibuat seakan setuju dengan keputusan gilanya itu." ucap Satria yang berbicara penuh dengan tekanan setiap kalimatnya.


"Apa? Aku gak percaya, mamah berbuat setega itu pada kita anak-anaknya sendiri. Hanya demi menjalankan keinginannya. Mamah masih sama seperti dulu, yang selalu mementingkan egonya sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan anaknya. Kalau Mas ingin tetap melanjutkan pernikahan ini, aku sudah ikhlas lahir dan batin, Mas. Mau seperti apa nanti kedepannya, aku serahkan semua pada Tuhan. Yang penting kamu, Raina dan si kecil bahagia, aku juga akan turut bahagia." ucap Awan yang sangat tulus mengikhlaskan, tak ada satu kata pun dia berbohong. Aldo bisa merasakan ketulusan Awan.


"Terimakasih, kamu sudah merelakan Raina. Semoga kelak, kamu bisa menemukan kebahagiaan mu." ucap Aldo yang ditanggapi sebuah anggukan dan senyuman dari Awan.


Satria dan Aldo pun berpamitan kepada Awan, setelah mereka mendapatkan jawaban yang sebenarnya langsung dari Awan sendiri.


"Terus ... selanjutnya seperti apa?" tanya Aldo.


"Aku harus bicara sama mamah. Ini gak bisa dibiarkan terlalu lama." jawab Satria.


"Aku merekam semua ucapan Awan, jadi mamah kamu tidak bisa mengelak jika kamu memberikan rekaman ini padanya." ucap Aldo sembari menyodorkan handphonenya.


"Terimakasih. Jika diperlukan, aku akan menggunakan itu." balas Satria.


Keduanya pun berjalan keluar dari bangunan itu.


*********


Dikediaman Satria.


Sepulang Erlina dari rumahnya, Ibu Santi masih memikirkan perempuan yang baru saja dikenal nya itu. Jika perempuan tersebut memiliki rasa lebih dari seorang teman kepada anaknya.


"Sepertinya, memang ada sesuatu diantara mereka dan anak itu menyembunyikannya." gumam Ibu Santi.


Seketika dirinya tersenyum licik, seolah ada hal baru lagi yang ia pikirkan.


*********


Seperti hari-hari biasanya, Raina selalu menghabiskan waktunya bersama dengan si kecil Al.


Jika saat bermain dengan Al, dirinya merasa semua beban yang menghimpit didadanya seakan sirna saat melihat anaknya itu tersenyum atau pun tertawa.


"Terus lah tersenyum sayang. Bunda janji, bunda akan selalu membuatmu tersenyum bahagia. Bunda gak akan biarin, orang-orang jahat mendekat dan menyakiti dirimu." ucap Raina pada Al.


Si kecil Al hanya diam mendengarkan ucapan sang bunda, seolah mengerti apa yang dikatakan Raina, bayi kecil itu mengerjapkan kedua mata bulat nya itu dan memegang pipi Raina dengan tangan mungilnya serta tersenyum memamerkan gusi-gusi berwarna merah muda yang belum ditumbuhi gigi itu. Seakan dirinya memberi jawaban untuk Raina.


"Kamu mengerti, apa yang bunda bicarakan? Anak pintar." ujar Raina sembari mencium kedua pipi Al yang semakin montok.


Tak lama kemudian, Ibu Riska masuk ke dalam kamar Raina.

__ADS_1


"Apa sudah ada kabar dari mereka, Rai?" tanya Ibu Riska.


"Belum, Bu. Apa sebaiknya, Raina saja yang menelepon kak Aldo?" Raina menjawab pertanyaan ibunya sembari menoleh ke arah sang ibu. Kemudian, dirinya pun balik bertanya pada ibunya itu.


"Itu lebih baik. Ya sudah, sana kamu telepon dulu kakak mu itu." jawab Ibu Riska.


Raina mengambil handphonenya diatas nakas untuk menelpon kakak lelakinya itu yang bermaksud untuk menanyakan keberadaan kakak dan juga suaminya.


Namun, tak ada jawaban dari orang yang dituju.


"Panggilan telepon Raina gak diangkat, Bu." ucap Raina.


"Coba kamu telepon Satria. Siapa tahu dia menjawab panggilan teleponmu." titah Ibu Riska pada Raina.


Tapi, Raina merasa enggan untuk menelepon Satria.


"Gak deh, Bu. Biar tunggu kak Aldo aja yang nelpon Raina balik." ucap Raina dengan nada malasnya.


"Kenapa gak mau? Apa kamu masih marah sama Satria? Kamu gak boleh seperti itu, bagaimana pun dia masih suamimu." ujar Ibu Riska.


Raina hanya mendengarkan nasihat ibunya tanpa membantah.


*******


Sementara di pulau dan di kota yang berbeda, Satria dan Aldo kini sedang menikmati makan siang mereka disebuah warung makan yang tak jauh dari rumah tahanan.


"Kali ini, biar aku yang akan membeli tiket untuk kita pulang." ucap Aldo disela-sela makannya.


Keduanya sama-sama tidak ingin memberatkan satu sama lain. Meskipun dalam hal keuangan memang Satria yang lebih berada ketimbang Aldo, tetapi Aldo tidak ingin mengambil kesempatan dibalik itu semua.


Aldo mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya. Memang saat berada didalam ruang tunggu saat mengunjungi Awan, handphonenya dalam posisi senyap tidak menggunakan nada dering. Aldo melihat ada satu panggilan yang masuk yang tidak ia jawab dari adiknya.


"Kenapa nih, anak nelpon?" gumam Aldo.


"Ada apa?" tanya Satria yang mendengar gumaman Aldo.


"Ehm, ini ... Raina nelpon aku, tapi aku gak tahu kalau ada panggilan telepon dari dia." jawab Aldo.


"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Satria.


Satria juga mengeluarkan handphonenya dari dalam tas punggung kecil yang ia kenakan. Tak ada yang ia harapkan, saat ia membuka handphonenya.


"Ternyata, dia cuma menelpon kakaknya aja." batin Satria.


Aldo kembali menelpon Raina, hanya beberapa detik panggilan tersebut langsung terhubung dan mendapat jawaban dari orang diseberang sana.


[Hallo ... assalamualaikum, Kak. Kakak sudah sampai disana?]


[Sudah. Malah sekarang kami sudah mau pulang.]

__ADS_1


[Cepat sekali? Apa kakak dan mas Satria sudah makan siang?]


[Ini sekarang kami lagi makan siang.]


Satria hanya memperhatikan dan mendengar perkataan Aldo saja. Setidaknya dia bisa menangkap isi percakapan kakak beradik itu, kalau sang adik sedang menanyakan kabar mereka berdua.


[Kalau begitu, kalian hati-hati disana. Semoga pulang kesininya juga diberi kelancaran.]


[Amin. Ya sudah, kakak tutup dulu ya, teleponnya. Kakak mau pesan tiket dulu untuk pulang.]


[Ok. Wassalamualaikum.]


[Walaikumsalam.]


Panggilan pun diakhiri, kini Aldo mulai berselancar diaplikasi yang menyediakan jasa pemesanan tiket online itu.


"Aku sudah mendapatkan tiket untuk kita pulang, penerbangan jam lima sore nanti untuk hari ini. Bagaimana?" ucap Aldo yang menanyakan persetujuan Satria.


"Ok. Tidak masalah yang penting kita pulang hari ini juga." jawab Satria.


Aldo menganggukan kepalanya mengerti dan langsung memesan tiket pesawat yang telah ia dapatkan untuk penerbangan sore itu.


"Ini baru jam setengah satu siang, masih ada beberapa jam lagi. Apa kita langsung saja ke bandara? Atau kamu masih ada tujuan yang ingin kamu kunjungi disini?" tanya Aldo.


"Tidak ada. Sebaiknya kita langsung ke bandara saja. Karena perjalanan dari sini kesana memakan waktu satu jam. Jadi kita bisa beristirahat sebentar disana sambil check in dan menunggu keberangkatan." jawab Satria.


"Ok." balas Aldo.


Keduanya pun menunggu taksi, setelah Satria membayar makanan mereka terlebih dahulu. Cukup lama mereka menunggu dan akhirnya mereka mendapatkan taksi yang akan mengantarkan mereka menuju bandara.


Selama perjalanan, keduanya saling diam tak ada yang berbicara. Kedua lelaki itu sibuk dengan mengutak-atik handphone digenggaman mereka masing-masing. Dan keduanya sama-sama asik memainkan game yang lagi viral. Sang supir taksi pun hanya memandang kedua penumpangnya itu dibalik cermin.


"Sudah sampai, Mas." ucap Pak Supir.


"Wah, gak terasa ya. Tahu-tahu sudah sampai aja." ucap Aldo sembari membayar ongkos taksi.


"Mas nya sibuk main hp saja, sih." balas Pak Supir taksi itu.


"Hehehe ... maaf, Pak." ucap Satria sembari keluar dari taksi yang mengantar mereka.


Kini kedua lelaki itu sudah berada di bandara lagi. Aldo langsung melakukan proses chek in dan mencetak boarding pass mereka sebelum memasuki gerbang penumpang. Dan mereka kembali menunggu sampai tiba jam kebarangkatan mereka.


#Maafin author ya, yang kurang aktif untuk UP dari kemarin, mood author lagi gak bagus dan susah banget untuk dapat ide buat nulis πŸ˜ŒπŸ™


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.

__ADS_1


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2