Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Bersemangat


__ADS_3

Seminggu berlalu, sejak meninggalnya bapak, membuat kami bertiga benar-benar terpuruk. Orang tua yang dengan sangat rela mengurus ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab penuh. Tanpa kenal lelah merawat dan membesarkan kami seorang diri, menjadikan Kak Aldo, Aku dan Raka begitu amat sangat menyayangi beliau.


Dan saat ini, kami benar-benar harus mandiri, kami tidak boleh terus menerus larut dalam kesedihan. Kami harus bisa bangkit, karena masih panjang perjalanan yang harus kami lewati. Tidak lama lagi, Raka akan lulus dan akan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas, akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Aku tidak ingin menggantungkan diri dan membebankan semua pada Kak Aldo, aku akan bekerja, agar aku bisa meringankan beban Kak Aldo.


Seminggu lagi aku akan menghadapi ujian nasional, setelah ujian berakhir aku akan mencari pekerjaan. Pekerjaan apa pun itu yang penting halal dan menjadi rejeki yang berkah. Teringat lagi nasehat bapak membuatku menitikkan air mata.


"Semoga bapak ditempat kan disisi yang terbaik oleh Allah Swt" batinku.


**********


"Alhamdulilah ... akhirnya, selesai sudah perjuangan kita" kata Sandra.


"Iya, alhamdulilah ... tinggal menunggu hasilnya aja lagi" ucapku sembari tersenyum.


"Oh, iya, Rai, kamu mau kuliah dimana nanti? Biar kita bisa sama-sama daftarnya" ucap Sandra bersemangat.


"Aku mau kerja dulu, San. Mungkin satu atau dua tahun kedepan baru aku lanjut kuliah. Atau ... tidak sama sekali ..." jawabku lirih.


"Yang sabar ya, Rai, aku tau kamu kuat, kamu bisa lalui ini semua. Tapi aku sangat berharap agar kamu tetap melanjutkan pendidikan. Sayang sekali kecerdasanmu itu bila tidak lebih diasah lagi." kata Sandra menyemangatiku.


"Terimakasih, San. Insya Allah, aku akan memanfaatkan otakku ini untuk hal-hal yang bermanfaat." jawabku


"Hahaha ... bahasamu, Rai," Sandra menjawab dengan menertawakan ucapanku.


"Emang ada yang salah dengan bahasaku?" tanyaku.


"Hahaha ... iya, ada yang salah. Kata "otakku" itu loh, seperti kurang pas aja, jadi aku yang mendengar nya seperti apa??? gitu ..."


Kami pun tertawa bersama.


"Oh, iya, San, ada lowongan kerja gak, diresto bundamu?" tanyaku.


"Aku sih, kurang tau ya, Rai. Nanti aku coba tanyakan deh, sama bunda" jawabnya.


"Iya, San, aku tunggu kabar baiknya. Aku butuh banget untuk beberapa bulan kedepan, untuk nambah biaya sekolah Raka dan hitung-hitung sambil nunggu hasil kelulusan nanti, biar gak jadi pengangguran dirumah." jawabku


"Sebentar deh, aku coba telepon bunda dulu" kata Sandra sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Sembari menunggu Sandra, aku melihat-lihat papan mading dan foto-foto kami sekelas yang berjejer rapi di depan kelas. Terbesit rasa haru dihati, tiga tahun selalu bersama dan tidak lama lagi kami akan berpisah untuk melanjutkan perjuangan berikutnya. Ya, tak bisa dipungkiri, masa-masa sekolah di SMA adalah masa yang paling berkesan dan penuh kenangan.


Tiba-tiba Sandra mengagetkan diriku dan mengajak ke resto bundanya.

__ADS_1


"Ayo, Rai, kita ke resto. Bunda sudah nunggu disana." kata Sandra sembari menarik lenganku.


"Ada lowongan kerja untuk aku?" tanyaku pada Sandra.


"Nanti dijelasin sama bunda di resto, ayo gesit!" jawab Sandra.


Aku mengangguk dan segera mengambil tas sekolahku yang masih berada di meja belajar.


Kami berjalan ke parkiran sekolah, disana sudah ada pak Ahmad yang menunggu, beliau adalah supir pribadi bunda Eva. Hari ini memang Sandra tidak membawa motornya, karena pagi tadi cuaca kurang bersahabat. Jadi, pergi dan pulang sekolah diantar dan dijemput oleh pak Ahmad menggunakan mobil bunda Eva.


Mobil melaju, menyusuri jalan kota yang tampak lengang siang ini. Tak butuh waktu lama, mobil sudah memasuki halaman resto. Tampak bunda Eva sudah menunggu disana, tapi beliau tidak sendiri, melainkan bersama dengan seorang pria paruh baya.


Aku dan Sandra memasuki resto dan langsung disambut dengan hangat oleh Bunda Eva dan aku balas dengan senyuman dan mencium punggung tangannya penuh takzim.


"Ini Ayahnya Sandra, Nak" kata Bunda Eva memperkenalkan pria separuh baya itu.


"Raina, om" kataku sembari mencium punggung tangan Ayah Sandra dengan takzim.


"Saya Ridwan. Jangan panggil om, panggil ayah saja." jawabnya dengan senyuman.


Betapa bahagianya Sandra masih memiliki orangtua yang utuh, baik, penuh dengan kasih sayang dan pastinya ekonomi yang tercukupi tanpa harus susah payah harus bekerja dulu seperti aku.


Ternyata Bunda Eva sudah menyiapkan makan siang untuk kami semua, kali ini kami makan berempat.


Di tengah-tengah makan siang, Bunda Eva menceritakan bahwa Ayah Ridwan bekerja diluar kota, mengurus perkebunan kelapa sawit dan beberapa pabrik, sehingga jarang bisa berkumpul seperti ini. Aku hanya mengangguk dan tersenyum mendengar cerita dari Bunda Eva.


"Raina ... Bunda dengar dari Sandra, kamu lagi mencari pekerjaan, betul begitu?" tanya Bunda Eva.


"Iya, Bun, benar saya lagi cari kerja sembari menunggu hasil ujian keluar" jawabku.


"Apa betul, Raina bekerja untuk membantu biaya sekolah adik dan biaya untuk kuliah?" tanya Bunda lagi.


"Iya, Bun. Itu salah satu tujuan saya bekerja, agar tidak terlalu memberatkan kakak saya." jawabku.


"Masya Allah ... niatmu sungguh sangat baik, Nak. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, tapi juga memikirkan saudara." kata Ayah Ridwan.


"Iya, Yah ... kalau untuk kuliah Raina bisa menunggu, sedangkan adik tidak boleh menunda untuk lanjut ke Sekolah Menengah Atas" jawabku.


"Begini saja, saya dan Bunda tadi sudah membicarakan masalah ini, kami akan membiayai sekolah adikmu dan jika kamu berkenan kami juga akan membiayai kuliahmu" kata Ayah Ridwan.


"Subhanallah ... Ayah, ini terlalu berlebihan, dan saya sangat berterimakasih untuk kebaikan kalian. Tapi, maaf untuk hal yang ini saya tidak bisa menerima nya" jawabku menolak dengan halus.

__ADS_1


Bukan karena aku sombong atau apa, tapi karena tidak enak hati. Terlalu banyak bantuan yang keluarga ini berikan padaku, aku tidak ingin bergantung pada mereka dan tidak ingin menambah hutang budi ku pada keluarga ini.


Ayah dan Bunda saling melirik.


"Kamu yakin, Nak, dengan keputusanmu ini?" tanya Bunda Eva kembali.


"Insya Allah ... saya yakin, Bun" jawabku sembari tersenyum.


"Begini saja Bun, apakah tidak ada posisi yang kosong di resto ini, agar Raina bisa bekerja?" tanya Ayah Ridwan.


"Ada sih, Yah ... tapi, tidak sesuai dengan Raina" jawab Bunda Eva.


"Emangnya dibagian apa, Bun?" tanya Sandra sembari melirik ke arahku.


"Apa pun pekerjaannya, saya akan terima, Bun" jawabku penuh harap.


"Waiters, apa kamu berminat, Rai?" tanya Bunda Eva.


"Mau ... mau, Bun!" jawabku antusias.


"Hahaha ... kamu itu lucu, Rai, di tawarin kuliah di biayain sama Ayah dan Bunda aku, kamu gak mau. Giliran di tawarin jadi waiters kamu malah antusias banget." kata Sandra sembari menertawakan diriku.


"Hush ... kamu gak boleh tertawa seperti itu, Ayah mengerti dan menghargai keputusan Raina, karena ia ingin berusaha mandiri sendiri dan berjuang membiayai kehidupannya dari hasil jerih payah nya sendiri. Ayah bahkan salut dengannya dan sepatutnya kamu mencontoh Raina" kata Ayah.


Sandra hanya terdiam mendengar nasihat yang dilontarkan Ayahnya.


"Maaf ya, Rai" ucap Sandra padaku.


"Iya, gak apa-apa kok, San" jawabku.


"Berarti, besok kamu sudah bisa mulai bekerja, kan?" tanya Bunda Eva.


"Bisa Bun!" jawabku penuh semangat.


"Alhamdulilah ...." Semua mengucap syukur.


Aku pun berpamitan pulang dengan hati tenang karena sudah mendapat pekerjaan.


"Kak Aldo pasti senang dapat kabar ini" batinku.


Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Sang Maha Kuasa, yang mengirimkan orang-orang yang baik di dekatku, masih diberi kenikmatan hidup meski harus melalui ujian terdahulu. Aku yakin Tuhan tidak akan memberikan cobaan dan ujiannya melebihi batas mampu seorang hambanya.

__ADS_1


Bersambung...


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2