
Lupakan sejenak masalah uang SIM. Toh, uang masih bisa dicari lagi. Itu lah, prinsip hidupku.
Aku melangkah memasuki resto, tapi kenapa ada yang aneh. Tatapan kawan-kawan tidak bersahabat dengan ku.
"Ah, biarkan saja lah. Mungkin mereka masih terbawa suasana kemarin." pikirku.
Aku kembali melangkah menuju kantor. Ku perhatikan jam tangan ku.
"Masih ada waktu lima menit lagi, alhamdulilah, gak terlambat." gumamku.
Langkah kaki ku terhenti di anak tangga nomor dua teratas.
"Kok, pintu kantor sudah terbuka? Bukannya kunci nya masih sama aku, ya." batinku.
Ku pelankan langkah ku mendekati pintu kantor yang sudah terbuka. Diam sejenak, melihat keadaan di dalam ruangan.
"Hai, Rai! Sudah datang rupanya, kamu." Aku terlonjak mendengar suara dari dalam kantor yang ternyata suara dari Bunda Eva.
"Eh, iya, Bu." jawabku tergagap.
Aku memasuki ruangan, meletakkan tas ku di sofa kantor. Sedangkan Bunda Eva masih duduk di depan komputer kerja.
"Maaf, Bu, saya telat." ucapku pelan.
Beliau memperhatikan jam dinding. Kemudian, beralih melihatku yang sudah berdiri disamping nya.
"Gak, kamu belum telat. Saya yang datang nya terlalu pagi." ucap beliau sembari tersenyum kepadaku.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapan beliau.
"Hahaha, aneh. Kan, tadi sudah lihat sendiri, jam nya masih kurang 5 menit lagi." Aku kembali menertawakan diriku sendiri.
"Saya hanya mau mengecek laporan keuangan bulanan yang sempat tertunda kemarin." ucapnya.
"Maaf, Bu, masih ada yang belum selesai saya rekap." ucapku.
__ADS_1
"Iya, saya sudah melihat nya. Silahkan dilanjutkan lagi." ucapnya sembari bangun dari duduk nya.
Dan kini aku lah yang menduduki kursi tersebut. Mengerjakan pekerjaan yang sempat terbengkalai karena masalah kemarin.
"Oh iya, Rai ... dua minggu lagi akan diadakan anniversary resto. Saya mau kamu membantu saya untuk merancang anggaran untuk acara tersebut." ucap beliau.
"Baik, Bu." ucapku cepat.
"Kamu juga bisa bantu saya memilih konsep apa yang pantas untuk acara tahun ini. Dan saya minta rincian anggaran nya kamu selesaikan seminggu sebelum hari H-nya." ucapnya.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan meng"iya"kan apa yang beliau perintahkan.
"Saya tinggal dulu ya, Rai. Tolong selesaikan sisanya yang kemarin ya, jam dua siang nanti saya kembali untuk mengecek laporannya." ucapnya.
"Baik, Bu. Hati-hati di jalan." ucapku sembari tersenyum ramah kepada beliau.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku.
"Ku pastikan sebelum jam makan siang ini harus selesai." Aku menyemangati diri ku sendiri..
"Eits, kok, aku merasa ada yang aneh, ya. Tumben banget bunda nyuruh-nyuruh begini. Biasanya kalau mau ada acara beliau sendiri yang handle sebesar apa pun acaranya. Dan gak biasanya juga beliau minta cepat-cepat untuk menyelesaikan laporan begini. Kenapa ya?" gumamku.
*****
"Gimana Bun, Bunda sudah ngerjain Raina?" tanya Sandra pada Bundanya.
"Sudah, tenang aja. Bunda suruh buat ini buat laporan itu dan dia mematuhi semua apa yang Bunda bilang." ucap Bunda Eva kepada anaknya.
"Terimakasih ya, Bun, sudah mengizinkan Sandra ngasih surprise buat Raina di resto ini dan melibatkan Bunda dan karyawan Bunda juga." ucap Sandra.
"Iya sama-sama, sayang. Gak apa-apa, kok, selama itu untuk kebaikan. Gimana kamu sudah kasih kabar ke ibu nya Raina?" tanya Bunda Eva.
"Sudah donk, Bun. Itu yang terpenting, menghadirkan ibu Riska disini agar Raina bisa lebih dekat dengan ibunya." ucap Sandra.
"Pintar memang ide kamu." ucap Bunda Eva.
__ADS_1
Tampak para karyawan yang lain ikut membantu menyediakan apa yang sudah di instruksi kan oleh Sandra. Mereka sibuk bolak-balik mengambil dan membawa perlengkapan yang sudah di siapkan oleh Sandra sebelumnya.
Ya, hari ini resto di tutup untuk umum setengah hari atas permintaan Sandra kepada Bunda nya untuk melancarkan niatnya. Dan resto akan di buka kembali setelah acara untuk Raina selesai sesuai kesepakatan antara ibu dan anak tersebut.
*******
Kembali ke kantor.
"Ah, akhirnya selesai juga. Masih ada waktu untuk mengecek ulang." gumamku.
Aku kembali menatap layar komputer, meneliti setiap inci laporan yang telah ku buat agar tidak terjadi kesalahan. Setelah ku pastikan semua baik, laporan siap di simpan dan akan aku perlihatkan nanti ke bunda Eva.
Ku lirik jam tanganku sudah menunjukan pukul dua belas siang.
"Waktunya makan siang." gumamku seraya menepuk-nepuk perut yang sudah mulai Keroncongan.
Aku menuruni belasan anak tangga. Lagi-lagi aku melihat pemandangan aneh. Resto tampak sepi tanpa pengunjung. Aku berjalan mendekati meja kasir untuk menanyakan kesunyian ini. Sesampainya di meja kasir tak ku dapati Gina menjaga di tempatnya, mataku beralih melihat pintu resto yang di tutup. Membuatku semakin penasaran.
"Ada apa sih? Kok, pintu resto di tutup. Dan kenapa gak ada yang kasih tau aku ya?" batinku.
Aku memutuskan untuk mencari tahu ke belakang. Sama hal nya dengan di depan, tidak ada kegiatan apa pun dan tidak ada seorang pun, semakin membuatku penasaran.
Aku berjalan lurus ke belakang lagi, perlahan-lahan ku buka pintu belakang menuju gazebo resto.
Deg,
"Ada apa ini?"
Aku terpaku melihat pemandangan yang ada di depan ku.
Bersambung
**Maaf ya, jika masih suka typo baik di tiap katanya atau di tanda bacanya.
Sama-sama saling mengkoreksi.
__ADS_1
Like, komen dan saran yang membangun dari kalian semua sangat membantu saya. ππ
Terimakasih ππ**