
Enam bulan berlalu, Satria menjalani hari-harinya sebagai seorang suami dan juga seorang ayah. Dirinya yang sekarang tinggal seatap dan sekamar dengan Raina, kini benar-benar menikmati kedua peran tersebut. Meskipun, belum semua kewajibannya sebagai seorang suami ia laksanakan. Hingga detik ini dirinya pun belum memberikan hak atas nafkah batin kepada Raina.
Raina memang tak menuntut hal tersebut, dirinya merasa jika Satria belum siap untuk melakukannya begitu pun dengan dirinya. Dan Raina sadar, meskipun mereka tinggal dalam rumah yang sama dan sudah berada disatu kamar. Tapi, hingga kini mereka berdua memang belum kembali mengulang akad nikah mereka agar pernikahan mereka sah secara agama.
Al kini sudah berusia tujuh bulan, dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan perkembangannya pun terbilang cukup cepat dibanding dengan anak-anak seusianya. Dia sudah mulai merangkak dan mencoba untuk berdiri dengan berpegangan pada dinding sebagai penopang tubuhnya. Bahkan, gigi-gigi Al sudah hampir memenuhi gusinya. Al juga mulai menjadi anak yang cerewet meski hanya dirinya lah yang mengerti arti dari ucapannya. Hanya kata am (makan) yang dapat dimengerti Raina sebagai bundanya.
Hari ini Raina kedatangan sahabatnya yang tak lain adalah Sandra dan juga bunda Eva. Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi dan pastinya mereka tetap mendukung keputusan Satria. Karena memang dasarnya, bunda Eva menginginkan bila pernikahan mereka tetap berlanjut.
"Jadi, ceritanya sekarang sudah satu kamar, nih?" tanya Sandra yang juga menggoda sahabatnya itu.
"Ya, memangnya kenapa kalau satu kamar? Toh, Mas Satria memang suamiku." jawab Raina seakan acuh dengan godaan kawannya.
"Berarti sudah ... anu dong?" ujar Sandra sembari merapatkan kedua tangannya dan menepuk-nepuk tangannya itu.
"Apaan, sih?" tepis Raina.
"Cie ... cie ... bundamu malu Al." ledek Sandra sembari mengajak Al berbicara.
"Kamu itu apa-apaan sih, San? Hal seperti itu ya, gak mungkin lah Raina bicara sama kamu. Meskipun suaminya itu kakak sepupumu." ucap Bunda Eva yang sedari tadi memangku Al dan mendengar pembicaraan anaknya.
"Memang, Bun. Marahin aja nih, Sandra." gerutu Raina.
"Ehm, Bunda minta maaf sebelumnya ya, Rai? Apa kamu dan Satria sudah kembali mengulang akad nikah?" tanya Bunda Eva hati-hati.
Raina terdiam dan tertunduk, tak lama kemudian dia kembali mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya itu.
"Belum, Bun." jawab Raina lirih.
"Kenapa belum?" tanya Bunda Eva.
"Apanya yang belum, Bun?" tanya Satria yang tiba-tiba saja muncul.
Kedatangan Satria membuat semua yang berada didalam kamar terkejut dan memandang ke arah Satria.
"Kamu tuh, Sat. Masuk kok, gak ngucapin salam." ucap Bunda Eva.
"Eh, maaf. Assalamu'alaikum semuanya ...." Satria kembali menyapa.
"Walaikumsalam ...." jawab Raina, Sandra dan Bunda Eva secara bersamaan.
Satria berjalan mendekati Al dan berniat untuk mengambil Al dari pangkuan bunda Eva.
"Ekh, kamu baru pulang kerja. Jangan pegang-pegang Al dulu. Sana, kamu mandi." titah Bunda Eva sembari menepis tangan Satria.
"Bunda ... cubit sedikit aja." pinta Satria dengan mimik wajah yang dibuat seperti merengek meminta sesuatu pada ibunya.
"Dibilang gak, ya ... gak, sana mandi dulu." Bunda Eva membelakangi Satria dan menjauhkan Al dari jangkauan Satria.
Satria tak lagi memohon seperti anak kecil, dia menurut dengan perintah bundanya itu dan segera beranjak memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Setelah dipastikan Satria sudah tidak berada diruangan itu. Bunda Eva kembali bertanya pada Raina.
"Raina, ayo jawab pertanyaan bunda yang tadi. Kenapa kalian belum mengulang akad nikah?" Bunda Eva kembali mengulang pertanyaannya.
Raina menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan.
"Entahlah, Bun. Raina tidak ada keberanian untuk menanyakannya dengan mas Satria." jawab Raina.
"Lalu, dengan ibumu?" tanya Bunda Eva lagi.
"Sepertinya ibu sudah melupakan hal itu." jawab Raina.
"Jadi ... kalian, belum melakukannya?" tanya Bunda Eva lagi dengan mengecilkan suaranya.
"Belum, Bun. Meskipun kita sekamar, tapi kita tidak tidur satu kasur. Bahkan Mas Satria tidak pernah menyentuhku lebih dari sekedar mengusap kepala saja." Hanya sekedar itu yang Raina ucapkan, Raina tidak memberitahu jika Satria pernah mencium keningnya saat itu.
Karena hal itu merupakan hal sensitif untuk Raina dan membuatnya malu jika harus mengatakannya. Meski hanya sekali saat itu Satria mencium keningnya, tapi bagi dirinya hal tersebut adalah hal yang berkesan untuknya selama menjadi istri dari Satria.
"Ehm, ini gak bisa dibiarin berlarut-larut, Raina. Kamu ini terlalu sabar, terlalu polos atau seperti apa, sih? Bunda gregetan deh, dengarnya." ucap Bunda Eva dengan gemasnya.
"Iya, kalian ini aneh. Menikah tapi tidak seperti pasangan suami istri lainnya. Buat apa Mas Satria keluar dari rumah mamahnya, kalau dia sampai saat ini masih gantungin kamu kayak gini. Sebel aku jadinya." gerutu Sandra.
"Kamu sebel sama siapa, San?" tanya Satria yang kali ini kembali tiba-tiba muncul.
Sandra menoleh ke arah sepupunya itu dan menatap Satria dengan tatapan tajam.
"Sebel sama, Mas." jawab Sandra dengan sinisnya.
"Kenapa sama, Mas?" tanya Satria lagi.
"Kenapa, kenapa, Mas itu sudah gantungin sahabat aku. Masa, aku diam aja lihat sahabat aku disakitin sama Mas Satria." gerutu Sandra.
Satria mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban dari adik sepupunya itu. Dia masih kurang paham dengan maksud dari perkataan yang telah diucapkan Sandra.
Bunda Eva seakan tahu kebingungan keponakannya itu dan mencoba untuk menjelaskan kembali apa yang sudah diucapkan oleh anaknya.
"Begini, Sat .... mumpung ada kamu dan juga Raina nih, disini. Bunda mohon maaf sebelumnya ya, kalau bunda lancang ikut campur dalam urusan kalian. Apa kalian sudah kembali bangun nikah?" Bunda Eva berbicara dengan sangat hati-hati.
Satria duduk dilantai yang beralaskan ambal bulu rasfur dengan menyandarkan tubuhnya pada ranjang Raina.
"Belum, Bun." jawab Satria.
"Kenapa, Satria? Secara tidak langsung kamu sudah kembali mendzolimi istrimu." tegas Bunda Eva.
"Ehm ... entahlah, Bun. Masih ada sesuatu yang mengganjal dihati Satria." jawab Satria sembari melirik Raina dan kembali menundukkan kepalanya.
"Satria, ini bukan waktu yang sedikit untuk Raina menunggu setelah semua masalah yang kalian lewati. Hal apa lagi yang membuat mu menggantungkan harapan Raina?" tanya Bunda Eva yang mulai kesal dengan keponakannya ini.
"Keyakinan Satria pada Raina, Bun. Satria merasa belum sepenuhnya hati ini untuk Raina. Meski Satria sudah berusaha, tapi perasaan sayang Satria pada Raina masih sebatas antara Satria menyayangi sebagai adik Satria sendiri." Satria mencoba jujur pada Bunda Eva.
__ADS_1
Tentu, pernyataan jujurnya itu membuat Sandra dan juga Bunda Eva terkejut. Bahkan kembali menyatiki perasaan Raina.
"Satria, kamu seriusan? Ini sudah mau setahun dan bahkan sekarang kalian sudah tinggal seatap bahkan sekamar. Apa beneran kamu tidak mempunyai rasa lebih dari sekedar hanya seorang adik? Apa jangan-jangan, sebelumnya kamu memiliki seorang kekasih dan kamu masih belum bisa move on dari kekasih mu itu?" Bunda Eva memicingkan matanya menatap intens pada Satria.
Memang akhir-akhir ini, Satria sering bermimpi dan teringat masa-masa indah bersama dengan Erlina yang membuatnya kembali mengenang wanita yang pernah menguasai hatinya itu. Bahkan beberapa bulan yang lalu, Erlina dengan telaten masih merawat mamahnya yang jatuh sakit setelah kepergian dirinya. Yang membuat perasaan itu kembali hadir.
Raina yang mendengar pengakuan Satria benar-benar tidak bisa memungkiri jika hatinya teramat teriris.
"Ah, betapa bodohnya diriku yang mengharapkan cinta yang lebih dari dirinya. Sementara dia hanya menganggap diriku sebagai adik. Lalu, apa gunanya perjuangan dan pengorbanannya selama ini? Benar, dugaanku. Dia hanya memperjuangkan Al."
Air mata itu kembali mengalir, rasa sakit itu kembali hadir dihati Raina, sakit yang teramat sakit hingga untuk menelan saliva nya pun dirinya merasa tidak sanggup.
"Kamu jahat, Mas. Buat apa kamu hadir disini jika hanya memberi harapan palsu pada sahabatku. Kamu seperti menjilat ludahmu sendiri, beberapa bulan yang lalu dirumah pakde Suseno bahkan kamu bilang jika kamu tidak ingin dikatakan sebagai lelaki yang hanya memberi harapan palsu. Tapi, apa buktinya sekarang? Kamu berada diposisi itu sekarang." ucap Sandra dengan nada yang berapi-api mencoba kembali mengingatkan pada sepupunya itu.
Satria benar-benar kembali dilema. Ucapan adik sepupunya benar-benar menampar dirinya.
"Ayo, Bun. Kita pulang aja! Sandra males ngeliat muka laki-laki PHP ini." ucap Sandra sembari menarik lengan bundanya.
"Satria kalau kamu bukan laki-laki pemberi harapan palsu seperti yang adikmu bilang dan bukan seorang suami yang dzolim pada istrinya. Kamu harus buktikan itu dan penuhi semua kewajibanmu sebagai seorang suami yang sebenar-benarnya suami. Jangan kembali permalukan dirimu dan terus menerus menyakiti hati Raina." Bunda Eva menekankan setiap ucapannya yang lebih tepatnya memberi peringatan pada keponakannya itu.
Satria hanya diam tanpa membantah sedikit pun, karena ini memang salah dirinya. Bahkan dirinya tidak mampu melihat Raina yang menangis dalam diam.
"Aku sama bunda pamit pulang ya, Rai. Kamu harus kuat dan sabar. Kalau kamu sudah gak kuat, pergi aja dari Mas Satria." ujar Sandra.
"Hush, mulut mu." Bunda Eva memukul punggung anaknya.
"Jangan didengar ucapan Sandra yang terakhir ya, Raina. Bunda akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian." ucap Bunda Eva dan mulai keluar dari kamar Raina.
Setelah Sandra dan Bunda Eva pulang dan rumah masih dalam keadaan sepi, Satria langsung menutup pintu kamar. Agar saudara iparnya mau pun mertuanya tidak tahu apa yang sudah terjadi saat ini antara dirinya dan juga Raina.
"Maafin, Mas ya, Dek. Mas tahu ini buat kamu sakit dan kecewa. Tapi, Mas masih akan terus berusaha." ucap Satria yang kini bersimpuh dihadapan Raina.
"Gak apa-apa, Mas. Raina sudah terbiasa bahkan terlatih merasakan sakit dan kecewa ini. Raina ngerti, Mas. Memang Raina aja yang gak sadar diri siapa Raina." Raina berusaha tersenyum meski senyum itu sangat terlihat menyakitkan hati Satria.
Satria hanya terdiam mendengar jawaban Raina yang mencoba tegar dan melihat senyum yang dipaksakan itu.
"Kenapa hati ini semakin sulit untuk memihak? Kenapa bayangan dirimu selalu hadir dan menggoyahkan keyakinan hatiku?"
Suasana kamar yang biasanya selalu ceria kini terasa sunyi senyap, Raina hanya tersenyum getir pada Al, tiap Al mencoba mengajaknya bermain. Dan akan membalikkan badannya jika Satria yang bermain dengan Al. Satria benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat Raina menjadi semakin diam dengan dirinya.
Namun, mereka berdua akan terlihat seperti biasa saja jika berada ditengah-tengah keluarga Raina. Raina akan melayani Satria sebagaimana mestinya, tanpa memperlihatkan jika dirinya sedang bermasalah dengan Satria. Begitu pun sebaliknya dengan Satria. Mereka berdua benar-benar melakukan sandiwara yang apik.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π