
"Kak ... Kak Raina ...." Bara memanggil Raina sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar kakak iparnya itu.
"Kak ... bangun kak ... ayo, makan malam dulu." Bara kembali memanggil, namun belum ada sahutan dari dalam kamar kakak iparnya itu.
Raina menggeliat diatas kasurnya, samar-samar terdengar suara seseorang memanggilnya. Raina mengerjapkan kedua matanya, meraih handphone yang terletak disamping gulingnya. Layar handphonenya sudah menghitam menandakan panggilan video telah berakhir.
"Oh, ternyata sudah diakhiri." gumam Raina.
"Astaga, sudah jam makan malam, aku ketiduran hingga jam segini! Mana belum mandi lagi." Raina terlonjak kaget setelah melihat jam yang tertera dilayar ponselnya. Karena terlalu lelah, Raina benar-benar tertidur sangat pulas hingga melewatkan banyak waktu.
Raina keluar dari kamarnya setelah membersihkan badannya terlebih dahulu. Raina sudah memasuki ruang makan, disana terlihat sudah ada Bara dan juga mamah mertuanya yang menunggu dirinya dimeja makan.
"Hai, Rai ... baru bangun kamu?" tanya Ibu Santi yang melihat kedatangan Raina.
"Iya, Mah. Raina lelah sekali sampai ketiduran." jawab Raina.
"Makan lah dulu, siang tadi mamah lihat kamu kurang makan. Kamu terlalu sibuk meladeni para tamu undangan." ujar Ibu Santi.
"Iya, Mah." sahut Raina yang sudah duduk dikursinya dan mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.
Keheningan tercipta, hanya ada dentingan alat makan yang terdengar. Suasana meja makan terasa sepi sejak tidak ada Satria, Bara tidak begitu banyak bicara. Biasanya kedua kakak beradik itu selalu melakukan hal-hal konyol setiap berada dimeja makan.
Seperti biasa, sehabis makan malam Raina selalu menyempatkan dirinya untuk menemani mertuanya diruang keluarga untuk menonton tv atau hanya sekedar mengobrol ringan.
"Bagaimana dengan acara tadi? Apakah kamu senang?" tanya Ibu Santi.
"Sangat. Raina sangat senang, Mah. Terimakasih mamah mau membuatkan acara pengajian untuk Raina dan anak yang sedang Raina kandung." jawab Raina sembari tersenyum lebar menunjukkan sederet gigi-gigi rapinya.
"Alhamdulilah, kalau kamu senang. Mamah hanya berharap semoga persalinanmu nanti bisa berjalan lancar dan anak yang kamu lahirkan sehat dan tidak kekurangan satu apa pun." ucap Ibu Santi.
"Amin ... terimakasih, Mah." balas Raina.
"Rai ... kamu belum menyiapkan perlengkapan bayimu?" tanya Ibu Santi.
Raina hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Ajaklah Sandra atau Bunda Eva untuk menemanimu berbelanja perlengkapan bayi besok." ucap Ibu Santi sembari menyerahkan amplop cokelat yang berisi uang pada Raina.
"Ehm, gak usah, Mah. Biar nanti Raina akan membelinya bersama dengan mas Satria aja." tolak Raina.
"Kalau menunggu Satria itu lama, Rai ... Bisa jadi dia pulang diwaktu yang mepet dengan hari persalinanmu. Kita gak pernah tahu yang didalam perutmu itu akan keluar sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan dokter atau bisa jadi kurang dari atau lebih dari tanggal perkiraan dokter." ucap Ibu Santi.
Raina hanya diam mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut mertuanya. Raina merasa ada benarnya perkataan mertuanya.
__ADS_1
"Ambillah ini, uang ini juga hasil jerih payah Satria yang selalu ia setorkan ke mamah selama dia bekerja. Jangan menolak lagi, pergilah berbelanja semua kebutuhanmu dan perlengkapan bayimu." tambah Ibu Santi lagi.
Raina benar-benar tidak bisa menolak lagi, ia pun mengambil amplop cokelat yang berisi uang itu.
"Mamah mau beristirahat. Kamu juga, kembalilah beristirahat dan pastikan besok dirimu pergi berbelanja." ucap Ibu Santi mengingatkan.
Raina masih berada diruang keluarga, duduk sembari memandangi isi amplop yang ternyata begitu banyak. Raina membelalakkan matanya saat melihat tumpukan lembaran merah itu.
"Apa mamah gak salah ... kasih aku uang segini banyaknya?" gumam Raina.
********
Embun pagi menebarkan bau basah disetiap dedaunan. Raina bangun lebih pagi hari itu, dia berjalan-jalan kecil mengelilingi kompleks perumahan Satria.
Dia mengingat pesan dokter kandungannya, jika kehamilan yang sudah besar harus rajin-rajin berjalan kaki pagi agar kesehatan ibu tetap terjaga, memperlancar aliran darah agar sang ibu tidak mudah stres, memperkuat otot panggul agar dapat merangsang kontraksi dan janin cepat keluar tanpa merasakan sakit yang berkepanjangan serta dapat menstabilkan tekanan darah. Mengingat Raina ada riwayat tekanan darah tinggi yang mengakibatkan dirinya harus dilarikan kerumah sakit saat itu.
Raina melakukan semua saran yang diberikan oleh sang dokter untuk memperlancar persalinannya kelak dan pastinya Raina ingin menjaga kesehatan dan keselamatan sang buah hati.
Setelah lelah berjalan, Raina mampir pada sebuah warung yang menjual berbagai menu untuk sarapan. Raina membeli untuk dirinya dan juga Bara. Sedangkan untuk mertuanya, Raina tetap memasakkan makanan khusus untuk mertuanya itu. Karena hingga saat ini, meskipun kesehatan ibu Santi sudah mulai membaik, ibu Santi belum berani mengkonsumsi sembarang makanan.
Raina sudah tiba dikediaman Satria, Raina segera masuk dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak karena lelah berjalan kaki dengan membawa perut yang membesar.
Raina duduk dan bersandar dikursi makan, sembari meminum air putih untuk mengurangi rasa dahaganya. Setelah dipastikan jika dirinya sudah tidak lelah lagi, Raina bergegas membuat sarapan untuk mertuanya. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk membuat makanan untuk mertuanya, karena memang makanan yang biasa dimakan mertuanya tidaklah sulit dalam mengolahnya dan tidak membutuhkan banyak bumbu serta bahan-bahan lainnya.
Raina sudah menghidangkan semua makanan dimeja makan, tak lama kemudian Bara sudah datang ke ruang makan dengan mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi.
"Siap." sahut Bara sembari memberi hormat seperti anak buah dengan atasannya, kemudian dia berbalik arah menuju kamar mamahnya.
Tak lama kemudian ibu dan anak itu pun melangkah bersama ke meja makan. Ibu Santi sudah terlihat lebih segar dari biasanya yang terlihat pucat.
"Pagi, sayang." sapanya pada Raina.
"Pagi, juga Mah." balas Raina sembari menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya.
"Mamah sudah meminta tolong pada bunda Eva untuk menemanimu nanti siang berbelanja." ucap Ibu Santi ditengah-tengah makannya.
"Ehm, tapi Raina ada kontrol ke dokter pagi ini, Mah. Biar nanti Raina hubungi bunda lagi, jika Raina sudah selesai dari kontrol." balas Raina.
"Ok, kamu atur saja dengannya. Ehm, tapi apa tidak sebaiknya kamu pergi kontrol dengan bundamu saja?" tanya Ibu Santi.
"Biar nanti Raina naik taksi online aja Mah, dari sini ke rumah sakit. Raina gak mau terlalu merepotkan bunda." jawab Raina.
"Tapi, Rai ... kamu yakin mau pergi kontrol sendiri?" tanya Ibu Santi lagi.
__ADS_1
"Mamah tenang aja, gak ada salahnya juga kan, Raina pergi kontrol sendiri. Mamah jangan terlalu khawatir, Raina pasti bisa jaga diri." jawab Raina sembari mengelus pucuk tangan mertuanya untuk menenangkan wanita paruh baya itu.
Setelah semua sudah selesai dengan sarapannya, Bara pun sudah berangkat ke sekolahnya, sekarang giliran Raina yang bersiap-siap untuk pergi kontrol ke dokter kandungan.
"Mah, Raina berangkat dulu, ya. Taksi onlinenya sudah menunggu didepan." ucap Raina yang masuk kedalam kamar mertuanya dan menghampiri mertuanya yang sedang membaca buku.
"Iya, sayang ... kamu hati-hati, ya." balas Ibu Santi.
Setelah berpamitan dengan mertuanya, Raina segera keluar menghampiri taksi online yang telah menunggunya. Raina pun masuk kedalam mobil itu.
"Ehm, mas Satria sibuk gak, ya?" Raina bergumam sembari melihat jam diponselnya.
Perbedaan waktu antara kota yang ditinggali Raina dengan kota tempat Satria bekerja selisih dua jam lebih cepat. Dan kemungkinan, Satria sudah sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Raina mengurungkan niatnya untuk menelepon Satria, karena takut jika mengganggu lelaki itu. Raina pun hanya mengirimkan pesan pada Satria.
[Mas, sekarang aku menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan ku lagi dan siang nanti aku akan pergi berbelanja perlengkapan bayi bersama dengan bunda Eva.] tulis Raina dan pesan pun terkirim.
Raina terus memandangi handphonenya, namun centang dua yang ada diaplikasi chat itu tidak berubah warna.
Hingga tibalah, Raina dirumah sakit. Raina segera turun dari mobil dan membayar tarif perjalanannya.
Raina melangkahkan kakinya menuju poli kandungan dan seperti biasa, Raina mendaftarkan dirinya terlebih dahulu. Raina mendapat antrian yang cukup lama, karena sudah banyak pasien yang datang lebih dulu sebelum dirinya.
Sembari menunggu gilirannya, Raina menghubungi bunda Eva. Panggilan langsung terhubung ke nomor tujuan.
[Hallo, assalamualaikum ... Rai.] ucap bunda Eva dengan sangat lembut.
[Walaikumsalam, Bun. Bunda, Raina mau minta tolong sama bunda, untuk menemani Raina berbelanja perlengkapan bayi nanti siang. Apa bunda bisa?]
[Tentu saja bisa, sayang. Mamah mu sudah memberitahukan bunda tadi.]
[Ehm, sekarang Raina lagi dirumah sakit ibu dan anak, Raina mau kontrol kandungan Raina lagi. Bagaimana setelah ini kita ketemuan aja bun, gimana?]
[Lho, kamu periksa kandungan sendiri? Aduh, maaf ya, sayang ... Bunda gak bisa temani kamu, bunda lagi banyak kerjaan ini dikantor.]
[Iya, Bun. Raina ngerti, kok. Raina juga gak mau terlalu merepotkan bunda. Maaf ya, Bun ... karena Raina berhenti jadi bunda kembali mengerjakannya semua.]
[It's okay, sayang. Ini bukan salahmu, bunda lebih tenang jika kamu banyak beristirahat dan tidak memikirkan banyak hal. Ok, nanti siang kita langsung ketemu aja dimall cahaya.]
[Iya,Bun.]
Panggilan pun telah diakhiri. Semenjak Raina menikah dan memulai kehidupannya sebagai seorang istri yang tengah hamil, Raina pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya meski dengan berat hati. Namun, dirinya mengikuti saran dari suaminya untuk tidak bekerja karena akan membuat dirinya kepayahan. Dan itu memang terbukti, mengingat awal-awal kehamilan Raina hingga diusia ke empat bulan saat itu dirinya masih mengalami morning sikcness. Dan akhirnya, dia menuruti ucapan suaminya.
Mohon like, vote, komen serta berikan rate untuk karya author ini π
__ADS_1
Dan jika kalian berkenan, berikan tip kalian juga untuk author πβοΈ
Dukungan kalian sangat berarti ππ