
Tatapan mata Satria sukses kembali membius Raina. Dengan cepat Raina mengalihkan pandangannya dan menjauh dari Satria.
"Kenapa, Dek? Apa kamu masih takut?" tanya Satria bingung melihat sikap Raina yang langsung menjauh dari dirinya.
Raina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Satria.
"Lalu, kenapa?" Satria kembali bertanya.
"A-aku malu, Mas. Aku gak bisa berikan yang seharusnya aku serahkan untuk mu dimalam pertama. Aku merasa kotor dan tidak pantas untukmu, Mas." jawab Raina dengan tertunduk dan mata yang berkaca-kaca.
"Hei, kenapa kamu berfikir seperti itu? Mau seperti apa pun dirimu, Mas akan terima dengan ikhlas. Jangan merasa hina didepanku, kamu adalah wanita terhormat yang aku miliki. Semua bukan kesalahanmu, itu musibah. Percaya denganku, Mas menerima dirimu apa adanya." ucap Satria sembari mendekat dan memeluk Raina yang sudah menangis.
Satria melonggarkan pelukannya, kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambilkan Raina minum.
"Minum dulu, tenangkan dirimu. Mas tidak akan memintanya, hingga kamu sudah siap memberikannya pada Mas." ucap Satria sembari menyodorkan gelas yang berisi air minum itu.
Raina pun menerimanya dan mulai meminumnya. Ada perasaan bersalah ketika mendengar Satria berucap untuk menunggu kesiapan dari dirinya. Sebagai seorang istri tentunya dia harus melayani suaminya dengan baik, apa lagi ini adalah hal pertama untuknya dan juga Satria.
"Hmm, Mas ...." panggil Raina lirih.
"Iya, kenapa Dek?" tanya Satria yang kini sudah membaringkan tubuhnya dikasur.
Raina merangkak naik ke atas kasur dan duduk disamping suaminya.
"Hmm ... a - aku ... insyaAllah sudah siap, Mas." jawab Raina.
"Apa? Kamu seriusan, Dek?" Satria terlonjak dari pembaringannya dan langsung duduk serta membuka selimut yang sudah membalut tubuhnya.
Raina pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Jadi, sekarang boleh?" Satria memegang kedua tangan Raina dan menatap mata perempuannya itu dengan binar bahagia.
__ADS_1
"Iya, Mas." jawab Raina dengan wajah yang tersipu malu.
"Terimakasih, sayang." Satria langsung memeluk Raina dan menghujami istrinya itu dengan ciuman bertubi-tubi.
Satria mulai melakukan aksinya, memulai dari mencium bibir Raina dengan mesra hingga membuat Raina akhirnya membalas ciuman itu. Satria menyusuri leher jenjang Raina dengan bibirnya sambil kedua tangannya sukses melucuti pakaian istrinya, hingga kini tak sehelai benang pun yang menempel ditubuh mulus milik Raina.
Satria kembali menyusuri setiap inci bagian tubuh Raina. Hingga membuat Raina benar-benar bergairah dan mendesah nikmat.
Kini giliran Satria yang membuka pakaian yang masih melekat ditubuhnya. Benda miliknya sudah mengeras dan siap untuk menerobos gua milik Raina.
Satria mencoba untuk memasukkan miliknya itu, namun dirinya kepayahan karena dinding pertahanan milik Raina kembali sulit untuk diterobos dan Raina juga merasakan perih didaerah sensitifnya saat Satria terus mencoba untuk menerobosnya.
"Aw! Sakit, Mas. Pelan-pelan aja." ucap Raina dengan lirih.
"Maaf, sayang. Punyamu susah sekali ditembus, seperti masih perawan." jawab Satria ditelinga Raina.
Karena sudah setahun ini Raina yang memang tidak pernah melakukannya lagi, serta jalan lahirnya saat itu sempat dijahit karena harus melahirkan Al waktu itu, membuat miliknya memang seperti perawan lagi. Meski memang sudah tidak memiliki selaput dara.
Satria pun kembali mencoba dengan perlahan dan akhirnya miliknya pun bisa menembus dinding pertahanan milik Raina. Satria benar-benar merasakan jika Raina kembali perawan lagi, karena milik Raina masih sangat menggigit.
Desahan demi desahan dari Raina membuat Satria semakin bergairah dan hasratnya semakin menggebu-gebu untuk memuaskan perempuannya itu. Keduanya menyudahi aksi mereka, setelah sampai puncak kepuasan yang hakiki untuk keduanya.
Satria masih berada diatas tubuh Raina dengan nafas yang memburu, begitu pula dengan Raina. Meskipun lelah, dirinya merasa puas karena hasrat biologisnya sudah terpenuhi dan dapat melakukan kewajibannya sebagai seorang suami memberikan hak atas nafkah batin pada istrinya.
"Terimakasih banyak, sayang." ucap Satria ditelinga Raina dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Mas, bisakah kamu turun dari tubuhku?" tanya Raina yang sudah merasa begitu lelah. Area sensitifnya pun terasa berdenyut perih.
"Oh, maaf." Satria pun turun dari tubuh Raina dan membaringkan tubuhnya disamping istrinya itu.
Raina bangun dari pembaringannya dan mencoba bangkit dari kasur.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Satria yang melihat Raina sudah berdiri.
"Raina mau membersihkan tubuh, Mas." jawab Raina.
Satria pun beranjak dari kasur dan langsung merengkuh tubuh Raina kedalam pelukannya.
Dan langsung mengangkat tubuh kecil Raina dengan ala bridal style.
"Mas, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri ke kamar mandi." ucap Raina yang terkejut saat Satria menggendongnya tiba-tiba.
"Tidak. Mas yang akan mengantarkanmu ke kamar mandi dan kita membersihkan tubuh bersama." balas Satria sembari melangkah ke kamar mandi dengan tetap menggendong tubuh Raina.
Sesampainya dikamar mandi, Satria langsung menurunkan Raina dari gendongannya. Raina terpaku saat melihat tubuhnya dan juga tubuh suaminya yang polos tanpa sehelai benang pun. Raina langsung memalingkan wajahnya pada bak air yang terisi penuh dan langsung mengambil air tersebut dengan gayung untuk membasuh tubuhnya.
Satria langsung menangkap tangan Raina dan menghentikan gerakan sang istri yang sudah mulai mengguyur badannya dengan air itu.
"Kan, kita mau membersihkan tubuh bersama. Kenapa hanya dirimu aja yang kamu bersihkan? Mas juga mau kamu bersihkan." ucap Satria sembari merapatkan tubuhnya dengan tubuh Raina.
Lagi-lagi benda miliknya kembali menegang saat bersentuhan dengan istrinya, untuk kedua kalinya mereka pun melakukannya lagi didalam kamar mandi.
Setelah pergumulan yang kembali terjadi, akhirnya mereka benar-benar membersihkan tubuh mereka setelah menuntaskan apa yang harus mereka tuntaskan.
Raina sudah memakai kembali pakaiannya dan langsung naik ke atas kasur. Begitu pula dengan Satria. Karena sudah sangat lelah, akhirnya mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.
********
Maaf untuk hari ini saya belum bisa nulis yang panjang dan beberapa hari ini juga masih ada kegiatan lain.
Dan mungkin berikutnya pun saya gak bisa terlalu produktif seperti biasanya karena saya memiliki anak dan suami yang harus diprioritaskan.
Ada kalanya saya merasa jenuh, bosan, gak semangat atau tiba-tiba gak punya ide sama sekali untuk buat episode selanjutnya seperti apa, jadi saya mohon untuk pengertian dari teman-teman setia SCUR semua π’π
__ADS_1
Dukungan kalian dan pengertian kalian sangat sangat saya butuhkan. Saya butuh merehat hati dan pikiran saya biar bisa membangkitkan semangat menulis saya kembali ππ
Terimakasih untuk kesetiaan kalian dengan cerita ini π