Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Setitik jalan untuk Satria


__ADS_3

Waktu istirahat pun tiba, Satria meraih tas yang biasa dia bawa. Satria merogoh tasnya mencari bekal siangnya yang biasa disiapkan oleh Raina. Namun, apa yang ia cari tak ia temukan. Satria menghela nafasnya, kembali meletakkan tasnya.


"Kamu gak makan siang?" tanya Deki yang melihat temannya terduduk lesu.


Satria hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku lihat, hari ini kamu sama sekali gak semangat kerja. Apa ada masalah?" tanya Deki lagi.


Satria hanya diam tak sedikit pun bersuara, kemudian dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Deki yang masih bingung tak mendapatkan jawaban dari temannya itu. Deki hanya menggelengkan kepalanya melihat Satria yang uring-uringan.


Satria menjauh dari Deki dan teman-teman kerja lainnya. Satria memilih menyendiri dibawah pohon sengon besar yang berada diujung workshop tempatnya bekerja.


Satria duduk dibawah pohon itu dengan kembali menatap handphonenya berharap ada balasan dari Raina. Seketika Satria teringat dengan adik sepupunya yang juga sahabatnya Raina.


"Apa sebaiknya aku bertanya dengan Sandra, ya? Pasti Raina akan mengabari sahabatnya itu." gumam Satria.


Satria dengan cepat mencari nama adik sepupunya itu didalam kontak teleponnya.


Tut... Tut... Tut...


Panggilan telepon terhubung, namun belum dijawab oleh orang diseberang sana. Cukup lama Satria menunggu hingga panggilan teleponnya itu dijawab.


[Hallo, kenapa Mas?]


[Ish, kok langsung ngegas gitu, sih? Gak pake ngucapin salam lagi.]


[Hm, assalamualaikum, kakak sepupuku yang tampan? Ada perlu apa menelepon adik sepupumu yang cantik ini?]


[Walaikumsalam, gitu dong, kalau ngomong yang halus. Kan, makin cantik. Hmmm, Mas mau menanyakan sesuatu padamu.]


Diseberang sana, Sandra sudah mengetahui maksud kakak sepupunya itu dan dia mulai merencanakan apa yang seharusnya dia lakukan demi sahabatnya itu.


[Mau tanya apa, Mas?]


[Hmmm ... apa Raina ada menghubungimu?]


[Iya, beberapa hari yang lalu kami masih saling chating. Memangnya kenapa, Mas?]


[Ehm ... apa kemarin malam atau hari ini dia ada menghubungi dirimu lagi?]


[Sebentar, sebentar, Mas ini ada apa sih, sebenarnya? Kenapa dari tadi nanya nya seperti itu? Apa ada yang salah kalau Raina menghubungi diriku atau tidak? Bukannya dia itu istrimu? Kenapa kamu tidak bertanya langsung aja padanya?]


Sandra mencecar Satria dengan berbagai pertanyaan yang membuat Satria seakan bimbang harus bicara pada sepupunya itu atau tidak dengan permasalahan rumah tangganya dengan Raina yang tak lain adalah sahabat dari sepupunya itu.


Sementara Sandra sudah menahan tawanya, karena dia yakin pasti kakak sepupunya itu akan sangat kebingungan karena tidak mendapat jawaban yang dia inginkan dari dirinya.


"Maafin adik sepupumu ini ya, Mas. Ini semua demi kebaikan kalian berdua. Lagi pula ini juga karena kesalahan dirimu sendiri yang sudah menyakiti hati sahabatku." batin Sandra.


[Hmmm, sebenarnya ... sebenarnya, Raina pergi dari rumah kemarin malam membawa Al. Mas gak tahu kemana perginya mereka, San?]


[Hah! Apa? Kok, bisa sih, Mas? Mas pasti sudah nyakitin Raina lagi, kan?]


Sandra pura-pura terkejut mendengar jawaban dari kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Satria pun mulai menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan juga Raina hingga membuat perempuan yang disebut sebagai istrinya itu nekat pergi dari rumah.


[Wah! Gimana sih, Mas ini? Sebenarnya Mas itu, beneran pengen jadi suaminya Raina, gak sih? Kalau cuma buat nyakitin Raina terus, mending pernikahan kalian itu gak usah di lanjutin. Toh, Mas juga gak pernah sayang kan, sama Raina? Sadar Mas ... Mas itu sudah dzolim sama Raina!]


Sandra langsung mengakhiri panggilan telepon dari Satria, sementara Satria terbengong-bengong mendapati ceramah dari adik sepupunya.


"Arrggh, bukannya membantu memberi solusi, ini malah ceramah." gerutu Satria sembari mengajak-acak rambutnya.


Satria terdiam, memikirkan perkataan adik sepupunya itu.


"Ada benarnya juga sih, apa yang dibilang Sandra. Tapi, aku gak akan nyerah untuk menemukan kamu, Rai. Aku akan memperjuangkan ini semua. Mungkin ini adalah cara Tuhan memberiku pelajaran, karena sudah terlalu lama mengulur waktu, yang hanya memberi dirimu harapan yang tak pasti dan mengabaikan kesabaranmu hingga kamu lelah untuk menunggu lagi." Satria menyadari semua kesalahannya.


"Kali ini, aku yang akan memperjuangkan mu, Rai. Aku gak akan membuat dirimu menunggu lagi." janji Satria dalam hati.


********


Matahari mulai pergi dari peraduannya, meninggalkan senja dan berganti malam. Satria tiba dirumah lewat dari jam biasanya dia pulang kerja. Karena waktu pulang kerjanya ia gunakan untuk kembali mencari Raina.


"Harus kemana lagi aku mencarimu, Raina Hapsari?" Satria bertanya pada dirinya sendiri yang terduduk diruang makan.


Setelah cukup lama duduk didepan meja makan yang kosong, Satria beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar.


Saat masuk ke dalam kamar, mata Satria langsung tertuju pada lemari pakaian Raina. Entah kenapa dirinya ingin sekali membuka lemari pakaian itu. Tangannya pun langsung membuka pintu lemari tersebut. Aroma pewangi pakaian yang biasa digunakan Raina untuk menyetrika itu pun menyeruak dan menusuk indra penciuman Satria.


Membuat Satria semakin merindukan Raina, Satria pun meraba tumpukan baju-baju yang masih tersisa dan tertata rapi ditempatnya. Saat meraba ditumpukan teratas, tak sengaja tangan Satria menyentuh sesuatu.


Satria pun mengambil benda yang ia sentuh itu.


"Bukannya ini obat Raina yang harus dia konsumsi setiap waktu rasa takutnya datang. Berarti dia lupa membawanya." Satria memperhatikan obat yang ia pegang. Dan membuka buku catatan kecil yang sengaja Raina buat untuk mencatat jadwal konseling berikutnya.


Satria pun tersenyum merasa ada setitik jalan untuk menemukan Raina kembali.


**********


Dirumah Bunda Eva


Sehabis makan malam, semuanya berkumpul diruang keluarga. Malam ini, formasi keluarga bunda Eva sudah lengkap. Karena Pak Ridwan, ayahnya Sandra sudah pulang dari luar kota. Pekerjaan yang menuntut dirinya untuk langsung mengurus perusahaan sawit miliknya itu sendiri. Jarak antara rumah dan kota dimana perusahaan itu berdiri memang mengharuskan Pak Ridwan tidak selalu bisa berkumpul dengan keluarganya.


Ditambah dengan hadirnya Raina dan Al dirumah itu menjadi semakin ramai. Semua bergantian untuk menggendong dan bermain dengan anak lelaki Raina itu.


Bunda Eva sudah menceritakan semua masalah yang sedang dihadapi Raina pada suaminya. Pak Ridwan pun tentu juga mengizinkan Raina untuk tetap tinggal bersama dengan istri dan anaknya dirumah itu, karena sebelumnya memang dirinya dan bunda Eva sudah mengangkat Raina sebagai anak mereka sebelum Raina menikah dengan keponakan mereka sendiri.


Sandra juga menceritakan pada semua yang berada di ruangan itu, bahwa Satria telah menghubungi dirinya saat dia sedang berada dikampus.


"Lalu, apa yang kamu bilang sama kakak sepupumu itu?" tanya Bunda Eva.


"Ya, Sandra pura-pura gak tahu aja kalau Raina itu pergi dari rumah. Terus Sandra juga marah-marah ke Mas Satria. Sandra juga ceramahin Mas Satria, udah gitu Sandra langsung matiin deh, itu teleponnya. Biar dia tahu rasa, biar dia bingung nyari Raina dimana." jawab Sandra.


"Kamu kalau kesal, ya ... kesalnya sama Satria aja. Gak usah sama kita semua juga, dong. Jelasinnya sampai mau putus tuh, urat lehernya." ejek Bunda Eva.


"Hehehe, maaf. Habisnya Sandra benar-benar sebel sama Mas Satria. Mau sampai kapan coba dia ngasih harapan palsu terus sama Raina." gerutu Sandra.


"Kamu ini, kalau lagi sebel, pasti semua kena imbasnya. Kita berdoa saja, semoga setelah kejadian ini, Satria tidak memberi harapan palsu lagi sama Raina. Dan dia tulus berjuang demi pernikahannya bukan hanya karena ada Al saja, tapi juga karena benar-benar sudah mencintai Raina." ujar Pak Ridwan.

__ADS_1


"Amin." ucap semua secara bersamaan.


"Oh ya, San. Terimakasih banyak ya, kamu gak bilang sama Mas Satria kalau aku ada disini." ucap Raina.


"Tenang aja, Rai. Kan, aku sudah janji bakal bantu kamu untuk kasih pelajaran ke Mas Satria." balas Sandra.


"Rai, sepertinya Al sudah mengantuk. Kalian ke kamar duluan, gih. Kasihan tuh, anak kamu." ujar Bunda Eva.


"Iya, Bun." balas Raina.


"Sandra juga mau ke kamar, ada yang harus Sandra kerjakan." ucap Sandra.


Raina dan Sandra pun sama-sama menuju kamar mereka yang kebetulan bersebelahan.


Sesampainya dikamar, Raina segera menidurkan anaknya terlebih dahulu. Setelah Al tertidur pulas, Raina pun keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Sandra.


"San, kamu sudah tidur belum?" tanya Raina yang masih berdiri diluar kamar Sandra.


"Belum, Rai. Masuk aja." sahut Sandra dari dalam kamarnya.


Raina pun masuk ke dalam kamar sahabatnya itu dan duduk dipinggir kasur milik Sandra.


"Kenapa, Rai?" tanya Sandra.


"Ada yang pengen aku omongin ke kamu." jawab Raina.


"Tentang?" tanya Sandra yang sudah membenarkan posisi duduknya.


"Tentang aku sendiri, San." jawab Raina.


"Maksudnya?" tanya Sandra dengan wajah bingung.


Raina mulai menceritakan pada sahabatnya itu, jika dirinya sedang dalam masa pemulihan dan masih harus rajin kontrol karena depresi yang dideritanya. Sandra terkejut mendengar penjelasan Raina, dirinya juga tidak menyangka jika sahabatnya itu sampai mengalami depresi yang cukup berat dan sampai ingin menyakiti keponakannya.


"Aku harap, kamu jangan beritahu pada bunda tentang ini. Bunda pasti akan lebih marah lagi. Dan sebenarnya, dokter memintaku untuk datang bersama dengan Mas Satria saat konseling berikutnya. Tapi kamu tahu sendiri keadaannya sekarang gimana. Aku mau, kamu bisa sedikit meluangkan waktumu menemaniku nanti." pinta Raina.


"Iya, Rai. Tenang aja, aku pasti bantu kamu, kok." balas Sandra.


"Terimakasih banget, kamu memang sahabat terbaikku yang gak ada duanya." ucap Raina.


"Hahaha, jadi besar kepala nanti aku kalau terlalu banyak kamu puji." balas Sandra.


"Ya sudah, aku balik ke kamar dulu, ya." Raina pun keluar dari kamar Sandra dan kembali ke kamarnya.


Raina merebahkan tubuhnya diatas kasur, Raina teringat dengan obatnya yang ia lupakan.


"Semoga aku bisa mengontrol emosiku tanpa harus meminum obat itu." gumam Raina sembari memejamkan matanya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.

__ADS_1


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author


__ADS_2