Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Arkhan Al Fiqri Sanjaya


__ADS_3

Satria mengumandangkan adzan ditelinga sang bayi yang terus saja menangis dan meronta, dengan suara yang bergetar namun tetap terdengar merdu bagi yang mendengarnya.


Setelah Satria selesai mengadzani, bayi mungil itu langsung tertidur pulas digendongannya.


"Bu, tolong ambil si kecil. Saya takut meletakkannya dikasur." ucap Satria yang meminta tolong pada Ibu Riska.


Dengan senang hati, ibu Riska pun mengambil cucunya dari gendongan Satria.


"Kamu tampan sekali, Nak." ucap Ibu Riska menatap wajah sang cucu digendongannya dan kemudian meletakkannya disamping Raina.


Tak lama kemudian, asisten bidan Emil kembali masuk ke dalam ruang perawatan dengan membawa makanan diatas nampan untuk Raina.


"Silahkan dimakan, Mbak. Dan ini ada obat pereda rasa nyeri diminum setelah makan, ya." ucap Perempuan itu.


"Obat pereda nyeri apa, Mbak?" tanya Raina.


"Itu obat untuk meredakan nyeri dibagian jalan lahir yang dijahit agar jahitannya cepat pulih, Mbak." jelas Perempuan itu.


Raina hanya menganggukan kepalanya. Dan asisten bidan Emil itu pun keluar dari ruangan itu, pergi meninggalkan keluarga yang sedang berbahagia itu.


"Bu, memangnya tadi Raina dijahit?" tanya Raina sembari menunjuk ke bawah ke arah bagian sensitifnya.


"Iya, memangnya kamu gak ngerasa?" Ibu Riska kembali bertanya pada Raina.


Raina menggelengkan kepalanya, memang sebelum dijahit dilakukan pembiusan didaerah yang akan dijahit terlebih dulu. Sehingga Raina tidak merasakan sakitnya.


"Kalau kamu banyak bergerak, kamu akan merasakan sakitnya. Jadi, kamu jangan banyak gerak dulu dan harus duduk dengan kaki yang sangat rapat, biar jahitannya gak lepas dan lukanya cepat pulih." jelas Ibu Riska.


"Kalau jahitannya lepas, berarti harus dijahit lagi?" tanya Raina sembari bergidik takut.


Ibu Riska hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Sementara Satria, hanya duduk memandangi wajah anak Raina yang mirip sekali dengan Awan, adiknya.


"Bu, Satria mau pulang dulu. Mau jemput mamah, beliau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucunya." ucap Satria sembari membelai lembut pipi halus si kecil.


"Iya, jemputlah. Pasti beliau sangat senang jika bertemu langsung dengan cucunya." jawab Ibu Riska.


"Dek ... Mas, jemput mamah dulu, ya. Apa kamu ingin sesuatu? Biar nanti Mas bawakan." ucap Satria.


"Gak, Mas. Mas hati-hati ya, dijalan." balas Raina sembari menggelengkan kepalanya.


Raina memainkan handphonenya, dia mengunggah kebahagiaan nya itu di sosial medianya. Banyak sekali ucapan selamat yang diberikan oleh teman-temannya.


"Rai, sebaiknya kamu istirahat. Kamu belum ada tidur dari semalam, kamu juga harus memulihkan tenagamu. Dan siap-siap nanti malam kamu harus kembali bergadang lagi." Ibu Riska menasihati Raina.


"Iya, Bu. Oh ya, kalau nanti Sandra dan mamah datang, bangunkan Raina ya, Bu." ucap Raina.


Dua jam kemudian, ibu Santi datang bersama Satria. Terpancar binar-binar kebahagiaan diwajah Ibu Santi kala melihat bayi mungil yang tertidur pulas disamping ibunya.


Ibu Santi menitik kan air mata, saat dirinya semakin dekat dengan cucu pertamanya itu. Anak yang lahir dari rahim seorang gadis tangguh karena perbuatan kotor anaknya.


"Sat ...." panggilnya pada Satria.


"Iya, Mah ...." jawab Satria.

__ADS_1


"Wajahnya, Sat ... wajahnya begitu mirip dengan adikmu." isaknya didada anak sulungnya itu.


"Iya, Mah." Entah kenapa ada rasa pedih dihatinya saat mendengar sang mamah mengatakan hal tersebut. Meski benar adanya, wajah anak itu sangat mirip sekali dengan adiknya.


Begitu pun dengan Raina, yang juga cukup mendengar ucapan mertuanya tentang wajah anaknya. Rasanya dirinya tidak ingin anaknya disamakan dengan orang yang telah menyakitinya, meski sekalipun orang itu memang ayah biologis dari anaknya.


Raina menyembunyikan wajahnya, menghapus setitik bening yang sudah lolos membasahi pipinya.


"Eh, ada ibu Santi ... maaf Bu, saya habis dari toilet." ucap Ibu Riska.


"Iya, Bu. Gak apa-apa." jawab Ibu Santi sembari tersenyum.


"Lihat, Bu. Cucu kita tampan sekali." ujar Ibu Riska.


Ibu Santi hanya menyunggingkan senyumnya dan melangkah mendekatkan dirinya pada Raina.


"Terimakasih, sayang. Kamu sudah memberikan mamah cucu setampan ini." ucap Ibu Santi.


"Iya, Mah." balas Raina dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Assalamualaikum ...." ucap Sandra dan Bunda Eva yang baru saja datang.


"Walaikumsalam ...." jawab semua orang yang berada diruangan itu sembari melihat ke arah sumber suara.


"Ya Allah, Raina ... selamat ya, sekarang sudah bergelar ibu. Wah ... ganteng banget, keponakan onty." Sandra terlalu girang sampai-sampai tidak bisa mengontrol suaranya yang melengking itu.


"Sandra ... volume suaranya bisa tidak dikurangi? Kasihan kan, anak aku sampai terkejut mendengar suara letusan mercon." gerutu Raina.


"Hehehe ... maaf, aku terlalu bahagia." ucap Sandra sembari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sayang, selamat ya ... atas kelahiran putra gantengnya?" ucap Bunda Eva.


"Iya, Bun. Terimakasih." jawab Raina.


"Ini kado dari aku dan bunda." ucap Sandra sembari memberikan kado yang berukuran besar yang dibungkus dengan sedemikian cantiknya.


"Gede banget ... terimakasih onty, eyang." ucap Raina sembari menirukan suara anak kecil.


"Permisi ... Saya ingin menanyakan nama si bayi, karena saya akan menguruskan pembuatan akta kelahirannya. Apa sudah ada nama untuk anaknya?" Bidan Emil bertanya pada Raina dan Satria selaku orangtua dari sang bayi.


Raina dan Satria saling berpandangan. Kemudian Raina mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Namanya ... Arkhan Al Fiqri Sanjaya." jawab Raina.


Raina sengaja menyematkan nama Sanjaya dibelakang nama anaknya, agar tetap mengingat jika anaknya keturunan dari keluarga Sanjaya.


"Baik. Sudah fix ya, menggunakan nama ini?" Bidan Emil kembali memastikan nama yang diucapkan Raina untuk anaknya.


"Iya, Bu Bidan." jawab Raina dengan ramah.


Bidan Emil pun kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan sekumpulan keluarga yang berada diruang inap Raina.


"Nama yang bagus." ucap Ibu Santi.

__ADS_1


"Kelak dirinya akan menjadi lelaki yang berhati mulia, rendah hati, bijaksana dan selalu berjaya." sahut Raina sembari menatap lekat wajah mungil anaknya.


"Amin ...." Semua mengamini doa yang dipanjatkan oleh Raina.


Nama yang diberikan oleh orangtua merupakan doa untuk anaknya, dan Raina pun mempercayai hal itu. Sebagai orangtua, tentunya Raina ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk dalam hal pemberian nama.


Dan Raina sangat berharap cukup wajah saja yang mirip dengan ayah biologisnya, tapi tidak dengan kelakuannya.


"Permisi, semuanya. Saya mau memeriksa tekanan darah Mbak Raina." ucap Asisten bidan Emil.


"Iya, silahkan." ucap Ibu Santi memberikan ruang untuk perempuan itu mendekat dengan Raina.


Perempuan itu pun, melakukan tugasnya.


"Tekanannya 120/80, normal ya, Mbak. Dan kalau sudah merasa kuat, kami memperbolehkan pasien untuk pulang." ucap Asisten bidan Emil.


"Bagaimana, Rai? Apa kamu sudah merasa enakan?" tanya Ibu Riska.


"Alhamdulilah, Raina sudah merasa lebih bertenaga. Raina ingin pulang saja. Toh, rumah juga tidak jauh dari sini." jawab Raina.


"Anak saya ingin pulang sekarang, Mbak." ucap Ibu Riska.


"Baik, silahkan selesaikan administrasinya disana." ucap perempuan itu sembari menunjukkan sebuah ruangan semacam kantor.


Satria pun mengikuti langkah asisten bidan Emil menuju ruangan tersebut untuk menyelesaikan administrasi persalinan Raina.


Sementara yang lainnya membantu membereskan barang-barang Raina. Baby Al sudah berada digendongan eyang utinya, yang tak lain adalah Ibu Santi.


Sementara ibu Riska membantu menuntun Raina untuk turun dari ranjang. Satria yang baru saja menyelesaikan pembayaran, melihat Raina yang kepayahan sekali untuk berjalan. Sehingga dia memutuskan untuk turut membantu Raina.


"Biar saya saja yang membantu Raina, Bu. Ibu masuk saja ke mobil duluan." ucap Satria.


"Iya, terimakasih Satria." ucap Ibu Riska dan berlalu meninggalkan keduanya.


"Ehm, lambat sekali kamu jalannya. Seperti siput yang keberatan cangkang." ucap Satria yang tidak sabaran dengan Raina yang berjalan sangat lambat.


"Mas, aku juga pengennya jalan normal. Tapi, ini sakit. Mas dengar sendiri kan tadi, apa yang ibu bilang? Kalau aku gak boleh terlalu banyak bergerak, nanti jahitannya lepas." gerutu Raina.


Tanpa pikir panjang Satria menggendong Raina ala bridal style. Raina pun terkejut dengan perlakuan Satria yang tiba-tiba.


"Mas, turunin aku. Aku malu." ucap Raina.


"Jangan banyak gerak! Diam aja!" sahut Satria dengan nada tegasnya.


Raina pun membungkam mulutnya. Raina mengalungkan tangannya pada leher Satria, dengan seperti itu Raina bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh Satria. Raina merasakan jantungnya yang berdebar tak menentu. Entah kenapa dirinya sangat ingin meletakkan kepalanya dibahu Satria. Dan akhirnya dia pun melakukan hal itu.


Seuntai senyuman pun terukir dibibir Satria, saat Raina melakukan hal itu.


********


Huhuhu maafkan author yang UP kemalaman πŸ™ Karena anak lagi rewel minta ditemenin main. Tapi, author tetap menepati janji author meski terlambat.


Selamat beristirahat semua 😘😴

__ADS_1


__ADS_2